Sejarah Singkat Para Pengikut St. Clara

Dilihat: 3.150 kali

[ Index Buku  St. Clara dan Warisan Rohaninya ] [ Index Ordo St. Clara ]

Bagian VII
Sejarah Singkat Para Pengikut St. Clara dari Assisi

[Prakata] [Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4] [Penutup]

 BAB IV
 Para Pengikut Clara
 Dalam Gejolak Abad XVI-XIX

A. SITUASI PADA AWAL ABAD XVI

Melayangkan pandangan kepada dunia para pengikut Klara pada awal abad XVI, sekitar tahun 1500 di ambang pintu reformasi, orang mendapat gambaran sebagai berikut.

Kemerosotan parah yang dialami selama abad XV (1400-1500) mencetuskan reaksi bermacam-macam. Reaksi “pembaharuan” itu membuktikan bahwa karisma Klara masih juga hidup dan segar. Tetapi sekaligus kembali terlihat bahwa apa yang digariskan Klara amat sukar dilaksanakan, kalau pengikut-pengikut Klara tidak benar-benar berbobot.

Dunia para Klaris pada awal abad XVI mencakup berbagai arus yang tidak senantiasa menjurus ke seragaman. Tetapi ada sejumlah (besar) Urbanis. Jadi mereka yang menganut Anggaran Dasar Paus Urbanus IV. Sebahagian dari mereka memperbaharui dirinya dalam rangka Anggaran dasar yang amat lemah itu, sedangkan lain-lain biara tetap memanfaatkan segala macam kelonggaran yang pernah diberikan. Mereka ini umumnya di bawah pimpinan para Conventuales. Mereka yang memperbaharui dirinya umumnya dibimbing para Observantes (sejak tahun 1449). Ada juga Klaris-klaris yang kembali kepada Anggeran Dasar Klara, tetapi “Privilegium Paupertatis” umumnya dirasakan terlalu berat.

Yang paling radikal kembali kepada Klara ialah para Koletin, yang dilayani oleh Conventuales Reformati. Koleta menciptakan semacam Ordo dengan struktur yang lebih ketat dari pada yang tradisional.

Ada juga mereka yang disebut “Alexandrin”, yaitu yang didirikan Isabella dan mengikuti Anggaran Dasarnya sendiri, tetapi juga tidak mengikat diri kepada Privilegium Paupertatis. Ada lagi dua kelompok baru yang dibimbing oleh Observantes, tetapi tidak secara langsung berkaitan dengan Klara. Yaitu Conceptionistae dan Annuntiationistae, yang satu di Spanyol dan yang lain di Perancis.

Apa yang terjadi dalam Ordo I tetap menyangkut juga Ordo II. Sesudah pertikaian lama antara “Observantes” dan “Conventuales”, Ordo I Fransiskus terpecah menjadi dua pada tahun 1517. Pada tahun itu Paus Leo X mengerahkan kapitel umum semua Saudara Dina, tanpa kecuali. Maksud Paus ialah menyelamatkan persatuan ordo. Sejak 1443 para Observantes sudah menyendiri dengan dua cabang, yaitu: cabang Italia (Cismontana) dan cabang Perancis (Ultramontana). Usaha Paus gagal oleh karena Observantes dan Conventuales tidak berhasil macapai kesepakatan dasar. Surat keputusan (Bulla) Paus “Ite et vos in vineam meam” (29/5/1517) menetapkan bahwa masing-masing kelompok mempunyai struktur lengkapnya sendiri, dari atas sampai ke bawah. Kelompok-kelompok Observantes (termasuk Koletin di Perancis) dipersatukan menjadi “Ordo Fratrum Minorum”. Kepala mereka mendapat gelar “Minister Generalis” dan mendapat meterai resmi dari zaman dahulu. Conventuales diberikan nama “Ordo Fratrum Minorum Conventualium” dan kepala mereka mendapat gelar “Magister”. Kelompok terbesar ialah Observantes (lebih kurang 30.000 anggota), yang sekaligus paling populer serta mendapat dukungan Paus-paus dan penguasa-penguasa sipil.

Para pengikut Klara terhanyut oleh gejolak dalam Ordo I. Akibatnya keputusan Paus Leo X tersebut semua Klaris, termasuk Koletin, yang memperbaharui diri, dipercayakan kepada Observantes dan sedikit sekali biara yang dipercayakan kepada Conventuales.

Di zama Reformati (Luther tampil tahun 1517 dan konsili Trente sebagai tanggapan Gereja Katolik diselenggarakan tahun 1545-1563), Ordo I dalam kedua-cabangnya amat terpukul di Eropa utara. Tetapi di Spanyol dan Portugal serta Italia para Observentes subur berkembang terus. Hanya di kalangan Observantes (yang sudah merosot lagi) muncullah gerakan pembaharuan lagi. Di Italia ada “Reformati” dan “Reformelli”, di Perancis muncul “Recolecti” yang juga mencakup Belgia dan Jerman. Hampir semua biara Observantes ikut serta dalam pembaharuan itu. Semua pembaharuan itu menekankan segi kontemplatip gaya hidup Fransiskan. Berbeda dengan dahulu, kali ini pembaharuan itu tidak menjadi cabang khusus, kecuali satu.

Cabang baru baik dalam Ordo I maupun dalam Ordo II ialah Kapusin dan Kapusines. Sejarahnya sebagai berikut.

Sejak Ordo I terpecah menjadi dua pada tahun 1517, muncullah gerakan pembaharuan baru dan tersendiri di kalangan Observantes. Gerakan itu mulai di Italia, di Mark Ancona. Seorang Observan bernama Matius dari Bascio pada tahun 1525 mulai dengan sebuah “pertapaan”. Ia berpendapat bahwa juga Observantes tidak lagi setia pada Anggaran dasar Fransiskus. Tetapi jago gerakan pembaharuan dalam Ordo I itu ialah Ludovikus dari Fossombrono. Ia mempersatukan beberapa “pertapaan” di Italia menjadi satu kesatuan tersendiri. Para Observantes tidak mendukung pembaharuan itu. Maka Ludovikus menempatkan kelompoknya di bawah wewenang pimpinan Conventuales, meskipun dalam kerangka itu mereka tetap membentuk suatu kesatuan khusus di bawah Magister Umum para Conventuales. Itu terjadi pada tahun 1527 dan suatu surat keputusan (Bulla) Paus Clemens VII (Religions zelus) pada tahun 1528 meresmikan apa yang diusahakan Ludovikus. Pada tahun 1529 kelompok itu dengan pimpinan Ludovikus dari Fossombrono mengadakan kapitel pertama mereka. Kapitel itu mengeluarkan konstitusi-konstitusi bagi kelompok itu sendiri. Mereka menamakan diri “Fratres Minores Vitae Eremitoriae”.

Memang kelompok dan konstitusi tersebut sangat menekankan segi kontemplatip dan karya kerasulan dibatasi. Mereka menerima Anggaran Dasar Fransiskus (tahun 1223), tetapi mereka mau juga menepati Wasiat Fransiskus sebagai keterangan otentik. Kemiskinan diutamakan seperti juga kerja tangan (antara lain merawat orang sakit). Studi lebih lanjut dilarang. Gerakan pembaharuan itu cukup menarik di kalangan para pengikut Fransiskus dan cukup banyak Observantes bergabung dengan kelompok tersebut. Tetapi juga sejumlah Conventuales pindah ke gerakan baru itu. Misalnya: semua Observantes di daerah Calabria pada tahun 1532 menggabungkan diri. Nama populer mereka ialah “Capucini” dan itulah yang sejak 1535 menjadi nama resmi “Ordo Fratrum Minorum Capucinorum “.

Kapitel umum mereka pada tahun 1535-1536 sudah meliputi 12 provinsi dan lebih kurang 5000 anggota. Kapitel umum itu mengubah konstitusi-konstitusi begitu rupa sehingga “kerasulan” dan “studi” muncul kembali dengan cukup tekanan. Tokoh yang mendorong pengarahan baru itu ialah Bernardinus dari Aste yang waktu itu menjabat pimpinan tertinggi (yang bergelar Vicarius Generalis)

Kelompok “Capucini” itu mula-mula mengalami cukup banyak hambatan dan kemelut. Para pendiri gerakan itu hilang dari padanya. Matius dari Bascio kembali ke Observantes. Ludovikus dari Fossombrono dikeluarkan, Vicaris umum pertama, Ochino, murtad dan menjadi protestan. Atas manipulasi para Observantes pada tahun 1537 para “Capucini” oleh Paus dilarang merambat keluar Italia.

Syukurlah larangan untuk merambat keluar Italia pada tahun 1574 dicabut oleh Paus Gregorius XII. Lalu “Capucini” cepat-cepat menyebar ke Perancis (tahun 1574), ke Spanyol (tahun 1578), Jerman (tahun 1581) dan Belgia-Belanda (tahun 1585). Pada tahun 1619 Paus Paulus V memutuskan ikatan Capucini dengan Conventuales. Maka Capucini menjadi cabang tersendiri yang mandiri sama sekali. Pada saat itu cabang “Fratres Minores Capucini” sudah berjumlah lebih kurang 15.000 anggota dengan 41 provinsi.

Kali ini pun para Klaris tidak terluput dari hal-ihwal Ordo I. Memang sudah ada Klaris Observants (tahun 1676), Klaris Alexandrinae (tahun 1676), Klaris Recollectae (tahun 1678). Tetapi ini tidak berarti banyak dan hanya menunjuk kepada kelompok Observantes yang membimbing mereka. Tetapi lain halnya dengan kelompok Kapusines.

Kelompok Klaris itu sebenarnya berasal dari Ordo III. Pada tahun 1535 di kota Napels didirikan biara bagi Tertiaris. Yang membangun biara itu ialah Maria Laurentia Longo. Ia seorang janda (bekas istri pegawai tinggi raja Napels). Biara itu disebut sebagai “Oratorium”. Maksudnya merawat orang sakit yang tak tersembuhkan. Kelompok itu berdasarkan Anggaran Dasar Ordo III, tetapi ditambah konstitusi-konstitusi Koleta. Ini suatu kepincangan mengingat bahwa konstitusi-konstitusi itu berdasarkan Anggaran Dasar Klara. Maka pada tahun 1539 Maria Laurentia Longo mengubah ciri komunitasnya. Ia mengambil alih Anggaran Dasar Klara dengan konstitusi-konstitusi Koleta. Ia pun menempatkan komunitasnya di bawah bimbingan Kapusin. Lalu ia masih mengambil alih cukup banyak “kebiasaan-kebiasaan Kapusin”.

Kapusines itu terutama menyebar di Spanyol, di Italia dan Perancis (dengan nama Filles de la Passion). Ikatan dengan Kapusin tidak lama tahan. Kapusin agak segera menolak melayani rubiah-rubiah (mengingat Anggaran Dasar Fransiskus) secara tetap. Ini malah menjadi keputusan Kapitel Kapusin. Maka Kapusines itu mesti mencari-cari saja bimbingan rohani, di mana saja ditemukan, kerap kali bukan dari kalangan pengikut-pengikut Fransiskus. Baru jauh kemudian hari, Kapusin kembali menyatakan diri bersedia melayani Kapusines.

Pengaruh para Kapusin tidak hanya menghasilkan “Kapusines dalam Ordo II” (Klara), tetapi juga sejumlah besar Kapusines dalam Ordo III. Sebagiannya menempuh hidup bersemedi, sebagiannya menangani karya amal-kasih. Sama seperti Fransiskanes, demikian kebanyakan kongregasi Kapusines aktip Ordo III didirikan selama abad XIX dan lingkupnya biasanya terbatas pada salah satu negeri saja.

Maka pada awal abad XVII terdapat empat macam Klaris. Kebanyakan tetap Urbanis, meskipun terpengaruh oleh pembaharuan dalam Ordo I, jadi Urbanis Observan yang diperbaharui. Di samping itu ada Klaris Koletin yang menghayati Anggaran dasar Klara menurut konstitusi-konstitusi Koleta. Ada Kapusines yang menganut Anggaran dasar Klara dengan konstitusi-konstitusi Koleta serta kebiasaan-kebiasaan Kapusin. Akhirnya ada Conceptionistae yang mengikuti Anggaran Dasar Kardinal Ximenes, yang terinspirasi oleh Anggaran Dasar Klara, sehingga Anggaran dasar Kardinal Ximenes terlebih semacam “konstitusi-konstitusi”.

B. PENGIKUT-PENGIKUT KLARA DI ZAMAN REFORMASI-KONTRAREFORMASI (ABAD XVII).

Di zaman Reformasi dan Kontrareformasi (abad XVII) para Klaris di Eropa Utara turut terpukul. Hampir semua biara Klaris hilang dan ditutup oleh pemerintah protestan (Skandinavia, Jerman Utara, Belanda, Cekoslovakia, Swis). Sebaliknya di bagian Eropa Selatan para Klaris dapat mempertahankan diri. Mereka malah merambat ke Amerika dan Asia. Sebab waktu pedagang dan militer Spanyol serta Portugal berangkat merebut “dunia baru” (Amerika) dan Timur Jauh bagi rajanya, para Saudara-saudara Dina (disamping Dominikan, Karmelit dan kemudian Yesuit) turut berangkat untuk merebut dunia bagi Raja Kristus, terdukung oleh raja-raja Spanyol dan Portugal. Para pengikut Klara pun ikut serta dalam “misi” dengan arti kata moderen itu. Sejauh diketahui sekitar tahun 1587 ada dua biara Klaris di Amerika Latin dan pada tahun 1680 jumlahnya sudah 20. Bahkan sejak 1540 mereka sudah berada di Mexiko. Mereka pun ikut ke Timur Jauh, sehingga pada tahun 1621 mereka berada di Manila dan pada tahun 1633 di Macao.

Setelah, sebagai hasil konsili Trente, Gereja Katolik sendiri melancarkan “reformasi” menyeluruh, yang serentak menjadi “Kontrareformasi” sehingga semangat Katolik dikobarkan, maka para Klaris di Italia, Spanyol, Portugal dan Perancis mengalami masa kesuburan yang cukup mencolok. Muncul sejalan dengan apa yang terjadi dalam Ordo I – Klaris “Strictioris Observantiae”, Klaris “Recollectinae” dan sebagainya, yang merupakan hasil semangat kontrareformasi. Pembaharuan yang paling ketat – belum ada yang seketat itu – muncul di Spanyol terpengaruh oleh Petrus Alcantara OFM. Karena itu Klaris itu mendapat sebutan “Alcanterinae”. Kelompok itu secara mutlak kembali kepada Anggaran Dasar Klara dan mempunyai konstitusi-konstitusi sendiri. Kecuali kemiskinan mutlak, konstitusi-konstitusi itu pun menekankan ulah-tapa, berdiam diri terus menerus, menyendiri di bilik (sempit). Hidup berkomunitas direduksikan sampai minimal. Yang secara definitip mendirikan Klaris ini ialah Kardinal Fransiskus Barbarini dan pada tahun 1676 konstitusi­konstitusi diresmikan oleh Paus Clemen X. Fransiskus Barbarini itu seorang pendukung Petrus Alcantara dan gaya hidup Klaris ini mirip dengan gaya hidup Fransiskan yang mengikuti Petrus Alcantara.

C. ZAMAN PENCERAHAN DAN RASIONALISME (ABAD XVIII-XIX)

Abad XVIII menjadi masa sial. Zaman pencerahan budi membawa akhirnya revolusi Perancis, yang ekornya panjang sekali. Revolusi (tahun 1789) meledak, tetapi mula-mula para penggeraknya bukan anti Katolik dan anti Gereja. Tetapi dengan cepat revolusi itu menjadi anti Gereja, anti rohaniwan/rohaniwati. Pada tahun 1789 semua milik Gereja (termasuk ordo-ordo religius) disita. Tahun berikutnya (1790) semua ordo religius (kecuali beberapa yang aktip) dilarang. Maka Klaris pun di Perancis mesti bubar. Revolusi Perancis melahirkan Napoleon (tahun 1802-1813). Dia itu melancarkan perang dan mengekspor “revolusinya” dan merusak seluruh Eropa. Semangat anti religius, khususnya anti kontemplatip diekspor kemana-mana. Itu berarti bahwa biara-biara kontemplatip dihalang-halangi, dilarang dan ditutup. Hanya negeri Spanyol terluput dari kerusakan umum.

Setelah Napoleon kalah dan hilang dari panggung sejarah dan negara-negara (kerajaan-kerajaan) di Eropa dipulihkan (restorasi), keadaan bagi kaum religius tidak membaik. Meskipun raja-raja itu Kristen, bahkan Katolik, namun umumnya mereka anti-klerikal. Mereka sendiri mengurus hal-hal gerejani (demi kepentingan negara) dan mereka menganggap kaum religius, khususnya yang kontemplatip, tidak berguna dan tidak perlu. Mereka melarang biara-biara menerima calon baru dan banyak biara ditutup saja. Milik mereka tetap disita.

Di pertengahan abad XIX di mana-mana kembali meledak revolusi-revolusi (anti raja-raja tersebut), antara lain di negera kepausan dan di Roma. Raja-raja diturunkan dan terbentuklah “republik” (atau kerajaan, di mana raja tidak berkuasa sedikit pun). Revolusi-revolusi itu pun menghanyutkan Spanyol, Portugal dan Amerika Latin. Kalau para penguasa-penguasa masih dapat menerima kongregasi aktip (memang banyak yang terbentuk selama abad XIX antara lain banyak macam fransiskanes), sebagai “obat sosial” bagi kerusakan yang disebabkan Napoleon dan revolusi-revolusi, namun terhadap yang kontemplatip yang dianggap tidak berguna, para penguasa republik itu tidak toleran sama sekali. Mereka terus dilarang menerima talon. Milik mereka sudah disita, sehingga mereka benar-benar miskin sampai melarat.

Tidak hanya Ordo II terpukul dan kehilangan dayanya, juga Ordo I sangat mundur selama abad XVIII/XIX. Oleh karena jumlahnya kecil, yang terpecah menjadi pelbagai kelompok dalam Ordo Fransiskan, maka Paus Leo XIII pada tahun 1897 mempersatukan semua kelompok “Observantes” dengan Surat keputusan (Bulla) “Felicitate Quadam”. Ia menghapuskan semua sebutan tambahan (Recollecti, Reformelli, Alcantarini dsb). Pemersatuan itu sebenarnya disuruh tetapi tidak berjalan lancar. Maka usaha Paus Leo XIII mesti diteruskan oleh Paus Pius X (1911-1912) dan Paus Pius XII (1945­1946). Maka sejak tahun 1897 masih tersisa tiga cabang (otonom) dalam Ordo I (Fransiskan, Conventual, Kapusin). Maka juga semua tambahan pada Klaris hilang, sehingga juga hanya tersisa: Urbanis, Koletin, Kapusines. Sejak 1956 hanya tinggal Urbanis, Klaris dan Kapusines-Koletinen.

Selama hidup kontemplatip terjepit dalam abad XVII-XIX tidak sedikit kontemplatip – untuk menyelamatkan eksistensinya – mulai menangani karya amal kasih dan sosial. Dengan jalan itu pun mereka mencari nafkahnya. Di sana-sini Klaris juga ikut serta dalam tendensi itu. Mereka menjadi aktip, membuka sekolah, asrama, merawat orang sakit dan sebagainya. Jarang sekali itu terjadi dengan sebulat hati. Ada semacam paksaan. Memang hidup aktip macam itu berlawanan dengan seluruh tradisi Ordo II.

Sebuah kelompok “Klaris (Urbanis) aktip” macam itu tampil di Irlandia pada tahun 1804. Irlandia memang dijajah Inggris yang protestan, dan amat melarat. Hidup kontemplatip murni tentu tidak ditolerir. Maka kelompok Klaris itu mencoba menggabungkan gaya hidup kontemplatip dengan aktivitas (pendidikan muda-muda). Mereka menamakan diri “Klaris Miskin dari Conceptio Immaculata”. Mereka juga menyebar di Australia. Nyatanya “Klaris” itu memang “fransiskanes”. Dan di Australia satu biara secara konsekuen sudah beralih menjadi Ordo III. Organisasi Klaris itu juga sama dengan fransiskanes.

Tampil lagi sebuah kelompok lain pada abad XIX Sebab pada tahun 1854 didirikan “Klaris-Frarmiskanes dari Sakramen Mahakudus”. Mereka kontemplatip dengan pingitan kepausan, tetapi dengan dispensasi untuk berkarya juga (serupa dengan Ursulin). Sesuai dengan suasana rohani di masa itu, mereka menganggap sebagai ciri khasnya penyembahan Sakramen Mahakudus dan penyilihan dosa orang lain. Oleh karena bentuk “Klaris-Fransiskanes” kontemplatip (yang juga berkarya) dirasakan aneh oleh para Uskup Polandia pada tahun 1912, biara-biara di sana beralih kepada Anggaran Dasar Klara dan menjadi Klaris saja.

Yang paling baru (1943) ialah kongregasi yang menamakan diri “Klaris Misionaris Sakramen Mahakudus” yang di Mexiko didirikan oleh seorang bekas Klaris. Usaha menggabungkan hidup kontemplatip dengan hidup aktip memang bukan sesuai dengan tradisi Ordo II dan kontemplatip semakin mundur. Maka mereka juga salah satu kelompok Fransiskanes, yang tidak bersangkutan dengan karisma khusus Klara.

Pages: 1 2 3 4 5 6