Natal Di Perbatasan Indonesia – Malaysia

06/02/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.022 kali


Menuju Badau

Tulisan ini adalah rajutan dari rangkaian perjalanan asistensi natal tahun 2013 yang lalu. Paroki tempat asistensi itu bernama Paroki Santo Yohanes Monfort Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Berbekal dari surat Pastor Paroki, Rm. Adji Prabowo yang meminta bantuan imam untuk melayani perayaan natal di Paroki Badau, saya berangkat menuju Pontianak dengan Lion Air pada 20 Desember 2013. Perjalanan Jakarta – Pontianak ditempuh dalam waktu satu jam empat puluh lima menit. Hamparan tanah Borneo yang dihijaukan oleh tanaman sawit mencuri perhatian saya untuk menoleh dari jendela pesawat di saat-saat sebelum mendarat. Rm. Adji Pr telah menanti saya di pintu kedatangan bandara. Berkeliling di seputar kota Pontianak adalah agenda untuk sepanjang hari ini. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Biara Kapusin yang bersebelahan dengan STT Pastor Bonus Pontianak.

Biara ini dihuni oleh para frater kapusin yang sedang menjalani masa studi teologi bersama dengan pendamping mereka, Rm. Astono Aji OFM Cap. Ajakan untuk santap siang bersama dari para saudara kapusin langsung diterima dengan sepenuh hati. Kehangatan persaudaraan fransiskan terasa saat santap siang bersama. Selepas santap siang kami bergegas menuju titik khatulistiwa. Perhentian terakhir dari seluruh perjalanan keliling hari itu adalah Biara para suster OSA. Biara inilah yang menjadi tempat untuk meletakkan kepala di sepanjang malam itu. Perjalanan menuju Paroki Badau masih panjang. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Badau kami masih menyempatkan diri untuk melihat proses pembangunan Katedral Pontianak yang model bangunannya menyerupai model Basilika St. Petrus di Roma. Selain itu kami juga mampir di STT Pastor Bonus dan bertemu dengan Rm. Sutardi Pr (kakak dari Sdr. Adrianus Sunarko). Penampilan dan gaya bicara Rm. Sutardi Pr mirip dengan Sdr. Adrianus Sunarko. Beliau adalah dosen teologi dogmatik di STT Pastor Bonus. Selepas kunjungan singkat itu kami bergegas menuju bandara dan menanti jam penerbangan pesawat ATR Kalstar menuju Sintang. Jadwal penerbangan di tiket tertera hari Sabtu, 21 Desember 2013 pukul 13.30 WIB.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Penantian penerbangan ke Sintang berakhir dengan permintaan maaf dari pihak maskapai Kalstar bahwa penerbangan ke Sintang ditunda menjadi tanggal 22 Desember 2013. Semua penumpang diinapkan oleh pihak maskapai di penginapan yang ada di sekitar bandara. Perjalanan menuju Badau pun berlanjut di pagi hari 22 Desember 2013 pukul 08.00 WIB. Perjalanan Pontianak – Sintang memakan waktu satu jam sepuluh menit. Ekonom Keuskupan Sintang menyiapkan mobil Keuskupan untuk menjemput kami di Bandara Sintang. Jarak antara bandara dan Keuskupan sekitar lima belas menit perjalanan mobil. Keramahan pastor paroki katedral tergambar saat menjamu kami di pastoran. Agenda sepanjang hari itu adalah berkeliling di sekitar kota kecil Sintang. Selain pastor paroki dan pastor rekan, Bapak Uskup Sintang juga tinggal di Pastoran Katedral. Sekitar pukul 21.00 WIB Mgr. Agustinus Agus Pr tiba di Pastoran Katedral. Keramahan dan kebaikan hati seorang gembala terpancar dari wajah Uskup putra dayak itu. Kebaikan itu terlihat saat kesediaan beliau menemani perjalanan kami menuju Badau. Perjalanan menuju Badau ditempuh dengan menggunakan Fortuner milik Keuskupan Sintang.

Kami berangkat meninggalkan Sintang 23 Desember 2013 pukul 09.00 WIB menuju Putussibau. Jarak tempuh menuju Putussibau biasanya dapat dicapai dalam waktu sepuluh jam. Kondisi jalanan menuju Putussibau terlihat rusak parah. Di sana-sini terlihat kubangan air di tengah jalan. Kami tiba di Putussibau sekitar pukul 22.30 WIB. Kondisi kelelahan tampak di raut wajah kami. Istirahat adalah satu-satunya saat yang paling ditunggu malam itu. Kami meletakkan kepala dan badan untuk sepanjang malam di Pastoran Paroki Putussibau. Keesokan harinya tanggal 24 Desember pukul 08.00 perjalanan menuju Badau kembali dilanjutkan. Bapak Uskup berhenti sampai di Putussibau karena beliau akan merayakan malam natal di Paroki Putussibau. Perjalanan ke Badau ditempuh dengan menggunakan DAMRI. Jarak tempuhnya sekitar tujuh jam perjalanan. Akhirnya kami tiba di Paroki Badau pukul 16.00 WIB.

Natal di Badau

Merayakan natal di perbatasan adalah hal yang baru bagi saya. Saya merayakan natal di Pusat Paroki Badau. Wajah-wajah ceria dalam merayakan natal terpancar dari setiap wajah umat yang hadir merayakan malam natal kala itu. Jumlah umat yang hadir cukup banyak sehingga banyak umat yang harus duduk di bangku-bangku yang telah disiapkan di luar gereja. Tema Natal PGI-KWI : “Datanglah ya Raja Damai”, terpampang jelas di depan altar gereja. Keesokan harinya saya merayakan natal di salah satu stasi yang berjarak sekitar 20 km dari pusat paroki. Nama stasi itu adalah Stasi Seriang. Liturgi perayaan natal pagi itu dikemas dalam nuansa inkulturatif budaya Dayak Iban. Ada tarian dayak dan ada doa permohonan yang diungkapkan dalam bahasa dayak iban. Suasana meriah dan wajah keceriaan tampak pada umat yang sederhana itu. Selepas perayaan ekaristi saya ikut ritual ngabang (bersilahturahmi ke tiap-tiap rumah). Ritual ini terasa menarik dan juga melelahkan. Kehangatan budaya Dayak terasa cukup kental saat berada di rumah mereka. Adalah satu kewajiban bagi setiap tamu yang berkunjung untuk meminum tuak khas dayak yang disajikan oleh tuan rumah.

Tawaran Yang Mengundang Jawaban

Kehadiran saya di Paroki Badau, Keuskupan Sintang bukanlah kehadiran pertama fransiskan di tempat itu. Mungkin sudah beberapa saudara yang pernah singgah dan mampir di wilayah ini. Ingatan yang melintas di benak saya adalah kunjungan terakhir Sdr. Paskalis Bruno Syukur OFM (saat itu masih sebagai provinsial) dan Sdr. Oki (saat itu sebagai sekretaris provinsi). Kehadiran dua saudara kala itu masih segar diingatan Bapak Uskup Agustinus Agus Pr. Beliau mengatakan bahwa kujungan itu mungkin sebagai signal akan hadirnya OFM di bumi Borneo. Namun, ternyata kunjungan itu berlalu seiring perputaran waktu dan tidak ada signal apapun yang muncul ke Keuskupan Sintang.

Dalam perjalanan ke Putussibau dan perbincangan di Pastoran Putussibau beliau menitip pesan kepada saya supaya menyampaikan pada provinsial undangan untuk berkarya di Keuskupan Sintang. Beliau menitip pesan pada saya, “Saat membantu perayaan natal di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia silahkan jalan-jalan dan lihat beberapa wilayah perbatasan. Titip pesan pada Provinsial untuk hadir berkarya di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia”. Beliau mengatakan bahwa saat ini Keuskupan Sintang sedang membangun kerjasama dengan beberapa keuskupan di Serawak Malasya. Beliau juga pernah singgah di Paroki OFM di Kucing. Oleh karena itu, bila OFM Indonesia hadir di perbatasan maka akan lebih mudah bekerjasama dengan OFM yang ada di Malasya.

Jarak tempuh antara garis perbatasan Indonesia – Malasya dengan Kucing adalah sekitar empat jam perjalanan mobil. Menurut hemat saya, undangan lisan itu adalah sebuah tantangan penginjilan fransiskan di bumi nusantara dalam ruang budaya yang baru bagi kita, budaya dayak. Hadir di perbatasan Indonesia – Malaysia adalah bentuk pewartaan yang menantang ke depan. Hubungan dua negara yang bertetangga itu selalu diwarnai pasang dan surut mulai dari persoalan TKI dan pembalakan liar.

Kontributor: Sdr. Mateus Batubara OFM

Mgr. Agustinus Agus Pr (tengah), Sdr. Mateus Batubara OFM dan Rm. Adji Prabowo Pr di Gua Maria di Kompleks Rumah Retret Bukit Kelam yang jaraknya 20 an km dari Sintang

Mgr. Agustinus Agus Pr (tengah), Sdr. Mateus Batubara OFM dan Rm. Adji Prabowo Pr di Gua Maria di Kompleks Rumah Retret Bukit Kelam yang jaraknya 20 an km dari Sintang

Berpose bersama Bapak Uskup Sintang di Rumah Retret Bukit Kelam

Berpose bersama Bapak Uskup Sintang di Rumah Retret Bukit Kelam

Kondisi Jalan Sintang - Putussibau (Kalbar) rusak parah.

Kondisi Jalan Sintang – Putussibau (Kalbar) rusak parah.

Berpose bersama Rm. Sutardi Pr di Kapel STT Pastor Bonus, Pontianak.

Berpose bersama Rm. Sutardi Pr di Kapel STT Pastor Bonus, Pontianak.

Foto Bersama : P. Gerard OFM, P.Mateus Batubara OFM dan P. Adji Prabowo Pr saat merayakan ekaristi Pesta Keluarga Kudus di Paroki Santa Anna di Kucing (Serawak-Malaysia)

Foto Bersama : P. Gerard OFM, P.Mateus Batubara OFM dan P. Adji Prabowo Pr saat merayakan ekaristi Pesta Keluarga Kudus di Paroki Santa Anna di Kucing (Serawak-Malaysia)

Berpose bersama putra altar paroki St. Anna

Berpose bersama putra altar paroki St. Anna

Komplek Biara Para Saudara OFM di Batu Sepuluh, Kucing

Komplek Biara Para Saudara OFM di Batu Sepuluh, Kucing

Saat Perayaan Natal di Stasi Seriang, Badau (Kalimantan Barat)

Saat Perayaan Natal di Stasi Seriang, Badau (Kalimantan Barat)

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *