Pasal V Teguran terhadap saudara yang jatuh dalam pelanggaran

12/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 655 kali

[Index Anggaran Dasar Tanpa Bulla] [Index Fransiskus Assisi]

(1)Maka jagalah jiwamu dan jiwa saudara-saudaramu; sebab ngeri benar kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup. (2)Akan tetapi jika seorang minister memerintahkan kepada seorang saudara sesuatu yang bertentangan dengan cara hidup kita atau dengan keselamatan jiwanya[14], maka audara tersebut tidak wajib menaatinya; sebab kalau dengan taat orang malah melakukan kejahatan atau dosa, maka itu bukanlah ketaatan[15]. (3)Adapun semua saudara yang menjadi bawahan para minister-dan hamba, hendaknya menaruh perhatian pada apa yang diperbuat oleh minister-dan-hambanya, secara wajar dan dengan saksama. (4)Jika temyata bahwa ada dari nereka itu yang bertingkah laku menurut daging dan idak menurut roh searah dengan cara hidup kita, maka orang itu harus mereka peringatkan tiga kali; lalu, jika dia tidak memperbaiki dirinya, hendaklah mereka nengadukannya kepada minister-dan-hamba seluruh persaudaraan dalam Sidang Pentekosta; bantahan mana pun tidak boleh mencegah (mereka) untuk itu.

(5)Mengenai para saudara sendiri, jika ada dari mereka, di mana pun, yang bertingkah laku menurut daging dan tidak menurut roh, maka saudara-saudara lainnya, yang tinggal bersama saudara itu, harus memperingatkan, membina dan menegurnya dengan rendah hati dan saksama. (6)Kalau sudah diperingatkan tiga kali tetapi orang itu tidak mau memperbaiki diri, maka hendaklah mereka menghadapkannya selekas mungkin kepada minister-dan-hambanya atau memberitahukan hal itu kepadanya; minister-dan-hamba yang bersangkutan hendaknya mengambil tindakan terhadap orang itu sebagaimana dipandangnya paling baik menurut Allah.

(7)Semua saudara, baik minister-dan-hamba maupun saudara lainnya, hendaknya menjaga diri untuk tidak menjadi gelisah atau gusar karena dosa atau keburukan orang lain; sebab setan mau membinasakan banyak orang oleh karena dosa satu orang[3]. (8)Akan tetapi, hendaklah mereka dengan sebaik-baiknya secara rohani[4] menolong orang yang berdosa itu karena bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit.

(9)Dalam hal itu semua saudara hendaknya jangan bertindak sebagai penguasa atau tuan, khususnya di antara mereka sendiri. (10)Sebab Tuhan berfirman dalam Injil: Para pemimpin bangsa-bangsa merajai mereka, dan para pembesar menguasai mereka; tidaklah demikian di antara saudara-saudara. (11)Tetapi siapa yang ingin menjadi terkemuka di antara mereka, hendaklah menjadi pelayan dan hamba mereka; (12)dan yang terbesar di antara mereka, hendaklah menjadi yang paling kecil.

(13)Seorang saudara jangan berlaku jahat atau berkata buruk terhadap yang lain; (14)malah sebaliknya hendaklah dengan sukarela mereka saling melayani dan saling menaati karena cintakasih rohani. (15)Itulah ketaatan sejati dan suci Tuhan kita Jesus Kristus. (16) Semua saudara hendaknya menginsafi, bahwa setiap kali mereka, seperti dikatakan nabi, menyimpang dari perintah-perintah Tuhan dan berkeliaran tanpa izin, maka mereka, di luar ketaatan[5], terkutuk, selama mereka dengan sadar tetap tinggal dalam dosa itu. (17)Akan tetapi bila mereka bertekun dalam perintah-perintah Tuhan yang telah mereka janjikan dalam Injil Suci dan cara hidup[6] mereka, maka mereka tetap berada dalam ketaatan yang sejati; dan semoga mereka diberkati oleh Tuhan.


[1]. Terjemahan lain: “bertentangan dengan anggaran dasar hidup kita atau dengan suara hatinya.”
[2]. bdk Pth III:7
[3]. bdk Pth XI; lebih luas dalam SurMin.
[4]. secara rohani (spiritualiter), bisa diterjemahkan “sebagai manusia rohani”, yaitu yang dipimpin oleh Roh Tuhan dan bertindak sesuai dengan pimpinan itu.
[5]. extra oboedientiam bisa juga berarti di luar persaudaraan, lepas dari ikatan persaudaraan karena tidak taat.
[6]. cara hidup, di sini berarti anggaran dasar, yang merupakan pedoman tertulis tentang (cara) hidup yang mau dijalankan.