Pasal III Ketaatan sempurna

06/09/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 755 kali

(1)Tuhan berfirman dalam Injil: Siapa yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku, (2)dan lagi: Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya[1].
(3)Orang meninggalkan segala miliknya dan kehilangan nyawa bila ia menyerahkan dirinya sepenuhpenuhnya untuk taat di dalam tangan atasannya. (4)Apa pun yang dibuat dan dikatakannya, merupakan ketaatan yang sejati, asalkan hal itu baik dan, setahu dia, tidak bertentangan dengan kehendak atasannya[2].

(5)Kalaupun bawahan pernah melihat hal-hal yang lebih baik dan lebih berguna bagi jiwanya daripada yang diperintahkan atasan kepadanya, hendaklah ia dengan rela mengurbankan pendapatnya sendiri bagi Allah; dan hendaklah ia berusaha melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh atasannya. Sebab, itulah ketaatan penuh kasih, karena menyenangkan Allah dan sesama.

(7)Akan tetapi kalau atasan memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan keselamatan jiwanya, maka meskipun ia tidak boleh menaatinya, namun janganlah ia memisahkan diri dari atasannya itu. (8)Jika hal itu menyebabkan ia dikejar-kejar, maka hendaklah ia lebih lagi mencintai mereka demi Allah. (9)Sebab siapa yang lebih suka menanggung pengejaran daripada terpisah dari saudara-saudaranya, ia sungguh-sungguh bertahan dalam ketaatan yang sempurna, karena ia memberikan nyawanya bagi saudara-saudaranya.

(10)Memang ada banyak religius, yang dengan dalih melihat hal-hal yang lebih baik daripada yang diperintahkan atasannya, menoleh ke belakang dan kembali ke muntahan kehendaknya sendiri. (11)Mereka itu pembunuh, dan karena teladan mereka yang buruk itu, mereka menyebabkan banyak jiwa binasa.


[1]”kehilangan nyawanya”, harfiah: kehilangan badannya, yaitu ke-aku-an, yang menyebabkan orang menganggap dirinya sebagai pusat kehidupannya. Ketaatan penuh berarti kesediaan untuk meninggalkan kecenderungan yang egoistis itu. “Di dalam tangan atasannya”: simbol, yang dipakai dalam upacara prasetia yang menandakan perendahan diri bawahan terhadap atasannya untuk mematuhi kehendaknya. Bdk ICel 45.

[2]Hubungan dengan ayat-ayat berikut secara logis demikian: “Tetapi mungkin saja terjadi konflik, entah mengenai pilihan perbuatan sendiri (pemecahannya Ayat 5-6), atau mengenai nilai moralnya (pemecahannya Ayat 7-9).”