Petuah-petuah

Pasal XVII Hamba Allah yang tetap rendah

(1)Berbahagialah hamba, yang tidak lebih bermegah-megah atas kebaikan yang diucapkan dan dikerjakan Tuhan dengan perantaraannya sendiri, daripada atas apa yang diucapkan dan yang dikerjakan Tuhan dengan perantaraan orang lain. (2)Berdosalah orang, yang mau menerima dari sesamanya, padahal tidak mau memberi sesuatu pun dari dirinya sendiri kepada Tuhan Allah.

Pasal XVIII Tenggang hati terhadap sesama

(1)Berbahagialah orang, yang sabar menerima sesamanya dalam kelemahannya, sebagaimana ia pun ingin diterima oleh sesamanya dengan sabar, sekiranya ia sendiri berada dalam keadaan serupa. (2)Berbahagialah hamba, yang menyerahkan kembali semua yang baik kepada Tuhan Allah; sebab siapa menahan sesuatu bagi diri sendiri, ia menyembunyikan uang Tuhan Allahnya di dalam dirinya, maka apa yang pada sangkanya…

Pasal XIX Hamba Allah yang tetap rendah

(1)Berbahagialah hamba, yang tidak menganggap dirinya lebih baik apabila ia dipuji dan dihormati orang, daripada apabila dipandang hina, bodoh dan nista. (2)Sebab, seperti apa nilai seseorang di hadapan Allah, begitulah nilai orang itu dan tidak lebih. (3)Celakalah religius, yang diberi kedudukan tinggi oleh orang lain, dan tidak mau turun atas kehendaknya sendiri. (4)Akan tetapi berbahagialah…

Pasal XX Sukacita yang sejati dan yang hampa

(1)Berbahagialah religius, yang hanya menemukan kegirangan dan sukacita di dalam firman dan karya Tuhan yang tersuci, (2)dan menggunakannya untuk membuat orang lain mengasihi Allah dengan gembira dan sukacita. (3)Celakalah religius, yang mencari kesenangan di dalam kata-kata yang kosong dan lelucon yang hampa, dan memanfaatkannya untuk membuat orang-orang tertawa.

Pasal XXI Religius yang dangkal dan pembual

(1)Berbahagialah hamba, yang bila berbicara, tidak memamerkan segala yang dipunyainya sebagai kedok suatu upah dan tidak cepat mengeluarkan kata-kata, tetapi menimbang dengan bijaksana katakata yang harus diucapkan danjawaban yang harus diberikannya. (2)Celakalah religius, yang bukannya menyimpan di dalam hatinya semua yang baik yang dinyatakan Tuhan kepadanya, dan bukannya memperlihatkannya kepada orang lain dengan perbuatan, tetapi…

Pasal XXII Menerima teguran

(1)Berbahagialah hamba, yang menerima peringatan, tuduhan dan teguran, yang disampaikan orang lain, dengan begitu sabamya seperti kalau dari dirinya sendiri datangnya. (2)Berbahagialah hamba, yang menerima dengan rela bila ditegur, menurut dengan penuh hormat, mengakui kesalahan dengan rendah hati, dan mengadakan pemulihan dengan senang hati. (3)Berbahagialah hamba, yang tidak cepat memaafkan dirinya sendiri, dan yang dengan…

Pasal XXIII Kerendahan hati

(1)Berbahagialah hamba, yang di antara bawahannya, temyata tetap rendah hati, seperti kalau ia berada di antara tuan-tuannya. (2)Berbahagialah hamba, yang selalu bersedia menerima cambuk teguran. (3)Hamba yang setia dan bijaksana ialah orang, yang setiap kali melukai orang, tidak menunda-nunda menghukum dirinya dalam batin melalui penyesalan, dan secara lahiriah dengan pengakuan dan pemulihan nyata.

Pasal XXIV Kasih sejati

(1)Berbahagialah hamba, yang dengan kasih yang besar mengasihi saudaranya yang sakit, dan yang karena sakit tidak mampu membalas budi baiknya, sama seperti kalau saudaranya itu sehat sehingga dapat membalas budi baiknya.