Wasiat Santo Fransiskus

15/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 3.319 kali

(14)[II] Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara, tidak seorang pun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat; tetapi yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku, bahwa aku harus hidup menurut pola Injil Suci. (15)Aku pun menyuruh tulis hal itu dengan singkat dan sederhana, dan Sri Paus mengukuhkannya untukku. (16)Mereka yang datang untuk memeluk cara hidup ini memberikan kepada orang miskin segalanya yang mungkin mereka miliki. Mereka itu puas dengan satu jubah yang dilapisi luar dan dalam, serta tali pinggang dan celana. (17)Kami tidak mau memiliki lebih dari itu.[3]
(18)Kami yang rohaniwan melakukan ibadat harian seperti rohaniwan lainnya, sedangkan para awam mengucapkan Bapa Kami; dan kami amat suka tinggal di dalam gereja-gereja. [4]

(19)Kami tidak terpelajar dan menjadi bawahan semua orang. (20)Aku bekerja dengan tanganku (waktu itu), dan (kini pun) aku mau bekerja; juga aku sungguh-sungguh menghendaki agar semua saudara lainnya melakukan suatu pekerjaan sebagaimana layaknya. (21)Mereka yang tidak menguasai salah satu pekerjaan, hendaknya belajar, bukan terdorong oleh keinginan menerima upah kerja, tetapi untuk memberi contoh dan menjauhkan sikap bermalas-malas. (22)Seandainya kita tidak diberi upah kerja, maka hendaklah kita berpaling ke meja Tuhan dengan meminta sedekah dari pintu ke pintu. (23)Tuhan mewahyukan kepadaku salam yang hendaknya kita ucapkan, yaitu: Semoga Tuhan memberi engkau damai.

(24)Saudara-saudara hendaknya menjaga, agar mereka jangan sekali-kali menerima gereja, tempat kediaman sederhana serta apa pun yang dibangun orang untuk mereka, kecuali kalau itu sesuai dengan kemiskinan suci yang telah kita janjikan dalam anggaran dasar, dengan menumpang di situ senantiasa sebagai musafir dan perantau.

(25)Kepada saudara sekalian aku memerintahkan dengan keras demi ketaatan, agar di mana pun berada, janganlah berani meminta kepada Kuria Roma, entah secara langsung atau melalui seorang perantara, surat apa pun yang memberikan hak khusus atas gereja atau tempat tinggal, atau bahkan sebagai jaminan kegiatan khotbah atau untuk melindungi diri terhadap pengejaran badani; (26)tetapi di mana pun mereka tidak diterima, hendaklah mereka mengungsi ke tempat lain untuk melakukan pertobatan dengan berkat Allah.


[3]. “kami” ialah Fransiskus dan saudara-saudaranya yang pertama. Fransiskus sedang mengenang kembali tindakannya serta saudara-saudara pertama yang dengan berani meninggalkan segalanya dan puas dengan yang minimal.
[4]. ‚Äúsuka tinggal di dalani gereja-gereja”, bisa berarti untuk berdoa atau singgah (dan bermalam) di gereja yang kosong, bila mereka tidak mendapatkan tempat lain waktu malam. Hal itu mungkin karena kelompok yang pertama selalu berkeliling, tanpa tempat kediaman yang tetap.

Pages: 1 2 3 4