Triduum Fransiskus Assisi 2010 Hari Pertama – Menjadi Fransiskus di Zaman Modern

01/10/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.110 kali

Pengantar

Tema besar permenungan kita pada Triduum menyambut perayaan wafatnya Bapa kita St. Fransiskus ialah menjadi saudara bagi semua. Pada hari pertama ini, kita akan melihat bagaimana Fransiskus menjadi teladan bagi kita untuk menjadi saudara bagi semua makhluk. Kita akan melihat apa yang mendasari Fransiskus sehingga ia bisa bersikap demikian terhadap semua makhluk. Semoga permenungan kita pada hari pertama ini menjadi dasar permenungan kita pada hari-hari berikutnya.

Bacaan

Legenda Perugina 64
Suatu saat ketika Fransiskus kembali ke gereja St. Maria Para Malaikat di Portiuncula, ia mendapati saudara Yakobus yang sederhana bersama dengan seorang kusta penuh dengan luka-luka, yang telah datang pada hari yang sama. Fransiskus menyerahkan dengan sepenuh hati orang kusta itu dan semua orang kusta lain kepada saudara Yakobus. Sebab pada masa itu para saudara biasanya tinggal di tempat orang-orang kusta. Saudara Yakobus bertindak selaku dokter bagi mereka yang ditimpa penyakit dan dengan senang hati dia menyentuh luka-luka mereka, mengganti perban dan mengobati luka-luka itu.

Sambil menegur dia dengan agak keras, Fransiskus berseru kepadanya, “Engkau tidak boleh membawa keliling saudara-saudara kristen secara demikian sebab hal itu tidak pantas bagi dirimu sendiri dan bagi mereka.”

Fransiskus biasanya menyebut orang-orang kusta sebagai “saudara-saudara kristen”. Meskipun dia suka bahwa mereka membantu dan melayani orang kusta, dia tidak mau orang-orang kusta yang mengalami luka parah tersebut dibawa ke luar dan dibawa kembali ke tempat tinggal mereka. Saudara Yakobus yang sangat sederhana itu sering pergi ke gereja dengan salah seorang penderita kusta. Setelah mengatakan hal itu, Fransiskus segera menegur dirinya sendiri dan dia mengakui kesalahannya kepada saudara Petrus Catani yang waktu itu menjabat sebagai minister jenderal. Fransiskus yakin bahwa dia—dengan menegur saudara Yakobus—telah membuat malu orang kusta itu. Karena itu, dia mengakui kesalahannya dan minta maaf kepada Allah dan kepada orang kusta tersebut. Fransiskus berkata kepada saudara Petrus, “Saya mengatakan kepadamu supaya engkau memperteguh silih yang ingin kulakukan, dan janganlah menghalang-halangi saya.” Saudara Petrus berkata kepadanya, “Saudara, terjadilah yang berkenan kepadamu.”

Saudara Petrus sangat menghormati serta menyegani Fransiskus. Ia sangat taat kepada Fransiskus sehingga tidak berani mengubah kehendaknya, meskipun waktu itu dan sering kali jiwa raganya merasa tersiksa.

Fransiskus mengatakan, “Inilah silihku bahwa saya akan makan dari satu piring bersama dengan saudara kristen itu.” Ketika Fransiskus duduk pada meja bersama dengan orang kusta itu dan bersama dengan para saudara yang lain, ditempatkanlah sebuah piring di antara mereka berdua. Orang kusta itu penuh luka dan borok. Jari-jarinya yang digunakan untuk makan, hampir terputus dan berlumuran darah. Setiap kali ia memasukkan jarinya ke dalam piring, selalu darah menetes ke dalam piring itu.

Ketika hal itu dilihat oleh saudara Petrus dan para saudara yang lain, mereka merasa sangat sedih, tetapi mereka tidak berani mengatakan apa-apa karena segan terhadap Fransiskus. Kami yang menulis ini, telah melihat kejadian itu dan memberikan kesaksian mengenai hal itu.

Renungan

Kelemah-lembutan hati Fransiskus secara khusus ditunjukkan dalam relasinya dengan para saudara, juga dengan orang-orang kusta. Dengan menyebut semua orang “saudara dan saudari“, Fransiskus membongkar tembok-tembok besar yang dibuat oleh hirarki feodal. Dia sendiri menyebut dirinya “fratello” (little brother). Fransiskus ingin menyatukan semua pihak dalam semangat persaudaraan. Baginya, sikap persaudaraan ini bukanlah teoretis melainkan afektif. Fransiskus memperlakukan semua orang dengan rasa hormat, sekalipun yang dihadapinya adalah seorang Sarasen, orang-orang tak beriman, bahkan pencuri.

Pernah ia berkata kepada seorang pencuri, “Selamat datang, saudara pencuri, kita semua bersaudara dan kita punya beberapa botol anggur.”

Fransiskus secara khusus lembut kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang paling miskin di antara yang miskin, yaitu orang-orang kusta. Pertobatan Fransiskus pertama-tama adalah perubahan sikapnya kepada orang-orang miskin dan tersalib, dan dari sana ia dibawa kepada Kristus yang tersalib. Pada masa mudanya, ia sering menyimpan pakaian dari toko ayahnya dan memberikannya kepada orang-orang miskin. Dalam 2Celano, diceritakan bahwa Fransiskus beberapa kali melepas pakaiannya dan memberikannya kepada orang miskin yang dijumpainya. Setelah pertobatannya, orang miskin dan Kristus yang miskin baginya adalah sama saja. Semangat Fransiskus ini menempatkan dirinya pada level yang sama dan senasib dengan orang miskin. Ia selalu berusaha menolong orang miskin. Jika tak bisa, ia menaruh belaskasihan yang sangat besar terhadap mereka. Dia tidak tahan jika melihat ada orang yang lebih miskin dari pada dirinya. Maka ia memberikan pakaiannya begitu saja kepada mereka, entah sebagian, bahkan sampai seluruhnya, dan dia sendiri tinggal dalam keadaan telanjang. Hal ini dilakukannya bukanlah karena ia mencari sensasi atau decak kagum para saudaranya, melainkan karena belarasa yang mendalam terhadap mereka. Belaskasih dan kelemahlembutan sudah terletak pada dasar relasi Fransiskus dengan orang lain.

Perubahan sikapnya terhadap orang-orang miskin membawa Fransiskus semakin dekat kepada Kristus yang tersalib. Baru setahun setelah perubahan sikapnya tersebut dia mendengar suara salib San Damiano. Keinginan untuk mengikuti injil secara radikal bukanlah hal yang baru pada zaman Fransiskus. Juga gerakan-gerakan yang ingin mengikuti Yesus secara radikal banyak bermunculan pada zaman itu. Yang baru dalam diri Fransiskus adalah bahwa ia ingin menghadirkan kembali hidup Kristus. Melalui hidupnya, Fransiskus ingin membawa misteri Kristus yang tersalib. Dalam konteks ini, peristiwa Fransiskus mendapat banyak pengikut, makan bersama para saudara menjelang akhir hidupnya, serta stigmata, dapat dipahami sebagai kepenuhan dalam menghadirkan Kristus yang tersalib.

Di sinilah kelemah lembutan dan belaskasihan Fransiskus bersemi. Karena Kristus dan orang-orang miskin adalah sama, dan Fransiskus sendiri telah menjadi sama dengan orang-orang miskin pada zamannya, maka menghadirkan Kristus kembali di zamannya bukanlah hal yang sulit bagi Fransiskus. Ia tinggal bersama orang-orang kusta, makan bersama mereka, dan menjadi bagian dari mereka. Dengan cara itu, ia melayani dan menjadi satu dengan Kristus yang tersalib.

Bapa Fransiskus yang kita teladani telah mengajarkan kepada kita bagaimana menghadirkan Kristus dan menghidupi Kristus pada zamannya. Menjadi tugas kita sekarang untuk juga menghidupkan semangat Fransiskus ini. Kita perlu bertanya dan berefleksi, apakah kita sudah benar-benar hidup dalam semangat bapa kita tersebut. Ataukah kisah tentang Fransiskus hanyalah tinggal dongeng yang indah tentang seorang yang sangat suci, yang tak seorang pun dapat menyamainya dan mengikutinya sekalipun telah mengaku sebagai pengikutnya? Apakah Fransiskus hanya tinggal patung dan tak lagi hidup di zaman kita? Kenyataannya, Bapa Fransiskus memang sudah wafat pada tahun 1225. Ia tak mungkin datang lagi pada zaman sekarang di sini, di Jakarta. Maka kalau kita menyanyikan lagu “Fransiskus Dunia Menantimu”, sebenarnya bukan Fransiskus yang dinanti untuk hidup lagi, melainkan kita…

Sumber: Perayaan Triduum Fransiskus Assisi oleh Keluarga Fransiskan-Fransiskanes Jakarta 2010.

Hari Pertama | Hari Kedua | Hari Ketiga

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *