3. Merunut Ke Belakang: Sebelum Para Suster Claris Sampai Ke Indonesia

09/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 4.873 kali

9 Desember 1934: Hari Berdirinya Ordo Santa Clara Di Indonesia
Pukul 04.00 kapal “TAJADUN“ yang mereka tumpangi masuk pelabuhan Tanjung Priok. Di daratan sudah menunggu Pater Superior, Pater Victorius Beekman OFM dan beberapa ibu dari ordo III. Dari sana mereka dihantar ke Jalan Kramat Raya 134 untuk bersyukur kepada Tuhan di kapel biara, atas keselamatan perjalanan mereka dengan melambungkan TE DEUM. Sesudah disambut dan berkenalan dengan beberapa Suster dan Pater, mereka berangkat ke Cicurug, tempat yang telah dirindukan dan segera ingin disaksikan dan didiami. Akan tetapi biara itu belum rampung seluruhnya, maka untuk sementara mereka boleh menumpang di biara tempat peristirahatan para Suster Ursulin: biara “Padua” di Cicurug. Di biara Ursulin ini Mgr. Willekens SJ, Vicaris Apostolik Jakarta menerima mereka secara resmi melalui surat yang dibacakan:

“Yang terhormat: Paduka Moeder dan para Suster
Dengan hati yang hangat kami sampaikan selamat datang di Jawa Barat!
Jawa Barat adalah daerah suku Sunda; di Vikaria Jakarta sendiri ada sekitar 4 juta orang jelaslah tugas utama hidup anda yang baru ini adalah: berdoa, bekerja dan mempersembahkan hidup anda demi keselamatan orang-orang Sunda..
Apa kiranya yang menghalangi turunnya rahmat Tuhan? …
Kekurangan apa gerangan yang ada pada kita maupun pada mereka yang mungkin masih harus kita ubah atau tambahkan untuk mempercepat turunnya rahmat?

Para Suster yang terhormat,
Kami sudah mencari jawaban tetapi belum menemukannya, dan seandainyapun kami menemukannya kita toh masih mohon kepada Tuhan agar melimpahkan rahmat-Nya, karena jutaan jiwa masih harus diselamatkan, yang masih menghadapi hambatan di perjalanan. Dan adalah suatu kenyataan sejarah, bahwa Pemerintah Belanda berabad-abad lamanya menolak pewartaan iman katolik di daerah ini. Kita termasuk orang-orang Belanda itu. Karena itu patutlah kalau kita pertama-tama sedapat mungkin menebus kesalahan dan kekurangan-kekurangan yang telah dilakukan oang-orang kita itu. Marilah kita mencoba memberi silih atas kesalahan-kesalahan yang talah mereka perbuat terhadap mampelai Kristus di dunia ini, yaitu Bunda Gereja Kudus.

Para Suster yang terhormat,
Kami berharap, bahwa kami dalam waktu dekat akan dapat mengunjungi anda di biara anda yang baru. Dan sekali lagi kami ingin menekankan apa yang telah kami sebutkan di atas: Adalah tugas kami untuk menegaskan hal tersebut di atas, baik kepada masing-masing maupun kepada seluruh kelompok anda. Karena kabaikan dan usaha para Pater Fransiskan, anda sekarang mengambil salah satu bagian dalam karya misioner dalam wilayah vikaria ini. Maksud dan harapan para Pater Fransiskan adalah memasukkan tenaga-tenaga baru yang bermutu ka dalam pasukan kecil balatentara Kristus di daerah Sunda ini.

Bimbingan yang akan mereka berikan kepada anda, sekaligus akan menunjukkan tugas anda. Sekali lagi: SELAMAT DATANG dan mohon DOA!

Dalam Kristus,
P. Willekens, SJ (Vic. Ap. Jakarta)

10 Maret 1935: Pemberkatan Biara Claris Cicurug”

Inilah hari penting bagi Fransiskan di Indonesia, terutama di Jawa. Pada hari itu biara “ALVERNA” para sustar Claris di Cicurug diberkati 0lah Mgr. Petrus Willekens, SJ. Vic. Ap. Jakarta. Pada hari sebelumnya beliau beserta P. J. Janssens, SJ – sekretaris, telah tiba di Cicurug. Beliau berdua disambut oleh P. F. Schneiders, OFM, Superior Regularis dan P. J. Van Maar dan bermalam di wisma retret.

Minggu pagi pukul 05.30 acara dimulai dengan pemberkatan batu Altar. Pada pukul 07.30 acara pemberkatan kedua kapel biara luar dan dalam. Mgr.Willekens didampingi P. Janssen dan P. F. Schneiders, berjalan di depan, kemudian para suster Claris mengikuti di belakang mereka. Pada pukul 08.00 Monsigneur memimpin perayaan Ekaristi didampingi oleh P. Janssens dan P. Schneiders. Pada pukul 10.00 dimulai acara pemberkatan seluruh biara. Acara diawali dengan penjemputan Monsigneur dari rumah retret oleh barisan rohaniwan dengan meriah antara lain: P. Janssen – pater Superior, P. Victorius Beekman – konsiliaris, P. Laurentius Teepe – konsiliaris, Dr. Van Asseldonk – Superior Regularis Salib Suci Bandung, P. Wubbe SJ – Pastor Katedral lakarta, P. Columbanus Postma OFM, P Benedictus Coenen OFM, P. Joel van Moor OFM, P. Adam van der Veldt, Broeder Verste dengan dua rekannya dari Bogor, Mere Prieur dengan beberapa suster Ursulin dari Noordwijk (Jalan Juanda – Jakarta) dan Mere Hildebrand dengan suster-suster FMM Bogor dan beberapa puluh awam.

Arak-arakan mulai di Sanctisimum, lalu menuju ke biara luar. Di depan pintu gerbang masuklah para suster Claris sambil menyanyikan Litani Orang Kudus Serafim, sementara Monsigneur mereciki tembok biara luar. Lalu semuanya masuk biara dan Monsigneur memberkati sebuah salib indah dan menggantungkannya di salah satu dinding di gang tengah. Kemudian semua ruangan, baik yang ada di bagian bawah maupun yang ada di bagian atas diberkati. Semua yang hadir mengikuti para suster dengan diam dan penuh perhatian.

Selesai pemberkatan keliling dalam biara, Monsigneur disambut oleh Pater Superior atas nama Pater Provincial dan Pater-pater dari provinsi Negeri Belanda dan Moeder Abdis serta semua suster Claris di gang tengah, dimana tergantung salib indah yang baru saja di berkati. Pater Superior mengucapkan terima kasih atas kesediaan Monsigneur memberkati biara Claris ini.

Sesudah Pater Superior selesai menyampaikan terimakasih, beliau mengungkapkan harapannya agar rumah ini menjadi tampat dimana cintakasih Tuhan bertakhta sepanjang masa dan agar cintakasih sesama yang unggul perwira menurunkan berkat Tuhan Yang Mahatinggi atas sesama berkat doa dan ulah tapa para suster. Kemudian Monsigneur dipersilahkan untuk memberi kata sambutan. Antara lain kata sambutan itu berbunyi demikian: “Apabila kita mempertanggungjawabkan apa yang baru terjadi ini, maka peranan saya amat kecil dan orang-orang lain pantas mendapatkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Kalianlah yang memegang peranan utama di sini. Anda kalian akan menjalani hidup religius dengan mengurbankan segala-galanya dan menetap di sini sampai akhir hayat kalian. Setengah jam lagi kami meninggalkan tampat ini dan pintu-pintu akan ditutup untuk selama-lamanya, dan anda kalian, suster, akan tinggal sampai akhir hidup kalian.” Kemudian Bapa Uskup menerangkan arti hidup membiara: “Tadi pagi saya telah mengkonsekrir sebuah batu dan oleh konsekrasi ini, batu itu dibaktikan kepada Tuhan dan diasingkan dari pemakaian profan. Demikian juga dangan konsekrasi sebuah piala dan gereja. Hal samacam itu juga terjadi dengan profesi para religius. Karena profesi itu para religius berhenti dari pribadi profan; mereka dibaktikan kapada Tuhan dan Gereja. Atas nama Gereja, para sustar ini berdoa dan bertapa bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang lain, untuk orang-orang yang menghina Tuhan karena dosa-dosa mereka atau yang lupa memanjatkan sembah sujud yang layak bagi Tuhan. Sama seperti halnya membiarkan batu suci, piala atau geraja yang dikonsekrir kepada pelanggaran kudus, maka jatuhnya sama juga merupakan pelanggaran suci kalau suster-suster ini ditarik dari pengabdian mereka kepada Tuhan dengan mengembalikan hidup mereka kepada dunia.”

Selanjutnya Bapa Uskup menjelaskan acara harian para sustar, dimana semuanya diarahkan kepada doa dan matiraga demi Gereja dan umat manusia, “Saya mengucapkan: SELAMAT DATANG DI INDONESIA dan saya berharap, agar kalian semakin boleh menjawab panggilan yang luhur ini. Saya juga mengucapkan terima kasih atas nama Vikariat kepada para pater Fransiskan, untuk karya mereka demi keselamatan negara dan umatnya.” Demikian Bapa Uskup menutup kata sambutan itu.

Setelah bapa uskup selesai menyatakan kata sambutan, Pater Superior menyambung dengan ucapan terimakasih atas kata sambutan bapa uskup yang mengesankan; juga mengucapkan terimakasih kepada pembangun dan perancang biara ini – arsitek J. Van Oyen – yang menurut pendapat semua orang – telah menghasilkan sebuah karya bangunan yang indah dan sederhana serta kokoh yang membuat harum namanya. Sebuah karya bangunan yang menurut perhitungan menjawab tuntutan istimewa dari negara tropis dalam keindahan lengkung-lengkung dan garis ketat memancarkan kehidupan para penghuninya yang sederhana dan ugahari. Kata-kata terimakasih juga disampaikan kepada Maskapai Beton Belanda yang mengerjakan karya agung ini dengan memuaskan. Akhirnya acara resmi ini ditutup dengan BERKAT KEPAUSAN dari Bapa Uskup dan dilanjutkan dengan berkumpul di wisma retret untuk menikmati minuman segar.

14 Maret 1935
Beberapa hari sesudah pemberkatan biara, Sr Benedikta mengucapkan kaul meriah. Hadir dalam upacara profesi meriah: beberapa Pater OFM, seorang postulan dan dua orang ibu.

7 Februari 1936
Para suster boleh bergembira dengan masuknya dua postulan pertama yaitu Mies Poublon dari Yogyakarta, yang kemudian mengambil nama Sr. M. Clara, dan Mies Bouwman dari Bandung yang kemudian mengambil nama Sr. M. Agnes. Sesudah kedua postulan pertama tersebut, menyusul beberapa postulan lain, bahkan ada yang datang dari Sulawesi yakni Sr. M. Fansiska Wagey.

11 Maret 1938
Datanglah dua orang suster lagi dari Nederland yakni Sr. Dominica Dinjens dari Ammerzoden dan Sr.Delphina van Meyel dari Megen. Dengan demikian jumlah mereka sekarang menjadi 17 orang suster.

Pages: 1 2 3 4 5

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *