Bercermin di Depan Salib

23/03/2019
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 59 kali

Biasanya cermin berfungsi membantu orang mengatur penampilannya, agar ia merasa lebih nyaman atau lebih percaya diri, misalnya ketika harus tampil atau berada bersama orang-orang lain. Banyak orang membawa cermin kecil dalam tas tangan agar setiap saat dapat mengecek penampilannya. Pada umumnya tampilan wajah menjadi bagian tubuh yang mendapat perhatian khusus, karena wajah memancarkan situasi diri seseorang.

Santa Klara dari Assisi mengibaratkan salib Kristus dengan cermin. Sebagaimana di hadapan cermin orang memperbaiki penampilannya, demikian pula di hadapan cermin salib, manusia mendandani citra dirinya. Semakin jelas manusia memandang cermin salib, kiranya semakin indah pula citra dirinya.

Sebagaimana Fransiskus Assisi, Klara merefleksikan bahwa ketika manusia memandang salib, ia menemukan kriteria yang utama tentang keindahan kodratnya. Di hadapan salib manusia memandang tidak hanya diri secara fisik, melainkan seluruh dirinya. Di hadapan cermin Ilahi, ia memandang martabatnya sebagai citra Allah. Dengan kata lain Klara meyakini bahwa di hadapan salib manusia seakan-akan sedang berkata kepada dirinya: “Aku mengenali diriku dengan lebih baik di dalam Allah Dari pada dalam diriku sendiri”.

Dalam surat kepada Agnes, saudarinya, Klara menulis:

“Berikanlah perhatian anda kepada Cermin kekekalan, arahkan budi anda kepada Pantulan kemuliaan dan tujukanlah hati anda kepada Gambar wujud Ilahi. Hendaklah anda merubah diri anda seluruhnya dengan memandang gambaran keilahian-Nya” (3 SurAg 12-13).

Yang terpantul dari cermin ilahi ialah ungkapan kasih Allah. Sebagaimana dikatakan Ilia Delio dalam Clare of Assisi A Heart full of Love, salib Kristus merupakan sebuah paradoks. Manusia yang berdandan di hadapa cerimin salib menyadari bahwa ia makhluk berdosa namun diampuni dan dibenarkan oleh Allah; manusia rapuh dan rentan, tetapi kuat karena disembuhkan Roh Allah; manusia makhluk terbatas, tetapi sekaligus dinamis karena sedang berziarah menuju Allah yang kekal; manusia takut akan maut, namun diteguhkan oleh harapan akan hidup kekal Allah Pencipta kehidupan.

Bagi Santa Klara pada salib tampak bahwa Tuhan tidak menuntut sesuatu apapun dari kita, kecuali memberi diri seutuhnya bagi kita. Demikianlah Santa Klara memandang kehidupan dengan logika salib: Sang Cinta sendiri rela menjadi manusia, merentangkan tangan-Nya di kayu salib untuk merangkul manusia dalam kasih. Sungguh sebuah pandangan hidup yang paradoks: Dalam kematian Tuhan, Klara justru menemukan kunci kehidupan. Salib yang tampak sebagai wajah penderitaan justru memancarkan solidaritas kasih Allah.

Mistik salib Santa Klara ini tampak pula dari kata-kata Bonaventura: “Banyak orang mencintai keindahan, namun keindahan tidak terletak pada hal-hal luaran, yang hanya merupakan hasil tiruan. Keindahan yang sesungguhnya terdapat dalam keindahan kebijaksanaan” (Hexaёm. XX, 24).

Kebijaksanaan yang dimaksud Bonaventura di sini ialah salib Kristus, yaitu ungkapan kasih Allah yang radikal. Dalam Soliloquium Bonaventura melukiskan dengan indah makna simbolik salib Kristus:

“Dari salib Kristus menantikanmu, kepala-Nya tertunduk hendak menciummu, lengan-lengan-Nya terentang hendak memelukmu, tangan-tangan-Nya terbuka menyambutmu, tubuh-Nya terkulai pasrah seutuhnya, kaki-kaki-Nya terpaku menantimu dalam diam, bahu-bahu-Nya terbuka menyambut kedatanganmu”

(Solil. I, 33-34).

Mistik salib hendak mengatakan bahwa yang harus kita lakukan sekarang ialah sedikit berbicara tentang Kristus, tetapi membiarkan Dia tinggal dalam diri kita agar orang dapat menyaksikan hidup Kristus dalam diri kita.

 

Kontributor: Andreas Atawolo, OFM

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *