Pasal VII Cara mengabdi dan bekerja

12/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 615 kali

[Index Anggaran Dasar Tanpa Bulla] [Index Fransiskus Assisi]

(1)Semua saudara, di mana pun mereka tinggal untuk mengabdi atau bekerja pada orang lain, janganlah menjadi bendaharawan atau pengelola kekayaan atau pemegang jabatan kepala rumah, tempat mereka mengabdi. Juga janganlah mereka menerima suatu tugas yang dapat menimbulkan sandungan atau merugikan keselamatan jiwanya; (2)tetapi hendaklah mereka menjadi yang lebih rendah dan tunduk kepada semua orang yang tinggal di rumah itu.
(3)Saudara-saudara yang tahu menjalankan suatu pekerjaan, haruslah bekerja, dan mereka boleh tetap menjalankan keterampilan yang sudah mereka ketahui, jikalau tidak bertentangan dengan keselamatan jiwa, dan dengan pantas dapat dijalankan.

(4)Sebab kata nabi: Engkau akan memakan hasil jerih payah tanganmu; berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu. (5)Kata rasul: Siapa yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan; (6)dan: Hendaklah tiap-tiap orang tetap pada keterampilan dan tugasnya, seperti waktu ia dipanggil.
(7)Sebagai balas jasa, mereka boleh menerima segalanya yang perlu, kecuali uang. (8)Bila perlu, iarlah mereka pergi meminta sedekah, seperti orang miskin lainnya. (9)Mereka boleh memiliki perkakas serta alat-alat yang cocok untuk keterampilan mereka.

(10)Semua saudara harus berusaha dengan segala jerih payah untuk mengerjakan pekerjaan yang baik, karena ada tertulis: Lakukanlah selalu sesuatu yang baik, agar setan mendapati engkau sedang sibuk[1]. (11)Dan lagi: Menganggur adalah musuh jiwa[2]. (12)Karena itu para hamba Allah harus selalu bertekun dalam doa atau dalam suatu pekerjaan yang baik.
(13)Di mana pun mereka berada, entah di pertapaan atau di tempat kediaman lainnya, hendakya saudara-saudara menjaga, jangan sampai tereka membuat suatu tempat menjadi milik mereka atau mempersengketakannya dengan orang lain. (14)Siapa pun yang datang kepada mereka, entah kawan atau lawan, pencuri atau penyamun, haruslah diterima dengan ramah.

(15)Di mana pun saudara-saudara berada dan di tempat mana pun mereka bertemu, haruslah mereka saling menerima dengan saksama dan saling menghormati sebagai manusia rohani[3], dengan tidak bersungut-sungut. (16)Hendaklah menjaga diri, jangan sampai mukanya tampak sedih dan muram seperti orang munafik; tetapi hendaklah mereka tampak bersukacita dalam Tuhan dan riang gembira serta penuh rasa terimakasih sebagaimana mestinya[4].


[1]. Kutipan yang pertama adalah dari satu khotbah Santo Gregorius Agung, dan yang kedua dari salah satu surat Santo Hieronimus.
[2]. Dari Anggaran Dasar Santo Benediktus, Pasal 48.
[3]. “sebagai manusia rohani”, harfiah: “saling menghormati secara rohani” (spiritualiter), artinya dalam Roh: “dengan tidak bersungut” artinya tidak boleh bertengkar mulut dan berselisih.