Upacara Pelantikan



Dilihat: 64 kali

Di balik banyak tingkah laku publik Fransiskus terdapat kenyataan bahwa ia adalah tokoh publik, orang yang telah melakukan apa yang harus dilakukannya di depan seluruh kota Assisi. Ia telah menolak ayahnya di depan warga kota yang berkumpul; ia yang seorang putra saudagar kaya meminta-minta di jalan-jalan; mereka yang bergabung dengannya secara terbuka menyumbangkan uang dan harta kepunyaan mereka di lapangan kota. Fransiskus adalah saksi publik bagi Injil, dan mereka yang mengikuti dia amat sadar akan sifat publik panggilan mereka itu.

Akan tetapi, panggilan Fransiskus terkait dengan lebih banyak hal daripada sekedar sebuah kenampakan dan kemasyuran tertentu. Seperti upacara-upacara pelantikan megah dalam mitologi kuno dan keksatriaan, keputusan untuk memeluk Tuan Putri Kemiskinan dan mengikuti jejak-jejak kaki Kristus merupakan sebuah pelantikan sesungguhnya yang menelenjangi saudara-saudara dan saudari-saudari dari watak pribadi mereka dan menyelubungi mereka dengan jubah panggilan mereka. Mereka tidak lagi bertanggung jawab hanya kepada diri mereka sendiri dan untuk diri mereka sendiri, tetapi kini mereka bertanggung jawab kepada masyarakat yang dengannya mereka telah membuat sebuah kontrak yang serius. Sebagaimana Fransiskus biasa berkata, “Ada kontrak antara dunia dengan para saudara, yakni bahwa para saudara harus memberikan teladan baik kepada dunia; dunia harus menyediakan kebutuhan-kebutuhan mereka. Apabila para saudara melanggar kepercayaan dan tidak memberi teladan baik lagi, dunia akan menarik kembali uluran tangan mereka sebagai sebuah kecaman.”

Saudara-saudara dan Wanita-wanita Miskin di San Damiano tidak lagi hanya menjadi pribadi-pribadi tersendiri. Seperti tokoh-tokoh pahlawan dalam mitologi, pelantikan mereka mendefinisikan tempat mereka di dalam masyarakat dan mendefinisikan hubungan pribadi mereka dengannya. Inilah salah satu alasan mengapa Fransiskus menggunakan bahasa yang keras terhadap tindakan menginggalkan persaudaraan: Adalah sama sekali terlarang untuk meninggalkan Ordo, sebagaimana telah dititahkan oleh Bapa Suci. Karena Injil berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:62).

Apa yang telah dilakukan secara lahiriah oleh Saudara-Saudara dan Wanita-wanita Miskin juga telah menjadi sebuah tindakan batiniah yang mendalam. Mereka telah memotong tali pusat yang menghubungkan dengan sang ibu dan lahir kembali ke dalam keluarga yang lebih besar, yakni masyarakat. Kembali ke cara-cara hidup mereka sebelumnya berarti kembali ke rahim ibu, dan merupakan sebuah penyangkalan terhadap panggilan untuk sebuah pencarian, cenderung memelihara diri sendiri; lalu keselarasan antara yang satu dan yang banyak menjadi rusak.

Saat ini, ketika kebenaran dari mitologi-mitologi kuno dipertanyakan dan kehidupan bawah sadar masing-masing individu menjadi hal yang dianggap begitu penting untuk digali dan diusahakan, maka yang ideal adalah menyeleraskan antara kehidupan alam sadar dan kehidupan alam bawah sadar, daripada menyelaraskan antara diri dan mitos.Tetapi, pada saat yang sama, salah satu terobosan terbesar dari psikologi modern adalah penemuan bahwa pola-pola dasar dan simbol-simbol mitologi dan agama jugalah yang secara spontan muncul dari alam bawah sadar. Atau, sebenarnya penemuan ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan kalau diterima bahwa agama-agama dan mitos-mitos tidak muncul dari sebuah kekosongan; dewa-dewa selalu berbicara melalui orang yang tidak sadarkan diri, dan mitos-mitos sesungguhnya merupakan proyeksi dari simbol-simbol dan gerakan-gerakan dari dewa-dewa yang ada di dalam dan atas alam bawah sadar.

Bagi seorang penyair abad pertengahan dan seorang pencipta mitos seperti Fransiskus, penolakan terhadap panggilan merupakan penyangkalan terhadap Allah yang ada di dalam hidup seseorang, penolakan terhadap ikatan dengan Seseorang yang ada di dalam dan terpisah dari diriku, yang memanggilku dan kujawab panggilannya. Di hadirat-Nya saya mengundang masyarakat untuk menyaksikan dan mensahkan apa yang saya kerjakan, karena panggilankulah yang bagi orang-orang lain mendefinisikan bagaimana aku berelasi dengan mereka.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang saat ini meninggalkan hidup religius dan kembali ke dunia? Apakah mereka, sebagaimana pendapat beberapa orang, mundur ke tahap infantilis sebagai seorang anak yang bergantung kepada orang lain, yang kemudian menjadi “ibu”atau “ayah” bagi mereka? Pandangan yang sedemikian simplistis ini mengabaikan sifat misteri dari mitologi kita, baik yang bersifat personal maupun kolektif, atau berusaha mengontrolnya dan memahaminya dengan memberi label dan mengkotak-kotakan serta menjabarkannya. Anggapan saya sendiri lebih cenderung kepada individu – yakni bahwa apa yang dilakukan seseorang berhadapan dengan panggilan tidak dilakukan dengan gampang-gampang saja dan biasanya berasal dari kesadaran yang lebih dalam dan lebih dekat dengan gerakan batiniah orang tersebut, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

Karena, jika itu tidak terkait dengan alam bawah sadar Anda, apa yang Anda rengkuh pada tingkat kesadaran, sesungguhnya merupakan ekspresi dari apa yang, menurut Anda, diharapkan oleh orang lain terhadap diri Anda atau apa yang Anda sendiri harapkan terhadap diri Anda. Oleh karena itu, bila pada suatu saat Anda menganggap bahwa gerakan sejati Anda yang berasal dari kedalam diri sebagai hal yang serius, maka Anda akan melihat bahwa apa yang Anda jalankan sebelumnya adalah tindakan dari diri anda yang superfisial dan bukan tindakan dari seluruh diri Anda yang bersentuhan dengan diri Anda yang sebenarnya. Anda didorong dari dalam untuk menjadi diri yang pernah Anda ingkari; dan hal ini membutuhkan entah sebuah komitmen baru yang lebih realistik pada jawaban Anda sebelumnya, atau sebuah penolakan atas jawaban pertama Anda karena dibuat tanpa mengetahui siapa diri Anda yang sebenarnya. Anda temukan bahwa Allah berbicara dari dalam diri anda maupun memanggil dari luar diri Anda.

Tentu saja, kita semua tidak luput dari penipuan diri, tetapi siapa yang harus menilai selain kecuali diri kita sendiri? Saya cenderung meyakini bahwa dengan meninggalkan panggilan yang satu demi panggilan yang lain, individu yang bersangkutan akhirnya menemukan dirinya yang sesungguhnya.Sumber:

(Murray Bodo, The Way of St. Francis. The Challenge of Franciscan Spirituality for Everyone, hal. 47-49)



Kirim Komentar