Sinter Klas dan Santa Klaus

22/12/2017
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 350 kali

sinterklaas_vs_santa_claus-715x400

Sekarang orang-orang Katolik Indonesia (khususnya di perkotaan) merayakan Sinter Klas, tetapi samakah dengan tokoh Sinter Klas yang dirayakan oleh generasi sebelum tahun 1970an? Dari mana datangnya perayaan ini? Ada kaitannya dengan Hari Raya Natal, perayaan dan pesta kelahiran Tuhan Yesus?

Sinter Klas

Kita mengenal Sinter Klas dari orang-orang Belanda yang dahulu menjajah kita. Berbeda dengan Santa Klaus yang sekarang ini begitu laku gegap gempita, Sinter Klas dirayakan pada tgl 6 Desember. Nama Sinter Klas ini berasal dari Santo Nikolaus, seorang uskup abad-abad pertama Masehi di Turki. Tokoh ini dilukiskan sebagai seorang yang bermurah hati, khususnya suka memberi hadiah-hadiah kepada anak-anak yang berperi-laku baik. Waktu Perang Salib, para serdadu Perang Salib dari Italia merampas kuburan Santo Nikolaus ini, dan kerangka yang penting-penting beserta harta perhiasan dibawa ke Italia dan mereka membangun sebuah katedral besar di Bari untuk menghormati Santo Nikolaus ini. Tulang belulang kerangka tubuhnya dimakamkan di dalamnya. Katedral megah ini masih ada sampai sekarang. Kelompok Perang Salib yang lain mengambil sisa-sisa kerangka yang ditinggalkan kelompok pertama itu dan membawanya ke Italia. Mereka pun mendirikan sebuah gereja besar di dekat Venetia untuk menghormatinya.

Sinter Klas yang dirayakan di Belanda (dan Jerman) dan kemudian masuk ke Indonesia ini, digambarkan sebagai seorang tua berkumis lebat dan berjenggot panjang yang sudah berwarna putih. Sosok tubuhnya pun gendut, tapi murah senyum dan tawa dan menyapa anak-anak dengan seruan “Ho ho hoooo!”. Diceriterakan kepada anak-anak, bahwa Sinter Klas ini mencatat tingkah laku semua anak-anak sepanjang tahun. Anak-anak yang baik akan memperoleh hadiah yang diinginkan dan diminta kepada Sinter Klas ini, tetapi anak-anak yang berperilaku tidak baik, belum tentu mendapatkan hadiah, atau hanya memperoleh hadiah kecil-kecil saja. Hadiah-hadiah ini akan diberikan pada tanggal 5 malam oleh pembantu Sinter Klas yang bernama Pit Hitam (Zwarte Piet). Karena rumah-rumah di Belanda itu tertutup rapat, tidak ada lubang sama sekali, maka Pit Hitam ini masuk ke dalam rumah melalui cerobong asap (semua rumah Belanda waktu itu mempunyai cerobong asap untuk mengalirkan asap dari tungku pemanas yang memanaskan ruang duduk rumah itu). Hadiah-hadiah dari Sinter Klas itu akan dimasukkan ke dalam kaus kaki anak-anak itu. Karena itu, pada tanggal 5 Desember sore hari anak-anak menggantungkan kaus kaki sebesar mungkin supaya Pit Hitam bisa memasukkan hadiah yang bagus-bagus dan besar. Pada malam itu anak-anak harus tidur pada waktunya, yakni jam 7 malam dan tidak boleh bangun lagi, supaya Pit Hitam dapat memasukkan semua hadiah yang bagus-bagus dari Sinter Klas. Kalau ada yang bangun, Pit Hitam akan lari, karena takut dituduh pencuri, dan tidak sempat memasukkan hadiah-hadiah yang dibawanya.

Karena anak-anak sudah pergi tidur dan tidak akan kembali lagi, maka ibu mereka dengan leluasa dapat memasukkan hadiah-hadiah yang diminta itu ke dalam kaus kaki masing-masing anak yang digantungkan dekat tungku pemanas kamar itu.

Pada tanggal 6 Desember pagi hari, anak-anak tidak boleh bangun sendiri dan pergi mengambil hadiah. Mereka harus menunggu dibangunkan oleh orang tuanya. Berdoa terlebih dahulu, bersyukur kepada Tuhan. Baru kemudian bersama-sama menuju ke ruang duduk dan dengan tenang mengambil kaos kaki yang sudah berisi hadiah-hadiah itu. Di dalamnya ada surat kecil dari Sinter Klas yang berisi nasehat-nasehat, teguran dan lain-lain. Sebenarnya yang menulis surat ini juga ibu dan ayahnya sendiri. Dengan penuh perhatian anak-anak itu mendengarkan apa yang ditulis oleh Sinter Klas itu. Ibu dan ayahnya pastilah menekankan berbagai hal, supaya anak itu memahami dan menaatinya.

Demikianlah sebenarnya cara pengajaran moral, budi pekerti dan perilaku kepada anak-anak itu.

Di Belanda, kedatangan Sinter Klas ini (waktu saya berada di sana pada tahun 1972-1977) merupakan peristiwa nasional, bahkan pernah disiarkan langsung oleh TV Belanda. Sinter Klas beserta Pit Hitam dan teman-temannya naik kapal kuno masuk ke pelabuhan Amsterdam, disambut dengan upacara meriah bagaikan menyambut kedatangan seorang raja. Dengan mata yang terbuka lebar, mulut ternganga, hati berdegup penuh pengharapan, anak-anak melihat sosok Sinter Klas, dan khususnya Pit Hitam yang membawa kantung besar sekali di punggungnya, berisi hadiah-hadiah untuk “saya”.

Menjelang tanggal 6 Desember semua toko-toko, apalagi yang besar, di Belanda memajang segala sesuatu yang berhubungan dengan Sinter Klas dalam jendela etalasenya. Tanggal 7 pagi semuanya sudah berubah total. Semua etalase sudah memamerkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Perayaan Natal.

Karena itu dalam perayaan Natal, apalagi sesudahnya, tidak disinggung samasekali nama Sinter Klas, apalagi sosoknya. Karena memang tidak ada kaitannya.

Santa Klaus

Perayaan Santa Klaus ini berasal dari Amerika Serikat dan melanda ke seantero dunia. Di Indonesia kita rasakan setelah perayaan atau pesta Sinter Klas (ala Belanda) itu nyaris mati. Generasi akhir abad 20 tidak mengenal pesta Sinter Klas dan Pit Hitam 6 Desember itu. Paling-paling hanya pernah mendengar dari generasi sebelumnya nama Sinter Klas dan Pit Hitam. Kapan dan bagaimana dirayakan juga tidak diketahui lagi.

Melalui jalur bisnis, didukung dengan alat komunikasi yang semakin canggih, Santa Klaus pun memasuki atmosfir Indonesia. Segala-galanya merupakan fotokopi saja dari apa yang terjadi di negara asalnya: Amerika Serikat, yakni: muncul bersamaan dengan Hari Natal, dengan kendaraan salju yang ditarik oleh empat (atau lebih) ekor rusa bertanduk. Bahkan kereta beserta rusa dan Santa Klaus disertai Pit Hitam itu melesat melunjuri salju, bahkan bagaikan terbang ke atas. Dengan sendirinya diiringi dengan dentangan bel-bel besar yang bergantungan pada leher dan kereta itu sendiri. Lagu “Jingle bells” melukiskan lewatnya Santa Klaus ini, melesat cepat di atas hamparan salju, disertai dengan dentangan bel.

Sosok tubuh dan pakaian Santa Klaus ini pun persis sama dengan tokoh Sinter Klas asal Belanda itu. Karena itu, di Indonesia orang-orang tanpa ragu sedikit pun menyebut tokoh ini dengan nama Belanda: Sinter Klas. Padahal keduanya samasekali berbeda.

Dari mana asal usul Santa Klaus ini? Diceriterakan (dalam dongeng) bahwa tempat tinggalnya ada di kutub utara. Pada Hari Natal datang ke Amerika Serikat (kemudian disebarkan ke seluruh dunia!) untuk memberikan hadiah-hadiah kepada anak-anak khususnya. Sama dengan Sinter Klas, Santa Klaus ini juga mencatat kelakuan anak-anak sepanjang tahun.

Jadi, para pembaca yang budiman, Santa Klaus (atau Sinter Klas bagi orang Indonesia) yang dirayakan besar-besaran di kalangan bisnis Indonesia ini samasekali tidak ada kaitannya dengan Natal sebagai pesta dan hari raya Kelahiran Yesus Kristus.

Adegan-adegan dan dekor latar belakang yang ditampilkan juga persis seperti yang terjadi di Amerika Serikat, lengkap dengan saljunya. Karena itu sebenarnya fenomena Santa Klaus ini tidak sesuai dengan alam Indonesia. Mana ada salju di Indonesia!? Tetapi karena gegap gempita dan meriah dan semuanya itu dijejalkan kebenak masyarakat Indonesia melalui semua jalur komunikasi, hasilnya orang Indonesia pun tanpa sadar menirunya dan menganggap gejala Santa Klaus (Sinter Klas) ini berkatian erat dengan hari Natal sebagai Kelahiran Yesus Kristus. Sesuatu yang salah besar. Bahkan ada yang menyamakan Natal itu dengan kedatangan Santa Klaus (Sinter Klas), lengkap dengan saljunya. Persis seperti di Amerika Serikat.

Lihat saja di arena Mal-mal, pasti ada Sinter Klas dengan kereta yang ditarik kijang-kijang melesat, bahkan ke arah langit. Megah, meriah, mewah, dan tentu menarik banyak orang, sangat serasi sebagai latar belakang narsis: selfie, wefie.

Kandang, Pohon Natal dan Sinter Klas

Tradisi Gereja Katolik yang sudah berlangsung minimal delapan abad (berasal dari St. Fransiskus Asisi) dalam merayakan Hari Kelahiran Yesus Kristus adalah Gua Natal, yang menampilkan adegan kelahiran Yesus Kristus pada malam hari di kandang hewan di pinggiran Bethlehem.

Orang-orang Protestan tidak mempunyai tradisi Gua Natal, tetapi mereka mempunyai tradisi Pohon Natal yang juga berasal dari Eropa lewat Belanda. Dahulu, sampai tahun 1970an, pada Hari Natal orang dapat dengan pasti tahu keluarga ini Katolik atau Protestan. Kalau ada Gua Natal, pasti Katolik. Kalau ada pohon Natal ya pasti Protestan. Sekarang hal ini semakin rancu, karena ornamen pohon Natal ini semakin merasuki alam hidup orang Katolik. Bagaimana tidak, membuat Gua Natal itu tidak mudah, perlu banyak patung yang beraneka ragam. Harus dibangun kandang dan sebagainya. Sedangkan Pohon Natal lebih mudah. Apalagi tersedia pohon natal dari plastik. Ornamen dan pernik-pernik lain pun semakin tersedia dan nampak indah-indah.

Tetapi apakah makna dari Pohon Natal itu dalam hubungannya dengan Natal Kelahiran Yesus Kristus? Nyaris tidak ada. Mengapa?

Aslinya Pohon Natal itu dibuat sungguh dari pohon satu-satunya yang berdaun selama musim dingin pada 25 Desember itu: pohon pinus atau cemara. Semua pohon di Eropa yang lain tidak berdaun, pada gugur semua. Karena itu Pohon Natal yang dibuat dari pohon cemara itu melambangkan Kristus yang kuat dan kokoh di tengah badai kehidupan. Tetapi untuk orang Indonesia, perlambangan semacam ini kan jauh sekali jangkauannya. Nyaris semua pohon di Indonesia tidak pernah ada yang daunnya gugur sampai habis. Lalu apa hebatnya pohon cemara? Lambang itu pun mati. Apalagi kalau pohon itu dibuat dari plastik! Semakin omong kosong. Serang teman yang beragama Islam pernah bertanya kepada saya “Mengapa orang Kristen Indoneisa tidak menggantinya dengan pohon beringin? Lebih kokoh dan megah daripada pohon cemara!”

Lihat lagi apa yang ada di bawah pohon itu. Terdapat dos-dos, atau kotak-kotak hadiah  tertata rapi, warna warni. Sungguh hadiah? Tidak juga, karena hanya kosong, bohong-bohongan, lambang saja. Sehingga apa yang dinamakan Pohon Natal itu, memang kelihatan indah, penuh pernik-pernik, dengan lampu kelap-kelip…. Tetapi tidak melambangkan apa pun dalam rangka Hari Raya Natal. Kalau pohon itu sendiri juga dibuat dari plastik, maka kekosongan makna itu lengkap sudah.

Karena itu, kalau sampai dalam sebuah gereja Katolik sampai ada hiasan pohon Natal tanpa Gua Natal, maka penghayatan Natal sudah sangat hambar, hanya menunjukkan ketidak tahuan Panitia (beserta Pastornya!) akan makna Natal, Gua Natal dan Pohon Natal. Sangat menyedihkan. Saya menjadi semakin muak, kalau melihat pohon itu masih ditambahi dengan tebaran kapas putih-putih yang, katanya, gambaran salju. Parayaan Natal Indonesia kok ada salju! Di Betlehem juga tidak ada salju!

Kalau sampai Sinter Klas juga masuk ke dalam gereja, maka suasana gila sudah terjadi!

Lagu-lagu “Natal”

Lagu berbahasa Inggeris yang sangat terkenal dalam suasana Natal adalah “Jingle Bells”. Artinya: Lonceng, atau bel yang berdentangan. Bukan lonceng gereja, tetapi lonceng atau bel pada kereta Santa Klaus. Pernah di dalam gereja St. Paulus, Depok sekelompok kor sedang latihan mempersiapkan diri untuk Natal dan mereka sedang berlatih lagu Jingle Bells. Saya tidak bisa menahan diri untuk masuk dan bertanya, untuk dinyanyikan kapan lagu ini? Dirigen menjawab “Penutup Ekaristi Malam Natal, Romo. Boleh kan?” Lalu saya terangkan lagu apa “Jingle Bells” itu.

Lagu “Jingle Bells” adalah lagu yang melukiskan kedatangan Sinter Klas Amerika itu melaju di atas salju, ditarik rusa (kuda juga boleh!) dengan bel dan lonceng yang berdentangan. Sinter Klas itu tokoh fiksi yang katanya tinggal di Kutub Utara, dan datang ke Amerika untuk memberi hadiah kepada anak-anak. Kebetulan itu terjadi bersamaan dengan perayaan Natal. Jadi tidak ada kaitannya dengan kelahiran Yesus Kristus. Suasananya pun tidak sesuai dengan Indonesia, termasuk Depok ini! Jadi tidak boleh dinyanyikan sebagai lagu keagamaan, apalagi dalam Misa (kendati sebagai lagu Penutup). Lagunya memang enak dan ceria. Kalau dinyanyikan di lapangan dengan jingkrak-jingkrak ya boleh-boleh saja. Tapi kalau dinyanyikan dalam kaitannya merayakan Natal Kelahiran Yesus (misalnya dalam Natal di keluarga, lingkungan dsb), tentu saja tidak bisa.

Lagu ke dua yang sangat terkenal adalah “I am dreaming of a white Christmas”. Natal di Amerika tempat asal usul lagu ini, biasanya dalam keadaan alam yang bersalju. Segala sesuatu menjadi putih tertutup salju, karena itu muncul istilah “white Christmas”. Mengapa kok bermimpi akan “white Christmas”? Lagu ini dinyanyikan pertama kali oleh Bing Crosby pada 25 Des 1941 di Kraft Music Hall. Lagu yang melankolis ini melukiskan impian seorang yang merayakan Hari Natalnya jauh dari Amerika, di tempat tidak ada salju. Dibarengi dengan rasa rindu pada sanak keluarga (Hari Natal adalah hari pertemuan para anggota keluarga), maka lengkaplah sudah ”penderitaan hati” rasa rindu ini. Adegan terkenal, katanya, sewaktu Bing Crosby diundang ke salah satu kapal perang Amerika di tengah Lautan Pasifik dalam Perang Dunia II. Meledaklah kerinduan hati para serdadu pada keluarga di rumah, yang sudah berbulan-bulan ditinggalkan, dan sedang merayakan Natal dalam alam penuh salju…. Tak seorang pun mampu menahan tangisnya….

Sekali lagi “I am dreaming of a white Christmas” pun tidak ada kaitannya dengan kelahiran Yesus Kristus. Indah, tapi bukan lagu Natal dalam arti merayakan kelahiran Yesus Kristus. Kita boleh saja menyanyikannya dengan leluasa, asalkan tidak dalam perayaan keagamaan, apalagi Ekaristi.

Penutup

Pohon Natal nan indah, Sinter Klas yang bawa hadiah, Jingle Bells yang semarak gembira ria, I am dreaming yang menyentuh hati, tentu saja tidak dilarang dipergunakan, boleh-boleh saja. Juga bagi orang Katolik. Tetapi harus diketahui maknanya: sekedar sebagai hiasan kesemarakan lahiriah. Sekedar ornamen yang membuat suasana ceria. Tetapi bukan ungkapan penghayatan keagamaan, apalagi mengungkapkan rahasia kelahiran Yesus Kristus. Kedudukannya setara dengan nikmatnya masakan opor ayam yang dimasak pada perayaan Hari Raya Natal.

Depok, 14 Desember 2017

Alfons S. Suhardi, OFM.

Satu komentar pada Sinter Klas dan Santa Klaus

  1. roro
    25/12/2017 at 16:54

    Banyak lagu natal yang sebenarnya jauh dari pas untuk merayakan Ekaristi:Duabelas hari natal (twelfth day of christmas), Kling demting kling, atau ding dong mari berdentang

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *