5. Biara OSC di Yogyakarta

09/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 12.042 kali

PINGGIRAN KOTA
Ketika jangka waktu kontrak rumah di Gamping sudah mulai habis, para suster belum menemukan tempat untuk pindah. Pada saat itu para saudara dina membutuhkan orang yang dapat memasak dan menyediakan makan siang. Para saudara menawarkan tugas ini kepada para suster. Tetapi kesulitan muncul sehubungan dengan jarak Gamping – Papringan yang lumayan jauh. Sangat sulit untuk setiap hari membawa makanan untuk sejumlah besar orang, padahal sarana transportasi tidak memadai (hanya menggunakan sepeda).

Memikirkan hal ini maka para suster memohon kepada Vikep Yogyakarta untuk pindah sedikit masuk di pinggiran kota. Pada tanggal 4 Februari 1976, Bapak Kardinal sacara lisan memberi peluang kepada para sustar untuk mancari kemungkinan tempat baru di dalam kota. Hal itu diberikan ketika Kardinal mengunjungi tempat tinggal para suster di Somodaran-Gamping dan melihat kehidupan mereka yang sungguh-sungguh berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup harian mereka. Pada bulan Juli Sr. Agnes dan Sr. Angelina berangkat ka Somodaran – Gamping dalam rangka mancari rumah di kota Yogyakarta. Akhirnya diperoleh sebuah rumah yang dapat dikontrak selama 2 tahun 3 bulan di Samirono Baru.

Para suster pindah tanggal 26 Juli 1976. Keadaan dan suasana lebih baik di situ. Para suster dapat merayakan Perayaan Ekaristi setiap hari, dipimpin oleh para Saudara Dina dari Papringan. Rumah diberkati tanggal 12 Agustus 1976. Di sinilah Sr. Assumpta serta para suster lain mulai memasak untuk para saudara OFM di Papringan. Sementara tinggal di Samirono para suster tetap mencari tanah yang cocok untuk membangun sebuah biara. Akhirnya atas bantuan Bapak Taryono, para sustar dapat menamukan sebidang tanah di daarah Santran – Mrican yang akan dijual, tepatnya di depan STM Pembangunan.

Pada akhir tahun 1976, para suster membali tanah di daerah Mrican tersebut karena dipandang memenuhi syarat untuk bangunan biara dan harganya pun terjangkau. Demikian pula lokasinya dekat dengan biara para saudara dina di Papringan. Oleh karena itu tanah di Medari dijual untuk manambah uang pembayaran tanah tersebut. Dengan bantuan Bapak Taryono dan Bapak Ong (yang waktu itu sedang membangun biara Papringan) transaksi jual – beli tanah dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Maka rencana pembangunan biara segera dimulai. Sr. Yacinta OSC sangat berperan dalam hal ini, karena beliau pintar dan ulet dalam mengurus rencana pembangunan tersebut, terlebih dalam mengatur dan mendampingi para karyawan yang membangun biara itu. Suster dibantu dah Bapak Ong sebagai ahli bangunan, Bapak Susilo sebagai pemborong. Bapak Tikno, Bapak Ari dan Bapak Taryono bertiga sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan biara setiap hari.

Pembangunan biara Santren ini dimulai pada tanggal 23 Mei 1978 dengan peletakan batu pertama oleh Vikaris Episkopalis Yogyakarta, Romo Wirjodarmojo PR, didampingi oleh Sr.Yacinta. Ruang Clara mulai dibangun pada tanggal 24 Juni 1980, dan mulai dipakai untuk rapat pleno OFM pada tanggal 30 September, walaupun belum selesai dibangun. Pembangunan ruangan ini selesai pada bulan Oktober.

Para suster mulai mendiami biara baru tersebut pada tanggal 30 Oktober 1978, walaupun bangunan biara masih belum selesai seluruhnya (Ruang hosti misalnya baru mulai dibangun pada bulan November). Hal ini disebabkan karena masa kontrakan rumah di Samirono sudah habis dan para suster memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrakan rumah itu. Pembangunan biara Santren baru meliputi beberapa kamar dan ruang tamu sehingga ruang tamu menjadi dwi fungsi, sebagian ruangan untuk kapel dan sebagian lagi untuk menerima tamu. Ada juga beberapa kamar untuk para suster lengkap dengan kamar mandi, wc dan sumur. Salah satu kamar dipakai untuk dapur. Karena pembangunan belum selesai, maka masih ada kebocoran bila hujau turun.

Pada waktu itu acara harian tetap berjalan seperti biasa (Perayaan Ekaristi, Ibadat Harian, Pelajaran dari Saudara Dina). Dalam Perayaan Ekaristi para suster melibatkan umat lingkungan dan para Saudara Dina (koor, organis, pemazmur dan pembaca). Umat juga membantu para suster (tenaga, biaya) dalam menyediakan kursi dan tenda untuk perayaan liturgi hari besar. Para suster (Sr. Yacinta dibantu Sr. Ancilla) sudah mulai menerima pesanan pembuatan pakaian liturgi dan jubah untuk para religius sebagai mata pencaharian. Oleh karena itu para suster mulai mengurangi pelayanan kepada para saudara dina (yaitu menyediakan makanan untuk mereka). Mereka juga menjual hasil kebun (buah rambutan, singkong) kepada masyarakat di sekitar biara.

Setelah pembangunan selesai seluruhnya, maka tibalah waktunya biara diberkati. Para novis Saudara Dina dari Papringan turut serta dengan rela ikut membersihkan bangunan biara baru tersebut sebelum diberkati. Semua suster dari Pacet berangkat untuk menghadiri upacara pemberkatan beberapa hari sebelumnya. Mereka meminjam mobil VW Combi dari Kramat dan menginap di susteran SDN – Pekalongan. Keesokan harinya mereka mampir di biara para suster AK – Ungaran untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta – Mrican. Demikianlah dalam rangka peresmian biara, pada tanggal 12 Desember 1979, sejak pukul 08.00 pintu biara telah dibuka untuk setiap tamu yang mau melihat-lihat keadaan seluruh biara, juga bagian klausura. Pada pukul 10.00 WIB dimulailah upacara peresmian biara yang dipimpin oleh Vikaris Episkopalis Yogyakarta dan didampingi oleh Mgr. Geise OFM. Para tamu yang haclir pada waktu itu adalah para wakil kepala desa, umat sebagai wakil dari paroki, biarawan-biarawati, dan sanak keluarga para suster yang tinggal di dekat biara Santren itu. Acara dimulai dengan pembukaan selubung penutup nama biara yang baru yaitu Biara Santa Clara, diiringi lagu “Clara Tunas Fransiskus.” Selubung tersebut dibuka oleh Sr. Ancilla. Demikianlah secara resmi kehadiran para suster Claris di Yogyakarta dikukuhkan dan diakui oleh samua yang hadir.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7

3 komentar pada 5. Biara OSC di Yogyakarta

  1. Veronica Majaboeboen
    28/06/2013 at 17:59

    Kami mohon Suster2 mendoakan anak kami Titania untuk penyembuhan dan dibebaskan dari kekuasaan jahat dan roh2 iblis. Anak kami sdh berbaring 10 hr ci ICU. Atas doa2nya kami ucapkan banyak terima kasih kepada suster2.

  2. fransiska yola
    12/12/2011 at 16:51

    salam untuk suster-suster biara St.Clara,,
    saya yola suster, jadi kangen sama suster-suster di jogja setelah liat foto-foto ini
    suster sehat-sehat saja kan??

    • Framinor
      12/12/2011 at 17:23

      Shalom Saudari Yola,
      pesan Anda sudah diteruskan kepada para suster Klaris. FYI, para suster Klaris yang bertugas di Yogyakarta saat ini adalah:
      1. Sr. Anna (sebagai Penanggung Jawab)
      2. Sr. Caspara (sebagai wakil dan kosteres)
      3. Sr. Koleta (bag. dapur)
      4. Sr. Magdalena (bag. kebun)

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *