Memelihara (Bumi) Sebagai Rumah Kita Bersama

23/07/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 3.669 kali

Seruan Pertobatan Ekologis:
“Laudato Si’:
Memelihara (Bumi) Sebagai Rumah Kita Bersama
(On Care For Our Common Home)

paskalis-b-syukur

Edisi Bahasa Inggris ensiklik Laudato Si’ ada di tautan ini. Silahkan klik.

Edisi Bahasa Indonesia ensiklik Laudato Si’ ada di tautan ini. Silahkan klik.

Para imam, bruder, suster serta kaum pria-wanita, orang muda dan dewasa, anak-anak di seluruh wilayah Keuskupan Bogor!

Selamat berjumpa. Semoga kami menjumpai saudara-saudari sekalian dalam suasana hati yang dipenuhi oleh sukacita Injil. Perjuangan hidup hendaklah tidak menggerus energy positif dari nurani kita semua.

Dalam konteks mewujudkan spirit hidup “Sentire cum Ecclesiae Christi”, saya mengajak saudara-saudari sekalian untuk bersama menyimak, merefleksikan dan mewujudkan dalam hidup isi Ensiklik terbaru, yang dikeluarkan di Vatikan tanggal 18 Juni 2015. Ensiklik artinya surat Paus sebagai Uskup Roma dan pemimpin Gereja Katolik dunia, yang berisi ajaran Sri Paus mengenai iman dan kesusilaan. Ensiklik ini berjudul TERPUJILAH ENGKAU (TUHAN): MEMELIHARA RUMAH KITA BERSAMA” (LAUDATO SI, ON CARE FOR OUR COMMON HOME).

Isi menarik dari “rahim” Ensiklik ini

Ensiklik ini terdiri atas 6 bab:

(1)   Apa yang sedang terjadi pada rumah kita bersama ini (Ibu Pertiwi);

(2)   Injil tentang Alam Ciptaan Tuhan;

(3)   Akar manusiawi dari Krisis Ekologis;

(4)   Ekologi yang utuh (integral);

(5)   Garis Kebijakan Pendekatan dan Tindakan-tindakan konret (program-program);

(6)   Pendidikan dan spiritualitas Ekologis.

Pertanyaan dasar yang menjadi jantung dari Ensiklik ini ialah “Bumi macam apa yang hendak kita wariskan kepada generasi baru sesudah kita hidup, kepada anak-anak yang sedang bertumbuh?”. Pertanyaan ini menyentuh makna eksistensial hidup ini dan nilai-nilai sosial dari hidup itu sendiri. “Apa tujuan hidup kita di dunia ini”, “apa maksud dari pekerjaan dan usaha-usaha kita”, “apa yang dunia butuhkan dari kita”, merupakan serangkaian pertanyaan dasar yang disuguhkan. Paus berkeyakinan bahwa panggilan memelihara lingkungan hidup tidak bisa terlepas dari bagaimana manusia memberi makna dan cara manusia melaksanakan hidupnya di bumi pertiwi ini.

Kenangan Paus akan Santo Fransiskus dari Assisi (1181-1226)

Dalam menyusun ensiklik ini, kami berkeyakinan bahwa Paus Fransiskus mengenangkan spirit iman santo Fransiskus dari Assisi berkaitan dengan pandangannya terhadap makhluk ciptaan Tuhan. Maka nama ensiklik “Laudato si (Praise be to you, my Lord) ini diambil dari seruan santo Fransiskus dari Assisi berjudul “Terpujilah Engkau Tuhanku” dalam “Kidung Saudara Matahari atau Puja-pujian Mahkluk-makhluk ciptaan”. Menyitir penghayatan santo Fransiskus dari Assisi, Paus mengajak kita semua untuk memandang ibu bumi ini sebagai “saudari, rumah kita bersama”. Sebagai saudari, kita mestinya berbagi kehidupan dan memuji keindahan ibu bumi ini yang lengannya terbuka lebar untuk memeluk kita semua. Hendaklah kita jangan lupa bahwa kita berasal dari tanah; badan jasmani kita dibentuk dari elemen-elemen bumi, kita menghirup udara bumi dan menikmati kehidupan dan kesegaran dari air yang dialirkan oleh ibu bumi ini.

Paus mengingatkan kita akan prilaku manusia terhadap ibu bumi ini. Bumi pertiwi diperlakukan secara semena-mena, dieksploitir, diporak-porandakan. Semuanya itu disebabkan oleh keserakahan serta arogansi dan rendahnya rasa menghormati manusia terhadap saudarinya, ibu bumi ini.

“Pertobatan Ekologis” santo Yohanes Paulus II

Menghadapi tindakan keserakahan dan arogansi manusia terhadap saudarinya ibu bumi, Paus mengangkat kembali seruan atraktif santo Yohanes Paulus II agar manusia melakukan “Pertobatan Ekologis”. Kita diajak untuk berbalik, memutar haluan, “merubah pola pikir dan pola bertindak kita” sebagai penghuni ibu pertiwi masa kini. Pola pikir dan bertindak baru perlu dikumandangkan. Pola baru itu berkenaan dengan “cara lebih memandang keindahan dan rasa tanggung jawab kita untuk melestarikan rumah kita bersama ini” dari pada mengeksploitasi habis-habisan isi perut bumi dan menghilangkan keindahan “saudari” kita ini.

Energi positip Ensiklik ini: secercah harapan yang kian membesar

Sentuhan humanis ensiklik ini melekat pada karakter pribadi Paus Fransiskus, pencetus surat apostolic “Evangelii Gaudium”. Kesegaran hidup penuh sukacita injili ditampilkan. Paus menegaskan bahwa ditengah hiruk pikuk pemerkosaan terhadap ibu bumi yang dilakukan saudara-saudari manusia tamak, arogan, sesungguhnya ada secercah harapan. Tidak sedikit saudara-saudari manusia di planet ini mempunyai jiwa serta semangat memelihara ibu bumi, rumah kita bersama ini. Dimana-mana berkecambah dan bertumbuh subur kesadaran di kalangan manusia berhati baik untuk memperhatikan lingkungan, menjaga alam, memelihara air, menumbuhkan pohon-pohonan, mengatasi polusi udara. Pengakuan akan realitas positif ini menjadi bagian intrinsik dari ensiklik ini. Mengakui kenyataan ini, Paus Fransiskus menegaskan: “Kita manusia ini mempunyai kemampuan untuk melahirkan tindakan yang positif terhadap ibu bumi, walau tidak disangkal anda juga anak manusia yang bertindak semena-mena terhadap saudari ibu bumi. Marilah kita memilih untuk mengembangkan kemampuan positip pada diri kita. Inilah saatnya kita “memulai lagi” bertindak dalam semangat “pertobatan ekologis”.

Seruan “Pertobatan ekologis”: Dialog ekumenis, antar umat beragama dan dialog kemanusiaan

Ensiklik ini bermuara pula pada inti hidup manusia. Peristiwa perjumpaan antar manusia ditempatkan selaras dengan perhatian untuk memelihara ibu bumi. Paus Fransiskus mengalamatkan ajarannya ini pertama-tama tertuju kepada umat katolik. Beliau mengingatkan: “Sadarilah tanggung jawab kita terhadap alam ciptaan Tuhan dan kewajiban mereka terhadap alam semesta dan Pencipta. Pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban ini merupakan bagian integral dan esensial dari hidup beriman”. Tetapi Paus Fransiskus mengarahkan pandangannya terhadap sesama umat manusia yang mendiami planet bumi ini. Diakuinya bahwa ada gerakan-gerakan memeliharan ibu bumi yang dimotori oleh Gereja-gereja Kristen lainnya dan juga umat beragama lain. Diakuinya pula institusi, yayasan-yayasan kemanusiaan yang mengutamakan penyelamatan ibu bumi. Menyadari realitas yang menggembirakan ini, Paus Fransiskus mengajak kita sekalian untuk meningkatkan gerakan dialog antar umat manusia dengan fokus pada “Laudato si, memelihara rumah kita bersama”.

Meneropong dapur di rumah kita bersama: Keuskupan Bogor

Seruan “pertobatan ekologis” Paus Fransiskus melalui ensiklik ini tentu merupakan energi baru bagi kita semua penghuni tataran Sunda. Masyarakat Bogor melalui program “Sejuta lubang bipori” yang dicanangkan oleh Harian “RADAR BOGOR” merupakan salah satu menu di dapur rumah kita. Program ini bertujuan untuk “menghargai” karunia “saudari air”, menghormatinya dengan cara “menyalurkannya kembali” ke dalam rahim ibu bumi. Maka, kandungan ibu bumi disuburkan kembali.

Gerakan sporadis yang dilakukan oleh sekolah TK Mardiwaluya dalam kerjasama dengan “Lions Club” tahun 2014 berupa penanaman pohon-pohon di areal Taman Safari Cisarua merupakan percikan-percikan dari gerakan memelihara rumah kita bersama. Beberapa tahun yang lalu paroki santo Paulus Depok pernah mengadakan perlombaan “memperindah” lingkungan gereja paroki. Perlombaan ini dilakukan oleh semua lingkungan yang ada di paroki ini. Demikian pula himpunan sekolah-sekolah katolik sekeuskupan Bogor (MPK Bogor) pernah mencanangkan program “Go Green School”. Tetapi pencanangan itu masih perlu ditindak lanjuti.

Menanggapi seruan Paus Fransiskus, kami mengajukan agar kita melakukan program “Go Green Parishes” sebagai wujud konkret dari “Pertobatan ekologis” kita. Kerja bersama umat beriman Kristen lainnya dan umat beragama lainnya ditingkatkan. Karena itu, kerja bersama komisi JPIC Keuskupan dengan komisi HAK Keuskupan serta FMKI dan paroki-paroki, sekolah-sekolah perlu diimplementasikan. Lahirnya gerakan-gerakan konkret akan mewujudkan spirit hidup “Sentire cum Ecclesiae Christi”.

 

Bogor, 24 Juni 2015

Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM

5 komentar pada Memelihara (Bumi) Sebagai Rumah Kita Bersama

  1. H. Iskandar Leman
    05/07/2016 at 17:20

    Keuskupan Bogor sudah memulai hal positif dengan menyerukan pertobatan ekologis. Dalam perjalanan hidup kita, seluruh upaya pertobatan, apalagi pertobatan ekologis dimulai dari demonstrasi pertobatan ekologis para klerus, para pemimpin paroki, wilayah sampai stasi. Bila pemimpin sudah memberi contoh dan memberikan arahan kepemimpinannya, saya yakin seruan tidak menjadi seruan di ruang kosong lagi, namun bukti hidup sehari-hari yang nyata dan dapat dilihat dampaknya dalam beberapa waktu kemudian. Ayo…

  2. M. Mujanto
    15/02/2016 at 07:57

    Terima kasih Bapa Uskup, semoga kami semakin peduli untuk memelihara lingkungan hidup (rumah)kita bersama.

  3. Icha
    26/01/2016 at 05:24

    Apa saja 9 tema dalam ensiklik laudato ci ?

  4. 09/10/2015 at 09:51

    TERIMA KASIH OFM INDONESIA atas tersedianya dokumen tersebut di sini. Berkah Dalem

    • christiananda OFS
      23/11/2015 at 08:47

      Terima kasih telah mengupas ensiklik ini secara garis besar. Pace e bene

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *