Renungan I : Stigmata Suci St. Fransiskus

19/09/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.529 kali

[Index Stigmata Fransiskus] | Unduh file PDF tulisan ini]

Fransiskus ke Gunung La Verna

Dalam tahun 1224, Fransiskus yang waktu itu berusia 43 tahun, mendapat inspirasi dari Allah untuk meninggalkan Lembah Spoleto dan masuk ke Romagna bersama Leo sebagai kawan seperjalanannya. Dalam perjalanan, mereka lewat di kaki Benteng Montefeltro. Di situ sedang ada perjamuan dan rapat besar untuk merayakan kekesatriaan dari salah seorang bangsawan Montefeltro. Mendengar adanya pesta meriah ini, dan bahwa banyak bangsawan dari berbagai daerah sedang berkumpul di situ, Fransiskus berkata kepada Leo, “Mari kita singgah di pesta itu karena dengan pertolongan Allah, kita akan menuai suatu panenan rohani yang besar!”

Di antara para bangsawan yang berkumpul di situ, terdapatlah seorang mulia dari Tuscany bernama Orlando da Chiusi di Casentino. Karena ia telah mendengar tentang hal-hal ajaib mengenai kesucian Fransiskus, maka ia sangat menghormatinya, dan sangat ingin melihat dan mendengarkan dia berkhotbah.

Setelah sampai ke benteng itu, Fransiskus memasuki pelataran tempat rombongan itu berkumpul. Dalam semangat roh ia memanjat tembok yang rendah dan mulai berkhotbah. Sebagai tema khotbah, ia mengambil kata-kata berikut ini dalam bahasa daerah:

Tanto e il bene ch’ia aspetto
ch’agni pene m’e diletto

(Besarlah kebaikan yang kulihat,
sehingga setiap derita memberikan kesukaan padaku!)

Di bawah bimbingan Roh Kudus, ia berkhotbah dengan amat berbakti dan mendalam tentang tema di atas. Ia memperlihatkan kebenaran kata-kata ini dengan menyebutkan penderitaan dan kemartiran para rasul dan para martir, ulah tapa yang keras dari para pengaku iman yang suci, serta penderitaan dan percobaan dari para perawan suci dan orang-orang kudus lainnya. Semua orang terpaku penuh perhatian mengarahkan mata dan mendengarkan seakan-akan malaikat Allah sedang berbicara kepada mereka. Hati Orlando disentuh oleh Allah karena khotbah Fransiskus itu. Ia memutuskan untuk membicarakan dan meminta nasihat kepadanya perihal keadaan jiwanya, sesudah khotbah. Ketika khotbah berakhir, ia menarik Fransiskus ke samping dan berkata, “Bapa, saya minta nasihatmu tentang keselamatan jiwa saya.” “Dengan senang hati,” jawab Fransiskus, “tetapi pagi ini, pergilah dan hormatilah sahabat-sahabatmu yang telah mengundang engkau ke pesta ini, dan ikutlah dalam perjamuan bersama mereka. Bila perjamuan selesai, kita akan berbicara selama yang engkau inginkan.” Orlando pergi ke perjamuan dan sesudahnya datang kembali kepada Fransiskus. Ia menceritakan tentang keadaan jiwanya kepada Fransiskus. Sebagai kata penutup, Orlando berkata kepada Fransiskus, “Saya memiliki sebuah gunung di Tuscany bernama Gunung La Verna, yang sangat ideal sebagai tempat berdoa. Tempat itu amat sepi dan menyeramkan, serta amat cocok bagi siapa saja yang ingin melakukan ulah tapa. Jika engkau menyukainya, dengan senang hati saya berikan kepadamu dan sahabat-sahabatmu demi keselamatan jiwaku.”

Persembahan istimewa ini amat diinginkan Fransiskus, maka dengan penuh kegembiraan ia menghaturkan pujian dan syukur, mula-mula kepada Allah lalu kepada Orlando. Katanya, “Bila Tuan telah kembali ke rumah, saya akan mengirim dua sahabatku ke sana agar Tuan dapat memperlihatkan gunung itu. kepada mereka. Jika mereka menganggap tempat itu cocok untuk berdoa dan melakukan ulah tapa, maka saya akan menerima pemberian yang ramah ini.”

Lalu Fransiskus pergi. Setelah menyelesaikan perjalanannya, ia kembali ke Santa Maria Para Malaikat. Setelah perayaan-perayaan berakhir Orlando juga kembali ke purinya, yang disebut Chiusi, terletak kira-kira 1 mil dari La Verna. Ketika Fransiskus kembali ke Santa Maria Para Malaikat, ia mengirim dua sahabatnya kepada Orlando. Mereka disambut dengan riang gembira dan ramah tamah. Ia mau memperlihatkan Gunung La Verna kepada mereka, maka ia mengutus mereka bersama sekitar 50 orang bersenjata untuk melindungi mereka terhadap binatang-binatang buas. Saudara-saudara itu mendaki sampai ke puncak gunung dan menyelidikinya dengan sungguh-sungguh. Mereka menemukan suatu bidang dari gunung itu yang amat cocok untuk berkontemplasi, bagian lainnya merupakan dataran yang rata. Mereka memilih tempat ini sebagai tempat tinggal.

Dengan pertolongan orang-orang bersenjata yang menemani mereka, mereka membangun beberapa pondok kecil dari ranting-ranting kayu. Setelah menerima dan memiliki Gunung La Verna dan tempat-tempat tinggal di gunung itu, mereka berangkat dan kembali kepada Fransiskus. Mereka menceritakan kepadanya bahwa mereka telah memilih satu tempat di Gunung La Verna yang amat cocok untuk berdoa dan berkontemplasi.

Ketika mendengar berita ini, Fransiskus amat bergembira. Ia mengucapkan syukur dan puji-pujian pada Allah. Lalu dengan wajah cerah ia berkata kepada para saudaranya, “Putra-Putraku, sekarang menjelang puasa Santo Mikael Malaikat Agung; saya sungguh yakin bahwa Allah menghendaki agar kita menjalankan puasa ini di Gunung La Verna. Di sana penyelenggaraan ilahi telah menyediakan suatu tempat bagi kita agar dengan melakukan ulah tapa, kita pantas memperoleh rahmat dari Kristus untuk menyucikan tempat yang terberkati ini demi kehormatan dan kemuliaan Allah dan bunda-Nya yang mulia, Perawan Maria serta para malaikat.” Sesudah itu Fransiskus membawa serta beberapa saudara: Masseo da Marignano, Angelo Tancredi dari Asisi, dan Leo. Bersama ketiga sahabat ini, Fransiskus memasuki doa. Setelah berakhir ia menyerahkan diri dan sahabat-sahabatnya pada doa-doa dari saudara-saudara yang tinggal. Ketika berangkat, Fransiskus memanggil Masseo, dan berkata, “Masseo, engkau harus menjadi gardian atas kami dalam perjalanan ini. Kita akan menjalankan kebiasaan¬kebiasaan kita yang baik, entah untuk berdoa ofisi atau berdiam diri, namun kita tidak akan membuat rencana tentang apa yang akan kita makan atau di mana kita akan tidur. Bila tiba saatnya untuk mencari tempat bernaung, maka kita akan meminta-minta sedikit roti dan berhenti untuk beristirahat di tempat mana pun yang dipersiapkan Allah bagi kita.” Lalu ketiga sahabat itu membungkukkan kepalanya dan sambil membuat tanda salib yang suci, mereka memulai perjalanannya.

Pada sore hari pertama, mereka sampai ke sebuah rumah dari saudara-saudara dan menginap di sana. Sore kedua, karena cuaca buruk dan kelelahan, mereka tidak dapat mencari suatu biara, puri maupun desa. Ketika malam mulai jatuh dan cuaca tetap buruk, mereka mencari perlindungan dalam sebuah gereja yang sudah roboh dan tak terpakai lagi. Mereka berbaring melepaskan lelah di sana. Sementara sahabat-sahabatnya tidur, Fransiskus berdoa. Selama penjagaan yang pertama dari malam itu, segerombolan setan ganas datang kepadanya dengan riuh dan gaduh. Mereka mengeroyok dan menggoda dia, menghantami dia, menyeretnya, menarik ke atas dan ke bawah, dan mengancamnya dengan berbagai hal. Walaupun mereka berusaha memutuskan doanya dengan berbagai cara, tetapi maksud mereka tidak tercapai karena Allah berserta dia.

