- Ordo Fratrum Minorum - https://ofm.or.id -

Mendaki Gunung

Seperti kita kenal Fransiskus amat mencintai alam. Ia sering menyepi ke gunung-gunung untuk lebih mengenal saudara dan saudarinya makhluk semesta alam. Semangat itu rupanya diwarisi juga oleh para fransiskan modern. Salah satunya, saudara kita Martin Harun yang mengenal amat baik “Carceri” dengan Gunung Gede-Pangrangonya (…ini bukan Carceri di Lembah Umbria Italia lho..tetapi “Rumah Biara Carceri” di daerah Puncak). Rupanya diam-diam saudara kita ini punya pengagum dari kalangan saudara muda.

Nah suatu kali, saudara muda ini mendapat kesempatan live-in di komunitas Martin Harun. Wah, betapa gembiranya dia. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengungkapkan kekagumannya, ketika makan malam, saudara muda ini membuka percakapan, “Pater suka mendaki gunung ya?” “Ya … saya suka mendaki gunung. Apakah kamu pernah mendaki gunung?” jawabnya. Saudara muda itu menjawab, “Belum, Pater”! “Jadi, selama satu tahun di Jakarta kamu belum pernah mendaki gunung. Wah sayang sekali … ,” kata Sdr. Martin. “Apakah kamu pernah ke Gunung Sahari?” tanyanya lagi. Dengan sedikit heran dan penasaran saudara muda itu menjawab, “Belum Pater”. Lalu dengan serius Sdr. Martin berkata, “Kalau begitu besok pagi kita pergi ke sana.”

Pagi harinya, saudara muda itu sudah siap dengan ransel berisi bekal perjalanan, topi, dan sepatu gunung yang dipinjamkan oleh saudara-saudara lain. Sdr. Martin juga sudah siap dengan pakaian outdoor: celana pendek, kaos oblong dan sepatu gunung. Sambil mengeluarkan Vespa dari garasi ia bertanya, “Bagaimana saudara; sudah siap… apakah bekalnya sudah cukup?” “Semua okey, Pater … mari kita berangkat,” jawab saudara muda itu. Maka berangkatlah mereka berboncengan. Tiba-tiba, belum sampai berjalan lima menit, vespa melambat lalu berhenti tepat di puncak fly over perempatan Senen. Lalu, dengan tenang Sdr. Martin berkata, “Saudara, kita sudah sampai. Inilah puncak Gunung Sahari!”. Dan meledaklah ketawa saudara tua kita ini. Sambil tertawa dia masih menjelaskan, “Yang di sebelah sana itu Gunung Agung …. dan yang di sebelah sana itu Gunung Mulia….”. Maka sadarlah saudara muda yang polos itu bahwa ia baru saja dikerjai oleh saudara-saudara sekomunitas di mana dia menjalani live-in liburan.