Pasal XVII Para Pengkhotbah

10/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 612 kali

[Index Anggaran Dasar Tanpa Bulla] [Index Fransiskus Assisi]

(1)Tidak seorang saudara pun boleh berkhotbah bertentangan dengan peraturan dan ketentuan Gereja Kudus dan kalau tidak diizinkan oleh ministernya. (2)Minister sendiri hendaknya menjaga, jangan sampai memberikan izin itu kepada seseorang secara tidak hati-hati. (3)Akan tetapi semua saudara hendaknya berkhotbah dengan perbuatan.

(4)Tidak seorang minister atau pengkhotbah pun boleh menganggap jabatan pelayanan bagi para saudara atau tugas berkhotbah sebagai miliknya sendiri[1]; tetapi pada saat diperintahkan kepadanya, haruslah ia seketika itu juga melepaskan tugas jabatannya tanpa bantahan sedikit pun.

(5)Karena itu, demi cintakasih, yang adalah Allah, aku mohon dengan sangat kepada semua saudaraku; baik pengkhotbah, pendoa maupun pekerja, entah rohaniwan entah awam, agar berusaha merendahkan diri dalam segalanya; (6)tidak memegahkan diri, tidak berpuas-puas diri, dan tidak meninggikan diri dalam batin atas perkataan dan perbuatan baik, bahkan atas kebaikan mana pun yang dikerjakan atau dikatakan dan dilaksanakan oleh Allah sewaktu-waktu dalam diri mereka atau melalui mereka, sesuai dengan firman Tuhan ini: Walaupun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu. (7)Hendaklah kita insafi sungguh-sungguh, bahwa tidak ada yang kita miliki selain cacat-cela dan dosa. (8)Maka kita mesti semakin bergembira apabila ditimpa berbagai pencobaan, dan apabila menanggung impitan, kesusahan jiwa atau badan mana pun di dunia ini demi hidup yang kekal.

(9)Karena itu, saudara sekalian, hendaklah kita waspada terhadap segala kesombongan dan kemuliaan sia-sia. (10)Hendaklah kita melindungi diri terhadap kebijaksanaan dunia ini dan terhadap kecerdikan daging; (11)sebab roh daging[2] menghendaki dan banyak berusaha untuk berbicara tetapi sedikit berbuat; (12)dan yang dikejamya bukanlah hidup keagamaan dan kekudusan rohaniah batiniah, tetapi yang dikehendaki dan diinginkannya ialah hidup keagamaan dan kekudusan yang lahiriah tampak di mata orang. (13)Tentang mereka itu Tuhan berfirman: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

(14)Sebaliknya Roh Tuhan menghendaki, agar daging tetap dimatikan dan diaibkan, tetap hina dan nista. (15)Ia mengusahakan kerendahan dan kesabaran serta ketenteraman hati yang sejati, mumi dan sederhana. (16)Di atas segala-galanya Ia senantiasa menginginkan takwa ilahi dan kebijaksanaan ilahi serta cintakasih ilahi Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

(17)Marilah kita mengembalikan semuanya yang baik kepada Tuhan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaluhur dan mengakui, bahwa semua yang baik adalah milik-Nya. Marilah kita mengucap syukur kepada-Nya atas segala-galanya karena dari Dialah berasal semua yang baik. (18)Dia, Yang Mahatinggi dan Mahaluhur, satu-satunya Allah yang benar, semoga Dia memiliki, dan hendaknya kepada-Nya dikembalikan, dan semoga la sendiri menerima segala hormat dan bakti, segala pujaan dan pujian, segala syukur dan kemuliaan; milik Dialah segalanya yang baik, Dia satu-satunya yang baik.

(19)Bilamana kita melihat atau mendengar orang mengatakan atau melakukan yang jahat atau menghujat Allah, maka marilah kita mengatakan dan melakukan yang baik dan memuliakan Allah, yang terpuji selama-lamanya.


[1]. menganggap … sebagai miliknya sendiri atau menjadikan sesuatu miliknya mau menerjemah¬kan istilah Latin “appropriare”. Istilah itu sering dipakai oleh Fransiskus untuk menunjuk kecenderungan egosentris manusia, yang selalu mau menimbun apa saja untuk dirinya sendiri. Lawannya ialah sikap melepaskan milik (= expropriare) atau menghampakan diri sendiri dari apa saja yang dapat dianggap “milik”. Cita-cita kemiskinan tercermin di situ.
[2]. roh daging ialah kecenderungan menjadikan diri sendiri sebagai pusat segalanya. Kalau orang dikuasai dan diperbudak olehnya, maka hasilnya ialah orang itu lebih mementingkan hal lahiriah, juga dalam hal-hal yang baik, agar mendapat pujian, penghormatan dan menyombongkan diri. “Roh daging” berlawanan dengan “Roh Tuhan” yang justru menghasilkan kerendahan hati, kemiskinan, takwa dan syukur pada Allah. Allah menjadi pusat. Ungkapan- ungkapan ini amat khas dalam seluruh spiritualitas Fransiskus.