Setelah lama melawan serangan dari setan-setan itu, Fransiskus berteriak dengan suara keras, “Hai roh-roh jahat, kamu tidak dapat berbuat apa pun selain yang diizinkan Allah. Demi nama Allah Yang Mahakuasa, aku mengatakan kepadamu bahwa kamu boleh berbuat apa saja pada tubuhku sejauh diizinkan Allah. Aku siap menahannya karena kulihat bahwa tidak ada musuh yang lebih besar bagiku selain tubuhku sendiri. Karena itu, jika kamu menghajar tubuhku, kamu melakukan suatu pelayanan yang besar bagiku.” Setan-setan itu menceng-keram dia dengan keras dan berang, menyeretnya di sekitar gereja, melukai dan menyiksa dia lagi. Fransiskus berteriak¬teriak katanya, “Tuhanku Yesus Kristus, saya mengucap syukur kepada-Mu karena cinta kasih besar yang Kauperlihatkan kepadaku. Karena suatu bukti cinta yang besar bila Tuhan menghukum hamba-Nya sepenuh-penuhnya untuk segala kesalahannya di dunia ini sehingga dia tidak akan dihukum lagi. Saya siap dengan senang hati menanggung setiap kesakitan dan penderitaan yang Engkau, Allah, lihat bahwa itu cocok mendatangi saya untuk dosa-dosaku.”

Setan-setan itu dikalahkan dan takluk terhadap ketetapan dan kesabarannya, dan meninggalkan dia. Fransiskus, dalam semangat roh, keluar dari gereja dan masuk ke hutan di dekatnya. Di sana ia mulai berdoa dengan bercucuran air mata dan sambil menepuk-nepuk dadanya, ia memohon dan berusaha menjumpai Kristus, mempelai dan kekasih jiwanya. Terkadang ia menyapa-Nya dengan penuh hormat sebagai Tuhannya, terkadang ia menjawab-Nya sebagai hakimnya, terkadang ia mengeluh kepada-Nya sebagai bapanya dan terkadang ia bercakap dengan Dia sebagai sahabatnya.

Sahabat-sahabatnya yang terbangun keluar untuk men-dengarkan serta mengawasi yang sedang dilakukannya, melihat dan mendengar dia berseru dengan bakti serta air mata meminta belaskasihan Allah untuk pendosa-pendosa. Mereka juga melihat dan mendengar dia meratapi sengsara Kristus, seakan-akan ia sedang menyaksikannya dengan mata jasmaninya. Mereka juga melihat dia berdoa dengan lengan terentang dalam bentuk salib, terangkat dan melayang di atas tanah selama beberapa waktu dan dikitari oleh awan yang bercahaya. Demikianlah ia melewat-kan seluruh malam dengan latihan-latihan suci itu tanpa tidur.

Pagi harinya sahabat-sahabatnya yakin bahwa Fransiskus secara fisik lelah dan kehabisan tenaga karena latihan semalam-malaman itu dan karena kurang tidur. Ia hampir tidak dapat bepergian dengan berjalan kaki. Karena itu mereka mendatangi seorang petani miskin di padang dan meminta demi cinta Allah agar meminjamkan keledainya kepada Fransiskus, bapa mereka yang tidak mampu lagi berjalan kaki. Mendengar mereka menyebut nama Fransiskus, ia bertanya kepada mereka, “Apakah kalian ini beberapa saudara dari Fransiskus Asisi, yang banyak dibicarakan kebaikannya?” Saudara-saudara menjawab bahwa memang demikian dan bahwa untuk Fransiskus sendirilah mereka mencari keledai. Orang itu menyiapkan keledai dengan bakti dan teliti, lalu membawanya kepada Fransiskus. Dengan rasa hormat ia menolong Fransiskus naik ke punggung keledai itu, dan melanjutkan perjalanannya. Ia pergi bersama mereka, berjalan di belakang keledainya.

Setelah agak jauh berjalan, petani itu bertanya kepada Fransiskus, “Katakanlah kepada saya, adakah engkau ini Fransiskus dari Asisi?” Fransiskus menjawab, “Ya.” Kata orang itu, “Jika demikian, cobalah menjadi baik seperti yang dibayangkan setiap orang tentang engkau karena orang menaruh kepercayaan besar kepadamu. Saya mengingatkan engkau, jangan sampai engkau berbeda daripada yang diharapkan orang.” Ketika mendengar kata-kata ini, Fransiskus tidak menjadi marah karena diperingatkan oleh seorang petani, juga ia tidak berkata pada dirinya, ‘Makhluk macam apakah ini yang memberi nasihat kepadaku?’ seperti diucapkan oleh orang-orang berjubah yang sombong. Akan tetapi ia segera turun dari keledai, dan berlutut di tanah di depan orang itu. Ia mencium kakinya dan berterima kasih kepadanya dengan rendah hati karena telah sudi menasihatinya dengan cinta kasih. Petani itu dan para sahabat Fransiskus mengangkatnya dari tanah dengan bakti dan mendudukkannya kembali di atas keledai, dan mereka melanjutkan perjalanan.

Ketika mereka telah mendaki gunung itu kira-kira setengah perjalanan, petani itu mulai merasakan kehausan yang mencengkeram karena panas terik dan pendakian yang menghabiskan tenaga. Karena itu ia berteriak-teriak, “Aduh, aku mati kehausan! Jika tidak ada yang dapat kuminum, aku pasti jatuh pingsan saat ini juga.” Fransiskus turun dari keledainya, berlutut untuk berdoa. Ia terus berlutut dengan tangan ditadahkan ke langit, sampai ia mendapat wahyu bahwa Allah telah mengabulkan permohonannya. Lalu katanya kepada petani itu, “Berlarilah segera ke batu karang itu, di sana engkau akan mendapatkan air hidup yang dipancarkan Kristus dalam belas-kasihan-Nya dari batu karang tepat pada saat ini juga.” Orang itu berlari ke tempat yang ditunjukkan Fransiskus kepadanya dan mendapat pancaran air yang indah yang memancar dari batu karang yang keras itu berkat kekuatan doa Fransiskus. Ia minum sepuas-puasnya. Jelaslah bahwa pancaran air ini dihasilkan secara ajaib oleh Allah karena doa Fransiskus karena baik sebelumnya maupun sesudahnya, tidak terlihat suatu sumber air di tempat itu, juga tidak ada air yang mengalir di suatu tempat sekitar itu. Sesudah itu, Fransiskus bersama sahabat-sahabatnya serta petani itu mengucap syukur kepada Allah karena mukjizat yang diperlihatkan-Nya kepada mereka. Lalu mereka melanjutkan perjalan.

Ketika sampai di kaki karang-karang di sekitar La Verna, Fransiskus ingin beristirahat sebentar di bawah sebatang pohon cemara yang tumbuh di pinggir jalan. Sementara ia beristirahat di situ, Fransiskus melayangkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan daerah sekitarnya. Kemudian datanglah sekawanan burung berjenis-jenis, mereka memperlihatkan kegembiraan dan kesukaannya yang besar dengan bernyanyi¬nyanyi dan mengepak-ngepakkan sayap-sayapnya. Mereka berkumpul di sekitar Fransiskus, ada yang hinggap di kepalanya, ada yang di bahunya, ada yang di lengannya, di lututnya serta kakinya. Sahabat-sahabatnya dan petani itu melihat dan heran.

Dengan bersemangat besar, Fransiskus berkata kepada mereka, “Saudara-saudaraku terkasih, saya yakin bahwa Tuhan kita Yesus Kristus berkenan agar kita tinggal di gunung yang sepi ini karena saudara dan saudari kita burung-burung begitu bersuka cita atas kedatangan kita.” Lalu ia bangkit, mereka berjalan terus dan tiba di tempat yang telah mereka pilih.