3. Merunut Ke Belakang: Sebelum Para Suster Claris Sampai Ke Indonesia

09/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 4.875 kali

ZAMAN PERANG
Delapan tahun lamanya para suster Claris ini menikmati suasana hidup tenang dan damai. Tetapi keadaan ini tidak dapat dipertahankan lebih lama, karena pada tahun 1942 tentara Jepang menduduki Indonesia. Perang itulah yang merongrong kehidupan mereka. Suasana tegang terasa dimana-mana: perampokan, penganiayaan, penangkapan dan seribu-satu kejahatan perang. Kekejaman itupun sempat menerobos benteng pertahanan biara. Semua suster yang berkewarganegaraan Belanda diciduk dan dimasukkan kamp. Yang tertinggal hanyalah beberapa suster pribumi. Penderitaan lahir batin bertambah lagi karena tidak adanya kontak antara yang dibawa pergi dan yang ditinggal. Baru setelah zaman kemerdekaan, ada sedikit harapan baru. Semua suster yang dimasukkan kamp selama pendudukan Jepang dibebaskan. Namun demikian suasana tenang dan aman belum bisa diciptakan secara menyeluruh. Kebencian bangsa Indonesia terhadap orang-orang Belanda tetap ada dimana-mana. Para suster pun merasa masih b/em elum aman.

Setelah para suster Claris dibebaskan dan boleh meninggalkan kamp, mereka menumpang di rumah para saudara dina di Kramat Raya 134. Meskipun sekarang dapat tinggal di rumah yang agak aman, tetapi hati mereka sangat cemas akan nasib saudari-saudari yang masih tertinggal di biara Alverna. Karena itu, atas resiko sendiri, di bawah desingan peluru, dua orang suster yakni Sr. Caecilia Koopen dan Sr. Agnes Bouwman disertai oleh dua Saudara Dina yakni Pater Teepe dan Pater Terhel berangkat ke biara Alverna untuk menemui para suster di sana. Dengan naik kereta api, dalam suasana tegang mencengkam, akhirnya mereka tiba juga di Cicurug dengan selamat.

Betapa menggembirakan pertemuan ini, dan sangat mengharukan setelah sekian lama tidak pernah mendengar berita dan tidak pernah bertemu. Namun keadaan belum sungguh-sungguh aman. Karena gangguan tentara rakyat terus-menerus, maka oleh palang merah para suster diangkut ke kamp di Sukabumi dengan truk. Ketika tentara rakyat akan menyerang dan mau membakar kamp Sukabumi, pemerintah Inggris mengambil tindakan.

Semua tahanan diangkut dengan konvoi ke tangsi militer Bogor. Kemudian para suster akan dikembalikan ke kamp perlindungan di Jl. Kramat Raya 134 lagi. Ketika keadaan menjadi lebih aman, mereka boleh keluar. Betapa senang dan gembira! Keinginan hati mau segera kembali ke biara dan tinggal di Cicurug yang sunyi dan sepi, menjalankan dan membangun hidup doa dan semadi.

Namun apa daya, kekecewaan tetap menyertai rnereka. Dengan hati pilu, air mata mengalir, mereka menyaksikan atap biara yang hampir runtuh. Tak mungkin mereka tinggal di situ. Merekapun mencari rumah pondokan di Sukabumi, sambil memperbaiki sedikit demi sedikit biara sendiri. Untung belum dapat diraih, kemalangan masih menghadang. Harapan yang besar untuk dapat menghuni kembali biara yang sedikit demi sedikit diperbaiki ternyata tak terpenuhi. Biara yang hampir berdiri kembali ini disapu habis oleh tentara rakyat dengan membakarnya. Maka habis pulalah riwayat biara Alverna. Yang tinggal hanyalah puing-puingnya!

Tetapi Tuhan tidak meninggalkan mereka. Di tengah kesedihan, Tuhan memberi penghiburan kepada mereka dengan menganugerahkan seorang puteri kecil yang datang dari Surakarta. Atas penyelenggaraan Ilahi yang luar biasa puteri yang berangkat bersama Sr. Melani OSU dan tiga calon untuk Ordo Ursulin ini bertemu dengan Mgr. N. Geise, OFM yang kemudian menghantarnya kehadapan Ibu Abdis. Dialah puteri pribumi pertama yang bergabung menjadi suster Claris. Puteri itu bernama Aloysia Soemarni yang kemudian mengambil nama biara Sr. Yosepha. Beliau diterima sebagai postulan di Bunut, Sukabumi. Suster pribumi pertama ini meninggal pada tanggal 14 Februari 1983.

Pages: 1 2 3 4 5

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *