3. Para Pengikut Awal

06/06/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.658 kali
Bernardo mengintip Fransiskus berdoa

Bernardo mengintip Fransiskus berdoa

Hanya butuh beberapa minggu, Fransiskus dengan gembira menerima saudara-saudaranya yang pertama di Porziuncola. Yang pertama dari antara mereka adalah Bernardo Quintavalle, seorang muda kaya dari Assisi. Ia mengundang Fransiskus ke rumahnya untuk makan malam (rumah itu sampai saat ini masih ada). Pada saat bermalam di rumahnya itulah Bernardo menyadari bahwa Fransiskus alih-alih tidur malahan berdoa sepanjang malam. Keesokan paginya, Bernardo mengambil keputusan besar. Bersama dengan Fransiskus, ia pergi ke Gereja San Nicolo yang terletak di tengah kota dan bersama mereka mencari tahu dari Injil apa kehendak Tuhan atas dirinya. Selama tiga kali mereka membukanya dan menemukan tiga perikop berikut ini : “Jika kamu ingin menjadi sempurna, pergi dan jual segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin dan kamu akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari, ikutlah Aku !” (Mat. 19:21) “Jangan membawa bekal dalam perjalanan. ” (Luk. 9:3) “Jika engkau ingin mengikuti-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk. 9 : 23). Bacaan-bacaan Injil inilah yang menjadi dasar awal peraturan gerakan penginjilan yang diprakarsai Fransiskus. April 1208, dua orang lagi bergabung bersama dengan Fransiskus dan Bernardo. Mereka adalah Pietro Cattani, seorang pengurus gereja Katedral dan Egidius yang bergabung dengan Fransiskus pada 23 April. Tak lama setelah bergabung, mereka berdua pergi untuk berkotbah. Fransiskus dan Egidius pergi ke Marches Ancona.

Persaudaraan kecil ini semakin bertambah anggotanya. Pada musim gugur 1208, para saudara pergi berkotbah di bukit Rieti. Mereka berhenti di desa kecil bernama Poggio Bustone, dimana Fransiskus memberikan salam kepada umat dengan kalimat “buon giorno, buona gente” (selamat berjumpa, orang-orang yang baik). Di dalam doa yang sangat khusuk Fransiskus merasakan rekonsiliasi dan pengampunan yang sangat dalam dengan dirinya sendiri.

Di tahun 1209 Fransiskus menuliskan peraturan hidup yang singkat untuk para saudaranya. Peraturan hidup itu terutama tersusun dari teks-teks Injil seperti tiga perikop Injil yang sudah disebutkan sebelumnya. Dia dengan semangat memutuskan membawa kelompoknya ke Roma untuk berjumpa dengan Paus Inosentius III dan meminta pengesahan atas cara hidup yang dilakukannya. Ini adalah tindakannya yang berani. Inosentius III tentu menaruh curiga pada kelompok-kelompok pengkotbah awam – seperti Fransiskus dan kelompoknya. Dia sudah cukup banyak menyaksikan kelompok-kelompok seperti ini, dan sebagian besar akhirnya mengarah ke heretik. Mereka mengkotbahkan Injil dan bahkan nilai-nilai Injili dalm posisi bertentangan dengan lembaga hirarki – yang mereka tuduh dalam kotbahnya sebagai tak bermoral dan melakukan beragam praktek skandal. Saat itu ada banyak sekte heretik, khususnya di wilayah selatan Perancis dan Italia utara. Yang paling berbahaya adalah kaum Cathari/Katar. Kaum awam nampaknya berada diatas angin terhadap lembaga-lembaga gereja. Namun demikian, Innosentius III adalah seorang politikus yang cerdas dan pada saat yang sama juga adalah seorang pemimpin tertinggi Gereja. Setelah mengatasi banyak keragu-raguan terhadap sekelompok pengemis ini yang dihadirkan di hadapannya oleh Kardinal Giovanni Colonna dari San Paolo, ia memutuskan bahwa Fransiskus adalah instrumental dalam hal pembawa bentuk baru yang menjembatani kaum awam dan klerus, tanpa ada bahaya jatuh ke dalam heretik. (Paus inilah yang diyakini dalam tradisi fransiskan sebagai paus yang bermimpi melihat Fransiskus menyokong Gereja dengan pundaknya). Jadi Inosentius III secara lisan mengesahkan Anggaran Dasar dan cara hidup Ordo Saudara-saudara Dina – sebagaimana Fransiskus menyebut para saudaranya dalam keyakinan kuat bahwa mereka harus hidup sebagai saudara sejati dan “minores” sejati seperti yang ditunjukkan oleh Kristus dan para rasulnya; dengan kata lain hidup MENURUT INJIL TUHAN KITA YESUS KRISTUS.

Dengan penuh sukacita kelompok dua belas saudara ini kembali ke Assisi. Dalam perjalanan ke sana mereka menetap sebentar di Rivo Torto, yang berjarak cukup jauh dari Porziuncola. Di tempat itu mereka tinggal selama beberapa bulan dalam kemiskian yang sangat ekstrim. Suatu hari, iring-iringan kaisar-terpilih yaitu Otto IV melewati jalan di depan gubuk mereka untuk menuju Roma agar dimahkotai oleh Paus. Fransiskus mengutus seorang saudara untuk mengingatkan kepadanya bahwa kemuliaannya hanya akan berumur singkat. Saudara tersebut tentu saja dihalangi dan dicegah oleh para pengawal kaisar, namun ia cukup bahagia telah menjalankan tugas tersebut. Sewaktu seorang petani dengan kasar merebut gubuk para saudara tersebut menetap, Fransiskus dan kelompoknya memberikan gubuknya dan meninggalkan Rivo Torto – kembali ke Porziuncola.

Salah satu ciri khas yang patut dicatat mengenai Fransiskus dan gerakannya adalah keterbukaannya terhadap dialog universal. Fransiskus ingin sekali berjumpa dengan para heretik, kaum muslim, kaum buangan. Di tahun 1211 dia menuju ke tempat kaum muslim. Impian lamanya tentang keksatriaan dan kemulian bersama para pejuang sekarang diganti menjadi keinginan untuk menjadi bentara pembawa damai bagi kaum muslim. Namun rencananya saat ini gagal. Kapal yang ditumpanginya terjebak badai dan hancur di pinggir pantai Dalmatia. Fransiskus harus kembali ke Ancona dengan kapal lain.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *