Indah untuk dikenang

10/09/2018
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 89 kali
Biara Santa Klara Yogyakarta - 2008

Biara Santa Klara Yogyakarta – 2008

Masih tampak jelas di depan kapel, batu nisan yang bertuliskan “PERINGATAN: PELETAKAN BATU PERTAMA BIARA SANTA KLARA OLEH ROMO L. WIRYODARMOJO, Pr. VIK.EP. D.I.Y TGL 23 MEI 1978”. Ini menjadi saksi bahwa 40 tahun sudah biara kami berada di tengah keistimewaan kota Jogjakarta. Berdiri dengan indah dan sederhana laksana 2 gerbong kereta api yang sejajar menuju gerbang Yerusalem surgawi, dengan arsitektris dan di mandori oleh Sr. Yasinta, OSC almarhumah. Tahun  2010 ketika saya postulant beliau masih menjabat sebagai kepala bangunan di Pacet hingga Saudari Maut menjemputnya Juni 2011.  Namun keberadaan para suster Klaris di Keuskupan Semarang sudah lebih dari 40 tahun karena menurut cerita yang pernah saya dengar mereka sebelumnya tinggal di Gamping kemudian ke Samirono dan terakhir di Santren Mrican yang sekarang ini kami tinggali.

Para srikandi Putri Santa Klara yang memulai hidup kontemplatif di kota Gudeg ini ada yang telah memasuki stasiun dan beristirahat dengan tenteram di keabadian bersama St. Klara dan Bapa Fransiskus. Srikandi yang lain yang masih dalam perjalanan ada Sr. Ancilla, dan Sr. Assumpta,  kini berada di La Verna Pacet Jawa Barat dan telah memiliki kereta dengan nomor pribadi masing-masing.

Sr. Ancilla, OSC, beliau specialis sakristi, berbagai tanaman hidup selalu menghiasi altar Tuhan, menjadi pelatih misdinar yang selalu memberi pesan di akhir latihan “nanti jadi romo ya…” dan salah satu misdinar yang jadi romo adalah Rm. Bismoko, Pr. Dikenal sebagai penggembira dengan 101 ide; lagu dari bahasa Belanda, Jepang, Jawa, Indonesia sampai lagu yang hanya not saja tanpa kata-kata, puisi, dan drama membuat komunitas selalu ramai saat hari-hari raya. Sr. Assumpta , OSC, saudari yang satu ini memiliki ketrampilan di bidang masak-memasak, terkenal diantara ibu-ibu di pasar Demangan. Dengan pembawaan yang  tenang larut dalam untaian doa Salam Maria membuat setiap masakan enak dinikmati sehingga semua anggota komunitas terjamin jasmani, bahkan pernah memasak untuk para saudara dina di Papringan.

Ketekunan dalam doa, kesetiaan dalam panggilan dan kegembiraan dalam karya menarik perhatian beberapa putri Jawa sehingga menyusul masuk dan menambah kawanan kecil Bapa Fransiskus ini. Mereka adalah: Sr. Margaretha dari Muntilan, Sr. Elfrida dari Klaten, Sr. Beatrice dari Solo, Sr. Bernadette dari Semarang, Sr. Caspara dari Jogja, Sr. Theresia dari Sedayu dan Sr. Ana dari Gunung Kidul. Sepuluh tahun yang lalu pun saya merasa disapa dan disentuh dan dipanggil oleh Tuhan di biara ini, meskipun bukan putri Jawa, ada yang mengira dan langsung bertanya “suster asli nipun saking pundi?”, “ kulo saking Solo” jawabku. “Solo nipun?”, “Solowesi hehe…”.

Kehadiran kami di Jogja tentu tak pernah lepas dari keberadaan dan peran serta para saudara dina, membantu mencarikan tempat tinggal yang nyaman dan dekat dengan biara para saudara sehingga pelayanan rohani kepada kami terpelihara. Dan  pada saat suster-suster mengadakan kapitel atau retret tahunan di Pacet, para frater yang menjaga biara. Alkisah, salah satu frater yang dulu menjaga biara dan bertugas pegang stick untuk membersihkan kapel dan serambi, kini memegang tongkat untuk menggembalakan umat di Keuskupan Pangkalpinang, “salam hormat dan terima kasih Monsinyur”.   Ya..janji Bapak Fransiskus kepada Klara ‘untuk selalu memberikan pemeliharaan yang baik dan keprihatinan khusus sama seperti kepada saudaranya’ masih tetap berjalan dengan baik sehingga dari guardian sampai postulant semua ambil bagian, hanya satu perkerjaan yang tidak tersentuh (mengingat AngTBul Pasal VIII  mungkin…) yaitu jadi kolektan alias pengumpul uang.

Sama seperti Portiuncula yang banyak dikunjungi bala malaikat surgawi, demikian juga biara Santa Klara Mrican Jogja pun banyak dikunjungi orang dari yang dari berbagai latar belakang. Di bulan Desember tahun 2017, kami dikunjungi  dan misa perdana dengan P. Epa, di akhir tahun 2017 kami mendapat berkat khusus lewat tangan  Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Di  awal tahun 2018 ada P. Asep juga misa perdana, diawal bulan Mei mendapat kunjungan istimewa dari Mgr. Alo Murwito. Alangkah bahagianya…terima kasih banyak saudara, tapi seperti ada yang belum misa perdana di biara kami ya…ditunggu lho!

Penuh rasa syukur dan gembira, kulambungkan mazmur : ” satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini, diam di rumah Tuhan  seumur hidupku menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati baitNya dan dalam kemahNya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan”.

Profisiat untuk kita semua, semoga Santa Clara dan Bapa Fransiskus senantiasa mendoakan kita agar muncul tunas-tunas baru.

Semoga Tuhan selalu memberi kita damai.

Kontributor: Skolastika, OSC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: , ,

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *