2. Saat Pertobatan

07/06/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 2.364 kali
Fransiskus melepaskan semua milik & pakaiannya

Fransiskus melepaskan semua milik & pakaiannya

Fransiskus pun segera terlibat dalam konflik terbuka dengan ayahnya. Pietro yakin bahwa tingkah anaknya itu hanya akan meruntuhkan bisnis dan reputasi keluarganya. Dia tidak rela melihat anaknya mengemis batu untuk memperbaiki gereja San Damiano, juga tidak rela melihat anaknya berbuat baik kepada para pengemis dan bergaul dengan mereka. Pica berusaha menenangkannya dengan menjelaskan bahwa Fransiskus perlu waktu untuk berefleksi. Namun semuanya sia-sia. Pietro memutuskan membawa Fransiskus ke hadapan dewan kota untuk mengumumkan bahwa Fransiskus harus melepaskan hak atas warisan keluarganya. Tetapi Fransiskus adalah seorang oblatus, dengan demikian ia berada langsung dibawah pengawasan uskup. Dewan kota mengetahui situasi ini, dan tidak ingin terlibat dalam masalah tersebut. Maka Pietro menghadap Guido, uskup Assisi. Fransiskus menerima tantangan tersebut. Pengadilan bertempat di kediaman uskup, dekat gereja Santa Maria Maggiore. Guido berusaha membujuk Fransiskus untuk mengembalikan uang ayahnya yang digunakan untuk San Damiano. Fransiskus segera mematuhinya. Ia tidak hanya mengembalikan uang, namun juga menanggalkan semua pakaiannya di hadapan orang banyak dan menyerahkan semuanya kepada ayahnya. “Mulai sekarang,” katanya, “saya bisa menghadap Allah dan memanggil-Nya Bapa ku di dalam surga”. Pietro kembali ke rumah dengan malu, dan Fransiskus meninggalkan Assisi untuk sementara waktu – berpakaian seperti pertapa dengan bahan jubah yang jelek. Di perjalanan, para penyamun menyerang dia. Tapi ia menjawab bahwa dirinya adalah bentara raja agung. Para penyamun menganggapnya seorang gila dan melemparnya ke gundukan salju, meninggalkan dia yang malah bernyanyi dan memuji Allah. Selama beberapa bulan dia bekerja di dapur sebuah biara Benediktin di San Verecondo, dan kemudian di kota Gubbio, di rumah temannya, Federico Spadalunga. Di Gubbio ia melayani komunitas penderita kusta.

Bertukar pakaian dengan pengemis

Bertukar pakaian dengan pengemis

Pada musim panas 1206 Fransiskus kembali ke Assisi, memutuskan untuk memperbaiki San Damiano lagi. Dia berjalan tegap memasuki kota dan mulai mengemis batu dan sisa makanan. Walaupun merasa jijik memakan sisa makanan, dia berusaha keras untuk itu, seperti dilakukan oleh para pengemis. Ia memahami sekarang bahwa kaum “minores” yang sebenarnya di Assisi bukanlah para pedagang, melainkan kaum buangan seperti para pengemis itu. Dan ia sudah menetapkan diri untuk menjadi salah satu dari mereka. Sewaktu ia masih seorang muda yang kaya ia bahkan sudah menginginkan untuk memahami cara hidup pengemis. Saat itu ia dalam peziarahan ke kuburan para rasul di kota Roma. Pada kubur Santo Petrus ia berjumpa dengan pengemis. Ia menukar pakaiannya dengan pakaian pengemis itu lalu duduk mengemis. Ini dilakukannya selama sehari penuh.

Fransiskus bernyanyi keras-keras saat memperbaiki San Damiano. Ia ingat akan suara merdu ibunya saat bernyanyi dalam dialek Provençal. Secara spontan lagu-lagu itu dinyanyikannya saat ia bekerja keras memperbaiki San Damiano. Para petani yang lewat memandangnya curiga, namun mungkin juga dengan rasa kasih saat melihat pancaran kegembiraan masa mudanya itu. Ia mengatakan kepada mereka bahwa San Damiano nantinya akan menjadi tempat para wanita terhormat yang melayani Tuhan. Para penulis riwayat hidupnya menganggap kata-kata ini adalah nubuat tentang Klara dan “Para Wanita Miskin San Damiano”. Sebutan ini ditujukan untuk para biarawati klaris di awal terbentuknya.

Memperbaiki San Damiano

Memperbaiki San Damiano

Dalam waktu singkat Fransiskus menyelesaikan perbaikan San Damiano. Kemudian ia melanjutkan perbaikan gereja lainnya. Pertama, gereja San Pietro lalu gereja Santa Maria Degli Angeli (=Santa Maria Ratu Para Malaikat) atau Porziuncola (= bagian kecil). Gereja yang terakhir ini kemudian menjadi tempat lahirnya gerakan yang dirintis oleh Fransiskus. Lokasinya di lembah Umbria di bagian bawah Assisi. Fransiskus mendapati gereja itu di tengah hutan. Gereja itu milik para biarawan dari biara San Benedetto al Subasio. Fransiskus berpendapat bahwa para biarawan itu cukup senang menerimanya dan memanfaatkan gereja itu. Maka ia memulai tugas perbaikan gereja. Segera gereja itu menjadi kesayangannya sampai-sampai ia menyatakan kepada para saudaranya bahwa Porzincola adalah salah satu tempat tersuci yang ada di bumi. Di situlah nantinya ia ingin meninggal di tahun 1226. Namun khususnya kapel Porziuncolalah tempat yang menjadi tanda banyak peristiwa penting dari hidupnya.

Salah satu peristiwa penting itu terjadi pada saat pesta rasul Santo Mathias, pada 24 Februari 1208. Fransiskus sedang mendengarkan bacaan Injil pada saat Misa. Bacaan itu tentang Kristus yang mengutus para muridnya untuk pergi berkotbah tanpa membawa tongkat, bekal atau kasut. Para murid menjadi perantau atau peziarah, dan mereka mewartakan damai kepada semua yang mendengarkannya. Fransiskus bersukacita. Itulah semua yang diinginkannya selama ini. Tanpa buang waktu lagi, ia menjalankan secara harafiah apa yang baru saja didengarnya itu. Dia membuang tongkatnya, kasutnya, ikat pinggang jubahnya dan pergi bertelanjang kaki dengan mengenakan jubah yang berbentuk Tau, dengan tali-ikat di pinggangnya. Dia mengubah gaya hidup dari pentobat-pertapa menjadi seorang pengkotbah apostolik. Gaya seperti inilah yang nantinya diikuti oleh para pengikutnya di masa depan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Satu komentar pada 2. Saat Pertobatan

  1. maria seran
    23/06/2012 at 11:54

    saya senang sekali dengan informasi tentang sejarah salah satu ordo dlm gereja katolik…ini sangat bermanfaat bg pengetahuan

Kirim komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *