3. Merunut Ke Belakang: Sebelum Para Suster Claris Sampai Ke Indonesia

09/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 4.872 kali

9 November 1934
Di Arezzo para suster menghadiri Perayaan Ekaristi di gereja SantoFransiskus pada pagi hari. Kemudian mereka pergi ke gereja Katedral dan di situ mereka mengunjungi makam Paus Gregorius X. Dari sana mereka menuju ke Alverna. Di Alverna mereka mendapat kesempatan istimewa untuk mengikuti prosesi para Saudara Dina menuju ke kapel Stigmatisasi. Mereka juga melihat-lihat beberapa tempat suci di sana (batu tempat tidur Santo Fransiskus, kamar dimana Santo Antonius pernah tinggal selama 3 bulan sesudah wafat Santo Fransiskus, kamar Santo Bonaventura, dll.) dengan dihantar oleh seorang Bruder. Dari Alverna kembali ke Arezzo, mereka terus melanjutkan perjalanan menuju ke Assisi. Di stasiun kereta api kota Assisi mereka dijemput oleh Pater Pancratius dan Pater Falco.

10 November 1934
Waktu sarapan Pater Pancratius membacakan berita dari koran Maasbode tentang keberangkatan suster-suster Claris dari Megen. Sesudah sarapan bersama Pater Pancratius, mereka mengunjungi Portiuncula. Mereka juga mengunjungi Basilika Santo Fransiskus. Di makam Santo Fransiskus dan Saudara-saudara Dina yang pertama: Leo, Maseo, Rufino dan Angelo,mereka berdoa. Juga secara khusus mereka berdoa bagi Sr. Pacifica di makam Sdr. Pacificus. Dari Basilika mereka menuju rumah kelahiran Bapa Fransiskus yang telah dirombak menjadi gereja. Kemudian mereka menuju gereja dan biara Santa Clara. Disana mereka bertemu dengan ibu Abdis dan ibu Vikaris, juga melihat-lihat relikwi-relikwi Santa Clara. Disitu para suster pergi ke San Damiano.

Di biara itu, hal pertama yang dilihat oleh para suster adalah daftar nama suster yang pertama di tempat koor – diatas pulpitum – dan mereka memutuskan untuk mengambil-alih nama-nama itu untuk suster-suster Jawa yang pertama. Setelah berkeliling melihat-lihat kebun, tempat Clara dulu berbaring, tempat Clara dulu menunjukkan Sakramen Mahakudus kepada orang-orang serdadu sarasen, refter, dll, mereka kembali ke penginapan.

11 November 1934
Para suster berkunjung ke Portiuncula. Mereka menghadiri Misa disalah satu kapel samping dan mendapat kesempatan giliran pertama menerima komuni. Dari Portiuncula mereka menuju ke Carceri. Pertama-tama mereka mengadakan kunjungan kepada Sakramen Mahakudus. Kemudian mereka berkeliling melihat-lihat kamar Santo Fransiskus, sebuah lubang dimana setan menghilang ketika diusir Fransiskus, pohon dimana burung-burung mendengarkan khotbah Fransiskus, juga melihat gubug-gubug tempat tinggal.

Dari Carceri para suster kembali ke Assisi untuk rnengunjungi gereja Katedral, dimana ada bejana permandian yang digunakan untuk pembaptisan Fransiskus, Clara dan Agnes; juga batu altar dimana Fransiskus membukakan Injil untuk Saudara Petrus dan Bernardus dari Quintavalle. Dari Katedral mereka ke Rivo Torto – biara OFM yang pertama. Dari Rivo Torto mereka pulang ke penginapan dan melanjutkan perjalanan menuju kota abadi – Roma.

12 November 1934

Di kota Roma mereka berjumpa dengan orang-orang yang telah mereka kenal: Pater Yakobus dan Pater Fidentius. Juga mereka berjumpa dengan suster FMM dari Belanda yang sangat ramah dan merasa senang bahwa para suster Claris ini akan pergi ke Jawa – Indonesia. Sesudah sarapan para suster dijemput oleh Pater Falco untuk mengunjungi St. Maria Maggiore dimana ada makam Sdr. Sixtus V, OFM. Dari sana mereka menuju ke Basilik Lateran dan monumen Fransiskus yang terletak di seberang basilik. Dalam perjalanan pulang ke penginapan mereka mampir di San Antonio.

Dalam kesempatan itu mereka bertemu dengan Pater Minister General OFM. Inilah wejangan Pater bagi para suster: “Bapa Fransiskus berkata kepada Saudara-saudaranya: pergilah dan berkotbahlah. Dan kepada Saudari-saudarinya: tinggallah disini dan berdoalah.’ Akan tetapi saya berkata kepada kalian: berbuatlah kedua-duanya! Berkhotbahlah dengam contoh kalian yang baik dan berdoalah untuk para pengkhotbah! Dan kalau orang bertanya: Siapakah mereka itu? Dan dijawab: mereka adalah wanita-wanita Kristen, maka mereka ingin juga menjadi Kristen.”

Lalu Pater General memberkati mereka sekali lagi dan mereka berpamitan pada beliau. Sebagai kenangan mereka mendapat potret beliau dengan tulisan di bawahnya yang berbunyi: “Untuk Wanita-wanita Miskin dan Saudari-saudari Santa Clara yang tercinta dalam Kristus, yang hatinya bernyala-nyala karena cinta kasihnya kepada Sang Pengantin Ilahi dan bersemangat untuk meluaskan Kerajaan-Nya di antara orang yang tak beragama; yang setelah meninggalkan tanah airnya, negeri Belanda – mengadakan perjalanan yang jauh menuju ke daerah Vikariat Apostolik Batavia, di pulau Jawa, di Cicurug, di biara yang pertama didirikan di sana oleh Saudara-saudara Dina dengan nama ALVERNA di bawah naungan Santo Fransiskus; yang akan hidup dalam pingitan Serafim, kami berdoa kepada Tuhan dengan segenap hati agar kebahagiaan, kesucian dan kegembiraan Tuhan melimpahi kalian dan atas nama lbu Clara kami memberkati kalian dengan senang hati! “

Kemudian bersama Pater Yakobus dan Pater Fidentius, mereka melihat kota Roma. Mula-mula ke coloseum kemudian ke Biara Santo Bonaventura dan bertemu dengan seorang Bapa Uskup yang selama ini telah banyak membantu para suster Claris dalam upaya pergi ke tanah misi di Jawa, Indonesia.

13 November 1934
Pada pagi hari para suster berkunjung ke museum kepausan dan sebelum meninggalkan museum mereka menulis nama mereka di Memorandum. Pada siang harinya para suster berkeliling: ke gereja San Ignazio mengunjungi makam St. Aloysius dan St. Yoannes Berchmans, ke St. Pieter mengunjungi makam St. Petrus – di sana mereka berdoa Credo dan melihat-lihat patung-patung raksasa yang ada di relung-relung, ke makam Paus Benedictus XV, Pius X dan sekretarisnya yang setia Kardinal Merry del Val. Kemudian lewat biara besar para Benediktin mereka menuju ke St. Paulus di luar tembok. Setelah berdoa di makam Rasul Agung St. Paulus, mereka meninggalkan basilik dan kembali ke penginapan.

14 November 1934
Merupakan hari besar! Sebab mereka akan beraudiensi dengan Bapa Suci. Pagi-pagi benar mereka ke Katakombe, berangkat dari Coloseum bersama Pater Falco dengan naik bus. Kira-kira pukul 07.00 mereka telah berada di makam St. Caecilia; dan di situ Pater Falco memimpin Perayaan Ekaristi yang dirasakan sangat istimewa karena di sini Gereja Perdana merayakan Rahasia Suci. Setelah sarapan mereka memasuki Katakombe dengan seorang imam dari ordo Salesian, masing-masing suster membawa lilin.

Pukul 12.00 mereka telah berada di lapangan St. Pieter dan berjumpa dengan dua misionaris tiongkok yang telah mereka jumpai sehari sebelumnya. Mereka dihantar sampai di Vatikan oleh Pater Yakobus. Sesampainya di bangsal besar mereka menunggu sebentar lalu mereka dihantar masuk ke bangsal tahta kecil oleh Mayordomus, tepat di sebelah kamar kerja Sri Paus. Adalah suatu keistimewaan kalau seseorang diizinkan masuk ruangan ini.

Lalu terjadilah hal yang sangat mengesan dan tak pernah dapat dilupakan – yaitu saat beraudiensi dengan Paus. Bapa Suci berkenan memberi kesempatan kepada mereka untuk mencium tangan beliau. Beliau berkenan pula memberi sambutan dalam bahasa Perancis:

“Anda kalian para suster yang akan berangkat ke Indonesia untuk mendirikan biara pingitan, adalah biara tertutup pertama di sana. Dengan demikian anda sungguh-sungguh mendirikan suatu pusat doa. Di sana kalian harus banyak berdoa, banyak berkorban dan dengan demikian layak mengumpulkan pahala bagi jiwa-jiwa. Dengan doa dan matiraga anda, anda dapat menopang karya para misionaris dan menyuburkannya, sehingga bekerja sama demi pertobatan bangsa disana. Itulah panggilan anda. Dan kini kami ingin memberkati panggilan anda. Dengan senang hati kami memberkati anda masing-masing, saudara-saudara anda, rekan-rekan sesama suster, teman-teman suster dan semua orang yang anda inginkan untuk mendapat berkat kami.”

Akhimya Bapa Suci memberkati mereka dan waktu pamitan, beliau masih berkata:
“Kami memberkati anda. Selamat jalan!”
“Kami memberkati …”
“Adieu …! Adieu!”

Dengan amat puas dan terkesan mereka meninggalkan bangsal tahta kecil dan menuruni lebih dari 200 anak tangga Santo Petrus dan ke biara Claris di Via Celsi. Di sana mereka masing-masing mendapat kenangan berupa lilin berbentuk Anak Domba (Agnus Dei) yang telah diberkati oleh Paus.

15 November 1934
Hari ini merupakan perjalanan darat terakhir. Setelah mengucapkan banyak terima kasih atas segala kebaikan dan keramah-tamahan para Pater yang walaupun sibuk namun tetap mencurahkan waktu bagi mereka, serta para Suster FMM yang bahkan membekali mereka untuk perjalanan laut, mereka berpamitan dan Kereta Api pun berangkat. Pukul 16.00 mereka sampai di Genoa dan langsung ke pelabuhan. Setelah berada di dalam kamar kapal, mereka sibuk membuka surat-surat yang dihantarkan oleh Penjenang kapal.

16 November 1934
Pesta Santa Agnes Assisi, mereka menghadiri Misa di kota. Sesudah Misa mereka menyewa beberapa taxi untuk ke Campo Santo, tempat pemakaman yang paling indah di Italia, lalu kembali ke pelabuhan. Kapal laut berangkat pada sore hari. Seluruh perjalanan kapal ini membutuhkan waktu 23 hari.

Pages: 1 2 3 4 5

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *