Pasal II Penerimaan seorang saudara dan pakaiannya

12/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 596 kali

[Index Anggaran Dasar Tanpa Bulla] [Index Fransiskus Assisi]

(1)Jika seseorang didorong ilham ilahi untuk menganut cara hidup ini dan datang kepada saudara-saudara kita, maka hendaklah orang itu mereka terima dengan ramah. (2)Jikalau ia berteguh hati untuk menganut cara hidup kita, maka hendaklah saudara-saudara menjaga diri sungguh-sungguh untuk tidak ikut campur dalam urusan barang duniawinya, tetapi hendaklah mereka selekas mungkin menghadapkannya kepada ministernya. (3)Pada gilirannya minister itu hendaklah menerima orang itu dengan ramah, menguatkan hatinya dan menjelaskan hidup kita kepadanya dengan cermat. (4)Sesudah itu orang tersebut hendaknya menjual segala miliknya dan berusaha membagi-bagikan semuanya itu kepada kaum miskin, kalau ia mau dan dapat melakukannya secara rohani[1] tanpa rintangan. (5)Para saudara serta minister para saudara hendaknya menjaga diri untuk tidak ikut campur dalam urusan-urusan orang itu dengan cara apa pun; (6)dan mereka tidak boleh menerima uang apa pun, baik secara pribadi maupun melalui seorang perantara. (7)Tetapi kalau saudara-saudara berkekurangan, mereka boleh menerima keperluan hidup yang baik, kecuali uang, dengan alasan keperluan yang mendesak, seperti orang miskin lainnya. (8)Bila si peminat kembali[2], maka minister hendaknya memberi dia pakaian percobaan selama satu tahun, yaitu dua jubah tanpa kap, tali pinggang serta celana dan kaperun yang sampai ke tali pinggang.

(9)Pada akhir tahun, yaitu masa percobaan itu, si calon hendaknya diterima ke dalam ketaatan[3]. (10)Sesudah itu ia tidak diperbolehkan masuk ke tarekat lain atau “mengembara di luar ketaatan”, menurut peraturan Sri Paus dan sesuai dengan Injil; sebab orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang; tidak layak untuk kerajaan Allah[4].

(11)Tetapi jika datang seseorang yang tidak memberikan harta miliknya karena ada suatu halangan, namun ia mempunyai keinginan yang rohaniah, maka untuk dia cukuplah meninggalkan harta benda itu. (12)Tidak seorang pun boleh diterima bila berlawanan dengan tata cara dan ketetapan Gereja Kudus.

(13)Saudara lainnya yang sudah menjanjikan ketaatan boleh mempunyai satu jubah dengan kap dan satu lagi tanpa kap, kalau perlu, serta tali pinggang dan celana. (14)Semua saudara hendaknya mengenakan pakaian yang kasar dan boleh melapisinya[5] dengan kain yang kasar dan potongan kain lainnya dengan berkat Allah; sebab Tuhan berfirman dalam Injil, Orang yang mengenakan pakaian mewah dan hidup nikmat, dan orang berpakaian halus tempatnya di istana raja: (15)Meskipun mereka mungkin dikatakan munafik, namun hendaknya mereka tidak berhenti berbuat baik dan tidak mencari pakaian yang mahal-mahal di dunia ini, agar mereka dapat memperoleh pakaian di dalam kerajaan surga.


[1]. secara rohani, tanpa pertimbangan kepentingan diri dan keluarga; bdk Ayat 11, keinginan yang sifatnya ilahi, dari atas.
[2]. kembali, yaitu setelah membereskan harta bendanya. Pakaian percobaan berarti pakaian novis; tahun percobaan yaitu tahun novisiat. Kaperun; semacam mantel pendek.
[3]. “ke dalam ketaatan”, artinya ke dalam tarekat, yaitu persaudaraan yang diikat oleh ketaatan.
[4]. Kutipan dari bulla “Cum secundum consilium” dari Paus Honorius III, 22.9.1220
[5]. “melapisinya…” maksudnya ialah mempertebal jubah, lebih-lebih pada bagian dada dan punggung, dengan menjahitkan padanya kain yang agak tebal, agar bisa menahan dingin.