Sejarah Ordo Fransiskan Hingga Tahun 1517

25/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 8.217 kali

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”

Di masa yang sama juga timbullah pertikaian teoretis tentang “kemiskinan”. Seorang Fransiskan yang bernama Talon mempertahankan bahwa Yesus dan para rasul-Nya tidak pernah memiliki apa-apa secara pribadi atau bersama-sama. Pendapat itu ditolak oleh seorang Dominikan, Yohanes de Delma, yang menjabat hakim dalam pengadilan gereja terhadap bidaah. Yohanes menjelaskan bahwa pendapat Fransiskan itu sebenarnya suatu bidaah (haeresis). Perkara itu diajukan kepada Paus Yohanes XXII. Sebelum Paus itu mengambil keputusan, maka kapitel saudara-saudara dina di Perugia dalam tahun 1322 menyatakan bahwa pendapat Talon tersebut tepat dan benar dan didukung oleh Paus Nikolas III dalam Bulla “Exivit qui seminat”. Paus Yohanes XXII sangat menyesalkan tindakan kapitel Fransiskan itu dan pendapat Talon itu dinyatakan “bidaah”.

Kebanyakan saudara-saudara dina lalu takluk kepada Paus tetapi ada juga sekelompok yang menyatakan Paus sendiri sebagai seorang “ketter” dan selanjutnya tidak mau takluk kepada Paus, yang sebagai seorang bidaah memang tidak berwenang lagi. Orang yang menolak Paus antara lain minister Jendral Michael de Cesena sendiri, William Ookham dan Bonagratia. Mereka semua bergabung dengan Kaisar Ludovicus dari Bavaria (Jerman) melawan Paus. Maka mereka semua kena eks komunikasi dari pihak Paus.

Habis pertikaian itu dipilihlah menjadi minister jendral B. Geraldus Eudes (1329-1342). Orang itu mempunyai pandangan luas sekali sehingga mau mengizinkan untuk saudara-saudara dina pemakaian uang pula. Ia pun mau memperluas kuasa para provinsial untuk memberi dispensasi sehubungan dengan anggaran dasar. Ia tidak menentang para saudara mengejar pangkat tinggi dalam Gereja yang banyak untungnya dan ia pun tidak mencegah salah adat di antara saudara-saudara dina yang mengajak kaum beriman waktu meninggal untuk membuat suatu wasiat yang mewariskan harta miliknya kepada saudara-saudara dina. Di masa itu ada banyak peperangan di Eropa yang mengakibatkan bahwa jumlah dan terutama mutu saudara-saudara dina sangat merosot.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *