11 Oktober

03/04/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 434 kali

[index santo-santa fransiskan]

11 Oktober
B. Yohanes XXII
Paus, Fransiskan Sekular

RIWAYAT HIDUPNYA

Kurang lebih sebulan sebelum hari ulang tahunnya yang ke 77, pada 28 Oktober 1958, Kardinal Angelo Giuseppe Roncalli, Patriarch (Uskup Agung) Venecia, dipilih menjadi Paus.

Dia tidaklah sekedar menjadi seorang Paus “transisional (peralihan)”, sebagaimana orang pikirkan sebelumnya. Dalam empat setengah tahun masa pontifikatnya, dia melaksanakan hal-hal yang mendalam pada Gereja dan dunia. Dia menampilkan sebuah era baru dalam sejarah Gereja dengan memanggil dan menyelenggarakan sesi pertama dari Konsili Vatikan II. Dia pun membuat Kolese para Kardinal menjadi lebih internasional dari pada sebelumnya. Dia mendirikan sebuah komisi untuk merevisi Hukum Kanonik, karena dia merasa Gereja semakin menjadi kefarisi-farisian dengan begitu banyak aturan-aturan.

Pada waktu yang sama, menjadi jelaslah bahwa dia itu seorang yang baik, rendah hati dan pengikut Kristus yang suci dan Si Miskin dari Asisi. Yohanes minta dikenal sebagai “gembala yang baik yang membela kebenaran dan kebaikan.”

Kepada para anggota Ordo Fransiskan, dikatakannya, “Saya ini Yosef (Giuseppe), saudara kalian.” Dia suka mengenang kembali saat diterimanya ke dalam Ordo Fransiskan Sekular, “… dari masa muda kita berumur empat belas tahun, pada hari pertama bulan Maret 1896…. Kami suka bersyukur kepada Tuhan karena rahmat-Nya ini, yang syukurlah bertepatan dengan peristiwa yang membuat kami memulai kehidupan gerejawi (tonsura).” Pada 1896 dia diterima dalam Ordo Fransiskan Sekular oleh pendamping rohani Seminari Bergamo, Pater Luigi Isacchi; Yosef mengucapkan profesi pada Anggaran Dasar pada 23 Mei 1897.

Angelo Roncalli lahir pada 25 November 1881, di Soto il Monte, sebuah kota kecil di Provinsi Bergamo, Italia. Dia adalah anak ke empat dari keluarga beranak empat belas. Keluarga itu bekerja sebagai petani penyewa tanah. Mengingat kembali latar belakangnya yang miskin itu, dia pernah berkata, “Saya tidak menyadari bahwa saya ini orang miskin sampai seseorang berkata kepada saya bahwa saya ini miskin. Saya punya rumah dengan orang tua yang penuh kasih, ada makanan untuk dimakan, pakaian untuk dipakai, tempat tidur yang hangat untuk berbaring tidur, dan sebuah sekolah tempat belajar. Apa lagi yang saya butuhkan? Saya tidak punya gambaran apa itu menjadi orang miskin.

Setelah ditahbiskan menjadi imam pada 1904, dia melayani sebagai pengajar seminari dan sekretaris Uskup (keuskupan Bergamo) selama sekitar sepuluh tahun. Pada 1921 dia dipanggil ke Roma untuk bekerja pada Perkumpulan bagi Penyebaran Iman. Empat tahun kemudian dia ditahbiskan sebagai Uskup Agung Tituler, dia mewakili Takhta Suci selama 29 tahun di berbagai negara: Bulgaria, Turki, Yunani dan Perancis. Dia dijadikan Kardinal dan Uskup Agung Venecia pada 1953.

Dengan nama Maria pada bibirnya, dia meninggal dunia pada usia 82 tahun, pada 3 Juni 1963. Tidak lama kemudian proses beatifikasinya pun dimulai; dan karena dia adalah anggota OFS, maka proses itu berada dalam tangan Postulator General Fransiskan.

RENUNGAN

Kekuasaan dunia mempergunakan kekuatan untuk mempertahankan diri. Kekuasaan Tuhan mempergunakan cinta demi keselamatan umat manusia. Ada sebuah kejadian dari kehidupan B. Yohanes ini yang sedemikian jelas melukiskan garis baru dari kekuatan dan otoritas yang diperkenalkan Allah kepada dunia melalui misteri Bethlehem.

Ketika itu Yohanes masih menjadi Patriarkh (Uskup Agung) Venetia. Dia mendapati bahwa salah seorang imamnya menjalani suatu kehidupan yang agak tidak biasa dan telah banyak mengunjungi suatu tempat di mana tak seorang pejabat Gereja pun boleh terlihat. Yohanes sebenarnya dapat saja membatalkan tugas pelayanan dari imam itu; dia dapat saja mempergunakan semua kekuasaan otoritanya dan menghantamnya dengan kekuasaannya. Tetapi apa yang dibuatnya adalah: pada suatu hari dia hanya menunggu di luar tempat di mana imam itu sering berada. Ketika imam itu melihatnya, mukanya pun menjadi pucat pasi, tetapi Yohanes segera menggandeng tangannya dan, seolah-olah telah tidak terjadi apa pun, dengan lembut memintanya pergi bersamanya ke tempat kediamannya. Keteka mereka sampai di kamar belajar Yohanes, dia pun berlutut di depan imam itu dan meminta kepadanya, “Saya mohon Romo mendengarkan pengakuan dosa saya!” Dan dia pun mengaku dosa dengan kerendahan hati dan kelembutan hati yang besar.

Ketika imam itu telah memberinya absolusi, Yohanes memeluknya dan berkata, “Anakku, saya sungguh ingin engkau merenungkan perihal anugerah agung, yang telah Tuhan berikan kepadamu untuk mengampuni dosa-dosa orang, bahkan dosa-dosa Uskup Agungmu. Semoga hal ini memberanikan engkau menjauhi dosa sejauh mungkin dalam hidupmu berkat rasa syukurmu kepada Kristus.”

Kita tidak tahu apa yang terjadi sesudah itu, dan kita pun tidak perlu tahu. Tetapi seluruh kejadian itu berbicara perihal kedamaian, kebaikan dan pengertian, perihal keselamatan yang tidak merendahkan orang, perihal otorita yang melayani, perihal kebesaran orang yang membuat dirinya terkecil supaya dapat lebih baik mengungkapan gambaran Kristus di dunia ini.

PERBUATAN

Kita juga terpanggil untuk menjadi Jembatan Penghubung dan pembawa damai, pembawa Berita BAIK kepada mereka yang kita temui. Paus Yohanes yang baik itu adalah sebuah contoh yang cemerlang akan apa yang diinginkan Fransiskus dari semua pengikutnya. Pencinta-pencinta yang taat kepada Gereja dan yang menamakan Gereja menjadi contoh Kristus di dunia ini. Kita tidak dapat menunggu orang-orang lain menjadi pemimpin dalam memperbarui Gereja, tetapi kita haruslah menjadi pelopor dalam membawa cinta kasih, bela rasa, pengampunan dan Kristus yang menyembuhkan ke bagian dunia di mana kita hidup.

Seorang Kardinal ketika berlangsung Konsili Vatikan II, pernah begitu saja berkata: “Bila saja selama dua puluh abad Kekristenan ini, Gereja telah mewartakan kata-kata Kristus, “Celakah kalian orang-orang kaya!” sesering ketika kita mewartakan keprimasan Petrus, maka Komunisme pastilah tidak akan pernah ada.” Hal itu memancing Yohanes berkata, “Injil itu sendiri belum ditemukan.” Marilah kita berusaha menemukan Injil yang betul-betul radikal sebagaimana dikhotbahkan oleh Yesus.

Kata terakhir dari kebijaksanaan B. Yohanes ini, “Melihat segala sesuatu, meremehkan banyak hal, memperbaiki sedikit. Bijaksanalah dia yang dapat tetap berdiam diri terhadap sebagian kebenaran yang mungkin belum waktunya, dan dengan tidak mengatakan hal itu, tidak menyia-nyiakan kebenaran yang telah dia katakan.”

DOA

Tuhan Allah yang Mahakuasa, yang menghendaki menyembuhkan semua perpecahan dan perselisihan di antara mereka yang menyebut nama Putera-Mu. Kami bersyukur kepada-Mu atas kemauan baik yang diperlihatkan dalam hamba-Mu Yohanes, dan kami berdoa supaya kami selalu siap sedia untuk mendengarkan sesama orang Kristen kami dengan kerendahan hati dan kemauan untuk belajar, dan semoga kami juga dapat berbicara mengenai kebenaran dalam cinta kasih, demi sembuhnya perpecahan itu dan berkat kesaksian yang selalu diperbarui dari umat-Mu. Demi Yesus Kristus Tuhan kami, yang hidup dan bertakhta bersama Dikau, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah yang Esa, sepanjang segala masa. Amin.

By Ray Hardwick, SFO, National Peace and Justice Commission Member, rayhardwick@sbcglobal.net

Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM