19 Oktober

03/04/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 750 kali

[index santo-santa fransiskan]

19 Oktober
St. Petrus dari Alkantara
Imam, Ordo I
1499-1562

RIWAYAT HIDUPNYA

Petrus dilahirkan di Alcantara, Spanyol, pada 1499. Sudah pada masa kanak-kanaknya, dia mencolok dalam anugerah bakat berdoanya, sehingga sesekali, bila dia sedang terserap dalam doa, pembantu-pembantunya tidak mampu memperoleh reaksi dari padanya.

Ketika belajar di Universitas Salamanca, Petrus berkeputusan untuk bergabung dalam Ordo Fransiskan. Godaan pun menyerang dia, dia kan dapat menikmati hidup yang nyaman enak di dunia dan nantinya masih ada waktu untuk menjalankan kesalehan. Tetapi pendoa yang rendah hati ini mengatasi segala godaan dari pihak yang jahat itu. Petrus berangkat ke sebuah biara yang tenang di Monjarez. Di tengah jalan Tuhan kita memberikan tanda kepastian atas panggilannya itu. Petrus sampai pada sebuah sungai yang karena hujan lebat airnya pun meluap sampai di tepiannya. Karena tidak melihat sarana apa pun untuk menyeberang, dia berlutut dan mohon bantuan Tuhan. Tiba-tiba, tanpa mengetahui bagaimana, dia mendapatkan dirinya sudah berada di seberang.

Begitu dia sudah diterima dalam Ordo, dia memberikan dirinya sepenuhnya dalam kesatuan dengan Tuhan. Dia tetap dengan ketat menjaga inderanya, sehingga setahun kemudian dia tidak dapat mengatakan apakah gedung gereja di mana dia setiap hari berdoa, beratap rata atau melengkung. Rupanya tubuhnya diberikan kepadanya hanya untuk menderita sakit. Laku matiraga yang dijalaninya karena dorongan Ilahi sungguh menakjubkan. Selama lebih dari 20 tahun dia mengenakan ikat pinggang besi dihiasi dengan tonjolan-tonjolan besi yang tajam yang selalu menusuk-nusuk daging tubuhnya. Dan selama lebih dari 40 tahun dia setiap hari mencambuki tubuhnya sampai berdarah-darah. Pada mulanya dia sangat terganggu dengan kantuknya, namun dia sedemikian bermatiraga, sehingga kemudian dia menjadi terbiasa hanya dengan tidur selama setengah jam sehari dan istirahat ini pun dia lakukan hanya dengan duduk pada lantai.

Tuhan memperlihatkan persetujuan-Nya pada laku matiraganya itu dengan mendukung kekuatan Petrus secara mengherankan. Dia tidak pernah menjadi lelah karena pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dalam rangka menjalankan misinya. Dan keberhasilannya pun sedemikian mencolok, sehingga St. Fransiskus Borgias pernah menulis kepadanya: “Keberhasilanmu yang mengagumkan merupakan sebuah penghiburan bagiku.” Namun beraneka ragam kegiatannya itu samasekali tidak mengurangi semangat berdoanya. Dia hidup dan berkarya dalam semangat itu dan berusaha untuk menularkannya pada orang-orang lain.

Penderitaan Kristus merupakan obyek devosinya yang khusus. Karena Kristus telah mengurbankan dirinya bagi kita, maka Petrus tidak mendapatkan apa pun terlalu sulit dalam melayani-Nya; dan karena Kristus telah menjalankan pertobatan sedemikian keras bagi dosa-dosa kita, maka Petrus pun melakukan ulah tobat yang paling keras. Adat kebiasaan mendirikan sebuah salib pada akhir suatu misi, berasal dari St. Petrus Alkantara ini. Bila dimungkinkan, maka dia menyuruh orang mendirikan sebuah salib pada tempat-tempat yang tinggi, sehingga salib itu dapat dilihat orang dari segala penjuru parokinya. Pada suatu kesempatan, dia sedemikian terhanyutkan oleh devosinya, sehingga dia meluncur menerjang udara ke salah sebuah salib itu dan dengan merentangkan kedua lengannya dia berdoa dalam waktu yang lama; dan dari tubuhnya pun terpancarkan cahaya yang lebih cerah daripada matahari.

Dia menulis sebuah uraian pendek perihal doa dan meditasi dan tulisan ini pun disambut meriah di seluruh dunia. Paus Gregorius XV menyatakan bahwa tulisan itu telah ditulis dibawah ilham Roh Kudus. Pendoa wanita yang besar, St. Theresia, yang hidup semasa Petrus, ingin menjadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Dan Petrus pun juga membantunya dalam mengadakan pembaruan dalam Ordo Karmelit.

Dia adalah seorang yang sangat rendah hati dan selalu menghindari penghormatan-penghormatan. Kaisar Karolus V ingin dia menjadi bapa pengakuannya, tetapi Petrus mohon supaya tidak mendesakkan keinginannya itu, karena Karolus V dapat saja memperoleh orang yang lebih terpelajar dan berkedudukan tinggi. Dalam Ordonya sendiri dia pernah diharuskan menerima posisi sebagai provinsial dan berkat jerih payahnya provinsi bangkit menjadi provinsi yang berkembang dalam tertib religiusnya. Kendati sebagai privinsial, dia juga tidak ragu-ragu, sewaktu-waktu, melakukan tugas-tugas yang paling rendah di dalam rumahnya.

Dalam keputusan-keputusannya dia itu rendah hati dan penuh kasih. Suatu kali seorang bangsawan menangisi berbagai kejahatan yang berkecamuk waktu itu. Sang santo itu berkata: “Memang benar, macam-macam hal di dunia ini dalam keadaan bejad; namun bila engkau dan saya mulai dengan sungguh-sungguh memperbarui diri kita sendiri, maka telah terjadilah suatu permulaan yang sungguh baik.”

Pada 18 Oktober 1652 dia meninggal dunia dalam Tuhan dengan tenang. St. Theresia melihat jiwanya meluncur terbang ke surga. Kemudian dia menampakkan diri padanya dan berkata: “O, pertobatan yang bahagia, yang telah membuat saya layak menikmati kemuliaan yang sedemikian menakjubkan!” Banyak mukjizat, termasuk bangkitnya kembali ke dalam kehidupan enam orang yang sudah meninggal, terjadi sebagai jawaban atas doa-doa yang diserukan kepadanya. Paus Klemen IX memasukkannya dalam daftar para santo.

PERIHAL IMBALAN LAKU TOBAT

1.      Selama hidupnya, St. Petrus ini melakukan ulah tapa pertobatan yang keras, dan betapa menakjubkan imbalan yang dia peroleh! Dia biasa berkata: “Saya sudah membuat perjanjian dengan tubuh saya: dia telah berjanji menerima perlakuan kasar dari pihak saya di dunia ini, dan saya juga sudah berjanji bahwa saya akan menerima kedamaian kekal di surga.” Imbalan laku tobat itu menjadi milik kita, bila kita menginginkannya. Dan kita pun mempunyai alasan lebih besar untuk melakukan ulah tobat itu, karena kita telah tidak melakukannya semenjak masa muda kita, seperti yang dilakukan oleh St. Petrus ini, sebaliknya kita justru telah melakukan banyak dosa. Tidaklah perlu menirunya dalam laku-laku tobat yang tidak biasa itu – tanpa persetujuan bapa pengakuan kita, malah tidaklah berguna melakukan yang sedemikian itu – tetapi kita menolak kenikmatan inderawi dan menyesali dosa-dosa kita dengan hidup bermati-raga. Maka kemudian kesulitan sekarang ini akan memperoleh bagi kita “kemuliaan kekal yang bobotnya melampaui segala ukuran” (2Kor 4:17).

2.      Pertimbangkanlah bahwa tak seorang pun di antara kita yang dapat berkata bahwa kita tidak memerlukan ulah tobat; hanya jiwa yang hangat-hangat kuku saja dapat mengucapkan pernyataan semacam itu. Bahkan bila seandainya kita ini tanpa cela sejak lahir, kita masih tetap wajib menjalankan mati raga. Pada suatu ketika saudara Giles ditanya mengapa St. Yohanes Pembaptis menjalani hidup pertobatan sedemikian keras itu. Saudara Giles pun menjawab dengan bertanya: “Mengapa kita menggarami ikan yang segar? Bukankah hal itu dimaksudkan supaya ikan itu tidak menjadi busuk?” Kendati engkau mungkin sungguh murni dan tak bercela, namun engkau hendaknya mengenakan garam mati-raga dan ulah tobat Kristiani, sehingga engkau dapat bertahan dan nampak tanpa cela di hadapan takhta pengadilan Allah.

3.      Renungkanlah bahwa semangat pertobatan dan mati raga juga menyuburkan semangat doa dan devosi. Dia yang menuruti selera daging dan memberikan semua yang diinginkannya, tidak dapat mengangkat hatinya kepada Tuhan sewaktu berdoa. “Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah” (1Kor 2:14). Untuk dapat berdoa, engkau harus mengendalikan inderamu – mata, telinga, lidah – dan menarik diri dari dunia. “Bila engkau mau berdoa, masuklah ke dalam kamar dan kuncilah pintunya” (Mat 5:6). Bila engkau menutup pintu hatimu dalam semangat pertobatan, engkau akan dengan mudah mengangkat hatimu itu kepada Tuhan dan menikmati Penghiburan-Nya. Berdoalah kepada St. Petrus dari Alkantara untuk maksud ini. St. Theresia berkata bahwa Tuhan mewahyukan kepadanya, bahwa apa pun yang akan dimintakan dalam nama St. Petrus Alkantara ini, akan dikabulkan.

DOA GEREJA

Ya Allah, yang sungguh telah menganugerahi pada diri St. Petrus, pengaku iman-Mu ini, anugerah-anugerah laku tobat yang menakjubkan dan kontemplasi yang agung, kami mohon, anugerahkanlah bahwa, berkat perantaraannya bagi kami, kami dapat sedemikian memati-ragakan daging supaya dengan demikian dapat dengan lebih siap memeluk hal-hal surgawi. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.