Mendaki Gunung

05/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.781 kali

Seperti kita kenal Fransiskus amat mencintai alam. Ia sering menyepi ke gunung-gunung untuk lebih mengenal saudara dan saudarinya makhluk semesta alam. Semangat itu rupanya diwarisi juga oleh para fransiskan modern. Salah satunya, saudara kita Martin Harun yang mengenal amat baik “Carceri” dengan Gunung Gede-Pangrangonya (…ini bukan Carceri di Lembah Umbria Italia lho..tetapi “Rumah Biara Carceri” di daerah Puncak). Rupanya diam-diam saudara kita ini punya pengagum dari kalangan saudara muda.

Nah suatu kali, saudara muda ini mendapat kesempatan live-in di komunitas Martin Harun. Wah, betapa gembiranya dia. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengungkapkan kekagumannya, ketika makan malam, saudara muda ini membuka percakapan, “Pater suka mendaki gunung ya?” “Ya … saya suka mendaki gunung. Apakah kamu pernah mendaki gunung?” jawabnya. Saudara muda itu menjawab, “Belum, Pater”! “Jadi, selama satu tahun di Jakarta kamu belum pernah mendaki gunung. Wah sayang sekali … ,” kata Sdr. Martin. “Apakah kamu pernah ke Gunung Sahari?” tanyanya lagi. Dengan sedikit heran dan penasaran saudara muda itu menjawab, “Belum Pater”. Lalu dengan serius Sdr. Martin berkata, “Kalau begitu besok pagi kita pergi ke sana.”

Pagi harinya, saudara muda itu sudah siap dengan ransel berisi bekal perjalanan, topi, dan sepatu gunung yang dipinjamkan oleh saudara-saudara lain. Sdr. Martin juga sudah siap dengan pakaian outdoor: celana pendek, kaos oblong dan sepatu gunung. Sambil mengeluarkan Vespa dari garasi ia bertanya, “Bagaimana saudara; sudah siap… apakah bekalnya sudah cukup?” “Semua okey, Pater … mari kita berangkat,” jawab saudara muda itu. Maka berangkatlah mereka berboncengan. Tiba-tiba, belum sampai berjalan lima menit, vespa melambat lalu berhenti tepat di puncak fly over perempatan Senen. Lalu, dengan tenang Sdr. Martin berkata, “Saudara, kita sudah sampai. Inilah puncak Gunung Sahari!”. Dan meledaklah ketawa saudara tua kita ini. Sambil tertawa dia masih menjelaskan, “Yang di sebelah sana itu Gunung Agung …. dan yang di sebelah sana itu Gunung Mulia….”. Maka sadarlah saudara muda yang polos itu bahwa ia baru saja dikerjai oleh saudara-saudara sekomunitas di mana dia menjalani live-in liburan.

5 komentar pada Mendaki Gunung

  1. nugroho
    20/02/2013 at 15:40

    sepertinya saya kenal dengan orang ini, dengan kepolosan hidupnya, smoga menjadi imam dan saudara fransiskan yang rendah hati

  2. 05/11/2012 at 15:21

    saudara muda itu sudah ditahbiskan menjadi imam fransiskan tanggal 22 September 2012 yang lalu. semoga saudara ini tetap menjaga kepolosannya………

  3. wahyudi
    26/04/2012 at 16:52

    He he, saya pernah menjadi bagian dari komunitas tersebut dan ikut bersama-sama “berbuat iseng” pada sdr tersebut, es buah pun kami siapkan ketika itu untuk menyambut dia sepulang naik gunng sahari dan sepanjang hari dia ngomel terus di refter dan tetap tidak mau meminum es buah yang kami sediakan untuknya. Semoga Sdr muda yang kini sudah menjadi diakon tetap mengenang peristiwa itu, Saya ingat kata-katanya dalam jengkel ia berkata :” mulai hari ini, saya tidak percaya lagi, sama komunitas ini, semuanya dari yang tua sampai yang muda pembohong semua, he he he. Ada banyak pengalaman yg menarik danlucu bersama sdr itu selama dia berlibur di komunitas vincentius

  4. 20/07/2011 at 21:37

    hehehehe…saya sendiri pernah mendengar langsung kisah itu dari pater Martin, hanya pater Martin tidak pernah menyebut nama saudara muda itu… dengan demikian bisa diterapkan kepada semua saudara muda yg lugu-lugu dan polos-polos… hehehehe…

  5. Fellyanofm
    17/04/2010 at 03:07

    Sial benar teman angkatan saya ini..saat itu memang dia lagi ‘culun-culun’nya..Skarang, katanya, setiap ajakan dari siapa pun harus disertai refleksi kritis dan mendalam…

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *