- Ordo Fratrum Minorum - https://ofm.or.id -

5. Biara OSC di Yogyakarta

[Index Clara]
[Unduh tulisan ini] | [Unduh brosur]

jogja9MASA AWAL (1969 – 1979)
Sejak Mgr. A Soegiyopranoto SJ menjabat sebagai Uskup Agung Semarang, para suster Claris sudah diundang untuk membuka biara di Jawa Tengah. Namun karena jumlah anggota suster pribumi masih sedikit dan masih banyak suster asal Belanda, tawaran tersebut belum dapat dipenuhi. Baru pada tanggal 14 Januari 1969, para suster di Pacet memutuskan untuk membuka biara di Jawa Tengah (Yogyakarta). Maka mulailah diurus surat ijin kepada Bapa Kardinal Yustinus Darmoyuwono Pr. dengan didampingi oleh Rm. Dijkstra SJ. Pada tanggal 2 Februari 1970, Kardinal memberi ijin tertulis, bahwa para suster boleh membuka biara di daerah Medari.

Pada tanggal 27 April 1970, para suster berencana membeli sebidang tanah di Medari. Tetapi setelah meninjau tempat itu maka dipertimbangkan lagi bahwa tempat tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan dan cara hidup kontemplatif. Sementara itu pada tanggal 30 April 1973 Pater Vicente Kunrath OFM selaku Delegat pindah dari Cianjur ke Papringan, Yogyakarta karena mendapat tugas baru sebagai magister. Dari sana, pada tanggal 30 Juli, Pater Vicente, OFM mengirim telegram yang meminta Suster Pimpinan Klaris untuk datang meninjau dan mencari tanah di daerah Kaliwinongo (Gamping) sesuai petunjuk dari Romo Kardinal sebagai tempat yang diijinkan untuk didiami suster-suster. Di dalam Kota Yogyakarta sudah ada terlalu banyak tarekat religius.

Pada tanggal 1 Agustus 1973 para suster mencoba beralih ke bagian barat Kota Yogyakarta yaitu daerah Gamping. Pada tanggal 2 Agustus, Sr. Agnes, Sr. Johanna dan Sr. Paula berangkat ke Gamping untuk meninjau tanah yang dimaksud. Pada tanggal 7 Agustus, para suster membicarakan tentang hasil peninjauan tanah di Gamping dan diusulkan agar Sr. Bernardine yang sudah menjadi penduduk Yogyakarta untuk mengurus kartu perpindahan penduduk menjadi warga Gamping. Suster akan berangkat tanggal 13 Agustus ke Yogyakarta. Tetapi pada tanggal 13 September ada berita dari Vikep Yogyakarta, Romo Pujarahardja Pr. bahwa tanah di daerah Gamping tidak jadi dijual oleh pemiliknya.

Pada tanggal 2 November 1973 sampai tanggal 26 Januari 1974 suster Presiden Uni-Nederland berkunjung ke Indonesia. Kunjungan ini semakin memperkuat keputusan untuk membuka biara baru di Yogyakarta. Kemudian ada berita lain lagi pada tanggal 27 November yaitu bahwa pembelian tanah lain di Yogyakarta telah gagal.

Pada tanggal 27 Januari 1974, tiga suster pimpinan berangkat ke Yogyakarta untuk meninjau tanah di Gamping tetapi ternyata gagal lagi karena tanah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mereka kembali ke Pacet tanggal 4 Februari. Kemudian pada tanggal 24 April, Sr. Bernardine, Sr. Ancilla dan Sr. Assumpta tiba di Yogyakarta untuk meninjau tanah biara cabang. Urusan ini berlangsung terus sampai tanggal 28 Mei.

Pada tanggal 15 Juni 1974 diputuskan, bahwa para suster akan mulai tinggal di Gamping sambil mencari tempat yang cocok. Atas bantuan dan kebaikan hati Rm. Pujarahardja Pr, untuk sementara para suster dapat tinggal di rumah keluarga lskandar selama 2 tahun. Terjadi perundingan dan persetujuan antara para suster dan keluarga Iskandar mengenai penggunaan tempat, rumah, air, dsb (lampu masih memakai lampu minyak tanah). Untuk memulai hidup membiara di Gamping tersusunlah kelompok kecil yang terdiri atas empat suster yaitu: Sr. Assumpta Kaminem OSC, Sr. Ancilla Muljani OSC, Sr. Bernardine Nyoman Siti OSC dan Sr. Paula Suwartini OSC. Tanggal 7 sampai 10 Agustus 1974 diadakan Triduum oleh P. Vicente Kunrath OPM sebagai persiapan pesta Santa Clara, sekaligus sebagai persiapan bagi keempat suster yang akan berangkat sebagai perintis untuk membuka biara baru di Yogyakarta.

RUMAH SEWA DI GAMPING
Pada tanggal 12 Agustus 1974 diadakan Perayaan Ekaristi meriah dan pengutusan keempat suster yang akan berangkat ke Yogyakarta. Para suster berangkat tanggal 13 Agustus 1974 diantar oleh Ibu Abdis dan beberapa suster. Umat stasi Gamping bersama Rm. Sadji OFM (Pastor stasi), P. Vicente OFM dan para Saudara Dina dari Papringan telah menanti kedatangan para suster di rumah Bapak Iskandar. Diperkirakan sekitar jam 17.00 WIB – 18.00 WIB, rombongan akan tiba. Namun pada jam-jam tersebut rombongan belum juga muncul. Karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya satu demi satu dari mereka yang menanti, pergi meninggalkan tempat itu. Rombongan baru tiba di Gamping jam 20.00 WIB. Mereka terlambat dua jam dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya, karena bapak sopir tidak tahu alamat yang dituju. Yang masih setia menanti adalah: keluarga bapak Iskandar, P. Vicente OFM, P. Sadji OFM dan beberapa umat paroki. Untuk menyatakan syukur dan terima kasih karena telah tiba dengan selamat, maka rombongan suster menyanyikan lagu “Te Deum.”

Pada tanggal 18 Agustus 1974, para suster diterima secara resmi oleh umat paroki Pugeran, karena stasi Gamping termasuk wilayah paroki tersebut. Upacara penerimaan dimulai dengan Perayaan Ekaristi kudus yang dipimpin oleh Rm. Sadji OFM, Romo stasi Gamping. Sejak itu para suster berusaha untuk hidup dalam keadaan yang seadanya saja.

Hidup doa dengan acara-acara doa tentu merupakan hal yang mendasari dan mewarnai kegiatan sehari-hari. Doa ofisi dilakukan bersama kecuali ofisi pagi hari, karena para suster harus mengikuti perayaan Ekaristi di gereja stasi yang jaraknya ditempuh selama 10 menit berjalan kaki. Kadang-kadang ada umat yang mengikuti acara doa suster. Untuk perayaan Ekaristi hari Minggu dan hari raya, mereka pergi ke gereja paroki sehingga dapat juga bertemu dengan umat. Dua kali dalam seminggu ada perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh P. Vicente Kunrath OFM pada waktu sore hari di rumah para suster sehingga umat yang tinggal di sekitarnya dapat ikut merayakan perayaan Ekaristi tersebut. Pada salah satu dari dua hari tersebut, Pater Vicente memberi pelajaran kepada para suster sebelum perayaan Ekaristi. Br. Mulyanto juga turut melayani para suster. Setiap pagi bruder mengambil surat di kantor pos Yogyakarta untuk para suster dan juga membawakan surat dari para suster untuk diposkan karena memang di Gamping belum ada kantor pos.

Hasil dari pekerjaan pokok tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pekerjaan harian dikerjakan oleh para suster sambil membuat makanan kecil untuk dijual sebagai tambahan biaya hidup. Tetapi usaha ini gagal walaupun pada awalnya penjualan itu sangat laris. Kebiasaan orang-orang yang suka berhutanglah yang menyebabkan modal para suster habis.

Lalu mereka menerima pekerjaan konveksi seragam sekolah dari suster OSF — Senopati. Tetapi pekerjaan ini pun tidak dapat bertahan lama karena bersifat musiman yaitu hanya pada permulaan tahun ajaran baru sekolah.

Kesulitan air bersih untuk diminum juga dirasakan oleh para suster. Mereka harus mengangkat air bersih dari sumur pastoran dekat gereja sesudah misa setiap hari. Sedangkan air untuk kebutuhan-kebutuhan lain dapat diambil dari sumur di samping rumah mereka.

PINGGIRAN KOTA
Ketika jangka waktu kontrak rumah di Gamping sudah mulai habis, para suster belum menemukan tempat untuk pindah. Pada saat itu para saudara dina membutuhkan orang yang dapat memasak dan menyediakan makan siang. Para saudara menawarkan tugas ini kepada para suster. Tetapi kesulitan muncul sehubungan dengan jarak Gamping – Papringan yang lumayan jauh. Sangat sulit untuk setiap hari membawa makanan untuk sejumlah besar orang, padahal sarana transportasi tidak memadai (hanya menggunakan sepeda).

Memikirkan hal ini maka para suster memohon kepada Vikep Yogyakarta untuk pindah sedikit masuk di pinggiran kota. Pada tanggal 4 Februari 1976, Bapak Kardinal sacara lisan memberi peluang kepada para sustar untuk mancari kemungkinan tempat baru di dalam kota. Hal itu diberikan ketika Kardinal mengunjungi tempat tinggal para suster di Somodaran-Gamping dan melihat kehidupan mereka yang sungguh-sungguh berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup harian mereka. Pada bulan Juli Sr. Agnes dan Sr. Angelina berangkat ka Somodaran – Gamping dalam rangka mancari rumah di kota Yogyakarta. Akhirnya diperoleh sebuah rumah yang dapat dikontrak selama 2 tahun 3 bulan di Samirono Baru.

Para suster pindah tanggal 26 Juli 1976. Keadaan dan suasana lebih baik di situ. Para suster dapat merayakan Perayaan Ekaristi setiap hari, dipimpin oleh para Saudara Dina dari Papringan. Rumah diberkati tanggal 12 Agustus 1976. Di sinilah Sr. Assumpta serta para suster lain mulai memasak untuk para saudara OFM di Papringan. Sementara tinggal di Samirono para suster tetap mencari tanah yang cocok untuk membangun sebuah biara. Akhirnya atas bantuan Bapak Taryono, para sustar dapat menamukan sebidang tanah di daarah Santran – Mrican yang akan dijual, tepatnya di depan STM Pembangunan.

Pada akhir tahun 1976, para suster membali tanah di daerah Mrican tersebut karena dipandang memenuhi syarat untuk bangunan biara dan harganya pun terjangkau. Demikian pula lokasinya dekat dengan biara para saudara dina di Papringan. Oleh karena itu tanah di Medari dijual untuk manambah uang pembayaran tanah tersebut. Dengan bantuan Bapak Taryono dan Bapak Ong (yang waktu itu sedang membangun biara Papringan) transaksi jual – beli tanah dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Maka rencana pembangunan biara segera dimulai. Sr. Yacinta OSC sangat berperan dalam hal ini, karena beliau pintar dan ulet dalam mengurus rencana pembangunan tersebut, terlebih dalam mengatur dan mendampingi para karyawan yang membangun biara itu. Suster dibantu dah Bapak Ong sebagai ahli bangunan, Bapak Susilo sebagai pemborong. Bapak Tikno, Bapak Ari dan Bapak Taryono bertiga sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan biara setiap hari.

Pembangunan biara Santren ini dimulai pada tanggal 23 Mei 1978 dengan peletakan batu pertama oleh Vikaris Episkopalis Yogyakarta, Romo Wirjodarmojo PR, didampingi oleh Sr.Yacinta. Ruang Clara mulai dibangun pada tanggal 24 Juni 1980, dan mulai dipakai untuk rapat pleno OFM pada tanggal 30 September, walaupun belum selesai dibangun. Pembangunan ruangan ini selesai pada bulan Oktober.

Para suster mulai mendiami biara baru tersebut pada tanggal 30 Oktober 1978, walaupun bangunan biara masih belum selesai seluruhnya (Ruang hosti misalnya baru mulai dibangun pada bulan November). Hal ini disebabkan karena masa kontrakan rumah di Samirono sudah habis dan para suster memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrakan rumah itu. Pembangunan biara Santren baru meliputi beberapa kamar dan ruang tamu sehingga ruang tamu menjadi dwi fungsi, sebagian ruangan untuk kapel dan sebagian lagi untuk menerima tamu. Ada juga beberapa kamar untuk para suster lengkap dengan kamar mandi, wc dan sumur. Salah satu kamar dipakai untuk dapur. Karena pembangunan belum selesai, maka masih ada kebocoran bila hujau turun.

Pada waktu itu acara harian tetap berjalan seperti biasa (Perayaan Ekaristi, Ibadat Harian, Pelajaran dari Saudara Dina). Dalam Perayaan Ekaristi para suster melibatkan umat lingkungan dan para Saudara Dina (koor, organis, pemazmur dan pembaca). Umat juga membantu para suster (tenaga, biaya) dalam menyediakan kursi dan tenda untuk perayaan liturgi hari besar. Para suster (Sr. Yacinta dibantu Sr. Ancilla) sudah mulai menerima pesanan pembuatan pakaian liturgi dan jubah untuk para religius sebagai mata pencaharian. Oleh karena itu para suster mulai mengurangi pelayanan kepada para saudara dina (yaitu menyediakan makanan untuk mereka). Mereka juga menjual hasil kebun (buah rambutan, singkong) kepada masyarakat di sekitar biara.

Setelah pembangunan selesai seluruhnya, maka tibalah waktunya biara diberkati. Para novis Saudara Dina dari Papringan turut serta dengan rela ikut membersihkan bangunan biara baru tersebut sebelum diberkati. Semua suster dari Pacet berangkat untuk menghadiri upacara pemberkatan beberapa hari sebelumnya. Mereka meminjam mobil VW Combi dari Kramat dan menginap di susteran SDN – Pekalongan. Keesokan harinya mereka mampir di biara para suster AK – Ungaran untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta – Mrican. Demikianlah dalam rangka peresmian biara, pada tanggal 12 Desember 1979, sejak pukul 08.00 pintu biara telah dibuka untuk setiap tamu yang mau melihat-lihat keadaan seluruh biara, juga bagian klausura. Pada pukul 10.00 WIB dimulailah upacara peresmian biara yang dipimpin oleh Vikaris Episkopalis Yogyakarta dan didampingi oleh Mgr. Geise OFM. Para tamu yang haclir pada waktu itu adalah para wakil kepala desa, umat sebagai wakil dari paroki, biarawan-biarawati, dan sanak keluarga para suster yang tinggal di dekat biara Santren itu. Acara dimulai dengan pembukaan selubung penutup nama biara yang baru yaitu Biara Santa Clara, diiringi lagu “Clara Tunas Fransiskus.” Selubung tersebut dibuka oleh Sr. Ancilla. Demikianlah secara resmi kehadiran para suster Claris di Yogyakarta dikukuhkan dan diakui oleh samua yang hadir.

TAHUN 1991 – 2009
Pada tahun 1991 ada pergantian anggota biara Santren, dan hal ini juga mempengaruhi kehidupan liturgi para suster, khususnya dalam perayaan Ekaristi. Ada perubahan dalam tugas-tugas liturgi, antara lain dengan mengurangi keterlibatan umat dalam tugas-tugas tersebut. Ini disebabkan karena selama itu para suster sangat disibukkan dalam mencari para petugas liturgi dari luar. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pater Leo Laba Ladjar (Minister Provinsi) menganjurkan kepada para suster untuk memilih beberapa kelompok yang bertugas secara tetap di kapel Santa Clara. Para suster menerima anjuran beliau dan melaksanakan hal itu sampai sekarang (2009).

Pelayanan rohani dari Saudara Dina tetap berjalan dengan baik (pelajaran, perayaan ekaristi, dan lain-lain). Bila mereka berhalangan dalam melayani perayaan Ekaristi, maka mereka mencari imam pengganti dari tarekat lain (misalnya SCJ, OMI, Kapusin, Praja, SJ).

Pada periode 1996 – 2002, anggota biara terdiri dari 4 saudari. Pada masa ini dilakukan banyak perbaikan di biara Santa Clara Santren, antara lain: perbaikan langit-langit seluruh rumah biara, membuat pagar di samping kiri kapel sebagai pembatas dengan tanah tetangga sebelah, membuat atap teras depan kapel, dan lain-lain. Pada masa ini juga ada dua saudari yang diberi kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris dari Sdr. Micho, seorang pengajar LIA selama 6 bulan, lalu dilanjutkan. Oleh Ibu Hartini selama 6 bulan. Tahun 2000, Sr. Caecilia (anggota biara Pacet) datang untuk kuliah sebagai mahasiswi pendengar selama satu tahun di FTW – Kentungan.

Pada periode 2002 – 2005, jumlah anggota biara terdiri dari 5 saudari sehingga pada waktu ini, satu saudari (Sr. Theresia) dapat mengikuti kuliah sebagai mahasiswi pendengar/auditor di Kentungan.

Pelayanan rohani dari para saudara dina berlangsung terus, antara lain pelajaran dari P. Alfons Suhardi OFM tentang Spiritualitas Fransiskan – Clarian, AMR (relaksasi meditasi penyadaran) dan Perayaan Ekaristi, Sakramen Tobat.

Para suster melakukan banyak perbaikan dan penataan rumah, antara lain: memperbaiki tempat mencuci pakaian, membangun tempat jemuran pakaian, membangun tempat istirahat bagi seorang karyawan kebun, menambah dua ruangan Yang berfungsi sebagai tempat menyetrika dan gudang, membuat rolling door di serambi samping sakristi sabagai batas klausura, membangun kamar mandi/wc untuk tamu, dan menambah tinggi dinding pagar pembatas biara bagian belakang karena tetangga telah meninggikan tanah mereka sehingga pagar biara menjadi rendah, sehingga orang mudah masuk ke kelompok biara.

Para suster mulai menerima pekerjaan untuk menjahit pakaian liturgi secara intensif karena pesanan dari biara Pacet (kerja sama) dan dari biara Santren sendiri. Tugas ini dipercayakan kepada Sr.Elisabath yang talah trampil dalam bidang ini, karena ia telah mengikuti kursus privat (2003/2004). Mereka juga menerima para religius yang rnau mengadakan retret pribadi di biara Santren.

PENGALAMAN PARA SUSTER YANG PERNAH TINGGAL DI BIARA SANTREN
Berikut ini cuplikan tulisan beberapa suster biarawati yang pernah tinggal di biara Santren – Yogyakarta:

Para anggotanya mengalami dan mengakui bahwa di satu pihak luas lokasi biara tidak mencukupi untuk mewujudkan kehidupan kontemplatif udara yang panas, suasana sakitar biara yang sudah ramai (thn 2000). Tetapi di lain pihak, dalam keadaan demikian para anggota biara tetap mengusahakan hidup doa dangan baik, umat masih merasakan kenyamanan biara (sejuk, hening dan tenang).

Relasi dangan para saudara dina masih berlangsung dangan baik dalam hal liturgi, palajaran dan urusan profan (mencarikan buku-buku, tanaman untuk hiasan kapel dan keperluan rumah tangga, serta membayar tagihan listrik/telepon).

Relasi dengan umat berlangsung baik (konsultasi, mendoakan mereka), karena mereka mengalami dan mengimani bahwa permohonan mereka terkabul atas bantuan Bunda Maria dan St.Clara lewat doa-doa para suster.

Para religius yang lain, khususnya KEKANTA (Keluarga Fransiskan/Fransiskanes Yogyakarta) dengan sukarela membantu para suster dalam hal liturgi. Para suster terbuka menjalin relasi dengan umat beragama lain. Kadang para suster menerima para rnahasiswa-mahasiswi IAIN yang datang mengunjungi biara Santren dengan maksud untuk mengenal hidup kontemplatif dalam rangka studi banding tentang agarna. Pemah terjadi bahwa para mahasiswa ini mengikuti Perayaan Ekaristi atas ijin dari P. C. Groenen OFM.

Relasi dengan masyarakat sekitar terjalin baik, dan sampai sejauh ini para suster belum pernah mengalami masalah dengan mereka. Kehadiran biara di Yogyakarta ini memberi kesempatan kepada umat untuk lebih mengenal kehidupan suster-suster Claris, khususnya bagi para pemudi yang berminat untuk menjadi pengikut Kristus dalam semangat Santa Clara dari Assisi.

SELAYANG PANDANG OSC YOGYAKARTA
(Oleh Sr. Margaretha, OSC)

Mengenang penuh syukur 75 tahun OSC di Indonesia, kami kawanan kecil di biara St. Clara – Santren, Yogyakarta yang saat ini beranggotakan 4 suster profesi mariah, tak henti-hentinya bersyukur atas penyertaan Allah dalam perjalanan Ordo kami, dari awal kedatangannya di Indonesia dan kehadirannya di Keuskupan Agung Semarang.

Dalam melanjutkan hidup kontemplatif seturut semangat Santa Clara di jaman ini, maka acara harian kami adalah:
04.15 Ibadat bacaan, dilanjutkan meditasi
05.15 Ibadat pagi
05.45 Angelus
05.55 Perayaan ekaristi
06.45 Makan, kerja tangan
11.45 lbadat siang, rekreasi bersama
12.00 Angelus, makan siang, melanjutkan pekerjaan, istirahat siang
16.30 Ibadat sore, devosi bersama, bacaan rohani
18.00 Angelus, makan sore, rekreasi bersama
20.00 Ibadat penutup
Catatan: setiap Hari Jumat tidak ada rekreasi.

Biara St. Clara Santren termasuk ke dalam paroki St. Yohanes Rasul – Pringwulung. Di paroki ini terdapat 24 biara dari berbagai tarekat religius. Setiap pagi ada perayaan ekaristi di kapel kami yang dilayani oleh para saudara dina dan diikuti oleh umat sekitar biara dan juga para religius. Liturgi pada hari Minggu dan pada hari-hari Raya dibantu oleh kaum religius dan umat awam sehingga perayaan ekaristi menjadi semarak dan hikmat. Tradisi novena St. Antonius dari Padua dilaksanakan pada setiap hari Selasa dalam perayaan ekaristi-sepanjang tahun, kecuali pada masa oktaf natal dan oktaf paskah.

Devosi ini diprakarsai oIeh Sdr. Martin Sardi OFM beberapa tahun yang lalu dan tetap berlangsung sampai sekarang. Banyak umat menghadiri novena tersebut. Pada hari pesta St. Antonius Padua, tanggal 13 Juni ada tradisi “roti Antonius.” Pada saat itu umat membawa roti yang dipersembahkan di depan Altar selama perayaan Ekaristi berlangsung, kemudian diberkati oleh Imam. Setelah perayaan Ekarlsti selesai, roti-roti tersebut dlsantap bersama oleh umat di halaman depan biara. Biasanya yang hadir pada hari pesta St.Antonius ini kurang lebih 75 orang.

Perayaan Ekaristi pada hari Minggu dihadiri sekitar 200 orang, dan pada hari biasa kurang lebih 30 orang. Perayaan Ekaristi akan dihadiri banyak pelajar dan mahasiswa menjelang hari-hari ujian dan ulangan. Para religius masih sering memakai biara kami untuk mengadakan retret-retret pribadi sambil mengikuti acara doa kami. Para tamu yang minta didoakan dan yang berkonsultasi dengan kami adalah sangat bervariasi (palajar, mahasiswa-mahasiswi, pagawai, pasutri). Ada juga para pelajar SMU (bukan hanya dari sekolah Katolik saja) yang mau mengenal cara hidup kami. Mereka datang secara berkelompok dalam rangka menyelesaikan tugas mata pelajaran Religiositas. Kelompok-kelompok mahasiswa-mahasiswi lintas agama berkunjung untuk berdialog dengan kami. Relasi kami dengan masyarakat sekitar (RT, RW dan tetangga non Katolik) tidak ada masalah. Mereka bisa menerima dan memahami kami sebagai religius kontemplatif.

Untuk menjaga keseimbangan hidup rohani dan jasmani, kami melakukan pekerjaan tangan dengan berkebun kecil-kecilan, menanam sayuran, tanaman hias, memelihara kebersihan dan penghijauan biara. Kami juga menerima pesanan pakaian perlengkapan liturgi. Demikianlah sharing pengalaman hidup kami dari kawanan kecil biara Santa Clara, Santren – Yogyakarta.

Tugas-tugas Para Suster di Biara Santa Clara Yogyakarta
1. Sr. Margaretha : Penanggung Jawab
2. Sr. Anna : Dapur, Paramentik
3. Sr. Theresia : Kosteres
4. Sr. Koleta : Kebun, Humas

FOTO-FOTO

Pemberkataan biara OSC di Yogyakarta 1979

Pemberkataan biara OSC di Yogyakarta 1979

Pemberkataan biara OSC di Yogyakarta 1979

Pemberkataan biara OSC di Yogyakarta 1979

Pemberkataan biara OSC di Yogyakarta 1979

Pemberkataan biara OSC di Yogyakarta 1979

Saat berdoa bersama

Saat berdoa bersama

Foto bersama 2002. Ki-ka: Sr.Theresia, Sr.Laurensia, Sr.Elfrida, Sr.Immaculata, Sr. Elizabeth, Sr.Helena

Foto bersama 2002. Ki-ka: Sr.Theresia, Sr.Laurensia, Sr.Elfrida, Sr.Immaculata, Sr. Elizabeth, Sr.Helena

Foto tanggal 9 Januari 2002

Foto tanggal 9 Januari 2002

Suster novis dan yunior berkunjung ke Biara St.Clara Yogyakarta 2008

Suster novis dan yunior berkunjung ke Biara St.Clara Yogyakarta 2008

Ki-ka: Sr.Koleta, Sr.Margaretha, Sr.Anna, Sr.Theresia

Ki-ka: Sr.Koleta, Sr.Margaretha, Sr.Anna, Sr.Theresia