Renungan III : Stigmata Suci St. Fransiskus

19/09/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 2.100 kali

[Index Stigmata Fransiskus] | Unduh file PDF tulisan ini]

Fransiskus Mendapat Stigmata

Suatu malam dalam bulan September, tepat sebelum pesta Salib Suci, Leo berangkat pada waktu yang biasa untuk berdoa metten bersama Fransiskus. Ketika dia berseru, “Domine, labia mea aperies” dari ujung jembatan, Fransiskus tidak menjawab. Leo tidak kembali seperti yang diperintahkan Fransiskus, tetapi dengan niat yang baik dan suci, ia menyeberangi jembatan dan perlahan-lahan memasuki pondoknya. Ia tidak menjumpai dia di sana. Ia mengira bahwa Fransiskus telah pergi ke suatu tempat lain di hutan untuk berdoa. Karena itu ia keluar dan dalam cahaya bulan ia dengan diam-diam mencarinya di hutan. Akhirnya ia mendengar suara Fransiskus. Ia mendekat. Dilihatnya Fransiskus sedang berlutut, wajah dan tangannya tertengadah ke langit, dan berseru dengan semangat bernyala-nyala, “Siapakah Engkau, Tuhan Allah yang amat manis?” Ia terus mengulangi kata-kata itu tanpa mengatakan lainnya.

Penuh keheranan Leo menengadahkan mata dan melihat sebuah obor api yang indah bercahaya, turun dari langit dan hinggap di atas kepala Fransiskus. Dari dalam nyala api ini ia mendengar suara berbicara kepada Fransiskus, tetapi Leo tak dapat memahami kata-kata itu. Ketika melihat hal itu, ia merasa dirinya tak pantas tinggal di dekat tempat suci itu, di mana hal ajaib itu sedang terjadi. Ia khawatir jangan-jangan ia menyakiti hati Fransiskus karena memutus pengalaman rohaniah ini bila diketahui. Maka dengan diam-diam Leo mundur dan tinggal agak jauh sambil menantikan akhir peristiwa itu. Ia memperhatikan dengan teliti dan melihat Fransiskus tiga kali merentangkan tangannya ke dalam nyala itu. Akhirnya, selang waktu yang lama, ia melihat nyala itu kembali ke langit.

Leo mundur dan pergi, puas dan bahagia karena penglihatan itu, dan hendak kembali ke pondoknya. Akan tetapi selagi ia berjalan pergi penuh keyakinan, Fransiskus mendengar dia karena gemersik dedaunan yang diinjaknya. Ia menyuruh dia berhenti dan tidak boleh bergerak. Leo penuh ketaatan berhenti dan menanti dengan takut. Kepada sahabat-sahabatnya, Leo bercerita bahwa saat itu rasanya lebih baik bumi terbelah dan menelannya daripada menantikan Fransiskus, karena ia takut akan menggusari Fransiskus. Karena ia selalu berhati-hati agar tidak menyakiti hati bapanya, jangan-jangan oleh kesalahannya Fransiskus akan menyangkalnya sebagai sahabat.

Fransiskus menghampirinya, dan bertanya, “Siapakah engkau?” Dengan gemetar Leo menjawab, “Saya Leo, Bapaku.” Fransiskus berkata kepadanya, “Mengapa engkau datang kemari, domba kecil? Bukankah telah saya katakan jangan datang mengawasi saya? Katakanlah kepada saya, demi ketaatan yang suci, apakah engkau sudah mendengar atau melihat sesuatu?”

Leo menjawab, “Bapa, saya mendengar Bapa berkata berulang-ulang, ‘Siapakah Engkau Allah termanis? Dan siapakah saya, seekor cacing yang malang, hamba-Mu yang tidak berharga?’” Lalu sambil berlutut di depan Fransiskus, Leo mendakwa dirinya karena dosa ketidaktaatan yang telah dilakukannya. Ia minta ampun sambil mencucurkan air mata dan sesudah itu dengan sangat ia mohon kepada Fransiskus agar menerangkan kata-kata yang tidak dipahaminya itu.

Fransiskus yakin bahwa Allah telah mengizinkan Leo yang rendah hati ini untuk melihat beberapa hal karena kesederhanaan dan kemurniannya. Maka ia bersedia mengungkapkan dan menerangkan kepadanya apa yang dimintanya. Ia berkata kepadanya, “Anak domba kecil dari Yesus Kristus, pahamlah bahwa ketika saya mengulangi kata-kata itu, yang engkau dengarkan, dua sahaya diperlihatkan kepadaku di dalam jiwaku, yaitu pengetahuan dan pemahaman akan Pencipta, dan yang lain adalah pengetahuan akan diri saya. Ketika saya berkata, ‘Siapakah Engkau, Allahku yang amat manis?’ saya berada dalam cahaya kontemplasi. Di dalamnya saya melihat kedalaman yang tak terhingga dari kebaikan kebijaksanaan dan kuasa Allah. Ketika saya berkata, ‘Siapakah saya?’ Saya berada dalam cahaya kontemplasi, di dalamnya saya melihat kedukaan terdalam akan kemalangan serta kesialan sendiri. Karena itu saya berkata, ‘Siapakah Engkau, Tuhan kebaikan yang tak terhingga, Tuhan kebijaksanaan dan kuasa, yang rela mengunjungi saya, seekor cacing yang hina?’ Allah berada di depan nyala yang engkau lihat dan Ia berbicara kepada saya seperti dahulu Ia bicara kepada Musa. Dari hal-hal yang dikatakannya kepada saya, antara lain ia meminta saya untuk mempersembahkan tiga pemberian. ‘Saya milik-Mu seluruhnya’, jawabku. ‘Engkau tahu bahwa saya tidak mempunyai apa pun selain jubah, tali pinggang dan pakaian dalam, dan ketiga hal ini pun milik-Mu. Apakah yang dapat saya persembahkan pada kebesaran-Mu?’ Lalu Allah berkata, ‘Carilah di dalam dadamu dan persembahkan kepada-Ku apa yang kaudapati di sana.’ Saya mencari dan menemukan sebuah bola emas dan ini saya persembahkan kepada Allah. Saya melakukan hal ini tiga kali, seperti diperintahkan Allah kepada saya. Lalu saya berlutut tiga kali dan memuliakan serta bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepadaku sesuatu untuk dipersembahkan. Langsung saya diberi pengertian bahwa ketiga persembahan ini mewakili ketaatan yang suci, kemiskinan yang paling luhur dan cinta kasih yang gemilang. Hal-hal ini oleh rahmat-Nya telah dikaruniakan Allah kepada saya agar saya menaatinya dengan sempurna sehingga suara hatiku tidak mempersalahkan saya. Seperti engkau lihat, saya memasukkan tangan ke dada dan mempersembahkan kepada Allah ketiga keutamaan ini, yang diwakili oleh tiga bola emas, yang ditaruh Allah di dalam dadaku. Demikian juga Allah telah menempatkan dalam jiwaku keutamaan ini agar saya senantiasa memuji dan memuliakan Dia untuk segala berkat dan rahmat yang diberikan kepada saya karena kebaikan-Nya yang suci. Kata-kata inilah yang kau dengar ketika engkau melihat saya mengangkat tanganku tiga kali. Hati-hatilah, Leo, domba kecil, engkau tidak boleh terus mengawasi saya. Kembalilah ke pondokmu dengan berkat Allah, dan jagalah saya karena dalam beberapa hari lagi Allah akan melakukan hal-hal yang agung dan menakjubkan di atas gunung ini, dan seluruh dunia akan kagum karenanya. Karena Ia akan mengerjakan sesuatu yang baru, yang belum pernah dikerjakan-Nya pada suatu makhluk pun di bumi ini.”

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Fransiskus menyuruh membawakan buku Injil karena Allah telah mengilhamkan dalam jiwanya bahwa dengan membuka buku Injil tiga kali akan diperlihatkan apa yang kiranya berkenan pada Allah untuk dikerjakannya. Setelah buku itu dibawa kepadanya, Fransiskus berlutut dan berdoa. Kemudian ia membuka buku itu tiga kali dengan tangan Leo dalam nama Trinitas Mahakudus. Menurut penyelenggaraan ilahi, maka pada setiap kesempatan, sengsara Kristus tampak. Dengan cara ini ia diberi pengertian bahwa sebagaimana ia telah mengikuti Kristus dalam tindakan-tindakan kehidupannya, begitupun ia harus mengikuti dan diserupakan dengan Dia dalam derita dan kesakitan sengsara-Nya, sebelum ia meninggalkan kehidupan ini. Sejak saat itu Fransiskus mulai mengalami dan semakin lebih merasakan kemanisan kontemplasi ilahi dan kunjungan-kunjungan ilahi. Dalam salah satunya ia dipersiapkan untuk menerima stigmata.

Hari sebelum Pesta Salib Suci dalam bulan September, ketika Fransiskus sedang berdoa sendiri dalam pondoknya, seorang malaikat Allah tampak kepadanya atas nama Allah, “Aku datang untuk menghibur dan memberitahukan agar engkau mempersiapkan diri, mengatur dirimu dengan rendah hati dan sabar untuk menerima hal yang akan dilaksanakan Allah di dalammu.”

“Saya siap menanggung dengan sabar segala sesuatu yang hendak dikerjakan Tuhan terhadapku,” jawab Fransiskus. Setelah berkata demikian, malaikat itu pergi.

Pada hari berikutnya, hari Pesta Salib Suci, sebelum fajar, Fransiskus sedang berlutut berdoa pada pintu masuk ke pondoknya. Ia memalingkan mukanya ke arah timur dan mengucapkan doa ini, “Tuhanku Yesus Kristus, saya mohon kepada-Mu karuniakanlah dua anugerah sebelum saya mening-gal. Yang pertama ialah agar Kauizinkan merasakan sebanyak mungkin penderitaan hebat yang Engkau, Yesus Yang Manis, telah rasakan pada saat sengsara-Mu yang amat pahit itu. Yang kedua ialah agar saya boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putra Allah, tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa.” Lama ia berdoa, dan ia mengetahui bahwa Allah akan mengabulkan doanya, dan bahwa sebanyak yang mungkin bagi seorang makhluk, Ia akan mengizinkan mengalami hal-hal ini seperti telah dimintanya.

Setelah Fransiskus menerima jaminan ini, ia mulai merenungkan sengsara Kristus dan cinta-Nya yang tak terbatas dengan kebaktian besar. Semangatnya menjadi begitu kuat di dalam dirinya sehingga seluruh dirinya menjelma ke dalam Yesus karena cinta kasih dan belaskasihan. Pada pagi yang sama ini, sementara ia begitu dikobarkan oleh kontemplasi ini, ia melihat serafin dengan enam sayap yang bercahaya serta berapi-api turun dari langit. Serafin ini mendekati Fransiskus dengan kecepatan terbang yang amat cepat sehingga ia hampir tak dapat melihatnya dengan jelas, dan mengetahui bahwa ia berbentuk seorang manusia yang tersalib. Sayap-sayapnya diatur sedemi-kian rupa sehingga dua terentang di atas kepalanya, dua lagi terbentang untuk terbang dan dua yang lain menutup seluruh tubuhnya. Fransiskus memandang dengan penuh ketakutan, sekaligus penuh kegembiraan, kedukaan dan kekaguman. Ia merasakan kegembiraan yang besar karena wajah Kristus tampak begitu biasa dan memandang kepadanya dengan ramah dan lembut. Dia terpaku pada salib. Ia merasakan kesedihan dan belaskasihan yang tak terhingga, mengagumi penglihatan yang amat menakjubkan dan tak didahului oleh apa pun itu dengan sadar sepenuh-penuhnya bahwa kelemahan sengsara tidak sepadan dengan tidak dapat matinya semangat serafik. Dalam keadaan demikian, diwahyukan kepadanya bahwa penglihatan ini diberikan kepadanya karena Allah menghendaki bahwa ia terjelma ke dalam keserupaan yang nyata dengan Kristus Tersalib, bukan dengan pemartiran tubuhnya, melainkan dengan pengorbanan jiwanya.

Selama penglihatan yang mengagumkan ini, seluruh Gunung La Verna bercahaya cerah. Cahaya itu menerangi semua bukit dan lembah-lembah di sekitarnya. Seakan-akan matahari telah terbit di atas bumi. Para gembala yang sedang mengawasi kawanannya di sekitar itu melihat gunung itu bernyala-nyala serta ditutup oleh cahaya yang cerah gemilang, menjadi sangat gempar. Kemudian mereka mengatakan kepada saudara-saudara bahwa keadaan ini berlangsung selama satu jam. Demikian juga beberapa pengendara keledai yang sedang bepergian ke Romagna dibangunkan oleh cerahnya cahaya ini yang menembusi jendela-jendela penginapan. Mereka bangun karena mengira bahwa matahari sudah terbit. Mereka mempelanai dan memuati hewan-hewannya. Ketika sudah di jalan, mereka melihat cahaya itu lenyap dan matahari yang sesungguhnya barulah terbit.

Selama penglihatan serafik itu, Kristus tampak kepada Fransiskus dan mewahyukan kepadanya hal-hal yang agung dan rahasia yang tak pernah diungkapkannya kepada seorang pun selama masa hidupnya, tetapi menjelang wafatnya barulah ia mengungkapkannya. “Tahukah engkau, apa yang telah kukerjakan padamu? Aku memberikan kepadamu stigmata tanda kesempurnaan-Ku agar engkau menjadi patokan pengikut-Ku.

Sebagaimana Aku turun ke tempat penantian pada hari wafat-Ku dan membebaskan semua jiwa dari sana berkat pahala stigmata-Ku, demikian pula Aku memberikannya setiap tahun pada peringatan kematianmu agar engkau mengunjungi api penyucian. Berkat kekuatan stigmatamu, engkau akan membebaskan semua jiwa yang ada di sana, yang termasuk dalam ketiga ordomu—yaitu para saudara dina, suster-suster dan para peniten—juga semua yang mempunyai devosi besar kepadamu; dan engkau akan menghantarkan mereka ke kebahagiaan firdaus. Dengan cara ini, engkau akan diserupakan dengan Aku dalam wafat-Ku sebagaimana yang telah terjadi selama hidupmu.”

Sesudah pembicaraan rahasia yang lama, penglihatan ajaib ini lenyap dan meninggalkan di dalam hati Fransiskus nyala cinta kasih ilahi yang berkobar-kobar, dan di dalam tubuhnya suatu gambaran yang mengagumkan serta suatu rekaman sengsara Kristus. Pada tangan dan kaki Fransiskus langsung mulai tampak bekas-bekas paku seperti yang dilihatnya pada tubuh Yesus Yang Tersalib. Tangan dan kakinya tampak tertembus di tengah-tengahnya oleh paku. Kepala paku itu berada dalam telapak tangan serta tapak kakinya, menembus keluar dagingnya. Ujung-ujung paku itu keluar pada punggung tangan dan kakinya. Tampaknya dibengkokkan ke belakang dan dilingkarkan sedemikian sehingga orang dapat dengan mudah memasukkan jarinya melalui lingkaran di luar daging, seolah dalam sebuah cincin. Kepala paku-paku itu bulat dan hitam. Demikian pula pada sisi kanannya timbul luka tikaman yang tak tersembuhkan, merah dan berdarah. Dari luka itu mengalirlah darah dari hati suci Fransiskus, menodai jubah dan pakaian dalamnya.

Sebelum sahabat-sahabatnya mengetahui tentang hal itu, mereka hanya mengetahui bahwa dia tidak membuka tangan dan kakinya dan bahwa kakinya tidak dapat menginjak tanah. Mereka melihat bahwa jubah dan pakaian dalamnya berbekas darah ketika mereka mencucinya. Maka tahulah mereka bahwa ia membawa Kristus Tersalib yang tertera pada tangan, kaki serta sisinya. Walaupun ia berusaha sungguh-sungguh untuk menutupi dan menyembunyikan stigmata suci ini, yang begitu jelas tertera pada tubuhnya, ia yakin bahwa ia hampir tidak dapat melakukan itu terhadap sahabat-sahabat karibnya; kendati ia takut untuk mengungkapkan rahasia Allah. Ia berada dalam kebingungan besar apakah ia harus atau tidak mengungkapkan penglihatan serafin dan terteranya stigmata pada dirinya. Akhirnya di bawah tekanan suara hatinya, ia memanggil beberapa saudaranya yang paling intim dengan dia dan mengemukakan keraguannya secara umum tanpa menungkapkan kenyataannya. Ia meminta nasihat mereka, apakah yang seharusnya dikerjakannya. Di antara saudara ini, ada seorang yang amat suci, yang bernama Illuminato. Ia mengerti bahwa Fransiskus pasti telah melihat sesuatu yang ajaib. Maka jawabnya, “Fransiskus, ingatlah bahwa Allah sudah beberapa kali mengungkapkan rahasia-Nya kepadamu, tidak hanya untuk keuntunganmu saja, tetapi juga untuk orang lain. Engkau kiranya pantas dicela bila menyembunyikan sesuatu yang telah diwahyukan kepadamu.” Fransiskus tergerak oleh kata-kata ini dan melaporkan seluruh keadaan dan sifat dari penglihatan itu dengan perasaan dahsyat, sambil menambahkan bahwa Kristus telah menyampaikan kepadanya hal-hal tertentu yang tak dapat diungkapkan selama masih hidup. Luka tersuci ini, yang diterakan Kristus, amat menggembirakan hatinya sekaligus mendatangkan rasa sakit yang tidak tertahan. Karena itu, dipaksa oleh kebutuhan, ia memilih Leo, yang paling sederhana dan murni, dan menceritakan segala sesuatu kepadanya. Ia memperbolehkannya untuk menyentuh dan membalut luka-luka suci dengan perban agar mengurangi rasa sakitnya dan menahan darah yang mengalir. Pada saat ia merasa sakit, ia mengizinkan untuk mengganti perban lebih sering, kadang-kadang setiap hari, selain antara Kamis sore dan Sabtu pagi. Selama waktu itu, ia tidak menghendaki bahwa penderitaan sengsara Kristus, yang dideritanya di dalam tubuhnya sendiri diperingan oleh suatu obat manusia karena pada waktu itu Tuhan dan Penyelamat kita telah disalibkan, wafat dan dimakamkan demi kita. Suatu waktu, ketika Leo sedang mengganti perban dari luka di sisinya, Fransiskus—karena rasa sakit ketika pembalut yang menahan darah itu diambil—meletakkan tangannya pada dada Leo. Atas sentuhan tangan yang suci ini, Leo merasakan kemanisan dalam hatinya sehingga dia hampir-hampir jatuh terkulai di tanah.

Fransiskus mengakhiri puasa Santo Mikael Malaikat Agung dan bersiap-siap kembali ke Santa Maria Para Malaikat. Ia memanggil Masseo dan Angelo. Ia berbicara lama dengan mereka dan memberi nasihat suci. Lalu ia menyerahkan gunung suci itu kepada mereka agar dipelihara dengan sungguh-sungguh. Ia mengatakan kepada mereka bahwa perlu baginya untuk kembali ke Santa Maria Para Malaikat bersama Leo. Setelah itu ia meninggalkan mereka dan memberkati mereka atas nama Yesus Yang Tersalib. Atas permohonan mereka, ia mengulurkan tangan-tangannya yang suci itu, yang dihiasi dengan stigmata yang mulia sehingga mereka dapat melihat, menyentuh dan menciumnya. Ia meninggalkan mereka dan menuruni gunung suci itu.

3 komentar pada Renungan III : Stigmata Suci St. Fransiskus

  1. LOYS
    27/11/2014 at 22:52

    Sungguh menggagumkan!!! Tidak ada yg lebih indah lg selain Hidup dalam cinta Kristus yg manis. St.Fransiskus, doakanlah kami.

  2. Julia
    22/10/2012 at 13:20

    selama ini saya selalu mengaggumi kesederhanaan St.fransiskus dan doa2nya. Kali ini, dengan renungan III Stigmata suci St.Fransiskus, saya lebih dibuat terbengong2, terharu dengan hati yang bisa sesuci yg dimiliki St.Fransiskus. Luar biasa. membayangkan indahnya gunung la verna saat itu, sungguh menggetarkan hati. terima kasih atas sharingnya. semoga makin banyak teman2 yang juga merasakan kebesaran kasih Kristus lewat permenungan ini

  3. 13/07/2012 at 16:56

    trima kasih saya sangat senang dengan tulisan mengenai stigma dan beberapa ungakapan dalam menjalankan hukumTuhan dalam keserhanaan dan kerendahan hati

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *