- Ordo Fratrum Minorum - https://ofm.or.id -

Sejarah Ordo Fransiskan Hingga Tahun 1517

Unduh artikel ini

Artikel ini karangan: P. Cletus Groenen OFM.

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus

Fransiskus memang mula-mula tidak bermaksud untuk mendirikan suatu ordo kebiaraan. Tetapi keadaan dan hal-ihwal yang nyata akhirnya memaksanya untuk menempuh jalan itu, yaitu mendirikan suatu kelompok keagamaan baru di dalam Gereja Katolik. Lama-kelamaan berkembanglah sekitar Fransiskus sekelompok penganut yang semakin banyak jumlahnya. Sejak awal mula kelompok itu dianggap sebagai suatu perserikatan kegerejaan yang setara dengan perserikatan-perserikatan yang sudah ada. Juga para saudara Fransiskus “meninggalkan dunia”, hanya cara dunia ditinggalkannya berbeda dengan cara yang hingga saat itu tradisionil. “Meninggalkan dunia” bagi Fransiskus dengan penganut-penganutnya tidak berarti lagi menjauhkan diri secara materil dari masyarakat pada umumnya. Dalam perserikatan baru itu ditekankan “persaudaraan”.

Anggota-anggotanya berasal dari segala golongan masyarakat: awam dan rohaniwan, bangsawan dan warga kota, kaya dan miskin. Di dalam persaudaraan Fransiskan itu golongan masyarakat atau kegerejaan tidak memainkan peranan sama sekali. Prinsip pengatur dari masyarakat feodal diganti dengan prinsip persaudaraan Injili, yang dijiwai dan disemangati oleh saling mengabdi dan saling menaklukkan diri. Perserikatan Fransiskan hidup dan bekerja dengan organisasi yang selonggar-longgarnya. Para saudara tidaklah hidup di dalam biara, melainkan seolah-olah di jalan raya. Kekurangan hidup bersama di dalam biara diganti dengan ikatan pribadi yang kuat sekali, baik diantara para saudara maupun antara saudara-saudara dengan atasannya. Atasan itu dinamakan “minister”, artinya hamba dan pelayan persaudaraan. Hubungan satu sama lain tiap-tiap kali memuncak dalam apa yang disebut mereka “kapitel”. Di dalam kapitel macam itu semua saudara berkumpul dan merundingkan cara hidup mereka. Dalam dialog dengan saudara-saudaranya yang berkumpul di dalam kapitel itu, Fransiskus pun menyusun anggaran dasarnya.

Hubungan satu sama lain dimajukan dan dipelihara pula oleh “visitasi”, artinya: para atasan wajib sering mengunjungi saudara di manapun berada dan tiap-tiap saudara pun selalu boleh langsung menghadap atasannya untuk minta nasehat dan petunjuk. Persatuan antara semua saudara berdasarkan satu anggaran dasar bersama dan persatuan itu pun menyatakan diri di dalam pakaian seragam dan doa berkala yang mereka adakan bersama-sama (berupa Bapa kami dan kemudian berupa “brevir”, atau doa ofisi).

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

B. Perlu wadah yang pasti: organisasi

Tetapi ikatan pribadi tersebut akhirnya tidak mencukupi karena bertambahnya jumlah anggota. Sewaktu Fransiskus masih hidup Ordo Saudara-saudara Dina sudah mengalami suatu krisis dan muncullah macam-macam adat salah. Ternyata bahwa manusia membutuhkan suatu rangka hidup yang lebih ketat untuk melaksanakan cita-cita keagamaan Fransiskus. Langkah pertama menuju organisasi lebih ketat ialah pembagian ordo atas wilayah (yaitu dibagi ke dalam propinsi – sebagai hasil dari kapitel tahun 1217). Kemudian kecenderungan untuk mengumpulkan saudara-saudara dalam tempat tinggal yang lebih kurang tetap, cukup luas dan dengan jaminan materil yang cukup itu bertambah kuat.

Dalam hal “menetap” itu saudara-saudara dina mengambil alih banyak unsur dari hidup kebiaraan tradisionil. Di dalamnya ditekankan perpisahan dari “dunia” secara materiil juga dan kewibawaan atasan setempat (rumah) ditingkatkan. Mula-mula atasan “setempat” (rumah), yaitu “gardian” bahkan tidak ada sama sekali. Anggaran dasar tahun 1223 belum mengenal “gardian”, tetapi dalam wasiat Fransiskus sudah dianggap suatu jabatan tetap dan penting.

Sementara itu perserikatan saudara dina juga mengambil sikap lebih kritis terhadap anggota-anggota baru dan sikap itu terwujud dalam “tahun novisiat” (tahun 1220) yang diwajibkan. Fransiskus sendiri sebenarnya lebih suka akan suatu cara hidup Injili yang lebih bebas dan kurang terikat dan ia secara pribadi tidak begitu condong kepada suatu organisasi yuridis yang jelas dan ketat. Karena itu Fransiskus hanya dengan susah payah berhasil memberikan kepada perserikatannya suatu struktur yang jelas, meskipun ia sendiri insyaf benar bahwa struktur semacam itu sungguh perlu, mengingat banyaknya penganut-penganutnya (tahun 1220 sudah ada kira-kira 3.000 – 5.000 saudara dina).

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan

Setelah Fransiskus meninggal (tahun 1226) jumlah saudara terus bertambah dengan pesatnya. Sekitar tahun 1228 sudah ada lebih kurang 1583 tempat dimana saudara-saudara dina menetap dan sekitar tahun 1300 jumlah saudara-saudara dina ialah 30.000 – 40.000. Karena kekurangan organisasi dan karena sulitnya untuk melaksanakan kemiskinan Injil sebagaimana yang dihayati Fransiskus sendiri, maka perserikatan saudara-saudara dina setelah Fransiskus meninggal menjadi terpecah-belah karena perbedaan pendapat dan perbedaan cara hidup.

Para saudara menginginkan suatu struktur yang jelas untuk perserikatan raksasanya. Maka mereka menerima anggaran dasar dari tahun 1223, yang sebenarnya suatu piagam rohani, sebagai dasar hukum bagi perserikatan dan anggaran dasar itu mulai diterangkan lebih lanjut dalam aturan-aturan terperinci. Ada pun Paus Gregorius IX (bekas kardinal Hugolinus) menolong para saudara dalam usahanya itu dengan mengeluarkan surat keterangan “Qui elongati” (tahun 1230). Dalam “Bulla” itu anggaran dasar dari tahun 1223 dijadikan pangkalan yang secara hukum mewajibkan dan dijelaskan bahwa wasiat Fransiskus bukanlah “hukum” yang mewajibkan.

Jumlah saudara dina yang tetap mempertahankan cita-cita Fransiskus sebagai cita-cita Injil yang luhur sekali tetapi yang sekaligus berpendapat bahwa semuanya tidak begitu riil untuk hidup sehari-hari karena sukar dihayati oleh banyak orang, bertambah banyak. Golongan itu secara konsekwen mau “menyesuaikan” cita-cita fransiskan dengan keadaan riil dan perubahan-perubahan yang dialami Ordo Fransiskan. Juru bicara dan pendorong golongan ini ialah Minister Jendral saudara Elias (tahun 1232 – 1239). Sdr. Elias itu membuat dirinya dibenci oleh para rohaniwan dalam ordo, oleh karena ia mengutamakan kaum awam diantara saudara-saudara. Ia pun terlalu bertindak dengan kekerasan dan dengan menggunakan kewibawaannya.

Juru bicara lain dari ‘adaptasi’ itu ialah minister jendral yang berikut, yakni Haymo dari Faversham (tahun 1240 – 1244). Jendral yang terakhir ini mengambil alih beberapa adat kebiasaan yang berlaku dalam ordo Dominikus dan ordo-ordo lain, khususnya berhubung dengan struktur organisasi dan sehubungan dengan ibadah (liturgi) yang dirayakan oleh fransiskan-fransiskan dan yang disempurnakan oleh Haymo.

Golongan tersebut juga ingin merebut bagi ordo suatu kedudukan dalam ilmu pengetahuan dan pemeliharan jiwa. Tetapi hal itu hanya mungkin apabila kemiskinan sebagaimana dikehendaki Fransiskus disesuaikan dengan keadaan yang lain itu, meskipun itu juga belum berarti bahwa kemiskinan itu mesti dilunakkan. Mula-mula fransiskan-fransiskan terutama bergaul dan bekerja di kalangan orang-orang dan golongan rendahan dalam masyarakat. Hal itu sedikit lenyap karena usaha untuk memasuki lapangan ilmu pengetahuan tersebut.

Disamping golongan tersebut terdapatlah diantara saudara-saudara dina suatu golongan lain, yang sama seperti golongan pertama juga tidak mempunyai suatu “organisasi” khusus untuk memperjuangkan cita-citanya. Cita-cita itu ialah “menghayati Injil” secara murni sebagaimana dicita-citakan dan dihayati oleh Fransiskus sendiri. Golongan itu sungguh bersemangat luhur, tetapi kadang-kadang condong kepada sikap fanatik. Golongan ini yakin bahwa perserikatan saudara-saudara dina tidak hanya harus berpegang teguh pada anggaran dasar dari tahun 1223, tapi harus mengartikannya sesuai dengan Wasiat Fransiskus yang mau diberi status hukum disamping Anggaran Dasar itu. Golongan-golongan itu agak “takut” sedikit terhadap “dunia” dan kesalahannya terletak dalam hal ini bahwa mereka tidak sanggup membedakan antara inspirasi dan cita-cita Fransiskus dengan caranya inspirasi dan cita-cita itu diwujudkan dalam keadaan tertentu.

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo

Adapun Bonaventura (minister jendral tahun 1257-1273) adalah seseorang yang mengambil sikap penengah antara kedua kecenderungan tersebut dan berusaha mendamaikannya satu sama lain dengan kebijaksanaan yang tepat. Dengan maksud itu dikarangnya suatu riwayat hidup Fransiskus yang dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan pendapat diantara saudara-saudara dina mengenai diri Fransiskus dan cita-citanya. Dalam surat-surat serta wejangan-wejangannya, Bonaventura dari satu pihak memilih suatu struktur dan organisasi yang mirip dengan hidup kebiaraan tradisionil, yaitu dalam biara-biara besar dan rapi teratur serta tertib yang didalamnya ibadah Gereja (liturgi) dipelihara dengan saksama. Dalam kapitel yang diadakan di kota Norbonne (tahun 1265) dan diketuai oleh Bonaventura diterima suatu keterangan atas anggaran dasar (berbentuk konstitusi-konstitusi) yang menetapkan secara terperinci pelbagai hal, antara lain warna jubah. Dalam dua hal penting konstitusi-konstitusi tersebut menyimpang dari apa yang dipraktikkan oleh Fransiskus. Hal yang pertama ialah: diputuskan bahwa para calon (novis) selama satu tahun di dalam biara yang tertutup harus diberikan pendidikan rohani. Yang kedua ialah: jumlah saudara awam dibatasi. Dengan demikian karisma (kurnia) Fransiskus di-“biarakan” dan perserikatan saudara-saudara dina mendapat corak perserikatan rohaniwan.

Bonaventura berhasil mempertahankan persatuan di dalam perserikatan saudara-saudara dina. Tetapi setelah ia meninggal pelbagai aliran di dalam ordo semakin jelas tampil ke muka dan bahkan mulai diorganisir menjadi beberapa kelompok.

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual

Adapun golongan yang ingin secara keras harus menghayati cita-cita kemiskinan mendapat pemimpinnya di dalam arti diri Yohanes Olivi, Angelus Clareno dan Hubertinus dari Casale sayangnya orang itu menghubungkan dengan cita-cita fransiskannya juga suatu pikiran yang bersifat dualistis (mirip dengan kalangan para kartar) dan terpengaruh oleh pikiran Yoachim dari Fiore tentang suatu “gereja rohani” di jaman terakhir . Itulah sebabnya golongan saudara-saudara dina tersebut sungguh menjadi suatu bahaya di dalam Ordo Saudara-Saudara Dina. Orang-orang itu disebut “Spirituales”. Paus Nikolas III masih berusaha memecahkan kesulitan di dalam perserikatan saudara-saudara dina dengan surat (dekrit) “Exiit qui seminat”. Tetapi dekrit itu sendiri akhirnya hanya menimbulkan kesulitan baru saja. Timbullah pertikaian yang hebat sekitar “usus pauper” (pemakaian barang secara miskin).

Golongan yang memperjuangkan suatu adaptasi pada keadaan baru dan kegiatan baru oleh saudara-saudara dina, berpendapat bahwa saudara-saudara dina dengan prasetyanya sungguhpun menerima bahwa tidak memiliki apa-apa, tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa mereka pun wajib pula menggunakan barang-barang secara miskin (usus pauper), penggunaan miskin hanya wajib tempat dibebankan oleh anggaran dasar, sedangkan berhubung dengan barang-barang lain cukuplah mereka menggunkannya secara “sederhana” (usus moderatus).

Sebaliknya para spiritual berpendapat bahwa saudara-saudara dina wajib menggunakan semua barang secara miskin benar dan hanya boleh menggunakan apa yang sungguh-sungguh perlu (necessarium). Pertikaian terus menghebat dan akhirnya dengan panjang lebar dibahas dalam konsili di Vienne (th 1311-1312).

Akhirnya Paus Clemens V menjelaskan dalam sebuah dekrit “Exivi de paradiso” bahwa saudara-saudara dina wajib menggunakan barang secara miskin di mana ditetapkan demikian dalam anggaran dasar, sedangkan hal-hal lain mereka hanya wajib menggunkannya secara sederhana (moderatus). Masalahnya apakah “usus pauper” termasuk ke dalam prasetya tidaknya, dibiarkan Paus.

Reaksi para spiritual ialah: mau mendirikan suatu ordo baru, hal mana dilarang oleh Paus Clemens V. Para spiritual menurut pendapat Paus harus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ternyata terjadi dalam Perserikatan Saudara Dina dan yang didukung oleh para pimpinannya. Sesungguhnya perserikatan saudara-saudara dina secara menyeluruh sudah memilih suatu perkembangan yang menjurus kepada hidup monastik, hal mana berarti bahwa saudara-saudara hidup bersama dalam biara yang agak besar sedikit dan lebih kurang tertutup, sesuai dengan hidup kebiaraan tradisional. Karena tinggal dalam biara besar (conventus) maka semakin sering saudara-saudara dina dalam biara itu dinamakan “Konventual”. Beberapa spiritual tidak mau menaklukkan diri kepada keputusan Paus dan mulai bertindak dengan kekerasan. Maka gerakan spiritual itu secara definitif diakhiri oleh Paus Yohanes XXII dalam tahun 1317.

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”

Di masa yang sama juga timbullah pertikaian teoretis tentang “kemiskinan”. Seorang Fransiskan yang bernama Talon mempertahankan bahwa Yesus dan para rasul-Nya tidak pernah memiliki apa-apa secara pribadi atau bersama-sama. Pendapat itu ditolak oleh seorang Dominikan, Yohanes de Delma, yang menjabat hakim dalam pengadilan gereja terhadap bidaah. Yohanes menjelaskan bahwa pendapat Fransiskan itu sebenarnya suatu bidaah (haeresis). Perkara itu diajukan kepada Paus Yohanes XXII. Sebelum Paus itu mengambil keputusan, maka kapitel saudara-saudara dina di Perugia dalam tahun 1322 menyatakan bahwa pendapat Talon tersebut tepat dan benar dan didukung oleh Paus Nikolas III dalam Bulla “Exivit qui seminat”. Paus Yohanes XXII sangat menyesalkan tindakan kapitel Fransiskan itu dan pendapat Talon itu dinyatakan “bidaah”.

Kebanyakan saudara-saudara dina lalu takluk kepada Paus tetapi ada juga sekelompok yang menyatakan Paus sendiri sebagai seorang “ketter” dan selanjutnya tidak mau takluk kepada Paus, yang sebagai seorang bidaah memang tidak berwenang lagi. Orang yang menolak Paus antara lain minister Jendral Michael de Cesena sendiri, William Ookham dan Bonagratia. Mereka semua bergabung dengan Kaisar Ludovicus dari Bavaria (Jerman) melawan Paus. Maka mereka semua kena eks komunikasi dari pihak Paus.

Habis pertikaian itu dipilihlah menjadi minister jendral B. Geraldus Eudes (1329-1342). Orang itu mempunyai pandangan luas sekali sehingga mau mengizinkan untuk saudara-saudara dina pemakaian uang pula. Ia pun mau memperluas kuasa para provinsial untuk memberi dispensasi sehubungan dengan anggaran dasar. Ia tidak menentang para saudara mengejar pangkat tinggi dalam Gereja yang banyak untungnya dan ia pun tidak mencegah salah adat di antara saudara-saudara dina yang mengajak kaum beriman waktu meninggal untuk membuat suatu wasiat yang mewariskan harta miliknya kepada saudara-saudara dina. Di masa itu ada banyak peperangan di Eropa yang mengakibatkan bahwa jumlah dan terutama mutu saudara-saudara dina sangat merosot.

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi

Tetapi reaksipun tidak ketinggalan. Dan kepada reaksi itupun diberi angin oleh Geraldus Eudes yang lapang hatinya itu. Reaksi mulai dilontarkan oleh Yohanes della Valle yang oleh Geraldus Eudes dalam tahun 1334 diberi izin untuk mengundurkan diri ke dalam biara di Brogliano untuk di sana menghayati kemiskinan sepenuhnya sesuai dengan anggaran dasar Fransiskus. Cita-cita Yohanes della Valle diambil alih oleh sdr. Gentilis dari Spoleto dan sdr. Paulus dari Trimoi. Dalam waktu yang singkat jumlah biara tempat orang mengusahakan pelaksanaan anggaran dasar secara murni dan tanpa dispensasi dan sesuai dengan keterangan-keterangan Paus atas anggaran dasar itu bertambah dengan pesat sekali. Saudara-saudara yang mengusahakan pembaharuan itu diberi sebutan “Observantes”. Dalam tahun 1373 saudara-saudara Observantes itu di Italia diberi izin untuk membuka biara-biaranya sendiri.

Dalam tahun 1415 izin ini diperluas sampai ke Perancis juga. Tokoh yang terpenting dalam gerakan pembaru itu ialah Bernardinus dari Siena yang mendapat penganut bersemangat dan mampu dalam diri Yohanes dari Capistrano, Yacobus de Machia dan Albertus dari Sarteone. Ketiga tokoh itu memperjuangkan cita-cita para observantes itu dan berkat usaha mereka di Italia didirikan beberapa provinsi tersendiri untuk para pembaru itu. Para Observantes mendapat seorang “vicaris generalis” tersendiri yang langsung memimpin rumah-rumah dan provinsi-provinsi dari para Observantes yang tidak lagi langsung dipimpin oleh minister jendral semua saudara-saudara dina (baik Konventual maupun Observantes).

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

Tetapi struktur tersebut sesudah beberapa puluh tahun jelas tidak memuaskan. Para Konventual merasakan cara hidup Observantes itu sebagai kritik atas cara hidupnya sendiri dan semakin menentang Observantes. Para Observantes mengeluh bahwa terus takluk kepada seorang minister jendral yang tidak mengikuti (dan tidak mengerti) cita-cita mereka. Maka pada tanggal 29 Mei 1517, Paus Leo X dalam Bulla “Ite et Vos” memutuskan bahwa kedua golongan itu harus terpisah sama sekali. Masing-masing mendapat atasan jendralnya sendiri. Bahkan hampir-hampir saja semua dibalikkan seluruhnya. Hanya para Observantes diberi hak untuk memilih atasannya dengan julukan “Minister Jendral” (sesuai dengan anggaran dasar), sedangkan konventual hanya mendapat seorang “Magister Jendral”. Meterai Jendral dari zaman dahulu pun diserahkan kepada jendral para Observantes.