Misi Saudara-saudara Dina di Indonesia dalam abad XX

15/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 2.534 kali

Dengan suratnya tertanggal 16 Januari 1983, Pimpinan tertinggi Ordo mengabulkan permohonan pihak Vikaria untuk dijadikan Provinsi. Dengan suara bulat definitor general mendukung keputusan ini. Pimpinan provinsi yang pertama diangkat oleh minister jenderal: Mikhael Angkur sebagai Minister Provinsi dan Ben Tentua wakilnya, sedangkan Wahyosudibyo, Leo Laba Ladjar, Ferdinand Sahadun dan Alfons S. Suhardi sebagai definitores. Peresmian berdirinya OFM Indonesia menjadi Provinsi diadakan di Provinsialat Jakarta pada tanggal 29 November 1983. Semua Saudara, termasuk yang Belanda kecuali yang bekerja di Irian Jaya, menjadi anggota Provinsi. Provinsi baru ini mengambil Malaekat Agung Mikhael sebagai pelindungnya.

Gelora semangat misioner Fransiskan tidak bisa menolak permintaan dari Uskup Dili Mgr. Ximenes Belo untuk berkarya di Timor Timur, yang waktu itu masih menjadi provinsi ke 27 dari Republik Indonesia. Kendati tenaga Provinsi tidak berkelebihan, pada tahun 1987 Minister Provinsi Mikhael Angkur mengirimkan tiga orang saudara untuk membuka misi fransiskan di Same. Para perintis ini ialah: Andre Hamma, Wilhelmus Kotten dan Stanislaus Galis. Umat setempat sangat menerima kehadiran para Saudara, terlebih ketika pada kesulitan besar sekitar jajak pendapat (1999) dan masa transisi Timor Timur menjadi merdeka, para Saudara tetap bersatu dengan umat mengungsi ke hutan. Setelah Timor merdeka (20 Mei 2002), dengan tenaga seadanya, mereka bertekad memulai pendidikan para calon fransiskan tersendiri, tidak lagi dikirim ke Novisiat Depok.. Pada akhir tahun 2002 mereka berjumlah 15 orang Saudara: 9 orang berkaul kekal dan 6 orang postulan. Sementara itu para Suster Franseskanes St. Georgius Martir (FSGM) berkarya juga di sana.

Setelah bertahun-tahun menunda, akhirnya pada tahun 1999 Provinsi dapat mengirimkan seorang Saudara untuk bergabung dalam kegiatan misioner internasional Ordo, yakni proyek Thailand. Yosef Paleba Tolok menjadi perintisnya, kemudian menyusul F.X. Sutarjo pada tahun berikutnya. Mereka berkarya khususnya pada rumah penampungan para penderita aids di Lamsai, dekat Bangkok. Pada tahun 2002 Sdr. Sutarjo mulai berkarya di pedalaman sebelah utara. Sekarang ini, sdr. Gregorius Pontus sedangkan mempersiapkan diri di Brussel, Belgia dalam komunitas internasional yang diadakan oleh pimpinan tertinggi Ordo bagi mereka yang akan menjadi misionaris, khususnya yang akan bergabung dalam sebuah komunitas internasional.

Pages: 1 2 3

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *