Percayalah Kepada Injil – Rabu Abu 6 April 2019

06/03/2019
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 106 kali
Fransiskus Assisi berdoa di depan salib San Damiano

Fransiskus Assisi berdoa di depan salib San Damiano. (Ilustrasi diambil dari P. Subercaseaux Errazuriz, Francis of Assisi, Fransiscan Herald Press, 1976)

Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Seruan ini hampir selalu digunakan ketika kita ditandai dengan abu. Ini merupakan panggilan untuk bertobat, untuk mengikuti Kristus, untuk mengubah hidup kita. Bacaan dari Injil Markus hari ini menunjukkan tiga pokok penting dalam masa prapaskah yaitu doa, puasa dan sedekah. Bisa dikatakan inilah inti pesan Injil yang menunjukkan bagaimana berelasi dengan Allah (doa), dengan sesama (sedekah), dengan diri sendiri (puas). St. Fransiskus Assisi sungguh mendengar panggilan pertobatan ini dan mengikutinya dengan tekun.

Suatu hari, ketika di gereja dibacakan Injil tentang bagaimana Tuhan mengirim murid-muridNya untuk berkotbah, hamba Allah yang ada di situ hanya memahaminya sedikit. Maka, setelah misa, ia dengan rendah hati memohon kepada imam untuk menjelaskan Injil itu. Ketika St. Fransiskus mendengar bahwa murid-murid Kristus tidak boleh memiliki emas atau perak, tidak boleh membawa pundi-pundi2 dalam perjalanan, bekal atau roti atau tongkat, dan tidak boleh memakai kasut dan dua baju, tetapi harus mewartakan kerajaan Allah dan pertobatan, maka ia langsung berseru dengan gembira dalam Roh Allah: “Inilah yang kukehendaki, inilah yang kucari, inilah yang ingin kulakukan dengan segenap hatiku”.

Fransiskus menggunakan pendekatan literal pada Injil. Ia mulai dengan interpretasi paling mendasar dari sebuah teks, tetapi ia tidak berhenti di situ. Ia mulai melepaskan sepatu, tongkat dan puas dengan satu jubah, tetapi dalam perjalanan waktu ia menemukan banyak cara dimana harta dapat menjaga kita untuk terus mencari Tuhan. Ia mulai dengan membawa batu-batu dan menyusunnya pada tembok-tembok gereja tua di Assisi, tetapi seiring waktu ia menginspirasi para pengikutnya untuk menyegarkan kembali Gereja dengan kekuatan Injil yang tak terpadamkan.

Doa
Allah yang Maha Tinggi dan penuh kemuliaan; terangilah kegelapan hatiku; berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh, dan kasih yang sempurna; berilah aku ya Tuhan perasaan yang peka dan budi yang cerah; agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus dan tak kan menyesatkan. Amin

(Kontributor: Sdr. FA. Oki Dwihatmanto OFM)

Tags: , , , ,

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *