Santo Konradus dari Piacenza

04/06/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 795 kali

[index santo-santa fransiskan]

19 Februari
St. Konradus dari Piacenza
1290-1351

19-st-konradus-dari-piacenza1RIWAYAT HIDUPNYA
Konradus dilahirkan di Piacenza, Lombardia, Italia, pada tahun 1290, dari sebuah keluarga bangsawan tinggi, dan ketika dia masih sangat muda, dinikahinya Euphrosyne, puteri dari seorang bangsawan Lodi. Dia sangat suka melakukan olah raga berkuda dan tangguh dalam hal berburu.

Pada suatu ketika, sewaktu dia sedang berburu, binatang buruannya masuk ke dalam semak belukar yang rimbun dan rapat. Untuk memaksanya terbuka, Konradus memerintahkan para pengiringnya untuk membakar semak belukar itu. Tetapi angin menghembus api ke ladang gandum di sebelahnya, dan api pun terus menjalar dan membinasakan seluruh hasil pertanian itu dan hutan yang ada di sebelahnya. Maka gubernur Piacenza dengan segera mengirim orang-orang bersenjata untuk menangkap para pembakar hutan dan pertanian itu.

Dirundung ketakutan yang amat mencekam karena timbulnya malapetaka kobaran api yang amat besar itu, Konradus melarikan diri ke dalam kota melalui jalan-jalan yang sepi. Tetapi para petugas keamanan memergoki seorang petani miskin yang sedang membawa seberkas kayu yang sudah menjadi arang dan sedang membawanya ke kota. Karena mereka mengira dialah orang yang bersalah itu, maka mereka menangkapnya. Disiksanyalah dia dan akhirnya orang yang malang itu terpaksa mengakui bahwa dialah yang telah membakar hutan itu terdorong oleh rasa benci. Ia pun diganjar hukuman mati.

Baru setelah orang yang malang itu melewati rumah Konradus pada perjalannya menuju ke tempat eksekusi, tahulah Konradus mengapa hukuman mati itu telah ditimpakan kepadanya. Terdorong oleh hati nuraninya, Konradus pun berlarian ke luar untuk menyuelamatkan orang malang itu dari tangan algojo-algojo, sebelum masyarakat membenarkan bahwa dialah orang yang bersalah itu. Konradus pun pergi menghadap gubernur dan menjelaskan kepadanya bahwa kebakaran itu merupakan hasil suatu kecelakaan; bahwa dia bersedia untuk memberikan ganti rugi semua kerusakan yang telah dilakukannya itu. Isterinya mendukung kehendak baiknya itu dan merelakan mas kawinnya dipergunakan untuk menebus semua kerugian itu.

Insiden itu mengajarkan kepada Konradus bahwa barang-barang duniawi ini memang sia-sia, dan dia memutuskan untuk memberikan perhatiannya hanya kepada barang-barang yang abadi. Dia menyampaikan perasaannya itu kepada isterinya, dan didapatinya bahwa isterinya pun terpikat pada pendapat yang serupa. Dia ini pergi ke biara Santa Klara dan menerima jubah di sana, sedangkan Konradus, yang baru berusia 25 tahun, meninggalkan kota kelahirannya dan bergabung pada kelompok petapa dari Ordo III.

Dalam waktu yang singkat dia sudah membuat kemajuan yang begitu besar dalam hal kebajikan, sehingga kesuciannya menjadi terkenal dan menarik banyak orang dari mereka yang dahulu menjadi teman-teman dan kenalan-kenalannya, untuk bergabung dalam pertapaannya. Tetapi sudah menjadi keinginan Konradus untuk meninggalkan dunia ini sepenuhnya. Karena itu dia pun menyelinap pergi ke Roma dan dari sana ke Sisilia, ke lembah Noto, dekat Syracuse, dengan harapan bahwa di sana dia tetap menjadi tak dikenal, hidup sama sekali dalam pengasingan.. Dia hidup di sana selama 36 tahun. Selama tahun-tahun terakhirnya dia hidup dalam sebuah gua sepi pada lereng sebuah gunung yang kemudian dinamakan Gunung Konradus.

Di sana Konradus menjalani hidup tapa yang sangat keras. Ia tidur pada tanah tanpa tikar dan hanya makan roti dan minum air ditambah rerumputan liar. Kendati demikian, dia menjadi incaran serangan bengis dari setan. Tetapi berkat doa-doanya yang begitu berkenan pada Tuhan, dia memperoleh anugerah kenabian dan melakukan mukjizat-mukjizat.

Konradus mengetahui bahwa akhir hidupnya semakin mendekat, dan pergilah dia ke Syracuse untuk mengadakan pengakuan dosa menyeluruh kepada Bapa Uskup. Sepanjang perjalanannya itu sekawanan burung-burung beterbangan mengitarinya; beberapa bahkan hinggap pada kedua bahunya, seperti yang biasa terjadi pada St. Fransiskus. Dan pada perjalanannya kembali ke pertapaannya, burung-burung itu pun menyertainya lagi dan hal itu membuat takjub semua orang yang melihatnya. Pada hari yang sama, dia terkena sakit demam, yang mengakibatkan kematiannya beberapa hari kemudian. Dia berlutut di depan gambar Yang Tersalib dan dengan damai wafat pada 19 Februari 1351. Sesuai dengan keinginannya, dia dimakamkan di gereja St. Nikolaus di Noto. Jenazahnya masih terbaringkan di sana hingga kini dalam makam kudus terbuat dari perak. Banyak mukjizat terjadi di tempat itu. Pada tahun 1515 Paus Leo X mengijinkan pestanya dirayakan di Noto. Paus Urbanus VIII memberikan kanonisasi kepadanya pada 1625.

PERIHAL PERBUATAN SILIH
1. Konradus dan isterinya dengan murah hati memberikan seluruh harta kekayaannya untuk membangun kembali kerusakan mala petaka akibat ulahnya, tanpa berpikir apakah mereka sungguh wajib memberikan ganti rugi itu. Pada kenyataannya malapetaka itu lebih merupakan kecelakaan daripada kesalahan mana pun dari pihak Konradus. Tetapi semangat Tuhan mendorongnya, setelah mengatasi rasa takutnya yang mula-mula berkecamuk, untuk lebih baik berbuat terlalu banyak daripada terlalu sedikit, sebagaimana Zakheus berkata kepada Tuhan kita: “Sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19:8). Dan bagaimana Tuhan telah membalas kebesaran hati Konradus? Yang nampaknya sebagai kecelakaan itu telah berubah menjadi harta karunnya yang terbesar. Tidak diragukan lagi, sebenarnya dia akan hidup sebagai seorang tokoh besar, terhormat, yang biasa-biasa, dan sebagai demikianlah dia tentu akan mati dan menghadap pada pengadilan Tuhan. Memang benarlah, sekarang dia menjalani hidup bermati-raga yang keras, tetapi dalam hatinya, dia jauh lebih bahagia dari sebelumnya, dan sekarang dia terhitung di antara para santo di surga. Demikianlah pengurbanan-pengurbanan yang dipersembahkan dengan sepenuh hati, diganjar oleh Tuhan sampai ribuan kali.

2. Pertimbangkanlah bahwa sungguh merupakan kewajiban untuk memulihkan kembali apa yang telah diakibatkannya secara tidak benar dan memperbaiki kembali kerusakan yang telah disebabkannya, tidak peduli apakah karena kebencian atau karena kesalahan keteldoran. “Kalau pendosa bertobat dari dosanya,” kata Roh Kudus, “serta melakukan keadilan dan kebenaran, orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” (Yehez 33:14-15). Menyesali kesalahan yang dilakukan dan mengakukannya, tidaklah cukup; bahkan bila engkau telah berdoa banyak dan memberikan banyak derma untuk itu. Hal itu belum cukup. “Dosa itu tidak akan diampuni” kata St. Agustinus, “bila barang yang telah diambil itu tidak dikembalikan.” Bila engkau tidak mampu lagi untuk mengembalikannya, atau mengembalikan sepenuhnya, atau bila engkau khawatir akan kehilangan nama baik sebagai akibatnya, maka mintalah nasehat bapa pengakuanmu. Dia akan mampu menunjukkan kepadamu jalan dan cara untuk memenuhi kewajibanmu itu dan menenteramkan suara hatimu. – Dalam hal-hal yang serius di bidang ini, apakah kiranya engkau telah mencoba menenangkan suara hatimu dengan macam-macam dalih yang tak berdasar?

3. Renungkanlah bahwa dalam hal-hal di mana sama sekali tidak mungkin memulihkan kerugian yang diakibatkannya, seorang Kristen yang menaruh perhatian pada keselamatan jiwanya, akan berusaha untuk memperbaiki ketidak adilan yang telah dia akibatkan dengan salah itu, sejauh kemampuannya. Dia dapat melakukannya dengan jalan, misalnya, berdoa, mohon intensi pada perayaan Misa, mati raga atau perbuatan-perbuatan baik, memberikan kompensasi pada mereka yang dirugikan. Dengan jalan ini, orang dapat berharap bahwa Tuhan akan memulihkan apa yang ia sendiri tidak mampu untuk memulihkannya secara fisik. – Dengan cara yang serupa kita semua harus memberikan pemulihan kepada Tuhan terhadap apa pun yang telah kita nikmati namun melawan kehendak Tuhan dan perintah-perintah-Nya: tidak mengekang diri, nafsu dan sejenisnya. Kita dapat memberikan pemulihan dengan jalan mati raga dan menjauhkan diri dari dosa-dosa yang telah kita lakukan, dengan mengendalikan nafsu kita. Semoga contoh dan pengantaraan St. Konradus dapat menyemangati kita dalam ulah tobat semacam ini.

DOA GEREJA
Kami mohon ya Tuhan, anugerahkanlah bahwa, sebagaimana Engkau didamaikan oleh ulah tapa Santo Konradus, demikian pula kami boleh mengikuti contohnya dan membersihkan noda-noda dosa-dosa kami dengan menyalibkan tubuh kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, OFM, © 1959 Franciscan Herald Press. Penerjemah: Alfons S. Suhardi, OFM