Manusia Musafir dan Perantau di Dunia

15/11/2018
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 20 kali

Siapakah manusia? Itulah pertanyaan klasik tentang ciptaan yang bernama manusia. Manusia ada sebagai bagian dari seluruh tata alam semesta. Ia mikrokosmos, bagian dari makrokosmos. Keberadaan manusia tidak terlepas dari unsur-unsur alam: Ia membutuhkan tumbuhan dan hewan yang memberikan nutrisi; air yang memberi kesegaran, tanah tempat ia berpijak dan udara yang memberinya nafas. Ia juga membutuhkan sesama manusia di sekitarnya. Sebagai ciptaan ia tidak sempurna pada dirinya. Ia membutuhkan, bahkan bergantung pada sesama.

Adanya alam semesta dan kehadiran sesama manusia, tentu bukan jawaban final terhadap seluruh kebutuhan manusia. Sebab ia adalah makhluk yang terus mencari makna. Gabriel Marcel melukiskan manusia sebagai peziarah (homo viator). Berbeda dengan makhluk lain, manusia mampu berefleksi tentang dirinya sendiri: siapakah aku, dari mana aku berasal, apa tujuan dan makna hidupku? Bagaikan seorang peziarah, manusia berjalan di dunia. Ada titik akhir terjauh yang hendak dicapainya dalam hidupnya. Santo Bonaventura menggambarkan titik itu dengan keadaan damai, yaitu bukan sekedar perasaan damai, tetapi damai batiniah (pacem spiritus).

Meski demikian dambaan manusia akan damai itu bukan sebuah jalan otomatis, melainkan proses yang berjalan terus-menerus, jatuh dan bangun. Sering kali manusia mengalami bahwa dunia ini ibarat padang gurun tandus. Ia pun merasa haus dan merindukan sumber air segar. Rasa haus akan air itu menyimbolkan pengalaman manusia sebagai pencari dan pengemis makna.

Fransiskus Assisi memandang manusia sebagai musafir dan perantau di dunia. Ia hendak memaknai ciri ‘exsodus’ pada manusia: Ia berjalan keluar, meninggalkan dunia yang sementara ini untuk kembali kepada Penciptanya. Hidup manusia di dunia merupakan ‘jalan kembali’ menuju Tanah Terjanji. Dunia ini bukan realitas yang ‘sudah selesai’. Dunia tidak menyediakan jawaban definitif atas pertanyaan manusia mengenai realitas terakhir. Lebih tepat mengibaratkan dunia ini sebagai realitas yang ‘hampir selesai’ (penultimate). Tujuan akhir hidup tersedia di seberang sana.

Tujuan final yang masih jauh itu, oleh orang-orang Kristen dimaknai sebagai sebuah kebajikan yang disebut ‘harapan’ (selain dua kebajikan lainnya, yaitu iman dan kasih). Harapan itu sesuatu yang intrinsik ada dalam eksistensi manusia – semacam energi yang menggerakkan dia untuk memaknai hidupnya dalam keterarahan kepada horizon yang terbentang luas ke depan.

Bagi manusia peziarah, sang Pencipta bukan hanya penyebab hidupnya, melainkan juga tujuan akhir atau final. Sebab memiliki sebab awal tanpa tujuan akhir adalah kesia-siaan. Dalam Confessions, Agustinus menggambarkan bahwa kerinduan jiwa manusia untuk bersatu dengan Allah itu lebih besar dari pada kesatuan dengan tubuhnya sendiri.

Hal itu direfleksikannya melalui sebuah dialog imaginer dengan Tuhan. Agustinus: “Engkau telah menjadikan kami bagi-Mu, dan jiwa kami belum berdiam sebelum ia beristirahat dalam Engkau”. Tuhan: “Jika engkau telah dipuaskan oleh segala kebaikan dan kesenangan dunia, apalagi yang engkau dambakan”? Agustinus: “Hanya satu hal yang aku minta dari-Mu ya Tuhan, agar aku boleh tinggal di rumah-Mu seumur hidupku”. Refleksi Agustinus ini mengajarkan bahwa manusia dapat memandang dan mengenal dirinya dengan lebih jelas di dalam Allah, bukan di dalam dirinya atau karena berbagai kriteria banal yang ditawarkan dunia, seperti titel, jabatan, presetasi, kekuasaan, dll. ***

Oleh P. Andreas Atawolo OFM

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *