Sejarah Singkat Para Pengikut St. Clara

Dilihat: 3.151 kali

[ Index Buku  St. Clara dan Warisan Rohaninya ] [ Index Ordo St. Clara ]

Bagian VII
Sejarah Singkat Para Pengikut St. Clara dari Assisi

[Prakata] [Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4] [Penutup]

 BAB III
 Pembaharuan Bercabang
(1400-1517)

A. AWAL MULANYA

Dengan demikian sudah jelas bahwa pada awal abad XV (1400-1500) baik Ordo I maupun Ordo II membutuhkan suatu pembaharuan yang mendalam.

Dalam Ordo I pembaharuan itu sebenarnya sudah mulai pada tahun 1346. Tetapi usaha pertama itu gagal. Namun menjelang akhir abad XIV semangat bangkit lagi, mendapat dukungan dan semakin kuat. Jagonya ialah Paulus (Paulucio) dari Tria. Pada. tahun 1368 dengan sejumlah teman ia mulai kembali menghayati Anggaran Dasar Fransiskus, di Brugliano, Italia, dengan persetujuan Minister umum, Thomas Frignato. Di antara para Klaris pun semangat sejati belum seluruhnya mati. Boleh disebut Perinella, abdis di Monticelli, yang dalam biaranya mempertahankan ketertiban dan kemiskinan sesuai dengan cita-cita Klara.

Gerakan pembaharuan dalam Ordo I sesudah tahun 1370-1380 berkembang dengan pesat, khususnya di Italia. Gerakan itu mendapat dukungan dari pihak Paus Gregorius XI (1370-1378). Sampai tahun 1390 gerakan itu dipimpin oleh Paulus de Trinci (Tria), orang bersemangat, bijaksana dan berbobot. Ia diganti oleh Yohanes de Stroncone. Semakin banyak biara Ordo I bergabung dengan pembaharuan itu. Di dalam Ordo I biara-biara itu membentuk suatu kesatuan tersendiri dengan pimpinan (pusat) sendiri, meskipun di bawah Minister umum. Selama abad XV gerakan itu – dinamakan Observantes – semakin luas, dipimpin oleh tiga, empat saudara berbobot, yakni Yohanes dari Capistrano, Bernardinus dari Siena, Yakobus dari Markhia dan Albertus dari Sartiano. Mereka mendapat dukungan dari pihak Paus-paus, tetapi cukup banyak perlawanan di dalam Ordo I sendiri. Lama kelamaan terbentuk dua “cabang” Ordo I (meskipun pada tahun 1517 baru resmi dan definitif). Kedua cabang itu dinamakan “Observantes” dan “Conventuales”.

Gerakan pembaharuan Ordo I di Italia disertai gerakan serupa di Spanyol dan Perancis. Mulainya lepas dari pembaharuan di Italia dan pada waktu yang sama berkembang tersendiri juga. Demikian pula di Jerman, ada gerakan pembaharuan dalam Ordo I. Akhirnya semua gerakan “Observantes” itu bergabung dan menjadi semakin kuat. Gerakan itu didukung terus oleh Paus-Paus, tetapi juga oleh penguasa-penguasa sipil. Hanya perlawanan di dalam Ordo sendiri dari golongan “Conventuales” juga kuat, khususnya mereka melawan kemandirian, penyendirian para “Observantes”.

Penyendirian dan kemandirian yang menjurus ke perpisahan dianggap tidak perlu, oleh karena di kalangan Conventuales pun semangat pembaharuan, keinginan kembali ke Anggaran Dasar Fransiskus dan ketertiban, tercetus. Beberapa Paus berusaha mempertahankan kesatuan Ordo I, meskipun mendukung pembaharuan yang tidak mau dimatikan. Tetapi kedua golongan, Observantes dan Conventuales, sudah begitu jauh terpisah, sehingga usaha Paus tidak berhasil. Observantes jelas dengan sengaja mengusahakan perpisahan. Pada tahun 1517 diadakan suatu kapitel yang sungguh umum. Di sana semua golongan berkumpul untuk membahas masalah intern Ordo I itu. Paus Leo (1513-1521) masih berusaha mempertahankan kesatuan Ordo, tetapi akhirnya juga gagal. Maka melalui surat keputusan (Bulla) “Ite et vos in vineam mecun” Paus Leo X memutuskan perpisahan total. Semua kelompok pembaharuan (Observantes, Coletani, Clareni, Capucini, Martinistae, Amodeiti) dipersatukan menjadi “Reformati”. Mereka menjadi cabang Ordo I yang otonom sama sekali (dengan Minister umum dan sebagainya tersendiri). Dan Conventuales pun tersendiri. Selanjutnya Ordo I terpecah menjadi dua cabang.

Baiklah diingat pada saat itu (1517) juga reformasi sudah mulai dilancarkan oleh Luther. Pada tahun itu juga Luther secara terang-terangan menyerang Gereja Katolik (Paus). Maka Gereja Yesus Kristus di barat pun terpecah menjadi dua (dan lebih) gereja. Pemersatuan semua “Observantes” tersebut juga kurang berhasil. Di kalangan mereka pemersatuan tidak kuat dan kemerosotan kembali sudah mulai menyusup.

Semangat pembaharuan dalam Ordo I tidak dapat tidak menghanyutkan juga para pengikut Klara. Karena di kalangan mereka pun sana-sini tetap ada biara dan tokoh yang tidak senang dengan keadaan nyata. Tetapk ada biara dan tokoh yang ingin sungguh-eungguh menghayati Anggaran Dasar karangan Klara dan menyingkirkan Anggaran Dasar Urbanus.

B. KOLETA DARI CORBIE

Tokoh yang paling berjasa bagi pembaharuan antara Para Klaris ialah Koleta dari Corbie (1381-1447). Sebagai putri seorang tukang kayu dalam biara Benediktin di Corbie, Koleta lahir pada tahun 1381. Setelah orang tuanya meninggal, Koleta menjual harta miliknya dan bergabung dengan para Bhegin.

Gerakan wanita yang diaebut Bhegin sebenarnya sudah lama ada (mistika terkenal Hadewijch misalnya, ada dari kalangan mereka, abad XIII). Mula-mula para Bhegin itu tidak mempunyai organisasi, tetapi lama-kelamaan menjadi terorganisir. Kadang-kadang mereka menjadi liar dan menjurus ke bidaat, sehingga menjadi terkutuk oleh Paus-Paus dan dilarang oleh Konsili Viene (1311). Namun demikian mereka tetap ada dan antara lain ada sekelompok Bhegin di Corbie, di mana Koleta bergabung dengan mereka. Bhegin itu, yang tetap tersebar luas, adalah wanita saleh yang banyak beramal kasih. Mereka setengah biarawati setengah awam. Mereka tinggal berkelompok-kelompok di rumah-rumah kecil tersendiri. Mereka banyak beribadat, mempunyai pakaian khusus dan menangani berbagai karya amal kasih. Banyak dari kelompok Bhegin itu bergabung dengan Ordo III Fransiskan. Dengan demikian mereka tidak terkutuk dari pihak pimpinan Gereja. Secara rohani banyak yang dipimpin oleh Saudara-saudara Dina.

Koleta merasa kurang puas dengan gaya hidup para Bhegin itu. Ia menginginkan suatu gaya hidup yang lebih ketat lagi. Ia bisa menemukan itu di kalangan Klaris. Maka ia masuk Klaris di biara Moncel pada tahun 1400. Tetapi apa yang ditemukannya pada para Klaris (Urbanis) itu amat mengecewakannya, meskipun di Moncel, Klaris masih lebih setia dan bersemangat dari pada kebanyakan biara lain. Atas nasehat Yohanes Anet, gardian biara Saudara-saudara Dina di Hesdin, Koleta meninggalkan biara Klaris.

Kini Koleta menjadi “reclusa”. Adapun “reclusa” ialah wanita yang menghayati suatu gaya hidup khusus, yang secara resmi diterima, lengkap dengan Anggaran Dasar dan kaul-kaul tersendiri. Para “reclusa” itu seorang diri menetap di suatu pertapaan kecil (2-3 bilik), yang biasanya dibangun pada tembok Gereja (besar) atau bahkan di dalam Gereja. Dengan suatu kaul khusus, yang diterima oleh Uskup setempat, mereka tinggal terkurung dalam pertapaannya. Pintunya ditutup rapat-rapat dan kunci hanya ada pada orang lain. Ada dua jendela, satu yang melaluinya “reclusa” dapat mengikuti upacara dalam Gereja dan satu untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan kerja tangan (menjahit, menyulam, menyalin buku dab) dan dengan derma umat “reclusa” menjamin kehidupannya. Kerap kali “reclusa” itu cukup besar pengaruhnya oleh karena berlaku sebagai “ibu rohani” bagi banyak umat. Bagi Koleta di Corbie pada Gereja “Notre Dame” atas biaya para Benediktin (pada tiang penyangga Gereja itu) dibuat pertapaan kecil. Koleta dengan kaul dikurung di situ. Di sana pun Koleta mulai mendapat pengalaman mistik bermacam-macam.

Pada tahun 1406 Koleta mendapat suatu penglihatan Fransiskus. Beliau mengeluh karena kemerosotan parah yang terjadi dalam kedua Ordo yang ia dirikan. Penglihatan itu mengubah arah hidup Koleta. Ia merasa diri dipanggil untuk mengusahakan pembaharuan dan pemulihan kedua Ordo Fransiskus, Ordo Saudara-saudara Dina dan Ordo St. Klara. Ia mohon dispensasi dari kaulnya sebagai “reclusa” dan izin untuk mendirikan suatu biara Klaris yang sepenuh-penuhnya menghayati Anggaran Dasar karangan Klara, termasuk kemiskinan mutlak. Permohonan itu diajukan dan dikabulkan oleh Paus Benediktus XIII di Avignon pada tahun 1406. Paus Benediktus XIII itu sebenarnya Paus gadungan (meskipun di saat itu memang sukar diketahui umat, mengingat skisma yang sedang memecah Gereja Latin). Paus (syah) yang berkedudukan di Roma pada saat itu ialah Bonifacius XI. Tetapi Benediktus XIII didukung oleh Perancis dan lain-lain negara, meskipun mula-mula ditentang dan malah dikepung tentara. Oleh karena beliau tidak mau mengalah dan menganggap dirinya Paus yang syah, beliau kemudian mendapat dukungan antara lain dari pihak Perancis. Bisa dimengerti bahwa Koleta di Perancis menganggap Benediktus sebagai Paus yang syah dan menghubungi dia di Avignon.

Pada waktu itu Koleta dikunjungi oleh seorang Saudara Dina bernama Henrikus de Baume (de Balms), seorang Conventual dan mistikus. Ia ditemani seorang nyonya bangsawati yang bernama Brissay. Kunjungan kedua orang itu oleh Koleta diartikan sebagai sebuah tanda dari Allah. Besama dua orang itu Koleta pergi mengunjungi Paus Benediktus XIII di Avignon. Paus pada saat itu berada di kota Nice. Di situ ia menerima Koleta serta kedua temannya itu. Paus begitu terkesan oleh kepribadian Koleta, sehingga Paus yang sudah lanjut usia, bersujud di depan Koleta waktu masuk ruang Paus. Koleta sebenarnya sudah mempersiapkan suatu tulisan berisikan maksud dan rencananya untuk memulihkan kedua Ordo Fransiskus. Paus sendiri mengambil tulisan itu dari tangan Koleta dan serta merta menyetujuinya. Pada saat itu pun Paus sendiri menerima Koleta sebagai anggota Ordo II dan menjadikannya Abdis. Jadi dengan dukungan penuh Paus itu, Koleta dapat mulai melaksanakan rencananya. Paus mengizinkan Koleta mendirikan sebuah biara Klaris baru dengan segala hak, kewajiban dan kedudukan biara-biara lain. Dalam biara baru itu Koleta boleh mengumpulkan wanita mana pun (yang berumur 18 tahun keatas), entah awam, entah reclusa, entah tertiaris, entah biarawati. Pokoknya Koleta mendapat kuasa penuh, sama dengan kuasa Paus sendiri dalam hal itu. Ia tidak dapat dihalangi oleh siapa pun. Untuk mengawasi dan mengurus pembangunan biara baru, Koleta boleh mengangkat sejumlah rohaniwan, entah Saudara-saudara Dina atau rohaniwan lainnya.

Hanya pelaksanaan rencana Koleta tidak selancar diharapkan. Koleta kembali ke Corbie. Di sana ia hanya mendapat dua pengikut. Maka Koleta pindah ke Hesdin guna mendirikan biara di sana. Tetapi ia mendapat perlawanan, juga dari pihak Saudara-saudara Dina. Gardian (Yohaiaes Anet) yang dahulu mendukung Koleta sudah meninggal dan saudara-saudara lain di sana tidak bersedia menerima apalagi mendukung suatu “pembaharuan” yang direncanakan Koleta dan antara lain tertuju kepada mereka juga.

Koleta yang amat kecewa dan hampir putus asa mendapat pertolongan dari seorang nyonya bangsawati bernama Blanche dari Geneva. Kepada Koleta serta kedua temannya ia menawarkan sebagian dari rumah (istana)nya. Maka di sana dengan berkat Paus Benediktus XIII komunitas yang amat kerdil itu menetap. Menjelang akhir tahun 1407 Koleta mendengar tentang sebuah biara Klaris (didirikan tahun 1290) di Besancon, yang hampir saja tertinggalkan. Gedungnya sudah roboh dan hanya tersisa dua rubiah. Koleta minta izin Sri Paus untuk pindah ke situ. Izin itu diberikan juga pada tahun 1408. Dari kedua rubiah yang tersisa itu, satu menggabungkan diri dengan Koleta dan yang satu lagi pindah ke lain tempat.

Begitu berdirilah biara Klaris yang diperbaharui (reformatae) yang pertama. Komunitas kecil itu dilayani oleh Conventual Hendrikus de Baume. Pembaharuan Koleta itu jelas tidak secara langsung terpengaruh oleh Observantes dalam Ordo I. Hendrikus tidak termasuk kelompok Observantes. Ia “Saudara Dina” saja, tetapi jelas merasa kurang puas dengan keadaan nyata dalam Ordo I Conventuales.

Dua tahun kemudian (1410) Koleta melihat kemungkinan untuk membuka biara kedua di kota Auxenne. Dengan dispensasi Sri Paus sendiri (clausura) Koleta pergi melihat tempat itu. Di perjalanan ia singgah pada sekelompok Saudara Dina Conventuales di kota Dole (sejak tahun 1372). Saudara-saudara Dina itu cukup bersemangat. Mereka terkesan dan tertarik oleh gagasan Koleta untuk memulai suatu pembaharuan di kalangan mereka (Conventuales) sendiri. Biara di Dole itulah yang menjadi awal pembaharuan yang dikemudian hari disebut “Coletani”.

Sebab Koleta berbicara dengan saudara-saudara (yang sudah agak tua) itu dan mohon supaya mereka melayani serta mendukung biara Klaris baru yang dibuka di Auxenne dan di lain-lain tempat juga. Memang Koleta hanya mau menerima pelayanan dari Saudara-saudara Dina yang mendukung pembaharuan. Komunitas di Dole nyatanya rela dan bersedia menolong Koleta serta memenuhi syaratnya.

Koleta meneruskan usaha pembaharuannya. Setelah biara Klaris baru, yang ketiga, didirikan pada tahun 1417 di kota Poligny, Koleta minta izin Paus Martinus V supaya setiap biara baru boleh diberi empat Saudara-saudara Dina untuk melayaninya. Permohonan itu dikabulkan. Maka kalau Koleta membuka biara baru (Decise 1419, Seurre 1421/1423, Moulins 1422, Aigueperse, Vivey, Nozeroy 1424- 1425), setiap kali ada juga sejumlah Saudara-saudara Dina Conventuales yang ikut serta dalam pembaharuan. Pada tahun 1426 Koleta pergi ke Perancis selatan untuk mendirikan biara Klaris baru. Dan terjadi demikiag di Castres.

Koleta terus mendapat dukungan dari pihak Hendrikus de Baume. Bersama beliau Koleta pergi kemana-mana. Hanya Koleta mengharapkan juga dukungan dari pihak Minister umum Saudara-saudara Dina (yang masih hanya satu). Yang menjabat waktu itu ialah Wilhelmus dari Casale. Minister umum itu ternyata mau mendukung.

Pada tahun 1434 Koleta sibuk menyusun konstitusi-konstitusi khusus bagi biara-biara yang bergabung dengannya. Dalam hal itu Koleta minta nasehat Minister umum tersebut dan juga sejumlah pejabat-pejabat Gereja lain. Mereka sedang berkumpul dalam Konsili di Basel, yang mengakhiri skisma yang memecah Gereja Katolik. Konsep Koleta disetujui dan dikembalikan kepadanya pada tahun 1434 itu juga. Beberapa hari sebelumnya Minister umum sudah menulis sepucuk surat yang memberikan kepada Koleta bermacam-macam hak istimewa. Ia berhak memvisitasi biara-biara yang didirikannya, memindahkan baik para rubiah maupun para Saudara-saudara Dina yang melayani biara-biara itu. Dan itu pun menurut kebijaksanaan Koleta sendiri. Dengan lain perkataan: Koleta dapat bertindak sebagai kepala sebuah ordo yang berdiri sendiri dan tatanannya berbeda dengan tatanan Klaris tradisional. Muncullah apa yang boleh disebut “Ordo” yang organisasinya mirip dengan Ordo Saudara-saudara Dina. Yang paling mengesankan: Koletapun bertindak sebagai kepala Saudara-saudara Dina yang mengikuti pembaharuannya. Semua itu sungguh-sungguh suatu pembaharuan juga dalam organisasi Klaris. Biasanya mereka bergantung pada pimpinan Saudara-saudara Dina setempat. Tidak mempunyai kepala bersama, dan tidak ada semacam “kapitel umum”. Sekarang muncul sebuah ordo Klaris dengan kepala bersama, dengan kapitel umum, dengan rubiah-rubiah yang dapat dipindahkan dari biara yang satu kepada biara lain. Untuk semuanya itu perlu ada konstitusi, sebab Anggaran Dasar Klara sama sekali tidak berpikir kepada organisasi semacam itu.

Koleta ternyata tidak lalai memanfaatkan kedudukannnya sebagai kepala sebuah ordo. Ia menciptakan Klaris-Klaris yang sungguh dibaharui, di Jerman dan Belgia juga. Yang menjadi paling panting, pusat seluruh ordo itu, ialah biara di kota Gent (Belgia) yang bernama “Bethlehem”. Pada tahun 1426 di sana mau didirikan sebuah biara. Tetapi batu pertama baru diletakkan pada tahun 1442. Koleta sendiri ikut menetap di sana dan tinggal sampai akhir hidupnya. Dari situ sekali lagi ia pergi kemana-mana, misalnya pada tahun 1444, Koleta mendirikan biara di Amiens (Perancis) dan menyediakan sejumlah rubiah untuk menghuninya. Namun Koleta selalu kembali ke Gent, di situ ia meninggal pada tahun 1447.

Waktu Koleta meninggal, sudah ada 15 biara Klaris baru yang dengan teliti menepati Anggaran Dasar karangan Klara, sesuai dengan konstitusi-konstitusi yang dikerjakan Koleta. Dalam seluruh usahanya Koleta mendapat dukungan dari Paus-Paus, baik di Avignon dahulu maupun di Roma kemudian, dari sementara Saudara-saudara Dina dan sejumlah awam yang berpengaruh. Memang orang, umat, senang melihat semangat Klara hidup kembali dan Klaris kembali menjadi setia pada panggilannya sendiri. Dan seperti telah dikatakan, Koleta serentak melancarkan pembaharuan di kalangan Saudara-saudara Dina (Conventuales).

Pembaharuan yang dilancarkan Koleta dalam Ordo II dan Ordo I mendapat perlawanan dari pihak para “Observantes”. Mereka menganggap dirinya satu-satunya wakil dan saluran pembaharuan sejati dalam Ordo I dan Ordo II. Mereka berusaha untuk menempatkan pembaharuan yang digalakkan Koleta di bawah naungan mereka. Karena itu mereka tidak senang sama sekali dengan kedudukan otonom Koleta dan “Observantes Coletani” di Perancis. Terus diusahakan menempatkan mereka semua di bawah wewenang para Observan­tes di Italia. Yohanes dari Capistrano misalnya, pada tahun 1442 mencoba membujuk Koleta, supaya menempatkan diri di bawah wewenang (urisdictio) para Observantes. Tetapi Koleta menolak. Sebab ia kurang senang dengan cara para Observantes menangani pembaharuan mereka, yaitu lepas dari pimpinan Ordo I, yang masih satu. Koleta kuatir kalau-kalau itu akan membawa perpecahan dalam Ordo I. Dan itu tidak dapat diterima Koleta yang menganggap seluruh Ordo I sebagai satu dan yang seluruhnya mau dibaharui. Karena itu Koleta selalu meminta saudara-saudara untuk melayani biaranya, yang tentu saja mengusahakan pembaharuan tetapi tidak mendukung usaha para Observantes.

Firasat Koleta memang tepat. Perpecahan dalam Ordo I yang terjadi pada tahun 1517 sayangnya menjadi halangan dalam pembaharuan seluruh Ordo I, seperti yang dicita-citakan Koleta. Akibatnya bagi Ordo II ialah: juga Ordo II tidak seluruhnya dapat mengalami pembaharuan seperti selama 40 tahun direncanakan dan diusahakan Koleta.

Usaha Koleta secara resmi diberkati sekaligus dibekukan pada tahun 1458. Pada tahun itu Paus Pius II mensyahkan dan meresmikan Anggamn Dasar Klara bersama dengan konstitusi-konstitusi karangan Koleta. Tetapi semuanya hanya berlaku bagi Klaris-Koletin saja. Dengan demikian pembaharuan yang dilancarkan Koleta dibendung dan tidak dapat lagi memasuki seluruh Ordo II, sebahagian besar tetap “Urbanis”.

C. LAIN-LAIN USAHA PEMBAHARUAN

Meskipun Koleta tokoh yang paling berbobot dan paling berhasil, namun ia bukan satu-satunya tokoh selama abad XV yang membuktikan bahwa karisma Klara dapat menggerakkan orang beriman. Waktu Koleta melancarkan pembaharuan di Perancis, di lain-lain tempat pun gerakan pembaharuan di antara para Klaris-Urbanis muncul. Di lain-lain tempat itu, gerakan tidak langsung terpengaruh oleh gerakan Observantes dalam Ordo I. Mereka secara wajar berusaha mengikut sertakan para Klaris dalam pembaharuannya. Sama seperti para Observantes terutama di Italia subur berkembang, demikian pun pembaharuan antara para Klaris mula-mula berpijak terutama di Italia.

Ada pembaharuan yang berpusat di Mantua. Pada tahun 1420 Bernardinus dari Siena mengadakan serangkaian khotbah di kota Mantua dan amat mengesankan di hati para pendengar. Isteri penguasa (Duce) setempat, yaitu Paola Malatesta memutuskan mendirikan biara Klaris yang menepati Anggaran Dasar Urbana secara penuh. Nama biara baru itu ialah “Corpus Christi”. Kelompok rubiah pertama (20 orang) didatangkan dari biara S. Ursula di Milano. Para Klaris di biara S. Ursula itu pada tahun 1418 membaharui dirinya terpengaruh oleh Bernardinus dari Siena itu. Dengan rely hati mereka menempatkan diri di bawah pimpinan para Observantes. Pembaharuan di Milano itu menghanyutkan juga sebuah biara Augustines, yang sebahagian besar beralih menjadi Klaris dan menghayati Anggaran Dasar tanpa dispensasi. Mereka mendapat banyak calon yang sungguh-sungguh. Mereka membuka biara baru, yaitu S. Chiara.

Jadi dari S. Ursula di Milano, Paola Malatesta mendatangkan 20 Klaris untuk menghuni biara barunya di Mantua. Kemudian (1445) biara di Mantua itu masih memperketat gaya hidupnya, terpimpin oleh Observan terkenal lainnya, yaitu Yohanes dari Capistrano. Yohanes menulis sebuah “komentar” atas Anggaran Dasar, yang membuka mata para Klaris bagi segala implikasi dan konsekuensi praktis dari Anggaran Dasar itu. Komentar itu semacam “konstitusi-konstitusi”. Konstitusi-konstitusi itu memuat sejumlah besar aturan terperinci mengenai umur calon yang dapat diterima, mengenai pakaian, puasa, berdiam diri, ulah-tapa, jenis kerja yang dapat ditangani dan pemilihan para pejabat biara serta perawatan rubiah yang sakit. Dalam komentar itu, Yohanes menyebut semua aturan itu sebagai “perintah”. Para Klaris mengerti salah, seolah-olah sungguh “perintah” yang pelanggarannya menjadi “dosa”, malah “dosa berat”. Maka seorang pembantu Yohanes dari Capistrano, yaitu Nicolaus dari Capistrano, menulis sebuah keterangan, yang menjelaskan bahwa bobot semua “perintah” itu tidaklah sama. Kebanyakan aturan yang diberikan Yohanes dari Capistrano hanya berupa “ajakan” dan “nasehat” saja. Rupanya keterangan itu belum berhasil menjernihkan situasi. Pada tahun 1446 Paus Eugenius IV (1431-1447) turun tangan dengan menulis sepucuk surat kepada pimpinan (Vicarius, gelarnya) para Observantes (Yakobus dari Brindizzi). Ia menyuruh para Observantes memperhatikan para Klaris. Mereka mesti menjelaskan bahwa “perintah-perintah” yang sesungguhnya (yang pelanggarannya menjadi dosa) hanya ketiga kaul dan pingitan. Paus menasehati para Klaris memakai sepatu dan tidak mempertahankan “berdiam diri abadi”. Tentu saja pembaharuan yang sehat perlu juga, namun orang pun mesti tahu batas. Rupanya Paus berpendapat bahwa sementara Klaris terlalu bersemangat. Seluruh gejolak itu menyangkut terutama biara Corpus Christi di Mantua.

Suatu pusat pembaharuan Klaris di Italia yang lain ialah biara S. Lucia di Foligno. Mula-mula biara itu biara Augustines, tetapi pada tahun 1422 beralih menjadi Klaris: Biara S. Lucia itu meminjamkan regu-regu rubiah bersemangat kepada biara-biara lain untuk melancarkan pembaharuan Klaris di sana juga, kalau biara-biara itu memang menginginkannya. Pada tahun 1448 Abdis S. Lucia sendiri (Margareta dari Salmona) dengan 22 rubiah pergi ke biara Monteluce di Perugia. Baru saja biara itu didirikan dan komunitas terdiri atas 20 rubiah. Mereka dilayani oleh dua Camilliani. Rupanya pembaharuan itu sedikit banyak dipaksakan kepada rubiah-rubiah itu. Sebab kebanyakan dari 20 rubiah itu tidak mau menerima Margareta serta teman-temannya yang datang dari Foligno. Akhirnya mereka meninggalkan biaranya dan pindah ke tempat lain. Insiden kecil itu memperlihatkan bahwa “pembaharuan” tidak di mana-mana diterima dengan senang hati dan kadang-kadang sedikit banyak dipaksakan oleh sementara pembaharu yang terlalu fanatik.

Biara Monteluce di Perugia pada gilirannya menjadi sarang pembaharuan. Sebab Abdis S. Lucia tersebut kemudian dengan 9 rubiah pergi ke biara S. Cosimalo di Roma yang turut diperbaharui. Demikian pun pada tahun 1453 biara S. Chiara Novella di Florence dan pada tahun 1453 biara di Urbina diperbaharui. Dan masih ada lain-lain biara yang diikut sertakan dalam semangat pembaharuan itu. Biasanya dengan bantuan personalia dari Foligno dan Perugia. Ternyata dalam kedua biara itu ada cukup banyak orang yang bersemangat tinggi.

Banyak biara Klaris lain pun terhanyut oleh semangat pembaharuan di Italia, terpengaruh oleh Bernardinus dari Siena, Yohanes dari Capistrano dan lain-lain tokoh dari kalangan para Observantes. Bernardinus malah berbangga bahwa memperbaharu tidak kurang dari 200 biara Klaris di Italia. Tetapi jelas pula bahwa di kalangan para Klaris terjadi perpecahan. Ada yang mau menjadi “Observan” dengan menerima Anggaran Dasar Klara, ada yang hanya menghayati Anggaran Dasar Urbanus dengan lebih ketat dan setia, ada juga yang tidak mau ikut serta dalam pembaharuan.

Ketegangan itu diilustrasikan sebuah insiden kecil dalam biara S. Apolinaris di Milano. Sekitar tahun 1490 pimpinan biara itu minta dan mendapat izin Tahta Suci untuk menempatkan diri di bawah pimpinan para Observan, mengganti Conventuales. Tetapi 10 rubiah tidak mau mengubah apa-spa, sedangkan 30 mendukung pembaharuan. Akibatnya 10 rubiah itu meninggalkan biara itu dan pergi ke tempat lain. Namun S. Apolinaris selanjutnya subur berkembang.

Insiden itu pun memperlihatkan bahwa para Klaris kadang-kadang menjadi perebutan antara Observantes dan Conventuales. Ketegangan dan perebutan itu nampak sekitar Koleta (yang tetap tidak mau bergabung dengan Observantes). Tetapi hal serupa terjadi di lain-lain tempat juga. Ketegangan antara Observantes dan Conventuales dalam Ordo I memecah-belahkan para Klaris juga. Namun tidak pernah menjadi “dua ordo” (kecuali dengan Koleta) oleh karena para Klaris tidak membentuk sebuah “ordo” dengan arti kata biasa. Tiap-tiap biara mandiri. Itu pun sebabnya mengapa pembaharuan tersebut kerap kali tidak tahan lama. Sebab banyak biara Klaris yang diperbaharui itu tidak menerima Anggaran Dasar Klara, tetapi Anggaran Dasar Urbanus IV saja. Dan sudah dikatakan bahwa justru Anggaran Dasar itulah biang keladi semua kemerosotan, sehingga pembaharuan yang dilaksanakan dalam rangka Anggaran Dasar itu hanya memberantas kemerosotan paling parah tanpa sungguh-sungguh menghidupkanp style=”text-align: justify;” kembali karisma Klara. Unsur-unsur yang menurut Klara paling panting tetap tidak jadi dihayati. Dan dalam rangka Anggaran Dasar itu kemerosotan tidak lama kemudian kambuh lagi, oleh karena Anggaran Dasar itu bukan sebuah sarana berdayaguna untuk mengendalikan perkembangan semacam itu.

Di kalangan para Klaris sendiri tampil beberapa tokoh yang dari dalam mencetuskan pembaharuan. Mereka tidak terpengaruh oleh Observantes dan pun pula tidak sama sekali datang dari luar seperti Koleta. Pengaruh tokoh-tokoh itu, mengingat gaya hidupnya dalam pingitan biasanya tidak amat luas. Namun dalam batasnya mereka toh menyalurkan, mempertahankan dan mengobarkan semangat dan cita-cita Klara. Beberapa di antara mereka boleh disebutkan namanya.

Sezaman dengan Koleta di Perancis, di Milano (Italia) tampil ke depan Felicia Mesta (1378-1441). Waktu berumur 12 tahun Felicia terpikat oleh suatu gaya hidup ketat dan berulah-tapa dan ingin tetap perawan. Waktu cukup umur ia masuk Klaris (Urbanis) di biara S. Ursula di Milano. Di sana hidup selama 25 tahun. Jadi ia ikut serta dalam pembaharuan biara itu yang dilancarkan para Observantes. Oleh karena menjadi Abdis, Felicia turut mendorong pembaharuan itu. Tetapi pembaharuan itu tetap tinggal dalam rangka Anggaran Dasar Urbanus, sedangkan Felicia ingin seluruhnya kembali kepada Anggaran Dasar Klara. Maka akhirnya ia memulai suatu biara baru yang berpegang teguh pada Anggaran Dasar Klara dengan kemiskinan mutlak seperti yang diinginkan Klara. Sampai meninggal pada tahun 1441, Felicia menjabat Abdis dalam biara yang ia buka di Milano.

Seorang tokoh yang lebih mencolok mata ialah Katharina dari Bologna (1413-1463). Ia seorang wanita bangsawati terdidik (puella litterata) dan berbakat seni. Ia memang terdidik dalam lingkup istana penguasa setempat di Ferara. Di situ ia berperan sebagai “abdi dalem” kehormatan bagi permaisuri Margerta d’Este. Waktu berumur 13 tahun, Katharina bergabung dengan Ordo III Fransiskus. Dengan setia ia menepati Anggaran Dasar Ordo III. Anggaran Dasar itu dibuat oleh Paus Nicolaus IV (1289), yang menempatkan semua Poenitentes (yang belum bergabung dengan Dominikan atau Karmelit) di bawah pimpinan Saudara-saudara Dina. Anggaran dasar itu cukup ketat dan keras, dengan aturan khusus perihal sembahyang, puasa, pakaian, ulah-tapa, sidang anggota, menerima sakramen Tubuh Kristus dan sakramen Tobat. Ada larangan membawa senjata, angkat sumpah dan ikut serta dalam pesta rakyat dan sebagainya.

Setelah masuk Ordo III hidup rohani Katharina berkembang dan mendapat ciri mistik. Ia mendapat sejumlah penglihatan dan pengalaman mistik lain. Pengalaman mistiknya dituliskan Katharina sendiri dengan gaya prosa dan gaya sajak yang berbobot dari segi seni sastra. Ia pun menulis sebuah risalah mengenai askese dan mistik yang berjudul: Tujuh senjata rohani. Setelah Katharina meninggal risalah itu diterbitkan dan amat laris di Italia. Buku itu semacam “pedoman” untuk hidup rohani. Katharina beberapa lamanya menjabat sebagai Magistra para Novis.

Sebab waktu berumur 17 tahun, Katharina bergabung dengan sekomunitas wanita di Ferara, yang menganut Anggaran Dasar Ordo III. Jadi semacam “biarawati aktip”. Seorang ibu bangsawati di Ferara mendirikan sebuah biara dan ingin bahwa menjadi biara Klaris dari arus pembaharuan. Sejumlah anggota dari komunitas Ordo III tersebut, termasuk Katharina, masuk biara itu dan seregu rubiah didatangkan dari Mantua untuk melatih mereka dalam gaya hidup Klaris sejati. Dalam kelompok itulah Katharina beberapa lamanya menjadi pemimpin Novis dan waktu itu menulis “Tujuh senjata rohani” tersebut.

Setelah selama 24 tahun Katharina hidup dalam biara di Ferara itu, kota Bologna meminta supaya sebuah biara, serupa dibuka di kota itu. Katharina dengan 15 rubiah dari biaranya pindah ke Bologna. Di sana Katharina menjadi Abdis dan meninggal di situ juga. Mayatnya tidak membusuk dan sampai dengan hari ini di Bologna dapat dilihat dan dihormati. Tersimpan di sana juga buku Brevir yang oleh Katharina sendiri dihiasi dengan gambar berwarna (miniatur) yang memperlihatkan bakat seni lukisnya.

Eustokhia dari Mesina (1432-1468) juga seorang bangsawati dan mistika. Ia termasuk keluarga bangsawan terkenal di Sesilia, yaitu keluarga Colona(yang menghasilkan juga beberapa Paus). Waktu berumur 11 tahun Eustokhia secara formal dikawinkan dengan seorang bangsawan. Tetapi satu dua tahun kemudian “suaminya” sudah meninggal, sebelum hidup bersama. Waktu berumur 14 tahun Eustokhia masuk Klaris di Basico. Di sana hidup rohani-mistiknya menjadi matang. Dan mistiknya sungguh bercirikan fransiskan. Sebab seluruh berpusat Yesus selagi hidup di dunia. Secara “rohani” Eustokhia berziarah ke Tanah Suci dan mengunjungi di sana semua tempat suci. Secara mistik ia ikut serta dalam hal-ihwal Yesus. Waktu kota Mesina dilanda wabah pes, Eustokhia merelakan diri untuk merawat mereka yang kena, baik dalam komunitasnya sendiri maupun di antara orang miskin di kota Mesina.

Tetapi Eustokhia kurang puas dengan cara hidup Klaris (Urbanis) di Basico. Ia ingin kembali ke gaya hidup Klara sendiri. Atas prakarsa Eustokhia dan dengan izin Paus Calixtus III, Eustokhia mendirikan biara baru (dibiayai oleh familinya) di bukit yang disebut Monte Vergina (1457). Klaris-klaris lain masih mencoba menghalangi prakarsa Eustokhia, tetapi gagal. Setelah mencapai umur sesuai dengan hukum Gereja (30 tahun), Eustokhia menjadi Abdis dan menjabat Abdis sampai meninggal pada usia 36 tahun.

Antonia dari Florence (1401-1476) adalah salah seorang dari sekian banyak contoh lain, bagaimana seseorang melalui Ordo III memberi semangat baru kepada Ordo II (dan Ordo I). Antonia juga seorang bangsawati dari Fldrence, yang masih muda dikawinkan. Ia mendapat seorang anak laki-laki, yang dikemudian hari menjadi gangguan besar baginya. Perkawinannya lekas terputus oleh karena suami Antonia meninggal. Pada tahun 1429 Angelina dari Marsciano telah mendirikan sebuah biara Ordo III di Florence. Ini rubiah-rubiah Ordo III, lengkap dengan pingitan. Selama abad XIV Ordo III (yang pada tahun 1289 mendapat Anggaran Dasarnya dari Paus Nicolaus IV) berkembang ke arah hidup membiara. Cukup banyak Tertiaris membentuk komunitas dengan seorang kepala, hidup bersama dan mereka menangani karya amal kasih. Bahkan boleh jadi mereka juga berkaul. Tetapi kaulnya tidaklah “resmi” dan kelompok-kelompok itu menurut hukum Gereja yang berlaku tidak termasuk “hidup membiara”. Angelina dari Marsciano maju selangkah lagi dengan mendirikan komunitas Tertiaris dengan pingitan dan kaul meriah, sehingga menurut hukum Gereja termasuk kaum biarawan.

Angelina lahir pada tahun 1377. Ia dipaksa kawin, hanya tidak lama karena suaminya meninggal. Angelina menolak kawin lagi, bahkan menghasut puteri-puteri dari saudara-saudaranya serta kenalannya untuk menolak perkawinan dan menolak semua lamaran. Agitasi Angelina itu membangkitkan kemarahan para putera yang mencari istri, tetapi terus ditolak. Angelina lalu dituduh menganut bidaat (Kathar, Albigens). Pada tahun 1395 ia mendapat hukuman pembuangan, sehingga harus meninggalkan tempat asalnya (Montigiore). Ia pergi ke Asisi. Di sana ia mendapat penglihatan yang menyuruhnya mendirikan sebuah komunitas Tertiaris berpingitan di Foligno. Uskup Foligno mendukung Angelina dan seorang tuan tanah menghadiahkan sebidang tanah. Pada tahun 1397, rumah Tertiaris berpingitan yang pertama dibuka. Angelina menjadi Abdis. Kemudian Angelina mendirikan 15 rumah lain, sehingga terbentuk semacam “Kongregasi Tertiaris berpingitan”, sebab Angelina menjadi atasan semua rumah itu. Salah satu biara Angelina pada tahun 1429 di buka di Florence. Angelina meninggal pada tahun 1435.

Adapun Antonia dari Florence segera menggabungkan diri dengan komunitas itu. Beberapa tahun kemudian Antonia diangkat menjadi Abdis biara induk di Foligno, tempat juga Angelina tinggal. Kemudian Antonia diutus untuk membuka biara baru di Aquila. Di sana Antonia bertemu dengan Yohanes dari Capistrano. Terkesan oleh semangat “Observan” itu, Antonia menginginkan suatu gaya hidup yang lebih ketat lagi, yaitu gaya hidup Klara yang asli.

Yohanes dari Capistrano berhasil membeli suatu biara Augustines di Aquila. Di sana Antonia memulai hidup Klaris yang asli, dibantu dan dipimpin oleh Yohanes dari Capistrano. Jelaslah pada Antonia ada sesuatu yang mempunyai daya tarik yang besar. Sebab pada waktu ia meninggal (berusia 75 tahun) komunitasnya terdiri atas 100 rubiah (1476).

Camilla (Baptista) Varani (1451-1517) adalah seorang Klaris mistika. Melalui tulisan-tulisannnya, ia mendukung pembaharuan para Klaris. Camilla adalah putri raja muda (duce) Camerino, yaitu Julius Caesar. Waktu berumur 10 tahun ia mendengar khotbah seorang Fransiskan, yaitu Markus dari Montegallo (observan) mengenai sengsara Kristus. Camilla begitu terkesan sehingga selanjutnya perhatiannya terpikat oleh Yesus yang menderita. Ia sama sekali tidak berniat masuk biara. Tetapi ia mengharapkan mendapat suami yang sesuai, setelah pendidikannnya yang berbobot selesai. Tetapi, entah bagaimana, rencananya itu tidak berjalan. Waktu berumur 32 tahun ia masuk biara di Urbino pada tahun 1481 dan ia diberi nama Baptista. Ayah Camilla sendiri mendirikan sebuah biara bagi Klaris di Camerino.

Di Urbino, Camilla mulai mendapat pengalaman-pengalaman mistiknya dan itu diteruskan di Camerino sampai Camilla meninggal pada tahun 1517. Pengalaman-pengalaman mistik Camilla di Urbino dituliskannya dalam karyanya “I Ricordi di Gesu” dan pengalamannya di Camerino dituangkannya dalam berbagai karya lain. Ia ternyata mahir sekali dan berbakat seni, dalam seni sastra, prosa maupun puisi, baik dalam bahasa latin maupun dalam bahasa Italia. Riwayat hidup Camilla, wahyu-wahyu yang diterimanya, surat-surat dan sajak, semuanya berkisar seputar Yeses yang menderita. Itulah intipati pengalaman mistik Camilla.

Semua karya Camilla sudah diterbitkan oleh M.Santoni: Le Opere Spirituali della B. Battista Varani, Camerini 1894 dan G.Boccanera: Biographia e scritti della B. Camilla Baptista Verani, Misc.Franc. LVII (1957) 64-94. 230-297. 333-365.

Yang cukup menarik perhatian ialah: semua tokoh yang menonjol selama abad XV adalah bangsawati. Sudah dicatat bahwa di masa sebelumnya para Klaris sudah jatuh di tangan para bangsawan yang mengakibatkan kemerosotan yang parah. Tetapi nyatanya ada kekecualian antara para bangsawati. Dari mereka keluar dorongan untuk menjadi Klaris sejati lagi.

D. BUAH-BUAH BARU

Pembaharuan di kalangan Klaris selama abad XV tidak hanya menyegarkan yang lama, tetapi malah menghasilkan ordo-ordo baru. Yaitu “Congregatio Immaculatae Conceptionis” (Conceptionistae) di Spanyol dan “Ordo Annuntiationis” (Annuntiationistae) di Perancis.

Beatrice (adik Amedeo) dari Sylva Menses (1424-1491) lahir di Ceuta, Maroko, yang waktu itu dijajah Portugal. Ia termasuk keluarga bangsawan yang berkerabat dengan raja Portugal. Di masa mudanya ia menjadi “abdi dalem” di istana raja Castillia, Yohanes II. Isteri raja menjadi cemburu, sehingga Beatrice terpaksa meninggalkan istana.

Sebagai “oblate” atau “converse” ia masuk biara rubiah Sistersien di Toledo (Spanyol). Selama 33 tahun ia hidup dalam biara Sistersien itu.

Tetapi pada tahun 1484, Beatrice dengan 12 puteri lain memulai suatu kongregasi baru di Galiana, yaitu “Congregatio Immaculatae Conceptionis”. Mula-mula mereka menganut Anggaran Dasar Benediktus dengan konstitusi-konstitusi sistersien. Pada tahun 1484/1491 prakarsa Beatrice disetujui Paus Innocentius VIII atas permohonan permaisuri Isabela. Tetapi sekaligus pimpinan kongregasi baru itu dipercayakan kepada Kardinal Ximenes (OFM).

Setelah Beatrice meninggal, maka Kardinal Ximenes pada tahun 1495 memberi mereka sebuah Anggaran Dasar baru, serentak menempatkan mereka di bawah pimpinan Observantes. Tindakan itu disetujui Paus Alexander VI. Selanjutnya kongregasi Klaris itu dapat mempertahankan diri sampai dengan hari ini (1968: 3000 anggota dan 134 biara di Spanyol, Portugal dan Amerika Latin). Anggaran dasar karangan Kardinal Ximenes memang amat terpengaruh oleh Anggaran Dasar Klara dan tradisi Fransiskan.

Pada waktu yang sama di Perancis, Yohana dari Valois mendirikan Ordo “Annuntiatio”. Yohana dari Valois adalah puteri raja Perancis Ludovikus XI dan lahir pada tahun 1464. Sejak awal ia tidak merasa tertarik oleh cara hidup di istana raja. Ulah-ulahnya sangat menjengkelkan ayahnya. Di bawah pimpinan seorang Fransiskan, yaitu Gilbertus Nicolai alias Gabriel Maria, Yohana memang menempuh suatu gaya hidup asketik. Dan bahkan mendapat penglihatan Maria. Penglihatan itu mengispirasikan kepada Yohana gagasan untuk mendirikan suatu ordo baru, rangkap dua dengan wanita dan pria yang bersama-sama menempuh gaya hidup yang sama. Gagasan itu tidak diterima oleh pemimpin rohani Yohana.

Sementara itu ayah Yohana memutuskan agar puterinya harus kawin dengan calon si ayah, yaitu Ludovikus dari Orleans (Ludovikus XII). Perkawinan paksa itu berlangsung pada tahun 1486. Ludovikus sebenarnya juga tidak mau kawin dengan Yohana. Maka setelah naik tahta pada tahun 1489, Ludovikus menceraikan Yohana. Paus menyatakan perkawinan dahulu tidak syah (karena ada paksaan). Lalu Yohana menetap di Bourges.

Di sana Yohana mengumpulkan sejumlah puteri untuk mewujudkan rencananya dahulu: ordo rangkap dua. Dari pihak Saudara-saudara Dina tidak ada minat untuk “biara rangkap dua” itu. Maka “ordo baru” ini hanya menampung wanita saja. Gilbertus Nicolai menulis “konstitusi-konstitusi”, yang oleh Paus Alexander VI pada tahun 1500 diresmikan. Ordo baru itu ditempatkan di bawah pimpinan Para Observan. Jelas ordo Yohana itu “Annuntiatio”, tidak boleh disebut sebagai “Ordo Fransiskan”. Yohana meninggal pada tahun 1505.

Pages: 1 2 3 4 5 6