Sejarah Ordo Fransiskan Hingga Tahun 1517

25/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 8.233 kali

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual

Adapun golongan yang ingin secara keras harus menghayati cita-cita kemiskinan mendapat pemimpinnya di dalam arti diri Yohanes Olivi, Angelus Clareno dan Hubertinus dari Casale sayangnya orang itu menghubungkan dengan cita-cita fransiskannya juga suatu pikiran yang bersifat dualistis (mirip dengan kalangan para kartar) dan terpengaruh oleh pikiran Yoachim dari Fiore tentang suatu “gereja rohani” di jaman terakhir . Itulah sebabnya golongan saudara-saudara dina tersebut sungguh menjadi suatu bahaya di dalam Ordo Saudara-Saudara Dina. Orang-orang itu disebut “Spirituales”. Paus Nikolas III masih berusaha memecahkan kesulitan di dalam perserikatan saudara-saudara dina dengan surat (dekrit) “Exiit qui seminat”. Tetapi dekrit itu sendiri akhirnya hanya menimbulkan kesulitan baru saja. Timbullah pertikaian yang hebat sekitar “usus pauper” (pemakaian barang secara miskin).

Golongan yang memperjuangkan suatu adaptasi pada keadaan baru dan kegiatan baru oleh saudara-saudara dina, berpendapat bahwa saudara-saudara dina dengan prasetyanya sungguhpun menerima bahwa tidak memiliki apa-apa, tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa mereka pun wajib pula menggunakan barang-barang secara miskin (usus pauper), penggunaan miskin hanya wajib tempat dibebankan oleh anggaran dasar, sedangkan berhubung dengan barang-barang lain cukuplah mereka menggunkannya secara “sederhana” (usus moderatus).

Sebaliknya para spiritual berpendapat bahwa saudara-saudara dina wajib menggunakan semua barang secara miskin benar dan hanya boleh menggunakan apa yang sungguh-sungguh perlu (necessarium). Pertikaian terus menghebat dan akhirnya dengan panjang lebar dibahas dalam konsili di Vienne (th 1311-1312).

Akhirnya Paus Clemens V menjelaskan dalam sebuah dekrit “Exivi de paradiso” bahwa saudara-saudara dina wajib menggunakan barang secara miskin di mana ditetapkan demikian dalam anggaran dasar, sedangkan hal-hal lain mereka hanya wajib menggunkannya secara sederhana (moderatus). Masalahnya apakah “usus pauper” termasuk ke dalam prasetya tidaknya, dibiarkan Paus.

Reaksi para spiritual ialah: mau mendirikan suatu ordo baru, hal mana dilarang oleh Paus Clemens V. Para spiritual menurut pendapat Paus harus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ternyata terjadi dalam Perserikatan Saudara Dina dan yang didukung oleh para pimpinannya. Sesungguhnya perserikatan saudara-saudara dina secara menyeluruh sudah memilih suatu perkembangan yang menjurus kepada hidup monastik, hal mana berarti bahwa saudara-saudara hidup bersama dalam biara yang agak besar sedikit dan lebih kurang tertutup, sesuai dengan hidup kebiaraan tradisional. Karena tinggal dalam biara besar (conventus) maka semakin sering saudara-saudara dina dalam biara itu dinamakan “Konventual”. Beberapa spiritual tidak mau menaklukkan diri kepada keputusan Paus dan mulai bertindak dengan kekerasan. Maka gerakan spiritual itu secara definitif diakhiri oleh Paus Yohanes XXII dalam tahun 1317.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *