Sejarah Singkat Para Pengikut St. Clara

Dilihat: 3.152 kali

[ Index Buku  St. Clara dan Warisan Rohaninya ] [ Index Ordo St. Clara ]

Bagian VII
Sejarah Singkat Para Pengikut St. Clara dari Assisi

[Prakata] [Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4] [Penutup]

BAB II
 Urbanis Menjadi Jaya dan Merosot
(1263-1406)

A. ANGGARAN DASAR URBANUS DITERIMA

Rupanya para Klaris lamban dalam menerima Anggaran Dasar yang diwajibkan oleh Paus Urbanus IV. Adapun sebab utama kiranya justru karena ikatan dengan Ordo I terputus. Para rubiah merasa diri tertinggalkan dan terlantar. Maka Paus Bonifasius VIII (1294-1303) turun tangan sekali lagi. Pada tahun 1297 Paus itu kembali mempercayakan pelayanan rohani para Klaris kepada Minister Umum Saudara-saudara Dina. Dia itu, bukan Kardinal Pelindung, yang bertanggung jawab, dan Minister Propinsial turut bertanggung jawab. Selanjutnya pelayanan rohani para Klaris ditangani oleh para Saudara Dina. Tetapi mereka tidak lagi menangani pelayanan jasmani. Justru sebaliknya yang terjadi. Para Klaris wajib menjamin penghidupan para Saudara Dina yang melayani mereka secara rohani, juga dalam pengelolaan dan pengurusan harta milik para Klaris. Memang jumlah Saudara Dina menjadi begitu banyak, sehingga mereka susah mendapat penghidupan. Para Saudara Dina sendiri memang tidak mempunyai harta milik tetap untuk menjamin penghidupan. Oleh karena para Klaris umumnya mempunyai harta milik tetap yang cukup luas, maka mereka diwajibkan menjamin penghidupan para saudara yang melayani mereka.

Tetapi Paus Bonifasius masih mengambil tindakan lain. Minister Umum Saudara Dina dan para Propinsial disuruh supaya berusaha agar Anggaran Dasar Urbanus IV diterima oleh semua biara Klaris. Dan usaha itu berhasil baik, bahkan biara Klaris di Asisi menyesuaikan diri. Meskipun secara formal biara Assisi menuruti Anggaran Dasar Klara, namun pada tahun 1288 mereka sudah minta izin boleh memiliki harta milik tetap sebagai jaminan hidup. Dengan lain perkataan “Privilegium paupertatis” yang diperjuangkan oleh Klara selama 40 tahun, kini dicabut atas permintaan pengikut-pengikutnya sendiri. Maka pada tahun 1297 semua Klaris secara praktis menuruti Anggaran Dasar Urbanus, yang tidak bercirikan Fransiskus atau Klara. Klaris sudah berubah menjadi Urbanis.

Sementara itu para Saudara Dina pergi ke kawasan Timur Tengah, ke daerah kaum muslimin. Para pengikut Klara ikut serta. Sekitar tahun 1300 di kawasan Timur Tengah ada sekitar 11 biara Klaris, bahkan barangkali sekitar 23 (berita yang ada tidak senada). Tentu saja mereka tinggal di daerah di mana orang Latin (perang salib yang sementara waktu berhasil) secara politik berkuasa (kerajaan-kerajaan Latin). Waktu mereka diusir kembali, para Klaris pun hilang dari tengah kaum muslimin.

Para Klaris masuk abad XIV (1300-1400) sebagai Urbanis. Mereka tidak banyak berbeda lagi dengan sekian banyak rubiah lain. Ciri-ciri khasnya sudah dicabut. Dan selama abad XIV semangat mereka semakin merosot, terutama justru sehubungan dengan apa yang oleh Klara dianggap ciri khas para pengikutnya, baik dalam Anggaran Dasarnya maupun dalam wasiatnya. Dua-duanya terlupakan oleh para Urbanis itu.

Jumlah biara Klaris/Urbanis itu memang terus bertambah banyak. Pada awal abad XIV (1300) ada sekitar 200 biara, tetapi pada akhir abad itu (1400) ada 400 biara. Biara-biara itu terutama terdapat di Italia, Perancis dan Spanyol. Di Eropa utara, Jerman, Inggris, jumlahnya kecil saja. Tetapi di Eropa timur (Hungaria, Polandia) ada lebih banyak, berkat pengaruh Agnes dari Praha. Pada prinsipnya biara-biara Klaris itu seragam, sebab semua menuruti Anggaran Dasar Urbanus IV. Tetapi pada kenyataannya ada perbedaan besar. Sebab semua berdiri sendiri, tanpa hubungan satu sama lain (kecuali Anggaran Dasar yang sama, mirip dengan Benediktin dahulu). Semuanya sebenarnya bergantung pada situasi dan pimpinan setempat. Besarnya biara, misalnya, berbeda sekali. Ada beberapa (seperti di Napels dan Cracow) yang memuat sampai 250 rubiah. Pada hal biara-biara lain kecil sekali, ada yang hanya memuat 2-3 rubiah. Rata-rata jumlah rubiah berkisar sekitar 25 hingga 35 rubiah.

Suatu perkembangan sekaligus kemerosotan terjadi di bidang tatanan komunitas. Klara menerima. segala macam orang dan semua perbedaan sosial hilang. “Abdis” biara sebenarnya hanya “pelayan” para saudari. Klara menerima “Saudari-saudari yang menangani pelayanan di luar biara (pingitan)”. Tetapi saudari-saudari itu pun setingkat dan setara dengan saudari-saudari lain. Klara tidak menerima di dalam biara wanita-wanita yang tidak berprofesi atau calon Klaris. Dengan itu Klara menyimpang sekali dari struktur biara-biara rubiah yang lazim (Benediktines dll). Tetapi justru struktur monakhal-feudal itulah yang menyusup kembali ke dalam biara para Klaris/Urbanis.

Sebenarnya Anggaran Dasar Urbanus sendiri membuka pintu. Anggaran Dasar itu berkata tentang “saudari-saudari pembantu” (Klara: Saudari-saudari yang menangani pelayanan luar), yang mudah saja dianggap “servientes”, pelayan-pelayan rubiah yang sebenarnya. Dan selama abad XIV dalam biara-biara Klaris/Urbanis memang tampil “suster tingkat kedua” dan “pelayan-pelayan”. Ternyata komunitas terdiri atas dua “kelas”, bahkan tiga, yang amat berbeda, juga dalam gaya hidupnya. Komunitas itu dikepalai oleh seorang Abdis, yang tidak berbeda lagi dengan Abdis Benediktines. Abdis Klaris mulai memakai “tongkat” (seperti Uskup, Abas) dan sana-sini (misalnya di Fucechio) malah diberi gelar “episcopessa” (uskup wanita). Abdis di biara-biara besar tampil sebagai ratu yang berkuasa atas biara serta harta miliknya (berupa tanah, rumah, gereja dan lain sebagainya) dan semua orang yang terdapat di situ. Abdis malah mempunyai semacam kuasa gerejani (jurisdictio), sehingga misalnya dapat memberi dispensasi atas hukum Gereja (dan Anggaran Dasar) dan para Saudara Dina (rohaniawan dan awam) yang melayani para rubiah dan menetap, di situ di bawah kuasa (jurisdictio) Abdis, bukan di bawah kuasa Propinsial atau Minister Umum para Saudara Dina. Anggaran Dasar Urbanus IV menentukan bahwa “capellani” dan, kalau perlu, beberapa saudara lain (tidak perlu dari Ordo I) mesti berjanji ketaatan kepada Abdis dan sepenuhnya di bawah kuasa Abdis. Awam itu nampaknya semacam “oblati”.

Di samping dan di bawah Abdis itu ada rubiah-rubiah yang sebenarnya (yang berprofesi meriah). Mereka mempunyai macam-macam hak istimewa. Rubiah-rubiah (moniales) itu melakukan ofisi ilahi (sembahyang berkala). Kecuali itu mereka menyulam atau memintal sedikit, menyalin buku-buku dan kalau berbakat mengerjakan karya-seni. Kerja keras dan kasar dianggap tidak layak bagi “tuan puteri” (dominae) itu. Pada Fransiskus gelar itu hanya sebutan kehormatan kesatria: Tuan puteri yang pantas bagi mempelai surgawi. Tetapi diantara para Klaris/Urbanis gelar itu kembali menunjuk kepada “status” sosial: Nona yang perlu dilayani oleh pelayan-pelayan khas rendahan.

Maka di bawah rubiah-rubiah itu ada “sorores” (bukan: moniales), “servientes” (suster pelayan) yang menangani kerja tangan dan material di biara dan di kebun. Mereka melayani para “moniales” yang tidak lagi bersedia menangani kerja tangan biasa.

Lebih lanjut lagi, kadang-kadang ada juga “conversae”. Ialah wanita-wanita yang untuk “bertobat” (convertere) masuk biara. Mereka menjadi setengah “biarawati”, semacam “oblatae”. Mereka pun menangani kerja tangan di dalam dan di luar biara.

Akhirnya sana sini malah terdapat “mulieres servientes”. Ialah wanita (awam) yang menangani pekerjaan di luar (pingitan) biara sama sekali. Kadang-kadang mereka setengah budak dan malah – di Spanyol – budak belian (muslimat).

Ada sementara biara penganut Anggaran Dasar Urbanus yang menampung sejumlah puteri (bangsawati) di bawah umur yang tidak dimaksudkan sebagai calon Klaris. Mereka hanya dititipkan di dalam biara, meskipun Klara tegas melarang praktek macam itu. Ada juga yang menampung sejumlah laki-laki (semacam “oblati”) yang juga bekerja untuk para rubiah, yang hidup tenang-tenang saja, sebab segalanya serba terjamin.

Begitulah biara-biara Klaris/Urbanis menjadi cerminan sempurna dari masyarakat feudal di sekitarnya. Masyarakat itu justru mau didobrak dan dirombak Klara dan sedang dalam proses menghilang.

B. MUTIARA YANG DIGALI KLARA TERPENDAM KEMBALI

Kemerosotan paling parah menyangkut mutiara yang diwariskan Klara kepada pengikut-pengikutnya, yakni “Kemiskinan yang amat suci”. “Privilegium paupertatis” sudah dicabut (Urbanus IV) dan itu membuka pintu untuk masuknya harta milik dan kekayaan. Sana-sini memang ada biara Klaris/Urbanis yang miskin benar, bahkan melarat. Tetapi kemiskinan itu biasanya terpaksa, bukan suka-rela dan atas kehendak para Klaris. Mereka menerima, terlalu banyak orang dan tidak berhasil memperoleh harta milik yang secukupnya. Tetapi kebanyakan biara mempunyai harta milik cukup, malah luas. Harta milik tetap berupa tanah, kebun anggur/zaitun, rumah-rumah, gereja-gereja (artinya: milik gereja-gereja itu), wakaf, bekas biara-biara (miliknya) ordo lain dan sebagainya. Hasil atau uang sewa milik itu dipungut biara dan itulah yang menjamin penghidupannya. Padahal Klara ingin para saudari hidup dari hasil kerja tangan atau dari derma yang diusahakan.

Kecuali itu dari para calon yang mau masuk, dituntut membawa masuk sejumlah harta milik (dos). Mereka yang tidak punya apa-apa dan tidak mendapat seorang sponsor, tidak diterima. Paus Benediktus XII pernah mencoba membendung “simoni” macam itu. Tetapi beliau kurang berhasil.

Tetapi tidak hanya biara, juga masing-masing saudari kerap kali mempunyai milik cukup besar berupa tanah, rumah dan sebagainya. Klara dalam Anggaran Dasarnya mengizinkan para saudari menerima apa yang diberikan kepada mereka dan boleh dipergunakan untuk keperluan pribadi sejauh perlu dan dibagi-bagikan kepada saudari-saudari lain yang membutuhkannya. Tetapi sekaligus Klara menetapkan bahwa secara pribadi, sesuai tradisi, para saudari tidak diizinkan memiliki apa-apa (khususnya milik tetap). Tetapi selama abad XIV penegasan yang terakhir ini dilupakan para Klaris/Urbanis, berlawanan dengan seluruh tradisi kerahiban, dan yang pertama dipakai dengan leluasa. Ada Klaris yang kendati profesinya (tetapi dengan persetujuan Paus) secara pribadi mempunyai harta milik tetap (tanah, rumah dll). Akibatnya: di dalam komunitas yang sama ada saudari yang miskin dan ada saudari yang kaya. Rubiah-rubiah yang kaya, atas biaya sendiri, mendirikan bilik-bilik pribadi dengan segala peralatan yang sesuai dengan status nona bangsawati, termasuk sejumlah pelayan pribadi yang mengurus semua, termasuk makan minum bagi sang nona.

Paus Benediktus XII pada tahun 1336 mencoba mencabut dan membendung kemerosotan itu. Tetapi beliau jelas tidak mendapat tanggapan yang diharapkan. Tidak ada perubahan apa-apa.

Harta tetap yang cukup luas milik biara-biara (dan pribadi) itu perlu diurus semestinya. Untuk pengelolaan (sesuai tata hukum) yang baik, Klaris membutuhkan bantuan ahli. Maka setiap biara mempunyai semacam “badan pengurus”. Paus seringkali mengangkat orang terkemuka (baik pejabat Gereja maupun awam) sebagai “conservator”. Ini biasanya hanya jabatan kehormatan saja. Urusan harian ditangani oleh (awam) seorang “procurator” dan “pengurus” atau “provisor” ataupun sebuah panitia. Orang-orang itulah yang pergi menarik hasil bumi, uang sewa dan sebagainya yang menjadi hak biara. Dan kalau perlu mereka menangani perkara-perkara dalam pengadilan (gerejani dan sipil). Jelas sering kali ada sengketa yang melalui pengadilan mesti dibereskan. Orang-orang itu tentu saja mesti mendapat “gaji” yang layak dan tidak jarang mereka cukup korup juga.

Urusan harian para Klaris boleh jadi ditangani oleh Saudara Dina, meskipun tidak ada lagi ikatan sekuat yang dikehendaki Klara. Tidak sedikit biara Klaris tetap menampung sejumlah Saudara Dina. Kadang kala salah satu di antaranya diberi gelar “guardianus” biara Klaris dan propinsial menjadi “praesidens “. Hanya sekarang Klaris mesti juga menjamin penghidupan Saudara-Saudara Dina itu (terbalik dari apa yang dimaksudkan Klara dan Fransiskus). Biara-biara besar di Napels, yang didirikan permaisuri Slancia, mempunyai tidak kurang dari 50 Saudara Dina untuk melayani para Klaris di sana. Di Bologna ada 15 Saudara Dina, yang nafkahnya wajib di jamin oleh para Klaris.

Ada pelbagai sebab-musabab yang mengakibatkan para pengikut Klara agak banyak meninggalkan jalan yang digariskan Klara. Satu di antaranya ialah: Sejak awal mereka yang berorientasi kepada St. Damiano hanya sebahagian saja yang mengambil alih apa yang menjiwai Klara. Banyak di antaranya sejak awal tidak asli. Mereka kan sudah terlibat dalam “gerakan para pentobat” atau malah sudah menjadi rubiah (Benediktines dsb). Mereka tidak menyerap semangat Klara, tidak benar-benar melihat keaslian Fransiskanisme Klara. Mereka terlebih menilainya sebagai suatu “pembaharuan hidup religius” (rubiah), tidak sebagai sesuatu yang serba baru.

Kesalah-pahaman itu didukung oleh Anggaran Dasar (konstitusi) Hugolinus (Gregorius IX) dan Anggaran Dasar Innocentius IV. Di satu pihak mereka mendukung dan memajukan gerakan pentobatan dan kemiskinan dan mengajak mereka bergabung dengan Klara. Di lain pihak mereka mengaburkan gagasan pendorong Klara. Waktu akhirnya Anggaran Dasar Klara diresmikan, halnya sudah terlanjur. Situasi sudah terlalu simpang-siur. Kebanyakan biara tinggal di jalur tradisional-rubiah dan tidak menempuh jalur Klara.

Yang paling parah ialah kelompok St. Damiano sendiri yang akhirnya mengalah terhadap tekanan dari pihak Paus Urbanus IV. Paus itu sebenarnya merestui perkembangan nyata yang sudah menyimpang dari jalur Klara. Anggaran Dasar Klara sendiri nyatanya dibekukan. Dalam Anggaran Dasar Urbanus, kendati kata pendahuluan yang memuji Klara, Klara sesungguhnya tidaklah tampil. Anggaran Dasar Urbanus hanya sekumpulan hukum kering tanpa inspirasi rohaniah. Nampaknya “keras” tetapi hukum tanpa jiwa memang tidak jadi dilaksanakan. Dan apa yang nampaknya keras melalui macam-macam dispensasi yang diminta para Klaris, semuanya diperlunak sedemikian rupa, sehingga para Klaris serupa saja dengan rubiah lain dan hanya memakai nama lain.

C. ORDO BANGSAWATI

Selama abad XIV keadaan terus tambah parah oleh karena para Klaris jatuh di tangan para bangsawan dan penguasa. Biara-biara kerap kali dibangun atau paling tidak “diadopsi” oleh para bangsawan dan orang kaya lainnya. Dengan memberi harta milik tetap, penghidupan terjamin. Adapun sebabnya mengapa mereka begitu murah hati ialah: Mereka menilai biara-biara yang mereka dirikan atau adopsi sebagai tempat penampungan wanita yang berlebihan. Di sana nona dan nyonya itu aman, bisa “saleh” dan menikmati ketenangan yang diinginkan. Biara kerap kali dilihat juga sebagai tempat titipan nona dan nyonya yang sudah berumur sedikit. Biara menjadi lembaga sosial belaka. Calon-calon semacam itu agak dipaksakan dan sukar ditolak oleh biara-biara yang bergantung pada golongan bangsawan dan penguasa. Nona dan nyonya serta puteri macam itu tidak masuk Klaris oleh karena terpikat oleh semangat Klara. Sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang dikehendaki Klara dan Fransiskus, dan yang di kalangan Klaris sendiri amat kabur. Tentu saja semangat sejati, seandainya pernah ada, cepat-cepat merosot. Tidak jarang calon-calon macam itu dipaksakan mele bihi kapasitas biara.

Nona dan nyonya serta puteri-puteri itu sudah biasa dengan gaya hidup yang relatip mewah. Mereka sudah biasa dilayani oleh macam-macam pembantu. Di dalam pingitan mereka hanya mau meneruskan apa yang sudah lazim. Karena itu mereka membawa masuk harta milik, yang tetap dianggap milik pribadi atau milik famili. Karena itu mesti diurus seperti dahulu. Mereka pun membawa masuk pembantu dan pelayannya, atau paling tidak mengharapkan orang macam itu di dalam biara.

Sebagai bangsawati, mereka pun mesti diberi kedudukan yang sesuai. Akibatnya terlalu banyak “Abdis” tidak mempunyai semangat Klara, tetapi bersemangat permaisuri dan ratu, yang “mengatur” biaranya seperti sudah biasa mengatur “keraton kecil” para bangsawan dan penguasa.

Dari pihak Paus beberapa kali ada usaha untuk membendung masuknya “calon” yang tidak pada tempatnya. Begitu misalnya pada tahun 1336 ditetapkan jumlah calon maksimal yang boleh ditampung dan diterima. Tetapi usaha itu ternyata gagal. Begitu pula gagal usaha Paus yang sama (Benediktus XII) pada tahun 1336 untuk melarang milik pribadi Klaris.

D. SITUASI TIDAK MENDUKUNG

Suatu atau beberapa sebab yang terlebih lahiriah juga mengakibatkan kemerosotan umum di kalangan Klaris. Yaitu situasi masyarakat Eropa pada umumnya. Pada pertengahan abad XIV (1348-1352) Eropa dilanda wabah pes yang menyebabkan banyak orang, juga di kalangan para Klaris mati. Wabah itu menimbulkan suatu panik dan mengakibatkan kemerosotan hebat di seluruh masyarakat. Tambah lagi bahwa selama abad XIV Eropa dilanda perang terus­menerus, khususnya perang antara Inggris dan Perancis yang berlangsung seratus tahun dan disertai macam-macam perang kecil-kecilan. Perang itu pun menyebabkan banyak kerusakan, kekacauan dan kemerosotan moral. Terlalu banyak orang lari ke biara mencari perlindungan dan keamanan, meskipun tidak sedikit biara turut dirusak dan dirampoki.

Suasana umum dalam Gereja Katolik pun tidak memupuk semangat sejati. Akibat kerusuhan politik dan social di Italia dan Roma, Paus sejak 1304 sampai 1375 berkediaman di Avignon, Perancis. Di sana Paus lebih kurang dikuasai oleh raja-raja Perancis dan menjadi permainan politik belaka. Jabatan Paus menjadi perebutan politik dan di jual-belikan. Maka para Paus umumnya bukanlah Paus yang pantas dan layak menduduki tahta Petrus. Atas jasa Katarina dari Siena, akhirnya Paus kembali ke Roma dan terjadilah “Skisma”. Sejumlah Kardinal yang tidak setuju dengan tindakan Paus memilih Paus lain yang menganggap dirinya juga Paus yang sah. Skisma itu berlangsung antara tahun 1378 sampai tahun 1447. Kadang kala malah ada tiga Paus serentak. Umat tidak tahu lagi Paus mana yang sah. Dan masing-masing Paus dengan liku-liku politik, dengan uang dan macam-macam “anugerah” rohani mencari pendukung dan pembela.

Selebihnya di masa itu secara kultural muncul apa yang disebut sebagai “Renaissance”, suatu aliran kuat yang mencoba menghidupkan kembali kebudayaan Roma dan Yunani dahulu. Pada dasarnya aliran itu kafir belaka, namun amat didukung oleh sejumlah Paus dan pejabat Gereja yang tinggi. Itulah menyebabkan kemerosotan di bidang agama dan moral.

Akhirnya dari pihak Saudara-saudara Dina maupun Klaris tidak mendapat banyak dorongan ke arah yang betul. Ordo I sendiri kacau dan terpecah-belah. Pertikaian berkisar sekitar kemiskinan yang penghayatannya merosot dan memancing reaksi protes dan kecaman dari pihak saudara-saudara yang ingin cita-cita Fransiskus dipertahankan. Masalah pokok ialah: Apakah gaya hidup semula mesti dipertahankan atau – demi kepentingan Gereja, yaitu kerasulan/pastoral – gaya hidup mesti disesuaikan dengan keadaan dan keperluan nyata, meskipun itu berarti memperlunak kesederhanaan dan kemiskinan gaya hidup semula. Batas konkrit masalah dasar itu meruncing sekitar penghayatan kemiskinan. Ada dua “partai” atau arus, yaitu “spiritual” dan “communitas”. Para jago spiritual ialah Yohanes Olivi (seorang teolog), Elbertino de Casale dan Angelo Clareno, dua mistisi (1278-1378) dan arus itu didukung seorang mistika Ordo III, Angela de Foligno, dan seorang mistika Augustin yang bernama Chiara de Montefalco. “Communitas” merupakan arus paling besar, tetapi tidak mempunyai tokoh yang menonjol.

Pertikaian interen itu pun menyebabkan Ordo I berbentrokan dengan Paus Yohanes XXII. Ia mengambil- tindakan keras terhadap spiritual, antara lain beliau menyuruh membakar sejumlah spiritual yang tidak mau taat. Sebagian dari Ordo I, di kapitel umum, termasuk Minister Umum, Michael dari Cesena, memberontak dan bergabung dengan kaisar Jerman (Ludovikus dari Bavaria) melawan Paus yang semakin tegas dan keras. Kekacauan dalam Ordo I tentu saja tidak menolong, sebaliknya, menghalang para Klaris untuk memper­tahankan atau menemukan kembali jalan yang benar.

Kekacauan dan kebingungan mencapai puncaknya pada akhir abad XIV dalam apa yang tadi sudah disebut, yaitu skisma. Gereja Katolik terpecah menjadi dua. Perpecahan dalam Gereja menyangkut juga kaum religius dan Ordo Saudara Dina. Sebagian mendukung Paus di Avignon, sebagian mendukung Paus di Roma. Kadang-kadang dalam propinsi ada dua propinsial, dua kapitel dan sebagainya. Yang satu mendukung Paus yang satu, yang lain mendukung Paus yang lain. Masing-masing Paus juga mencari dukungan Ordo I, yang besar sekali dan luas pengaruhnya. Untuk mendapat dukungan itu masing-masing Paus memberi privilege, dispensasi yang semakin besar dari segala ikatan dan hukum, antara lain Anggaran Dasar. Dapat dipahami bahwa skisma itu memadamkan semangat keagamaan, religius dan ketaatan. Klaris tentu saja tidak terluput dari kemerosotan dan kekacauan umum.

Pages: 1 2 3 4 5 6