Kehidupan Saudara Juniperus [Bagian 1]

24/01/2020
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 36 kali
Lukisan "Saudara Juniper dan Pengemis" - karya Bartolomé Esteban Murillo (1645-1646)

Lukisan “Saudara Juniper dan Pengemis” – karya Bartolomé Esteban Murillo (1645-1646)

Pengantar:[1]

Saudara Yuniperus OFM (dalam bahasa Italia: Fra Ginepro), meninggal dunia pada 1258. Dalam literatur fransiskan dia terkenal dengan sebutan Bruder Juniper, sering digelari “Pelucu termasyur Tuhan sendiri”, ceritera-ceritera jenaka menghiasi seluruh hidupnya. Dia merupakan salah seorang pengikut St. Fransiskus yang tulen, original. Sebelum masuk Tarekat dia nyaris tak dikenal. Dia diterima oleh Fransiskus sendiri pada 1210. Diceritakan bahwa St. Fransiskus pernah nyeletuk: “Bila menjadi kehendak Tuhan, saudara-saudaraku, baiklah seandainya saya mempunyai hutan yang semua pepohonannya adalah pohon Yuniper”. Berikut ini ceritera-ceritera perihal kehidupan bruder Yuniperus ini: lugu, apa adanya, nampak seperti orang bodoh, tapi tulus dari hati. Hati orang lain tak berkutik lagi. Bahkah hati pater General pun akhirnya “ditundukkan”.

Akan disajikan satu per satu, sampai akhirnya nanti dijilid menjadi satu buku.

 

I. Bagaimana Saudara Yuniperus memotong kaki seekor babi, hanya untuk diberikan kepada seorang saudara yang sakit

Salah seorang dari para sahabat pertama dan murid Fransiskus yang paling patut diteladani adalah saudara Yuniperus. Dia adalah orang yang luar biasa rendah hati, bersemangat dan mencintai sesamanya. Pada suatu kesempatan Fransiskus dalam percakapannya dengan para pengikutnya yang suci berkata tentang Yuniperus ini: “Seorang saudara dina yang baik adalah orang yang telah mengalahkan dirinya sendiri dan dunia sedemikian sempurna seperti saudara Yuniperus”.

Suatu kali, karena dikobarkan oleh cinta pada Tuhan, dia mengunjungi seorang saudara yang sakit di Santa Maria degli Angeli dan dengan penuh belas kasih dia bertanya kepada saudara yang sakit itu: “Apakah ada sesuatu yang dapat kuperbuat untukmu?” Yang sakit itu menjawab: “Akan sangat menolong saya bila engkau dapat memberikan kepadaku masakan kikil babi.” Atas keinginannya itu, saudara Yuniperus pun langsung menjawab: “Serahkan saja hal itu padaku, aku akan membawa kikil babi itu kepadamu”. Diambilnyalah pisau, – saya yakin pasti dari dapur, – dan secepat kilat dia pergi ke hutan di mana ada beberapa babi yang sedang berkeliaran ke sana ke mari. Ditubruknya salah satu babi itu, dipotongnya salah satu kakinya dan pergilah dia meninggalkan babi itu dengan tiga kaki. Sesampai di rumah, dicucinyalah kaki babi itu, dimasaknya dengan baik, dan dihidangkannya kepada saudara yang sakit itu. Dia ini pun menikmatinya dengan lahap, dan saudara Yuniperus juga sangat puas dan bergembira. Sementara itu saudara Juiperus juga menghibur saudara yang sakit itu dengan meragakan kembali penuh kegembiraan bagaimana dia telah menubruk dan memotong salah satu kaki babi itu.

Sementara itu si penjaga babi yang telah menyaksikan bagaimana seorang saudara telah memotong salah satu kaki dari salah seekor babinya, dengan marah-marah menceritakan hal itu semua kepada tuannya. Ketika tuannya mendengar semuanya itu, pergilah dia ke kediaman para saudara dan mulailah dia menghina mereka sebagai orang-orang munafik dan penipu menjijikkan, bajingan dan sampah masyarakat, karena mereka telah memotong satu kaki salah seekor babinya. Mendengar kutukan dan cercaannya itu, Fransiskus pun keluar bersama yang lain, dan dengan rendah hati meminta maaf atas saudara-saudaranya itu, dan mencoba menenangkannya dengan janji bahwa ia akan mengganti semua kerugian yang dideritanya, meskipun ia tidak tahu apa-apa tentang seluruh perkara itu. Bagi pemilik babi itu, hal ini belumlah menyelesaikan perkara, karena sambil marah-marah dan disertai omelan dan ancaman, dia bersikeras menuduh para saudara itu telah memotong kaki babi itu sungguh-sungguh dengan maksud jahat. Dan tanpa menerima permintaan maaf atau janji yang diberikan Fransiskus, dia pun pergi sambil ngomel-ngomel.

Sementara saudara-saudara yang lain benar-benar bingung, Fransiskus mulai berpikir dengan sangat tenang dan wajar: Mungkinkah Saudara Yuniperus telah melakukan hal ini dengan semangat yang tidak baik? Dan dengan diam-diam dipanggilnya saudara Yuniperus itu kepadanya dan bertanya kepadanya: “Apakah engkau mungkin telah memotong kaki babi yang di hutan itu?” Sadar bahwa dirinya tidak bersalah, malahan sebaliknya: yakin telah melakukan perbuatan baik bagi sesamanya, dengan mantap menjawab: “Ya, bapa terkasih, saya memang telah memotong kaki babi itu, dan bapa kiranya akan memaafkan saya jika saya memberi tahu bapa alasan mengapa saya telah berbuat demikian. Saya pergi mengunjungi saudara yang sakit itu …” dan dia pun menceriterakan semua yang telah terjadi, apa adanya. Dia juga masih menambahkan: “Dan saya dapat memberi tahu bapa bahwa, bila saya pikir-pikir betapa bahagianya saudara kita itu dan betapa dia menjadi lebih sehat berkat potongan kaki babi itu, saya tahu pasti bahwa saya akan memotong seratus kaki babi. Pastilah Tuhan akan mendukung saya.” Atas perkataan Yuniperus ini Fransiskus, demi rasakeadilan berkatalah dia dengan nada pahit: “Ya saudaraku Yuniperus, mengapa engkau telah mempermalukan kami? Orang itu sungguh punya alasan cukup untuk mengeluh dan menjadi berang. Mungkin saja dia sekarang di seantero kota sedang berbicara jelek perihal kita karena pelanggaran ini. Dan memang benar juga dia itu. Karena itu, atas nama kepatuhan suci, saya perintahkan kepadamu untuk mengejarnya sampai engkau menyusulnya, dan kuperintahkan kepadamu untuk berlutut di hadapannya dan mengakui kesalahanmu. Selain itu, engkau harus sedemikian berjanji kepadanya sehingga dia menjadi puas dan tidak lagi punya alasan untuk mengeluh tentang kita. Apa yang telah engkau lakukan itu sungguh keterlaluan.” Saudara Yuniperus pun tercengang-cengang akan perkataan itu dan dia juga tidak mengerti mengapa Fransiskus menjadi begitu marah karena tindakannya yang penuh cinta kasih itu. Menurutnya, hal-hal duniawi tidak memiliki nilai apa pun jika tidak dibagikan kepada orang lain karena cinta. Dia menjawab: “Percayalah ya bapa, bahwa saya segera akan melaksanakannya dan membuat orang itu puas. Tetapi mengapa orang itu sangat marah, bukankah babi itu berasal dari Tuhan dan bukan dari dia dan bukankah kaki babi itu telah dikonsumsi dengan penuh kasih?”

Dia lari mengejar pria itu. Orang itu pun masih marah-marah juga. Diberitahukannya kepadanya bagaimana dan mengapa dia memotong kaki babi itu. Dia berkata demikian ini pun dengan penuh semangat dan gembira, seolah-olah dia telah melakukan pelayanan yang baik kepada orang lain. Padahal dia dipersalahkan justru karena perbuatannya itu. Tetapi pemilik babi itu tetap geram dan dalam amarahnya saudara Yuniperus pun disebutnya sebgai orang gila, penjahat, dan pencuri bejat. Kendati suka dihina, namun saudara Yuniperus bertanya-tanya dalam hatinya, pastilah orang ini salah paham, karena bagaimana pun, bukankah perbuatannya itu telah membuat orang lain bahagia, dan bukan marah-marah. Karena itu diceriterakannyalah kembali apa yang telah terjadi, orang itu pun dipeluknya pada lehernya, diciumnya sambil berkata bahwa apa yang telah dikerjakan itu sungguh-sungguh tulus dari cinta kasihnya pada sesama. Karena itu dia malah mengatakan kepadanya bahwa dirinya akan berbuat yang sama pada babi-babi lainnya. Hal ini dikatakan dengan penuh kasih sayang, rendah hati, dan tidak merasa bersalah, sehingga orang itu akhirnya menjadi bertobat dan dengan air mata pahit, berlutut menundukkan diri. Sadar akan kata-kata dan perilakunya yang buruk terhadap saudara-saudara kudus itu, ia pun pergi menangkap babi itu, menyembelihnya, dan memasaknya. Kemudian dibawanyalah masakan itu ke Santa Maria degli Angeli dengan penuh kesalehan dan air mata dan memberikannya kepada saudara-saudara sebagai imbalan atas hal-hal buruk yang telah dia katakan dan lakukan.

Fransiskus yang merenungkan kesederhanaan dan kesabaran yang dapat digunakan Saudara Yuniperus untuk mengatasi situasi yang sulit, berkata kepada para sahabatnya dan orang-orang lain yang ada di sekelilingnya: “Seandainya saja, saudara-saudaraku, seandainya menjadi kehendak Tuhan, agar di sekelilingku terdapat hutan yang seluruhnya terdiri dari pepohonan juniper!”[2]

Terpujilah Kristus. Amin

 


[1]        Diterjemahkan dari “Het Leven van Broeder Juniperus”; Penerbit: C.P. Voorvelt, Heerlen, 1976; Diterbitkan dalam kerjasama dengan Komisi Yubelium Fransiskan K 750

[2]        Nama Yuniperus merupakan kata Latin untuk buah yang dalam bahasa Latin disebut Yuniperus communis, dan dalam Belanda `jeneverbes`, sejenis beri yang digunakan untuk membuat jenever, sopi, arak belanda. Orang Italia sangat suka akan minuman sejenis ini, karena membuat orang senang dan berbahagia. Saudara Yuniperus telah membuat seluruh Ordo semarak. Lalu Fransiskus bermain kata dengan arti harafiah dari saudara Yuniperus ini.

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *