Aturan untuk Hidup di Pertapaan

14/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 856 kali

[ Index Karya-karya Fransiskus ]

1 Saudara-sauaara yang mau menjalankan hidup bakti di tempat-tempat pertapaan, hendaknya bertiga atau paling banyak berempat. Dua dari mereka hendaknya menjadi “ibu”, dan dua yang lainnya – atau sekurang-kurangnya satu-menjadi “anak” mereka. 2 Dua yang menjadi ibu itu hendaknya memerankan cara hidup Marta, sedangkan kedua anak memerankan cara hidup Maria. Tempat tinggal mereka harus berpagar[1] dan di dalamnya setiap orang hendaknya mempunyai satu bilik kecil, tempat ia berdoa dan tidur.

3 Hendaknya mereka selalu mengucapkan completorium sesuai dengan harinya, segera setelah matahari terbenam. Hendaknya mereka juga sungguh-sungguh menjaga keheningan. Mereka pun hendaknya mengucapkan ibadat harian[2] semua waktu dan bangun pada waktu matutinum. Hendaklah mereka mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya. 4 Pada saat yang tepat hendaklah mereka mengucapkan ibadat prima, dan sesudah ibadat tertia saat hening boleh mereka akhiri; lalu mereka boleh berbicara dan pergi kepada ibu-ibu mereka. 5 Kalau mau, mereka sebagai orang miskin yang kecil boleh meminta sedekah kepada ibu-ibu mereka, demi kasih Tuhan Allah. 6 Kemudian mereka hendaknya mengucapkan ibadat sexta dan nona; ibadat vesperae hendaknya mereka ucapkan pada waktu yang cocok.

7 Di bagian tempat tinggal mereka yang berpagar itu, tidak seorang pun boleh mereka izinkan masuk dan juga mereka tidak boleh makan di tempat itu.  8 Saudara-saudara yang menjadi ibu hendaklah sungguh-sungguh berusaha untuk tetap jauh dari orang luar; dan karena ketaatan kepada ministernya, hendaklah mereka melindungi anak-anak mereka terhadap semua orang, sehingga tidak seorang pun dapat bercakap-cakap dengan mereka. 9 Anak-anak itu jangan berbicara dengan seorang pun, kecuali dengan para ibu mereka dan dengan minister dan kustos mereka, bilamana ia berkenan mengunjungi mereka dengan berkat Tuhan Allah. 10 Pada gilirannya anak-anak hendaknya mengambil peranan ibu, sesuai dengan waktu giliran yang hendaknya mereka atur sebaik-baiknya dari waktu ke waktu. Hendaklah mereka dengan saksama dan penuh semangat berusaha menepati segala yang dikatakan di atas.


[1]. Tidak jelas apakah “tempat berpagar” (= claustrum; klausura) itu hanya untuk yang “ibu”, “anak”, atau semuanya. Dari teks selanjutnya nyata, bahwa daerah klausura yang tertutup itu hanya untuk “anak” karena mereka meninggalkannya bila harus pergi kepada para “ibu” untuk minta makan; dalam klausura dilarang makan. Tempat pertapaan yang dimaksud bukanlah biara dengan bagian klausuranya, tetapi gua atau bukit karang yang dahulu sering dipakai sebagai pertapaan, seperti masih kelihatan dewasa ini di Carceri, La Verna, Greccio dll. Maka “bilik” atau “sel” yang dimaksud adalah rongga-rongga pada batu karang atau gua yang dipakai sebagai kamar perorangan atau “ruang” umum, msl kapel dan kamar makan. Fransiskus kerap berbicara tentang “tempat” (= locus) yang berarti “wilayah” atau “daerah tinggal” dan bukan biara; pada permulaan “biara” tidak dipikirkan.

[2]. Lihat AngTBul III:10+; AngTBul III:3.