Alam Semesta: The Language of God

21/11/2018
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 16 kali
Pemandangan daerah Umbria - Assisi

Pemandangan daerah Umbria – Assisi

Apakah Anda termasuk orang yang menyukai alam? Manakah ciri alam ciptaan yang lebih kuat memberi insipirasi bagi Anda? Mungkin keindahannya, mungkin keagungannya, atau kedahsyatannya. Anda tentu memiliki jawaban sendiri. Santo Bonaventura, dalamItinerarium Mentis in Deum, memaparkan tujuh ciri tata ciptaan. Mungkin salah satu atau beberapa dari ciri-ciri yang ia kemukakan itu cocok dengan pengalaman Anda.

Ketika memandang alam semesta kita pertama-tama bertanya tentang asal-muasalnya. Sebagaimana kita mengagumi sebuah karya seni, di hadapan alam semesta kita berdecak kagum: ‘siapa gerangan penciptanya’? Pertanyaan ini mengajak kita memaknai Kisah Penciptaan sebagaimana dilukiskan Kitab Kejadian (Kej. 1): Segenap ciptaan lahir dari kehendak Allah, dan Ia sendiri melihat bahwa semuanya itu baik adanya. Alam semesta juga merupakan sesuatu yang agung. Ketika kita memandang bentangan samudera, hamparan sawah atau hutan nan luas, yang dapat kita jangkau hanya ‘sejauh mata memandang’. Ketika memandang gunung yang tinggi menjulang dan aliran sungai yang panjang, kata-kata kita tidak cukup untuk melukiskannya.

Alam semesta itu menakjubkan karena ia beraneka ragam. Ada begitu banyak jenis makhluk hidup; masing-masing memiliki ukuran, jumlah dan bobot. Biologi dan Fisika menemukan variasi ukuran makhluk hidup dan benda-benda Jagad Raya: Ada yang berukuran sangat besar dan luas; sebaliknya ada yang sangat kecil sehingga tidak terlihat mata; dan ada pula yang begitu kompleks dan rumit. Meskipun beragam, benda-benda alam semesta ini terkait satu sama lain. Hal ini nyata dalam penemuan sains modern tentang interkoneksitas alam semesta.

Paleontolog modern, Teilhard de Chardin, dalam The Phenomenon of Man, menemukan tiga proses utama dinamika alam semesta: keberagaman, kesatuan, dan energi penggerak (plurality, unity, energy). Pada alam semesta, dalam wujudnya yang beragam, terdapat partikularitas setiap wujud (radically particulate), namun wujud-wujud partikular itu terkait satu sama lain  (essentially related) oleh karena gerakan-gerakan yang aktif. Terdapat ciri kesatuan erat antara unsur-unsur paling mendasar dari realitas alam semesta, yang pada gilirannya memungkinkan kehidupan: “There is perfect identity in every smaller unity (molecules, atoms, electrons)”.

Ekspresi lebih spontan yang kita ungkapkan terhadap alam semesta ialah indah. Secara inderawi keindahan lahir dari keharmonisan warna dan bentuk. Musim semi di benua Eropa sering dilukiskan sebagai musim paling romantis, karena warna-warni kembang yang memesona hati, serta pancaran cahaya matahari yang membawa kehangatan. Fakta bahwa keindahan terbentuk oleh pancaran cahaya dalam sebuah benda merupakan fenomena yang menarik. Keindahan benda-benda perhiasan merupakan hasil pancaran cahaya yang terkandung dalam bahan dasarnya. Cahaya matahari memancarkan keindahannya melalui warna-warna pelangi. Keindahan alam ini telah menginspirasi berbagai nyanyian, puisi, lukisan dan syair indah.

Alam semesta juga merupakan sebuah keutuhan. Ketika kita menyaksikan eksploitasi alam, kita turut merasakan keretakan pada alam; ia tidak lagi memancarkan keelokannya. Sebaliknya, memandang alam yang utuh menjadikan hati kita damai dan tenang. Corak lain dari alam semesta ialah bahwa ia berjalan (operatio) sebagaimana mestinya dan teratur. Misalnya matahari yang terbit dan terbenam, musim yang silih berganti. Akhirnya Bonaventura melukiskan alam semesta sebagai sesuatu yang teratur (ordo). Benda-benda semesta tertata harmonis, memiliki ukuran dan gerak tertentu. Sebagai sebuah ordo, ciptaan memiliki asal mula, terarah pada tujuan.

Tujuh ciri tersebut menunjukkan bahwa di balik alam semesta tersembunyi sebuah rancangan seni, yaitu Kebijaksanaan Allah. Karena itu rasa kagum pada ciptaan hendaknya mendorong kita mengenal Penciptanya. Adapun lukisan tangan sang Pencipta tersingkap dari hal-hal lumrah: tumbuhan dan hewan yang memberikan nutrisi, air yang memberi kesegaran, tanah tempat kita berpijak dan udara yang memberi kehidupan. Hal-hal lumrah itu merupakan tanda uluran tangan Pencipta. Eksistensi alam semesta mengungkapkan sebuah nilai yang lebih luhur, yaitu jejak Allah, sang Pelukis Agung. Dengan kata lain,keharmonisan dan keindahan kosmos bukan hanya semata-mata peristiwa alami, melainkan “bahasa Allah” (the language of God). Sebab itu, memandang alam semesta tanpa mau mengagumi Pelukisnya adalah berhala.

Ciri-ciri alam semesta tersebut mengungkapkan sebuah makna mendasar: setiap makhluk dan setiap ciptaan saling terkait, bahkan saling tergantung. Yang satu mendukung kehidupan yang lain. Menarik bahwa tema seperti ini mendapat perhatian juga dari Paus Fransiskus dalam Ensikliknya Laudato Si’. Paus melihat tata ciptaan sebagai “rumah kita bersama” (LS 1).

Paus secara khusus mengulas tema “relasi antara Trinitas dan ciptaan” (bdk. LS 238-242). Berdasarkan pemikiran Bonaventura dan Thomas, Paus dari Argentina ini menegaskan ciri interkoneksitas dalam kosmos. Berdasarkan pandangan Bonaventura Paus menandaskan: “Orang kudus Fransiskan ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam setiap ciptaan terdapat struktur trinitaris yang spesifik” […]. Dengan demikian ia mendorong kita untuk berupaya memandang realitas dengan cara pandang Trinitaris” (LS. 239). Demikian halnya berdasarkan pemikiran Aquinas, Paus merefleksikan bahwa “di dalam komsmos ini terdapat sebuah ritme relasi. Hidup manusia terarah kepada Pencipta, dan terjalin dengan realitas kehidupan di sekitarnya; ritme ini terjadi sedemikian  rupa sehingga dalam rahim kosmos ini terjalin beragam kehidupan yang terkait satu sama lain secara rahasia, di luar pengetahuan manusia” (LS 240).

Menyadari kehadiran Allah sendiri dalam alam ciptaan, Bonaventura mengingatkan kita dengan kata-kata ini: “Barang siapa tidak diterangi oleh semaraknya kebesaran ciptaan, ia buta. Barang siapa tidak tergugah oleh gegap gempitanya, ia tuli. Barang siapa merasakan semua itu, namun tidak tergerak memuliakan Tuhan, ia bisu. Barang siapa melihat tanda-tanda itu, namun tidak berpaling kepada Sang Khalik, ia bodoh. Oleh karena itu, bukalah matamu, sendengkanlah telingamu kepada Roh, bukalah mulutmu, gelorakanlah hatimu agar engkau melihat, mendengar, memuji, mencintai dan memuliakan, mengagungkan dan menyembah Tuhanmu dalam segenap ciptaan, sebelum seluruh alam semesta bangkit melawanmu” (IMD I, 15).

Oleh : Andreas Atawolo, OFM

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *