3. Merunut Ke Belakang: Sebelum Para Suster Claris Sampai Ke Indonesia

09/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 4.782 kali

Menuju ke Indonesia
Sejak tahun 1929 para Saudara Dina (OFM) berkarya kembali di daerah Misi khususnya Vikariat Apostolik Batavia – Jakarta. Atas prakarsa merekalah para suster Claris kemudian hadir pula di Indonesia. Para saudara dina (OFM) yakin, bahwa karya-karya mereka sebagai misionaris aktif di paroki, sekolah, yayasan sosial, pembinaan umat tidak akan menghasilkan buah berlimpah tanpa dukungan doa saudari-saudarinya – suster Claris (OSC). Keyakinan itu diwujudkan dalam bentuk surat permohonan kepada Provinsial Belanda supaya mengupayakan agar beberapa suster Claris diutus ke Indonesia untuk membantu lewat doa, memohon rahmat bagi karya missioner Saudara-audara Dina yang bekerja khususnya di daerah Sunda – Jawa Barat. Para suster Claris ini nantinya akan tinggal di sebuah biara yang telah dibangun oleh para Saudara Dina di Cicurug yang terletak di samping rumah retret – ALVERNA.
Maka terjadilah peristiwa-peristiwa berikut ini:

4 November 1934
Pada hari Minggu Sore, menjelang puku] 16.30, sembilan suster dari Megen dan Ammerzoden yang akan berangkat ke tanah Misi menerima kunjungan luar biasa dari para penduduk kota Megen. Mereka datang bersama para siswa gymnasium – Santo Antonius dengan iringan harmonium menuju biara para Suster Claris. Dalam kesempatan itu Pastor Le Rouz memberi ucapan salamat jalan kepada sembilan suster yang akan barangkat ke Indonesia. Dalam kata sambutannya beliau membayangkan keberangkatan para suster ini sebagai keberangkatan bapa Abraham yang kepadanya Tuhan bersabda: “Tinggalkanlah negerimu, sanak keluarga dan rumah ayahmu, dan pergilah ke negeri yang akan kutunjukkan kepadamu! Dan Aku akan memberkatimu, Aku akan memberkati yang kau berkati dan mengutuk yang kau kutuk” (Kej. 12:1-3)

Pada hari yang bersejarah tersebut, Bapak Walikota Megen Vlokhoven yang berkenan hadir, dengan rasa haru menyatakan terima kasih dan syukur yang hangat kepada para suster, khususnya kepada Suster Dorothea (yang akan menjadi Abdis biara baru di Indonesia). Dalam kata sambutannya beliau mengutip kata-kata mutiara salah seorang Uskup yang berkarya di tanah Misi, antara lain: “Keberhasilan karya Misi hanya sebagian kecil saja yang merupakan karya para misionaris (karena ini hasil karya manusia). Sebab sebenarnya karya Misi itu terutama berasal dari Tuhan dan rahmat-Nya. Maka aku menulis bahwa kebarhasilanku di daerah-daerah Misiku, kuhubungkan dengan kehadiran yang terberkati dari biara kontemplatif. Sebab di sana diperoleh lebih banyak rahmat, yang tanpa itu kita para misionaris tidak dapat mencapai sesuatu.” Bapak Wali Kota kemudian menutup kata sambutan dengan ucap an selamat penuh semangat: “Semoga berkat Tuhan melimpah, mengiringi anda di parjalanan anda dan sepanjang umur anda. Doa-doa kota Megen menyertai anda. Ingatan-ingatan kami tetap pada anda sekalian.” Tidak ketinggalan Pater Urbanus, rektor Claris memohonkan doa terus menerus bagi para sustar misionaris ini dari penduduk kota.

Pada akhirnya Moeder Abdis, Suster Dorothea mengucapkan sambutan perpisahan. Katanya: “Sebelum saya berangkat ke Misi, saya merasa terdorong untuk mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya atas nama rekan-rekan, atas perhatian anda sekalian kepada Ordo kami. Dengan sangat kami mohon doa-doa kalian agar Tuhan berkenan melimpahkan rahmat-Nya, supaya kami dapat menunjang karya para misionaris dengan doa dan tapa.” Keharuan yang menyelinap dalam hati penduduk Megen setelah sambutan ini, menunjukkan betapa besar mereka menghargai kata-kata sambutan tersebut.

5 November 1934
Pagi-pagi benar 9 suster yang akan ke Indonesia berangkat ke biara Ammerzoden untuk berpamitan dengan para suster. Pada sore harinya mereka telah berada di biara Fransiskan di Weert. Pater Provinsial sendirilah yang menyambut para suster itu. Dalam upacara singkat di kapel biara Santa Clara – St. Hieronymus di kota Weert, 9 suster itu berlutut di depan Pater Provinsial dan mereka menerima Salib Misi sebagai bekal perjalanan dan pegangan hidup dari tangan Pater Provinsial. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan bermalam di biara para Suster Fransiskanes di Heythuyzen.

6 November 1934
Sesudah perayaan Ekaristi di biara Fransiskan di Weert yang dipimpin oleh Pater Ludolphus Bosse, bekas prokurator Misi yang kembali dari Tiongkok dan didampingi oleh Pater Ambrosius dan Pater Secundus van Mechelen, diadakan upacara perpisahan di depan altar St. Fransiskus bagi para suster yang akan berangkat ke tanah misi. Dalam kesempatan itu Pater Prokurator membacakan surat pengutusan:

Dari saudara Honoratus Caminda
dari Saudara-saudara Dina
Provinsial Provinsi Belanda,
kepada Suster-suster terkasih dalam Kristus:
Sr. Dorothea, Sr.Beatrix, Sr. Rosa, Sr.Paula, Sr.Caecilia, Sr.Veronica, Sr.Hortulana, Sr.Benedicta dan Sr.Mechtildis.

Di antara banyak urusan dan keprihatinan yang termasuk dalam jabatan kami, misi di pulau Jawalah yang mengambil tempat utama. Suatu keinginan yang terus-menerus mendorong kami, untuk membantu para misionaris kita — sejauh kita mampu – dalam karya misioner yang tidak mudah.

Karena kami sekarang yakin, bahwa karya itu adalah pertama-tama karya rahmat Tuhan dan bahwa itu dapat diperoleh terutama dengan korban dan doa, dan juga kami ingin memenuhi harapan-harapan Bapa Suci Sri Paus, yang sering beliau ungkapkan, maka demi ketaatan suci, kami mengutus anda sekalian, untuk pergi ke Misi kita di pulau Jawa. Agar di sana di biara ALVERNA yang tertutup di Cicurug, dibawah ketaatan pembesar setempat, kalian secara rohani ikut ambil bagian dalam karya misioner kami, melalui hidup tapa dan doa kalian; memohon rahmat sorgawi yang berlimpah, bagi para misionaris kita dan karya mereka.

Kami pasrahkan kalian ke dalam tanggung jawab pembesar kalian di sana dan kepada saudara lainnya. Selamat jalan dalam Kristus dan doakan kami.

Dikeluarkan, 6 November 1934.
7 November 1934

Para suster telah berada di Milan. Di Milan mereka menghadiri Misa di Dom (Gereja) dan mengunjungi krypte makam Santo Carolus Borromeus. Mereka juga menyempatkan diri untuk mengunjungi monumen Santo Fransiskus. Di dekat monumen itu mereka berdoa untuk Pater Provinsial, untuk Ordo dan ketiga biara mereka. Dalam kunjungan di monumen Santo Fransiskus, mereka sempat berjumpa dengan seorang Pater Fransiskan yang tampak keheranan melihat sembilan suster Claris – para saudarinya itu. Meskipun kesulitan soal bahasa toh Pater itu pada akhirnya mengerti bahwa mereka suster Claris yang sedang dalam perjalanan sebagai misionaris ke Indonesia.

Pages: 1 2 3 4 5

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *