Sejarah Ordo Fransiskan Hingga Tahun 1517

25/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 8.232 kali

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan

Setelah Fransiskus meninggal (tahun 1226) jumlah saudara terus bertambah dengan pesatnya. Sekitar tahun 1228 sudah ada lebih kurang 1583 tempat dimana saudara-saudara dina menetap dan sekitar tahun 1300 jumlah saudara-saudara dina ialah 30.000 – 40.000. Karena kekurangan organisasi dan karena sulitnya untuk melaksanakan kemiskinan Injil sebagaimana yang dihayati Fransiskus sendiri, maka perserikatan saudara-saudara dina setelah Fransiskus meninggal menjadi terpecah-belah karena perbedaan pendapat dan perbedaan cara hidup.

Para saudara menginginkan suatu struktur yang jelas untuk perserikatan raksasanya. Maka mereka menerima anggaran dasar dari tahun 1223, yang sebenarnya suatu piagam rohani, sebagai dasar hukum bagi perserikatan dan anggaran dasar itu mulai diterangkan lebih lanjut dalam aturan-aturan terperinci. Ada pun Paus Gregorius IX (bekas kardinal Hugolinus) menolong para saudara dalam usahanya itu dengan mengeluarkan surat keterangan “Qui elongati” (tahun 1230). Dalam “Bulla” itu anggaran dasar dari tahun 1223 dijadikan pangkalan yang secara hukum mewajibkan dan dijelaskan bahwa wasiat Fransiskus bukanlah “hukum” yang mewajibkan.

Jumlah saudara dina yang tetap mempertahankan cita-cita Fransiskus sebagai cita-cita Injil yang luhur sekali tetapi yang sekaligus berpendapat bahwa semuanya tidak begitu riil untuk hidup sehari-hari karena sukar dihayati oleh banyak orang, bertambah banyak. Golongan itu secara konsekwen mau “menyesuaikan” cita-cita fransiskan dengan keadaan riil dan perubahan-perubahan yang dialami Ordo Fransiskan. Juru bicara dan pendorong golongan ini ialah Minister Jendral saudara Elias (tahun 1232 – 1239). Sdr. Elias itu membuat dirinya dibenci oleh para rohaniwan dalam ordo, oleh karena ia mengutamakan kaum awam diantara saudara-saudara. Ia pun terlalu bertindak dengan kekerasan dan dengan menggunakan kewibawaannya.

Juru bicara lain dari ‘adaptasi’ itu ialah minister jendral yang berikut, yakni Haymo dari Faversham (tahun 1240 – 1244). Jendral yang terakhir ini mengambil alih beberapa adat kebiasaan yang berlaku dalam ordo Dominikus dan ordo-ordo lain, khususnya berhubung dengan struktur organisasi dan sehubungan dengan ibadah (liturgi) yang dirayakan oleh fransiskan-fransiskan dan yang disempurnakan oleh Haymo.

Golongan tersebut juga ingin merebut bagi ordo suatu kedudukan dalam ilmu pengetahuan dan pemeliharan jiwa. Tetapi hal itu hanya mungkin apabila kemiskinan sebagaimana dikehendaki Fransiskus disesuaikan dengan keadaan yang lain itu, meskipun itu juga belum berarti bahwa kemiskinan itu mesti dilunakkan. Mula-mula fransiskan-fransiskan terutama bergaul dan bekerja di kalangan orang-orang dan golongan rendahan dalam masyarakat. Hal itu sedikit lenyap karena usaha untuk memasuki lapangan ilmu pengetahuan tersebut.

Disamping golongan tersebut terdapatlah diantara saudara-saudara dina suatu golongan lain, yang sama seperti golongan pertama juga tidak mempunyai suatu “organisasi” khusus untuk memperjuangkan cita-citanya. Cita-cita itu ialah “menghayati Injil” secara murni sebagaimana dicita-citakan dan dihayati oleh Fransiskus sendiri. Golongan itu sungguh bersemangat luhur, tetapi kadang-kadang condong kepada sikap fanatik. Golongan ini yakin bahwa perserikatan saudara-saudara dina tidak hanya harus berpegang teguh pada anggaran dasar dari tahun 1223, tapi harus mengartikannya sesuai dengan Wasiat Fransiskus yang mau diberi status hukum disamping Anggaran Dasar itu. Golongan-golongan itu agak “takut” sedikit terhadap “dunia” dan kesalahannya terletak dalam hal ini bahwa mereka tidak sanggup membedakan antara inspirasi dan cita-cita Fransiskus dengan caranya inspirasi dan cita-cita itu diwujudkan dalam keadaan tertentu.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *