Fransiskus Assisi di Semarang

Dilihat: 2.139 kali

Dalam rangka merayakan kelahiran Fransiskus Assisi di antara para kudus di surga, 3 Oktober setelah tengah hari saya ke Semarang. Kefas (Keluarga Fransiskan Semarang) bekerjasama dengan OSF Semarang mendatangkan saya dari Jakarta.

KERJA KERAS
Kefas memastikan bahwa Kamis, 3 Oktober, saya akan membawakan materi berjudul “KERJA KERAS SEBAGAI WUJUD IMAN FRANSISKAN SEJATI”. Materi ini dibawakan mulai pk 16.30, setelah 95 % peserta hadir di aula Rumah Sakit Elisabeth, jl. Kawi, Semarang.

Jumlah hadirin tembus angka 200. Mereka datang dari tarekat OSF, MTB, FSE, KSFL, SFS, MTB, OFS, FCJM, dan OFM. Di aula ini juga hadir Sdr Albertus Bambang TrimargonoOFM, yang baru saja menyelesaikan retret di Jawa Tengah. Saudara kita ini ternyata menaiki Vespa Tua, yang sudah berusia 40 tahun, dari Jakarta menuju Semarang, Ambarawa, dan nantinya akan ke Sukoharjo.

Materi yang saya bawakan dipahami dengan saat baik dan ditanggapi dengan entusias oleh skurang-kurangnya 2 Suster OSF, yang mengajukan pertanyaan. Pada slide terakhir presentasi, saya menegaskan bahwa semakin fransiskan bekerja keras dengan dan demi peace and all good, semakin kita menjadi Fransiskan sejati.”

Begitu pencerahan yang berhubungan dengan KERJA KERAS itu selesai dilaksanakan, acara mengenangkaan detik-detik transitus Fransiskus siap dipanggungkan. Para Novis II dan Postulan OSF siap menghadirkan Transitus dalam format dramatisasi.

Orang-orang muda itu terkesan sangat kreatif, dengan tetap setia pada teks baku transitus. Itulah sebabnya pesan transitus ditangkap dengan baik oleh para hadirin, apalagi suasana yang mendukung pun sengaja diciptakan, misalnya dengan memainkan lampu, memanfaatkan lilin, pengeras suara yang apik, aluman rekaman musik pun diatur untuk menggerakkan emosi religius. Di sini pun layak diucapkan terimakasih kepada para tim “Novisiat Banyumanik” yang telah memfasilitasi para hadirin untuk bermenung.

DARI EKARISTI KE EKARISTI
Ekaristi Hari Raya St. Fransiskus dirayakan di Novisiat OSF pk 05.30 dalam kehadiran beberapa anggota OFS, OSF, Bruder-bruder FIC. Semua berjumlah sekitar 50 orang.

Para novis-postulan OSF menyanyi dengan semangat dan jauh lebih baik daripada 3 bulan lalu, ketika saya selama sepekan ada di novisiat itu untuk berbagi kefransiskanan. Sungguh, saya bisa merasakan perkembangan yang ditampakkan oleh para novis dan postulan OSF. Dalam hal ini, perubahan yang signifikan semoga menegaskan formasio yang mengakar dan mempengaruhi hidup dan pelaksanaan tugas-tugas mereka semua.

Khotbah dalam Ekaristi ini disengaja dibuat agak panjang. 30 menit! Ini jelas-jelas melanggar adagium dalam Ilmu Homilitika yang pernah saya ajarkan, “After fifteen minutes no soul will be saved”. Latar belakang khotbah panjang pagi ini adalah adanya pesan agar khotbah “diperpanjang” untuk mengganti konferensi, yang sedianya diselenggarakan dari pk 7.30-9.00 untuk para Novis-Postulan OSF. Tetapi rencana ini tidak kesampaian, karena acara di Jl. Pemuda, Poncol, Semarang dimulai dengan Ekaristi pk 09.00.

Betul, setelah sarapan di Novisiat dalam suasana Hari Raya, yakni dengan ragam pilihan yang beraneka – berkat kemurahan hati donatur – saya diantar ke Aula Marsudirini, Jl. Pemuda, Poncol. Di sana sudah bersiap 9 orang karyawan yang berpesta: 5 orang merayakan pesta perak berkarya di Yayasan Masudirini, 4 orang menjalani purna bakti.

Tema perayaan “Persaudaraan Wujud Iman” yang dirajut dalam Syukuran Ekaristik dimeriahkan oleh paduan suara yang empuk dan gandem-marem. Ibu-ibu dan bapak-bapak, karyawan Marsudirini, melantunkan lagu-lagu indah layaknya Paduan Suara Secilia. Setelah Ekaristi sederetan grup penghibur pada memamerkan kebolehannya: dari TK sampai dengan SMP. Semua “boleh”!

Perjalanan Fransiskus Assisi dari Italia Tengah sampai Semarang bukanlah langkah-langkah yang serba ringan dan cepat. Para pendahulu dengan pelbagai cara dan kualitas menyebarluaskan kefransiskanan baik dalam bentuk kehidupan maupun dalam forma kerasulan apostolik.

Kini dampak penyebarluasan itu masih, bahkan kian terasa, terutama dalam spirit yang hidup. “Di tangan” kita, para Fransiskan, warisan rohani itu diserahkan untuk semakin ditebarkan, sehingga diharapkan “seluruh bumi dipenuhi dengan Injil Kristus, yang dihayati dan didharmabaktikan oleh Fransiskus Assisi”. Kini tiba giliran kita, para Fransiskan. Semoga!

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

Suasana Transitus, 3 Oktober 2013 di Wisma Katharina, Jl. Kawi, Candi, Semarang.

Suasana Transitus, 3 Oktober 2013 di Wisma Katharina, Jl. Kawi, Candi, Semarang.

Para Novis-Postulan OSF membawakan permenungan tentang Transitus Fransiskus Assisi dalam bentuk "peragaan dramatisasi".

Para Novis-Postulan OSF membawakan permenungan tentang Transitus Fransiskus Assisi dalam bentuk “peragaan dramatisasi”.

Syukuran Ekaristik di Marsudirini Jalan Pemuda, Semarang, dalam rangka 25 tahun berkarya dan purna tugas. Semua "dijatuhkan" pada pesta 4 Oktober.

Syukuran Ekaristik di Marsudirini Jalan Pemuda, Semarang, dalam rangka 25 tahun berkarya dan purna tugas. Semua “dijatuhkan” pada pesta 4 Oktober.

Anak-anak SD pada unjuk kebolehan demi membahagiakan pestawan, sekaligus meramaikan Pesta 4 Oktober.

Anak-anak SD pada unjuk kebolehan demi membahagiakan pestawan, sekaligus meramaikan Pesta 4 Oktober.

8 komentar pada Fransiskus Assisi di Semarang

  1. cicilia
    20/12/2013 at 18:47

    perjalanan ziarah mesir tanah suci petra 11 hari,keberangkatan tanggal 8-18februari 2014 Pendamping Rohani Pastor Laurentius Tueng,OFM
    Informasi dan pendaftaran hubungi : CICILIA (0856 9506 5197)

    Tuhan Berkati

  2. Franz Wardani
    22/10/2013 at 08:02

    Romo Eddy yth,
    Merenungkan kembali semangat Fransiskus yang berkerja keras sebagai wujud iman fransiskan sejati, membakar semangat kami untuk bekerja keras mengolah hidup rohani agar semakin mendalami spiritualitas fransiskan sebagai wujud persembahan diri kepada Kristus.

    Terima kasih atas pecerahan dan bimbingannya selama kami mempersiapkan drama transitus.
    Materinya MANTAP … Homilinya MENDALAM … siip deeeh .. ^_^

    • Eddy Kristiyanto OFM
      06/11/2013 at 11:50

      Semoga bermanfaat dan menyegarkan. salam,

  3. Yvonne Wijaya
    21/10/2013 at 16:41

    Romo yth…
    Pengalaman pertama kami membawakan transitus dalam format drama sangat terbantu oleh bimbingan dan pengarahan Romo.. Semoga kedatangan St. Fransiskus ke Semarang semakin menambah semangat kami untuk mengikuti jejaknya mengikuti Sang Pencinta yang Tersalib.. Terima kasih juga untuk konferensinya yang menyemangati kami untuk selalu bekerja keras sebagai Fransiskan…
    Ralat sedikit boleh Romo…? Yang hadir saat misa 04 Oktober di Novisiat bukan Bruder FC tapi CSA… hehe…
    Terima kasih, Romo… ditunggu lagi pelajaran Fransiskannya….

    • Eddy Kristiyanto OFM
      06/11/2013 at 11:49

      Terimakasih atas ralat. Salam dari Ibukota.

  4. Luciana
    11/10/2013 at 12:49

    Pater Eddy….sdri FCh dilupakan ya???? hehehe….
    Padahal ada lho…….

    • Eddy Kristiyanto
      12/10/2013 at 13:01

      Sr Luciana yth.,
      FCh tidak dilupakan. Sebab 25-27 Oktober 2013 saya akan bergabung dalam hajatan FCh membedah dan mendapatkan saripati Spiritualitas PRCA untuk hidup dan pelayanan “full” kasih FCh. Salam dari Medan.

  5. Eddy Kristiyanto
    07/10/2013 at 10:04

    Para Saudara yth.,

    Ada baris yang hilang dari reportase berjudul “Fransiskus Assisi di Semarang” pada alinea ke-3 setelah anak judul KERJA KERAS. Pada kalimat terakhir alinea tersebut seharusnya berbunyi begini: Pada slides terakhir presentasi, saya menegaskan bahwa semakin bekerja keras dengan dan demi peace and all good, semakin kita menjadi Fransiskan sejati”.
    Dengan demikian kesalahan telah diperbaiki. Salam ekstra hangat dari Jl. Terompet VII, No. 40, Medan.

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *