- Ordo Fratrum Minorum - https://ofm.or.id -

Misi Saudara-saudara Dina di Indonesia dalam abad XX

Perebutan kuasa di wilayah Indonesia oleh Belanda (1605) berarti juga berakhirnya misi Katolik di wilayah itu. Oleh karena kerap kali kuasa V.O.C itu hanya nominal saja, maka tidak segera semua aktifitas misioner di seluruh Indonesia berhenti, tetapi lama-kelamaan semua dilumpuhkan. Baru dalam tahun 1800 segala-galanya (Flores) terpaksa dihentikan.

Hasil dari revolusi Perancis adalah kebebasan agama diumumkan di negeri Belanda dalam tahun 1807. Prinsipnya kebebasan itu berlaku di Indonesia. Dalam tahun 1817 dua imam Praja berangkat ke Batavia untuk melayani orang-orang Katolik Indonesia. Sekitar 1840 timbul kesulitan antara pemerintah Hindia Belanda dan Gereja Katolik di sana, terutama oleh karena semua kegiatan misioner secara praktis dihalangi oleh pemerintah Hindia Belanda yang jelas anti-Katolik.
Diikat akhirnya suatu konkordat dengan Roma dan dalam tahun 1841 Batavia menjadi Vicariat Apostolik yang merangkum seluruh Hindia Belanda. Ketegangan dengan pemerintah Hindia Belanda tetap berlangsung dan juga ada semacam pemberontakan dari pihak pastor-pastor kepada Vicaris Apstolik Mgr. Grooff. Akhirnya ketegangan menjadi reda sedikit dan pekerjaan Gereja dapat dimulai kembali (dalam tahun 1846 tidak ada seorang imam di Indonesia kecuali Vicaris Apostolik
karena para pastor pemberontak diusir oleh Raja Willem II yang bertentangan dengan Gubernur yang mempertahankan Vicaris Apostolik). Baru dalam tahun 1859 mulailah apa yang dapat dikatakan “misi”, meskipun hanya sedikit sekali. Datang biarawan-biarawati pertama (Suster-suster Ursulin dan Bruder-bruder Santo Aloysius) dan terutama Yesuit Belanda (1859). Pengikut-pengikut Fransiskus sebagai yang pertama muncul kembali di Indonesia ialah Fransiskanes dari Heythuyzen tahun 1870. Saudara-saudara Dina sendiri baru muncul dalam tahun 1905, yaitu para Kapusin yang ditugaskan di daerah yang tradisional daerah misi Fransiskan di Indonesia, yaitu Sumatra Utara.

Fransiskan bermunculan dalam tahun 1929. Datanglah lima orang untuk membantu di daerah Batavia. Mereka ditempatkan di Panti Asuhan Vincentius, di Paroki Bidara Cina dan Kampung Sawah. Fransiskan itu cukup segera juga menerima calon-calon orang pribumi untuk masuk Fransiskan. Calon-calon yang pertama (yaitu Theogenes Koesnen dan Aquino Ciptopranata – meninggal tahun 1944) dikirim ke negeri Belanda untuk pendidikannya dan dalam tahun 1935 diterima sebagai Fransiskan dalam Ordo Saudara Dina. Mereka disusul oleh Martinus Hardjowardojo (diterima 1937) dan Redemptus Wahjosudibjo (1938). Entah karena apa, tetapi Fransiskan ingin mendapat suatu daerah sendiri di misi Indonesia dan dalam tahun 1941, diserahkan kepada mereka daerah Sukabumi. Terhalang oleh perang dengan Jepang tidak segera daerah itu dapat dikerjakan. Baru setelah perang berakhir pekerjaan dapat dimulai di sana (1948). Sebelum perang Fransiskan sudah bermunculan di sana, juga sebab mereka melayani stasi Cianjur (1931) dan mempunyai rumah chalwat di Cicurug (1933) dan di sampingnya ada Biara Klaris (yang datang dalam tahun 1937). Fransiskan juga melayani stasi Tangerang (Jakarta) dan Rangkasbitung (1933). Dalam tahun 1950 Fransiskan memulai pendidikan calon-calon Fransiskan dari Indonesia di Indonesia sendiri, yaitu di Cicurug. Dalam tahun 1951 mereka mengembangkan kegiatannya ke Flores sedangkan sejak tahun 1937 mereka juga bekerja di Irian Barat dengan cukup banyak orang. Dalam tahun 1962 didirikan di Indonesia (kecuali Irian Barat) Kustodi Autonom St. Michael dan dalam tahun 1957 daerah Sukabumi diperluas dengan daerah Bogor dan dijadikan Keuskupan dalam tahun 1961. Sejak tahun 1965 Fransiskan juga ada di Yogyakarta yaitu rumah pendidikannya yang bergabung dengan seminari Keuskupan Semarang. Dalam tahun 1970 kedudukan “Kostodi” diubah menjadi “Regio Vicaria” dengan Vicarius P. R. Wahjosudibjo.

Dengan suratnya tertanggal 16 Januari 1983, Pimpinan tertinggi Ordo mengabulkan permohonan pihak Vikaria untuk dijadikan Provinsi. Dengan suara bulat definitor general mendukung keputusan ini. Pimpinan provinsi yang pertama diangkat oleh minister jenderal: Mikhael Angkur sebagai Minister Provinsi dan Ben Tentua wakilnya, sedangkan Wahyosudibyo, Leo Laba Ladjar, Ferdinand Sahadun dan Alfons S. Suhardi sebagai definitores. Peresmian berdirinya OFM Indonesia menjadi Provinsi diadakan di Provinsialat Jakarta pada tanggal 29 November 1983. Semua Saudara, termasuk yang Belanda kecuali yang bekerja di Irian Jaya, menjadi anggota Provinsi. Provinsi baru ini mengambil Malaekat Agung Mikhael sebagai pelindungnya.

Gelora semangat misioner Fransiskan tidak bisa menolak permintaan dari Uskup Dili Mgr. Ximenes Belo untuk berkarya di Timor Timur, yang waktu itu masih menjadi provinsi ke 27 dari Republik Indonesia. Kendati tenaga Provinsi tidak berkelebihan, pada tahun 1987 Minister Provinsi Mikhael Angkur mengirimkan tiga orang saudara untuk membuka misi fransiskan di Same. Para perintis ini ialah: Andre Hamma, Wilhelmus Kotten dan Stanislaus Galis. Umat setempat sangat menerima kehadiran para Saudara, terlebih ketika pada kesulitan besar sekitar jajak pendapat (1999) dan masa transisi Timor Timur menjadi merdeka, para Saudara tetap bersatu dengan umat mengungsi ke hutan. Setelah Timor merdeka (20 Mei 2002), dengan tenaga seadanya, mereka bertekad memulai pendidikan para calon fransiskan tersendiri, tidak lagi dikirim ke Novisiat Depok.. Pada akhir tahun 2002 mereka berjumlah 15 orang Saudara: 9 orang berkaul kekal dan 6 orang postulan. Sementara itu para Suster Franseskanes St. Georgius Martir (FSGM) berkarya juga di sana.

Setelah bertahun-tahun menunda, akhirnya pada tahun 1999 Provinsi dapat mengirimkan seorang Saudara untuk bergabung dalam kegiatan misioner internasional Ordo, yakni proyek Thailand. Yosef Paleba Tolok menjadi perintisnya, kemudian menyusul F.X. Sutarjo pada tahun berikutnya. Mereka berkarya khususnya pada rumah penampungan para penderita aids di Lamsai, dekat Bangkok. Pada tahun 2002 Sdr. Sutarjo mulai berkarya di pedalaman sebelah utara. Sekarang ini, sdr. Gregorius Pontus sedangkan mempersiapkan diri di Brussel, Belgia dalam komunitas internasional yang diadakan oleh pimpinan tertinggi Ordo bagi mereka yang akan menjadi misionaris, khususnya yang akan bergabung dalam sebuah komunitas internasional.

Dengan meninjau sejarah yang cukup panjang itu orang kiranya harus menilai begini, kegiatan misioner sebelum zaman Belanda tidak ada banyak hasil yang segera terasa. Adapun sebabnya bermacam-ragam antara lain suasana politik, dan agama Islam yang cepat meresap ke dalam wilayah Indonesia. Tetapi faktor lain (ini sesuai dengan seluruh suasana waktu itu) ialah kegiatan misioner kurang sistematis dan tanpa banyak rencana. Mereka datang di mana mungkin (atau dipanggil oleh raja setempat) lalu bekerja di sana, membaptis sebanyak mungkin orang tetapi tidak berusaha untuk sungguh mengakarkan Gereja Katolik di daerah itu.

Kalau mereka terpaksa berangkat segera semua runtuh kembali. Hanya di mana orang Eropa dengan jumlah besar lama menetap (Goa, Filipina, Maluku, Larantuka) dan mempunyai kuasa mutlak, Gereja sungguh berakar. Juga tidak ada tanda sedikit pun bahwa mereka berusaha untuk menanamkan gagasan dan semangat Fransiskan di daerah itu dan pada orang pribumi. Tidak ada berita satupun yang berbicara tentang orang pribumi yang sungguh diterima sebagai anggota dalam Ordo
Saudara-saudara Dina. Ini boleh dianggap suatu kesalahan, sekalipun hal itu dapat dimaafkan di zaman itu. Di zaman baru kesalahan itu terhindar segera dicoba untuk memasukkan cita-cita Fransiskan ke dalam hati orang pribumi.

Sebagai catatan terakhir perlu masih dikatakan bahwa “arus Fransiskanisme” di Indonesia dewasa ini agak tebal sedikit, mengingat bahwa ada di samping Kapusin, Konventual dan Fransiskan serta Kapusinnes dan Klaris berbagai konggregasi wanita (12) dan pria (1) yang semua berlayar di bawah panji Fransiskus.

Mudah-mudahan mereka semua dan bersama-sama sungguh-sungguh berusaha sekuat tenaga untuk menanamkan cita-cita Fransiskus dari Asisi, vir evangelicus et totus apostolicus, ke dalam hati orang pribumi di Indonesia untuk selama-lamanya.

Sumber:
Sejarah Fransiskan di Indonesia, Cletus Groenen, OFM