Renungan IV : Stigmata Suci St. Fransiskus

19/09/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.318 kali

[Index Stigmata Fransiskus] | Unduh file PDF tulisan ini]

Mukjizat-Mukjizat Sesudah Stigmata Suci

Ketika cinta sejati Kristus mengubah Fransiskus ke dalam keserupaan yang sejati dengan Allah dan Kristus Tersalib, dan setelah ia mengakhiri puasa empat puluh hari untuk menghormati Santo Mikael di puncak Gunung La Verna, maka Fransiskus turun dari gunung sesudah pesta Santo Mikael bersama Leo dan petani saleh yang keledainya ditunggangi Fransiskus. Karena paku-paku dalam kakinya, ia tidak dapat lagi berpijak di tanah. Ketika ia turun dari gunung, orang-orang di daerah sekitar mendengar bahwa ia sedang mendekat. Mereka bergegas-gegas menjumpainya karena cerita tentang kesucian¬nya telah tersebar jauh dan luas di daerah itu. Gembala-gembala telah menceritakan bahwa mereka telah melihat seluruh gunung diselubungi suatu nyala dan bahwa ini pastilah merupakan tanda dari suatu mukjizat besar yang telah dikerjakan Allah dalam Fransiskus. Maka laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak¬anak, datang dengan kebaktian besar, ingin menyentuh dan mencium tangannya. Fransiskus tidak mampu mengabaikan rasa bakti orang-orang itu dan mengizinkan mereka mencium ujung-ujung jarinya. Telapak tangannya telah dibalut, namun untuk lebih baik menyembunyikan stigmata, ia menutupinya dengan lengan-lengan jubahnya. Akan tetapi, walaupun ia berusaha sungguh-sungguh untuk menyembunyikan rahasia stigmata suci agar menghindari semua kemegahan duniawi, namun Allah berkenan melakukan banyak mukjizat bagi kemuliaan-Nya sendiri dengan kekuasaan stigmata ini, lebih-lebih selama perjalanan Sang Suci itu dari La Verna ke Santa Maria Para Malaikat. Banyak mukjizat lainnya terjadi, baik selama hidup maupun sesudah kematiannya. Semua itu terjadi agar rahasia dan kekuatan stigmata yang ajaib, serta cinta dan belas-kasihan Kristus yang diperlihatkan pada dunia tidak disangsikan.

Sekali peristiwa, ketika Fransiskus sedang mendekati suatu desa, di perbatasan daerah Arezzo, seorang wanita meng-hampirinya sambil menangis pedih, dengan menggendong putranya yang kecil. Anak itu berumur delapan tahun dan sudah empat tahun menderita busung air. Perutnya begitu kembung sehingga bila ia berdiri tegak, ia tidak melihat kakinya. Wanita itu menempatkan anaknya di depan Fransiskus dan memohon kepadanya agar ia berdoa kepada Allah bagi anak itu. Fransiskus mulai berdoa dan setelah doanya berakhir, ia meletakkan tangannya yang suci di atas perut anak itu. Seketika itu juga lenyaplah kembungnya dan sembuh dengan sempurna. Fransiskus mengembalikannya kepada ibunya, yang menerimanya dengan gembira dan membawanya pulang sambil bersyukur kepada Allah dan orang suci-Nya. Dengan girang diperlihatkannya putranya yang kini sudah sembuh kembali kepada setiap orang yang berdiam di daerah itu dan yang mengunjungi rumahnya untuk melihat anaknya.

Pada hari yang sama Fransiskus lewat di Borgo San Sepocro. Sebelum mencapai benteng, orang-orang dari benteng dan kota berduyun-duyun keluar untuk menjumpainya. Banyak di antara mereka berjalan di depan dia dengan memegang ranting-ranting zaitun, sambil berseru, “Lihat Si Suci datang! Lihat Si Suci datang!” Serombongan besar berkumpul di sekitar dia karena devosi dan ingin menyentuhnya, tetapi Fransiskus berjalan terus dengan hati di hadapan Allah dan tercengkam dalam kontemplasi. Ia lewat di antara orang-orang seakan-akan tidak merasa. Walaupun mereka menyentuh, memegang dan mendesak-desak. Ia tidak sadar akan apa pun yang dilakukan atau dikatakan di sekitarnya. Juga dia tidak sadar bahwa ia sedang melewati kota dan distrik itu. Setelah dia melewati kota itu dan kerumunan orang telah menyebar kembali ke rumahnya, ia sampai ke sebuah rumah kusta, beberapa saat jauhnya di belakang kota itu. Ia kembali sadar akan dirinya, bagaikan seorang yang kembali dari suatu dunia lain. Orang kontemplatif surgawi ini bertanya kepada sahabatnya, “Kapan kita akan mendekati Borgo?” Karena jiwanya berakar dan terbawa dalam kontemplasi akan hal-hal surgawi, sama sekali tidak sadar akan hal-hal duniawi dan tidak mengetahui perubahan tempat, berlalunya waktu atau orang-orang yang ia jumpai. Hal ini sering terjadi.

Sore itu Fransiskus sampai di biara di Monte Casale. Di situ tinggallah seorang saudara yang sakit parah dan tersiksa hebat oleh penyakitnya. Ia lebih-lebih tersiksa oleh roh jahat daripada oleh penyakit alamiah karena dia mempunyai kebiasaan mencampakkan diri ke tanah, badannya bergetar dengan hebatnya dan mulutnya berbusa. Adakalanya semua anggota badannya ditekuk dan ditegangkannya. Kadang-kadang ia menggeliat atau membelitkan kakinya di sekitar lehernya, atau meloncat ke udara dan jatuh bergedebuk atas punggungnya. Ketika Fransiskus berada di meja makan, ia mendengar dari saudara-saudara lainnya tentang penyakit yang aneh dan tidak dapat disembuhkan dari saudara ini, dan ia jatuh kasihan. Ia mengambil sepotong roti yang sedang dimakannya, membuat tanda salib di atas roti itu dengan tangannya yang suci, yang ditandai oleh stigmata, dan menyuruh membawa roti itu kepada saudara yang sakit. Begitu si sakit itu memakannya, ia sembuh sama sekali dan tidak pernah lagi menderita penyakit itu.

Pada pagi berikutnya, Fransiskus mengutus dua saudara dari rumah itu ke La Verna untuk tinggal di sana. Bersama mereka ia menyuruh kembali petani yang telah berjalan di belakang keledai yang telah dipinjamkannya. Saudara-saudara berangkat bersama petani itu dan tiba di daerah sekitar Arezzo. Dari jauh mereka terlihat oleh beberapa penduduk daerah itu. Mereka diliputi kegembiraan karena mengira bahwa itulah Fransiskus yang telah lewat di situ dua hari sebelumnya. Karena di sana ada seorang wanita yang sulit melahirkan. Sudah tiga hari ia bersusah payah, dan bayinya belum juga keluar, sehingga ia berada diambang kematian. Mereka berpikir jika Fransiskus meletakkan tangan di atasnya, dia pasti sembuh kembali. Ketika saudara-saudara itu mendekat, ternyata bahwa bukan Fransiskus. Mereka sangat kecewa. Akan tetapi, walaupun Sang Suci itu tidak hadir secara pribadi, daya kekuatannya tidak berkurang karena kepercayaan mereka tidak berkurang. Wanita itu hampir meninggal dan tanda-tanda kematian sudah tampak padanya. Orang-orang bertanya kepada saudara-saudara itu apakah mereka mempunyai sesuatu yang sudah disentuh oleh tangan Fransiskus. Saudara-saudara itu berpikir dan mencari dengan teliti, tetapi tidak menemukan sesuatu pun yang telah disentuhnya, selain tali keledai. Mereka mengambil tali ini dengan rasa hormat dan bakti, dan meletakkannya atas tubuh wanita yang hamil itu, sambil dengan saleh menyerukan nama Fransiskus dan menyerahkan wanita itu kepadanya dengan kepercayaan yang teguh. Begitu tali keledai itu diletakkan, wanita itu bebas dari segala bahaya dan dengan gembira, mudah dan aman ia melahirkan.

Setelah Fransiskus melewatkan beberapa hari di Biara Monte Casale, ia berangkat lagi dan tiba di Citta, Castello. Di tempat ini penduduk kota membawa kepadanya seorang wanita yang telah lama dikuasai oleh setan. Dengan rendah hati mereka meminta agar Fransiskus membebaskan dia karena dia mengganggu seluruh daerah itu dengan memekik-mekik sedih, berteriak-teriak kasar dan menyalak-nyalak seperti anjing. Setelah Fransiskus berdoa kepada Allah dan membuat tanda salib di atas orang itu, ia memerintahkan si setan untuk keluar dari orang itu. Segera setan itu keluar dan meninggalkan dia dalam keadaan sehat badan maupun jiwa. Setelah mukjizat ini diketahui orang, seorang wanita lainnya dengan kepercayaan besar membawa kepadanya putranya yang kecil, yang sakit berat karena luka yang parah. Ia meminta dengan sangat agar Fransiskus dengan tangannya membuat tanda salib atas anaknya.

Fransiskus mengabulkan permohonannya. Ia mengambil anak itu membuka perban lukanya, memberkatinya dengan membuat tanda salib suci atas luka itu tiga kali. Lalu ia sendiri mengganti perbannya dan mengembalikannya kepada ibunya. Karena waktu itu mulai malam, maka anak itu segera dibaringkannya di tempat tidur agar tidur. Pada pagi harinya, ketika ibunya pergi untuk mengambil anak itu dari tempat tidurnya, ia melihat perban-perban sudah terbuka dan anak itu ternyata sudah sembuh sama sekali, seakan-akan tidak pernah sakit. Di tempat luka itu tumbuh daging yang berbentuk mawar merah, yang lebih merupakan tanda mukjizat daripada bekas luka, karena mawar ini tetap ada semasa hidupnya dan seringkali menggerakkannya untuk suatu devosi khas kepada Fransiskus yang telah menyembuhkannya.

Atas permohonan yang sungguh-sungguh dari penduduk kota maka Fransiskus tinggal di kota ini selama sebulan. Selama waktu ini ia melakukan banyak mukjizat lainnya. Lalu ia berangkat lagi ke Santa Maria Para Malaikat bersama Leo serta orang yang meminjamkan keledainya untuk ditunggangi Fransiskus. Akan tetapi karena jalanan yang buruk dan amat dingin, mereka tidak dapat mencapai suatu rumah, walaupun mereka berjalan sepanjang hari. Maka karena gelap dan cuaca buruk, mereka berlindung di sebuah gua karang yang menggantung untuk menghindari salju dan malam yang mulai tiba. Mereka berbaring di sana, di bawah atap perlindungan yang tak layak dan tak menyenangkan. Pemilik keledai itu tidak dapat tidur karena dingin. Karena tidak ada alat untuk membuat api, ia mulai bersungut-sungut pada dirinya sendiri, merintih serta mengeluh terhadap Fransiskus yang telah membawa dia ke tempat semacam ini. Ketika Fransiskus mengetahui hal itu, ia berbelaskasihan kepadanya, dan dalam semangat roh, ia merentangkan tangan serta menyentuhnya. Begitu disentuh, ia diterobosi oleh api serafik dan seluruh rasa dingin lenyap. Kehangatan mengalir ke dalam dirinya sehingga ia seperti berada di dekat suatu perapian yang bernyala-nyala. Terlipur badan dan budinya, ia tertidur. Ia tidur sampai fajar di antara karang-karang dan salju, lebih nyenyak daripada di tempat tidurnya.

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan dan sampai ke Santa Maria Para Malaikat. Ketika mereka mendekat, Leo mengangkat matanya dan memandang ke arah Santa Maria Para Malaikat. Dilihatnya sebuah salib dari emas yang amat indah, di atasnya bergantunglah Yang Tersalib. Salib itu berjalan di depan Fransiskus dan mengikuti geraknya. Bila Fransiskus berhenti, salib itu pun berhenti. Bila berjalan, salib itu pun ikut berjalan. Salib itu bercahaya begitu gemilang sehingga, tidak hanya wajah Fransiskus disinari kemuliaan, tetapi juga seluruh jalan di sekitarnya. Ketika Fransiskus dan Leo tiba di rumah, mereka disambut oleh saudara-saudara dengan gembira dan terharu. Mulai saat itu sampai wafatnya, Fransiskus melewatkan waktu di Biara Santa Maria. Walaupun dalam kerendahan hatinya yang mendalam ia sedapat mungkin menyembunyikan karunia dan anugerah Allah dan menyebut dirinya pendosa yang besar, namun kemasyhuran tentang kesucian dan mukjizat-mukjizatnya terus tersebar luas ke seluruh dunia.

Leo pernah heran tentang hal ini. Dalam kesahajaannya, ia berpikir, “Ia orang besar di dalam ordo, dan amat ditinggikan oleh Allah. Walaupun demikian, secara pribadi ia mengakui akan dosa daging, dan di depan umum menyebut diri pendosa yang terbesar. Apakah ia masih murni?” Ia menunjukkan keinginan kuat untuk mengetahui kebenaran, tetapi tidak berani menanyai Fransiskus. Karena itu ia lari kepada Allah, dan memohon kepadanya dengan sangat untuk menyatakan apa yang ingin diketahuinya. Karena banyak doanya, ia didengarkan dan diyakinkan oleh suatu penglihatan bahwa Fransiskus sungguh seorang “perawan”. Dalam penglihatan itu ia melihat Fransiskus berdiri di tempat yang tinggi dan luhur, yang tidak dapat didekati atau dicapai oleh orang lain. Diwahyukan kepadanya bahwa tempat ini, yang begitu tinggi dan luhur, menyatakan keluhuran kemurnian keperawanan Fransiskus yang cocok dihiasi dengan luka-luka suci dari Kristus.

Fransiskus mengakui bahwa oleh karena stigmata, maka kekuatan jasmaniahnya lama-kelamaan susut, dan ia tidak dapat lagi memimpin hal-hal ordo, maka ia mengundang suatu kapitel umum. Ketika semua saudara berkumpul dalam kapitel, dengan rendah hati ia meminta maaf pada mereka karena kerapuhannya membuat dia tidak mampu mengatur soal-soal ordo dengan cara yang memadai bagi tugas seorang jenderal. Akan tetapi, ia menerangkan bahwa ia tidak dapat melepaskan tugasnya, atau menunjuk seorang pengganti tanpa izin dari paus. Ia menunjuk Petrus Catani sebagai wakilnya serta mempercayakan ordo pada pemeliharaannya dan pemeliharaan para minister. Setelah melakukan hal ini, ia terhibur dalam roh dan sambil mengangkat mata dan tangannya ke langit, ia berkata, “Kepada-Mu, Tuhan Allahku, saya menyerahkan keluarga-Mu yang telah Engkau percayakan kepada saya sampai saat ini. Tuhanku yang amat manis, karena kelemahan-kelemahan yang Engkau ketahui, saya tidak lagi mampu memikul tugas ini. Saya juga mempercayakan-nya kepada para minister provinsi. Biarlah mereka memberikan pertanggungjawaban atas itu pada hari pengadilan bila ada saudara yang binasa karena kelalaian mereka, atau karena teladan buruk, atau oleh koreksi yang berlebih-lebihan.” Karena perkenanan Allah, dengan kata-kata ini semua saudara dalam kapitel itu mengerti bahwa ketika dia minta dimaafkan karena kelemahannya, ia memaksudkan stigmata. Semuanya menangis karena rasa bakti mereka kepadanya. Sejak saat itu ia menyerahkan segala persoalan dan pengaturan ordo kepada wakilnya dan kepada para minster provinsial, katanya, “Nah, karena kelemahan-kelemahanku, saya telah menyerahkan tanggung jawab terhadap ordo. Maka saya tidak mempunyai tugas lain selain berdoa kepada Allah bagi ordo kita, dan memberikan teladan yang baik bagi Saudara-Saudara. Saya yakin bahwa andaikata kelemahan saya sudah hilang, maka pertolongan terbesar yang dapat saya berikan pada ordo ialah berdoa secara tetap pada Allah bagi ordo agar Ia mau memerintah, membela dan melindunginya.”

Seperti telah dikatakan, Fransiskus selalu berusaha menyembunyikan luka-luka stigmata suci. Sejak mendapatnya, ke mana-mana selalu bersepatu dan tangan yang terbalut. Akan tetapi ia tak dapat mencegah para saudara untuk melihat dan menyentuhnya pada berbagai kesempatan, lebih-lebih luka pada sisinya. Salah seorang saudara yang merawatnya, pada suatu waktu dengan licik dan tipuan saleh membujuk untuk menanggalkan pakaian agar ia dapat mengebaskan debunya. Ketika Fransiskus melakukan hal itu, saudara tersebut melihat luka di sisinya, dan dengan cepat meletakkan tangannya pada dada Fransiskus. Ia menyentuh luka itu dengan tiga jarinya, dan mengukur lebar dan panjangnya. Pada kesempatan itu, luka itu dilihat pula oleh wakilnya.

Adapun Rufinus, seorang kontemplatif yang besar, melihatnya lebih jelas lagi. Rufinus ini meyakinkan dirinya dan lain-lainnya dengan tiga cara tentang stigmata, dan lebih-lebih tentang luka di sisi Fransiskus. Cara pertama ialah, ia harus mencuci pakaian dalam Fransiskus. Pakaian ini cukup longgar sehingga dapat ditarik ke atas untuk menutup luka di sisi kanannya. Rufinus menyelidiki dengan teliti dan setiap kali melihat noda darah pada sisi kanannya. Dengan cara ini ia mengetahui dengan pasti bahwa darah itu mengalir dari luka. Fransiskus menghardiknya bila ia yakin bahwa ia menyelidiki pakaiannya untuk menemukan darah. Cara kedua ialah, pada suatu kesempatan Rufinus dengan sengaja menyentuh sisi Fransiskus dan menggerakkan tangannya untuk menempatkan jarinya pada luka di sisinya. Fransiskus berteriak keras karena rasa sakit hebat yang dirasakannya. Sambil berkata, “Allah mengampuni engkau, Rufinus. Mengapa engkau berbuat demikian?” Cara ketiga ialah, suatu waktu Rufinus memohon dengan sangat kepada Fransiskus suatu karunia besar. Ia meminta agar mereka bertukaran jubah demi cinta kasih. Bapa yang penuh cinta itu menyetujui permintaannya walaupun dengan enggan. Ia menanggalkan jubahnya sendiri dan menerima jubah Rufinus sebagai gantinya. Selama pertukaran itu, Rufinus dapat melihat luka itu dengan jelas.

Demikian pula Leo dan banyak saudara lainnya, melihat stigmata Fransiskus ini. Mereka dapat dipercaya karena kesucian dan kata-kata yang sederhana. Akan tetapi, untuk menjauhkan segala keraguan dari budi orang-orang, mereka bersumpah atas Injil Suci bahwa mereka telah melihatnya dengan jelas. Juga beberapa kardinal yang kenal baik dengan dia, melihatnya, dan menulis madah-madah serta mengubah antifon-antifon dan prosa-prosa untuk menghormati stigmata suci Fransiskus. Paus Aleksander yang berkhotbah pada serombongan orang, termasuk semua kardinal—di antaranya, Bonaventura yang suci itu, yang sendiri seorang kardinal—menyatakan dan meneguhkan bahwa ketika Fransiskus masih hidup, ia telah melihat stigmata suci itu dengan mata kepalanya sendiri. Nyonya Yakoba di Settesoli, seorang nyonya Romawi yang terbesar pada zamannya dan amat berbakti kepada Fransiskus, melihat dan mencium stigmata suci itu dengan rasa hormat pada banyak kesempatan, baik sebelum maupun sesudah wafatnya, karena dia datang dari Roma ke Asisi oleh wahyu ilahi pada saat Fransiskus wafat.

Beberapa hari sebelum wafatnya, Fransiskus terbaring sakit di istana uskup Asisi, ditunggui oleh beberapa saudaranya. Walaupun sakit, ia sering menyanyikan puji-pujian terhadap Kristus. Pada suatu hari seorang sahabatnya berkata kepadanya, “Bapa, engkau tahu betapa penduduk kota ini amat percaya kepadamu dan memandangmu sebagai orang suci. Mereka mungkin berpikir bahwa jika engkau memang seperti mereka sangka, maka engkau seharusnya memikirkan kematianmu selama sakit ini, dan lebih baik menangis daripada bernyanyi karena penyakitmu ini serius. Ingatlah bahwa lagumu dan lagu kita, karena kami kausuruh ikut serta, didengar oleh banyak orang di dalam dan di luar istana. Karena demi engkau, istana ini dikawal oleh banyak orang bersenjata. Mereka mungkin mendapat kesan yang salah. Karena itu saya mengira bahwa lebih baik Bapa meninggalkan tempat ini dan kita semua kembali ke Santa Maria Para Malaikat. Kita tidak merasa di rumah di sini, di antara orang-orang sekulir.” Fransiskus menjawab, “Saudara terkasih, engkau tahu bahwa dua tahun yang lalu, ketika kita berada di Foligno, Allah mewahyukan, baik kepadamu maupun kepadaku, kapan kehidupanku akan berakhir. Akhir kehidupanku akan datang beberapa hari lagi. Selama sakit ini, pada perwahyuan itu juga, Allah memberikan jaminan kepada saya bahwa semua dosa saya diampuni dan bahwa saya akan masuk dalam kebahagiaan firdaus. Sebelum perwahyuan itu, saya biasanya menangis bila memikirkan kematian serta dosa-dosa saya. Sejak menerima wahyu itu, saya penuh kesukaan sehingga saya tidak dapat menangis lagi. Karena itu saya menyanyi, dan mau menyanyi bagi Allah yang telah memberikan kepada saya berkat dan rahmat-Nya, serta memberikan jaminan kemuliaan firdaus kepada saya. Bahwa kita pergi dari sini, saya setuju dengan senang hati, tetapi engkau harus mencari suatu alat untuk membawa saya karena saya sangat lemah sehingga tidak dapat berjalan.” Para saudara menggendong dia serta membawanya disertai oleh banyak penduduk kota.

Ketika mereka sampai di sebuah rumah penginapan yang terdapat di pinggir jalan, Fransiskus berkata kepada mereka yang membawanya, “Letakkanlah saya di tanah dan balikkanlah agar saya menghadap ke kota.” Setelah dia diletakkan menghadap ke Asisi, ia memberkati kota itu, katanya, “Semoga Allah mem-berkati engkau, kota suci, karena banyak jiwa akan diselamatkan lewat engkau dan banyak hamba Allah akan diam di dalammu. Darimu banyaklah yang akan terpilih untuk kerajaan kehidupan abadi.” Setelah mengucapkan kata-kata ini, ia dibawa ke Santa Maria Para Malaikat. Sesampai di sana mereka membawa dia ke kamar sakit, dan membaringkannya untuk beristirahat.

Fransiskus memanggil salah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya, “Saudara terkasih, Allah telah mewahyukan kepada saya bahwa dalam beberapa hari lagi saya akan meninggal¬kan kehidupan ini. Engkau mengenal Nyonya Yakoba di Settesoli, seorang pencinta ordo kita yang saleh. Bila ia mendengar tentang kematian saya dan dia tidak hadir, dia pasti amat sedih. Karena itu kirimlah berita kepadanya, bahwa jika ia ingin melihat saya selagi saya masih hidup, dia harus datang segera.” Saudara itu menjawab, “Tentu Bapa. Karena devosinya yang besar kepadamu, pasti amat tidak patut kalau dia tidak hadir pada kematianmu.”

“Pergilah! Bawalah alat tulis, dan tulislah seperti akan saya diktekan.”

Setelah dia membawa alat tulis, Fransiskus mendiktekan, “Kepada Nyonya Yakoba; hamba Allah, Fransiskus, orang miskin yang kecil dari Kristus mengirim salam dan penyertaan Roh Kudus dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

Nyonya terkasih, saya ingin agar Nyonya mengetahui bahwa Kristus Yang Mulia telah mewahyukan kepada saya bahwa akhir hidup saya sudah amat dekat. Maka bila Nyonya ingin menemui saya selagi saya hidup, berangkatlah segera setelah menerima surat ini, dan datanglah ke Santa Maria Para Malaikat. Karena jika Nyonya tidak segera tiba, Nyonya tidak akan menemukan saya yang hidup. Bawalah kain karung untuk membungkus jenazahku dan lilin untuk penguburanku. Saya juga minta agar Nyonya membawa sedikit makanan yang biasa Nyonya berikan ketika saya sakit di Roma.”

Sementara surat itu ditulis, Allah mewahyukan kepada Fransiskus bahwa Nyonya Yakoba sedang dalam perjalanan, bahwa dia malahan sudah di dekat rumah, dan bahwa dia membawa segala sesuatu yang dimintanya di dalam suratnya. Maka, setelah menerima perwahyuan ini, Fransiskus mengata¬kan kepada saudara yang sedang menulis, bahwa ia tidak perlu melanjutkannya karena tak ada gunanya. Saudara-saudara amat heran karena surat itu belum selesai, juga bahwa dia tidak mau surat itu dikirimkan. Beberapa waktu berselang, terdengarlah ketukan keras di pintu. Fransiskus menyuruh portir untuk membukanya. Ketika pintu dibuka, berdirilah di sana Nyonya Yakoba, nyonya yang paling mulia di Roma, dengan kedua putranya. Mereka berdua adalah senator. Mereka diiringi oleh sepasukan besar orang berkuda. Begitu masuk Nyonya Yakoba langsung ke kamar sakit untuk melihat Fransiskus. Fransiskus amat senang dan terhibur karena kedatangannya. Nyonya Yakoba pun merasa bahagia karena melihat dia masih hidup dan sanggup berbicara. Lalu ia menceritakan bagaimana Allah telah mewahyukan kepadanya dalam doanya bahwa hidup Fransiskus mendekati akhirnya, dan bahwa dia ingin memanggilnya serta meminta barang-barang, yang telah dibawanya. Ia menyuruh membawanya masuk, dan memberikan makanan itu kepada Fransiskus.

Setelah Fransiskus makan dan menjadi amat segar, Nyonya Yakoba berlutut dan memeluk kakinya yang amat suci, yang dimeterai dan dihiasi dengan luka-luka Kristus. Dengan rasa bakti ia menciumnya dan membasahinya dengan air matanya, sehingga para saudara yang berdiri di keliling merasa melihat Magdalena sendiri pada kaki Yesus Kristus, dan mereka tidak sanggup menjauhkannya. Sesudah beberapa lama, mereka mengangkat dia dan membawanya ke samping. Mereka bertanya kepadanya perihal kehadirannya, lengkap dengan barang-barang yang dibutuhkan Fransiskus, baik untuk sekarang maupun untuk kebutuhan kematiannya. Nyonya Yakoba menjawab bahwa ketika dia sedang berdoa suatu malam di Roma, ia mendengar suara dari langit yang berkata kepadanya, “Jika engkau ingin menemui Fransiskus selagi ia hidup, segera pergilah ke Asisi, dan bawalah serta barang-barang yang biasanya engkau berikan kepadanya bila ia sakit, dan apa saja yang diperlukan untuk penguburannya, dan saya melakukannya.”

Nyonya Yakoba tinggal di sana sampai Fransiskus berlalu dari kehidupan ini dan dimakamkan. Pada pemakaman, dia dan seluruh pengiringnya memberi penghormatan tertinggi dan menanggung segala biaya yang diperlukan. Lalu ia kembali ke Roma, dan beberapa waktu kemudian ia meninggal dalam keadaan sangat suci. Karena devosinya kepada Fransiskus, ia memerintahkan agar dibawa ke Santa Maria Para Malaikat dan dikuburkan di sana. Keinginannya dilaksanakan.

Sesudah Fransiskus wafat, selain Nyonya Yakoba bersama putra-putra dan pengiringnya, banyak orang lainnya melihat dan mencium stigmata yang mulia itu. Di antaranya terdapatlah seorang laki-laki bernama Hieronimus, yang ragu-ragu dan skeptis tentangnya, seperti halnya Tomas meragukan luka-luka Kristus. Untuk meyakinkan dirinya serta lain-lainnya, ia dengan lancang dan di depan umum menggerakkan paku-paku di tangan dan kaki Fransiskus, dan meraba luka di sisi kanannya di depan saudara-saudara dan orang awam. Karenanya ia menjadi saksi yang teguh dan memberikan kesaksian atas Injil, bahwa itu benar dan bahwa ia telah melihat serta menyentuhnya. Klara dan suster lainnya yang hadir pada pemakaman Fransiskus juga melihat dan mencium stigmata mulia itu.

Fransiskus, pengaku Kristus Yang Mulia berlalu dari hidup ini pada tahun Masehi 1226, pada hari Sabtu, 3 Oktober dan dimakamkan pada hari Minggu. Tahun itu adalah tahun kedua puluh sesudah pertobatannya. Dia dikanonisasikan pada tahun 1228 oleh Paus Gregorius IX, yang secara pribadi mengunjungi Asisi untuk mengukuhkannya.