Petani Harus Mandiri – Wawancara JPIC OFM Indonesia dengan Br. Pudhi OFM

17/12/2018
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 38 kali

Br. Pudihardjo OFM

Petani adalah produsen pangan. Kesejahteraan penduduk suatu negara seperti Indonesia sebenarnya bergantung pada para petani. Sayangnya, nasib petani sendiri seringkali mencemaskan. Petani identik dengan kemiskinan. Kian tahun, profesi sebagai petani ditinggalkan karena dianggap tidak memberikan kesejahteraan.

Konstelasi politik Indonesia membenturkan para petani kecil dengan sistem ekonomi yang hendak memonopoli sektor pertanian. Para petani tidak lagi mandiri. Mulai dari penyediaan benih hingga proses produksi, petani mesti menggantungkan diri pada para penguasa sektor pertanian yangbergerak melalui korporasi.

Menembus kemacetan lalu lintas akhir pekan arah Bogor, Tim Sosok media ini, menyambangi Br. Pudiharjo, OFM di Ciloto, Puncak (0710/2018). Bertempat di lahan riset pertanian organik yang dikelolanya, Tim Sosok mewawancarai beliau seputar pertanian dan campur tangan politik di dalamnya. Beliau mendesak pentingnya pertanian organik, sebuah bentuk pertanian yang menghargai alam dan menjunjung martabat manusia.

Sejak kapan Bruder tertarik pada pertanian organik?

Ketertarikan saya pada pertanian organik berawal dari politik, bidang yang dahulu saya pelajari di bangku kuliah. Saat itu, saya mengikuti perkembangan politik di Indonesia termasuk pada bidang pertanian. Ternyata perkembangan politik turut mengubah wajah pertanian di Indonesia. Misalnya saja program mengenalkan komoditas padi secara nasional pada tahun 80-an telah menjadikan nasi sebagai makanan utama sebagian besar masyarakat Indonesia.

Padahal dalam pelajaran Ilmu Alam dulu diajarkan kalau setiap daerah punya makanan pokok masing-masing. Nada kebijakan ini adalah penyeragaman bahan pangan dan terarah pada maksud monopoli atau penguasaan bahan pangan oleh segelintir orang. Tentu saja kebijakan ini berdampak pada perubahan cara bertani masyarakat Indonesia.

Selepas kuliah,saya bekerja di dinas lingkungan hidup Pemda DKI Jakarta sambil terus mengikuti perkembangan politik terutama dalam bidang pertanian. Saat itu, kami menangani permasalahan sampah di Cilincing. Solusi untuk memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk tanaman sudah dimulai dipikirkan. Dalam pengkajian yang dilakukan, saya menemukan ternyata sampah yang baunya paling busuk adalah pupuk yang paling bagus untuk menyuburkan tanaman sebab di dalamnya terkandung banyak unsur yang bagus bagi tanah. Penemuan ini menjadi semacam pertobatan bagi saya karena mengubah cara pandang terhadap sesama manusia. Jika dulu saya memandang orang berdasarkan status dan jabatan, sejak peristiwa itu perlahan-lahan berubah. Gelandangan yang paling gembel pun pasti sangat bermartabat.

Perkenalan saya dengan St. Fransiskus Assisi semakin memantapkan pertobatan ini. Saya merasa ajaran-ajaran St. Fransiskus Assisi sangat dekat dengan pertobatan yang telah terjadi dalam diri saya. Saya memutuskan untuk menjadi seorang Fransiskan. Sejak bergabung, saya mempelajari pertanian organik. Ketika berkarya di Flores saya mulai membentuk kelompok tani berbasis pertanian organik.

Suatu ketika, saya menjumpai suatu kasus terkait pertanian. Sorang ibu mengalami pendarahan hebat. Setelah diperiksa ternyata ditemukan kandungan urea pekat dalam darahnya. Ia memang mengakui sering mengkonsumsi sayuran yang dijual di pasar. Sayuran tersebut ditanam menggunakan pupuk buatan pabrik. Kasus ini semakin menggugah saya untuk terus mengembangkan pertanian organik.

Apakah ada yang salah dari cara bertani selama ini?

Sektor pertanian saat ini diliputi banyak kesalahan, mulai dari mindset, cara bertani hingga produk yang dihasilkan. Peraturan pemerintah juga tidak sepenuhnya berpihak kepada para petani, terutama petani kecil. Model pertanian saat ini sangat berorientasi kepada keuntungan ekonomi. Cara pandang seperti ini mempengaruhi cara bertani. Berbagai teknologi diterapkan dalam pertanian untuk mendapatkan hasil melimpah dari lahan seadanya dalam waktu yang singkat. Biaya produksi akan dihemat seturut pendeknya waktu tetapi keuntungan yang diraup semakin besar.

Misalkan, selama ini orang memahami memupuk tanaman berarti memberi nutrisi kepada tanaman. Tanah dianggap hanya sebagai media untuk meletakkan pupuk. Tanaman diberi pupuk untuk mempercepat pertumbuhan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia buatan pabrik. Kondisi tanah sendiri kurang mendapatkan perhatian. Akibatnya, dalam jangka panjang tanah menjadi rusak berat karena komposisi unsur di dalamnya tidak lagi seimbang. Demikian juga, produk pertanian yang dihasilkan tidak sehat karena mengandung unsur-unsur berbahaya bagi tubuh manusia.

Padahal sebenarnya yang mesti diberi pupuk adalah tanah sebab tanaman memeroleh berbagai unsur hara dari tanah. Pemupukan tanah bertujuan untuk menjaga keseimbangan unsur hara dalam tanah. Bahkan, beberapa produk pertanian yang diimpor dari luar negeri seperti bawang putih ditanam menggunakan limbah radioaktif. Ini tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menurut Bruder, sejauh mana politik memberi pengaruh pada sektor pertanian?

Pengaruh politik dalam bidang pertanian sangat kuat. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sektor pertanian tidak dapat lepas dari pengaruh politik. Perubahan dalam model bertani juga dapat dilihat dari peraturan yang dirancang. Sejauh pengamatan saya, sejak zaman Orde Baru hingga saat ini, model politik di negara ini cenderung sama. Siapapun pemimpin yang berkuasa akan didekati oleh para pemilik modal yang bermaksud untuk memonopoli produk pangan.

Pengaruh politik dalam bidang pertanian sangat kuat. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sektor pertanian tidak dapat lepas dari pengaruh politik. Perubahan dalam model bertani juga dapat dilihat dari peraturan yang dirancang. Sejauh pengamatan saya, sejak zaman orde baru hingga saat ini, model politik di negara ini cenderung sama. Siapapun pemimpin yang berkuasa akan didekati oleh para pemilik modal yang bermaksud untuk memonopoli produk pangan.

Jelas ini merugikan para petani kecil. Para petani kecil akan kalah oleh korporasi. Monopoli pangan menciptakan ketergantungan masyarakat pada produk tertentu dalam skala besar. Produk pertanian konvensional tidak dapat bersaing. Bisa dipahami bila beberapa jenis pangan diimpor. Pada satu sisi para petani kecil tidak menanamnya karena kalah dalam persaingan. Pada sisi lain permintaan masyarakat sangat tinggi

Monopoli juga terjadi dalam model bertani.Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukan rekayasa benih sehingga benih yang ditanam bergantung pada pupuk-pupuk buatan pabrik. Bahkan para petani mesti menggantungkan diri pada korporasi untuk mendapatkan benih. Padahal seharusnya petani itu mandiri. Mereka mampu mengusahakan sendiri benih dan pupuk dengan menggunakan bahan yang ada di sekitarnya. Bayangkan saja sebelum menanam,petani sederhana harus mengeluarkan banyak biaya. Belum lagi dalam jangka panjang tanah yang diolah mengalami penurunan kualitas kesuburan akibat penggunaan pupuk kimia buatan pabrik.

Selain indikasi monopoli, undang-undang di negara kita tidak secara jelas mengatur berbagai aspek dalam pertanian. Misalnya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam tidak mengatur tentang mikroorganisme penyubur tanah. Padahal para peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) telah menemukan ribuan mikroorganisme penyubur dalam tanah. Tentu saja hal ini memiliki konsekuensi lanjutan. Jika tanah rusak akibat penggunaan pupuk kimia tanpa peduli pada mikroorganisme tersebut, siapa yang dibertanggung jawab? Jika organisme tersebut perlahan-lahan punah akibat penggunaan pupuk kimia dan kesuburan tanah merosot, siapa yang akan bertanggung jawab?

Mengapa pertanian organik dibutuhkan?

Saya melihat bahwa cara bertani yang dipraktekkan manusia selama ini boros. Manusia mengambil terlalu banyak dari alam tetapi tidak mengembalikannya. Pemberian pupuk kimia buatan pabrik pun hanya mengembalikan sedikit dari banyak unsur hara yang diambil. Itu pun diserta dengan berbagai akibat seperti yang saya sudah katakan tadi.

Pertanian organik merupakan bentuk penghargaan terhadap alam. Selain mengambil dari alam, manusia mesti mengembalikan lagi apa yang telah diambilnya sebagai bentuk terima kasih. Selain itu, melalui pertanian organik ini kami memperjuangkan hak petani. Jika kebanyakan produk pertanian organik seperti pupuk dijual dengan motif ekonomi, saya bekerja sama dengan para peneliti dari LIPI dan sejumlah ahli pertanian untuk menyebarkan hasil penelitian mereka terkait model pertanian yang benar secara cuma-cuma kepada para petani.

Sejauh mana spiritualitas Fransiskan mendukung Bruder dalam karya pertanian organik ini?

Spiritualitas Fransiskan menjadi panduan bagi saya untuk mendalami dengan serius pertanian organik. Tentu saja nilai-nilai spiritualitas tersebut diihidupi terlebih dahulu sehingga mengkristal dalam diri. Ketika saya bekerja sama dengan para peneliti dalam bidang pertanian, nilai-nilai spiritualitas Fransiskan sangat membantu saya untuk menerjemahkan hasil penelitian mereka ke lapangan.

Spiritualitas Fransiskan membantu saya untuk menyadari bahwa bumi adalah alam ciptaan Allah yang indah. Ia semacam “indra keenam” bagi saya untuk merasakan secara lebih peka situasi masyarakat dan lingkungan. Misalnya, sejak bergelut dalam pertanian organik saya percaya jika setiap lahan memiliki “mutiara terpendam” yang semestinya dapat ditemukan. Untuk dapat menemukannya kita tidak boleh menggunakan cara-cara yang merusak. Bisa jadi masalah utama di lahan tersebut menjadi solusi paling jitu. Setiap lahan pertanian memiliki potensi dan tantangan tersendiri. Butuh kepekaan dan cara khusus untuk mendekatinya.

Tantangan apa saja yang dihadapi selama berkecimpung dalam pertanian organik?

Tantangan paling besar adalah melawan cara berpikir awam yang melihat pertanian organik dalam kacamata keuntungan ekonomi semata. Padahal, ide awal memulai karya ini adalah mengangkat martabat para petani dan memulihkan lingkungan yang telah rusak. Termasuk melawan paradigma yang salah tentang pertanian.

Selama bergelut dalam pertanian organik saya seringkali mendampingi para petani yang telah yang telah bangkrut dari segi finansial. Tentu saja pendampingan semacam ini tidak berdampak besar bagi pendapatan finansial. Namun, jika berpegang teguh pada cita-cita awal, cara ini sudah cocok untuk mengangkat martabat orang-orang kecil. Idealisme ini tidak boleh ditinggalkan sekalipun banyak tantangan yangmenghadang.)***

Rio Edison OFM/JPIC OFM Indonesia

Sumber: http://jpicofmindonesia.com/2018/12/br-pudhi-ofm-petani-harus-mandiri/

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *