Triduum Fransiskus Assisi 2010 Hari Ketiga : Arti Menjadi Saudara

01/10/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.585 kali

Pengantar

Pada kesempatan ini titik pijak kita ialah bahwa saudara dalam kaca mata fransiskus adalah anugerah, pemberian cuma-cuma kepada persaudaraan. Dari titik pijak “saudara sebagai anugerah” kita akan mendalami bersama bagaimana Fransiskus memperlakukan seorang saudara. Dalam kaca mata Fransiskus kita mengetahui bahwa yang disebut saudara tentu saja bukan hanya manusia, tetapi juga semua ciptaan.

Persaudaraan begitu jawaban kita ketika ditanya apa kekhasan yang dimiliki tarekat kita. Artinya hidup bersaudara menjadi sesuatu yang melekat pada diri kita masing-masing. Namun, benarkah kita sudah sungguh-sungguh menjadi saudara yang baik bagi saudara lain?

Bacaan

Beberapa kutipan yang diambil dari sumber-sumber fransiskan ini sekiranya dapat menyegarkan kembali ingatan kita akan pesan-pesan Fransiskus perihal hidup sebagai seorang saudara.

1). Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara, tidak seorang pun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat; tetapi yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku, bahwa aku harus hidup menurut pola Injil Suci. (Wasiat, 14)

2). Di mana pun saudara-saudara berada dan bertemu, hendaklah mereka menunjukkan bahwa mereka satu sama lain merupakan saudara se keluarga. Maka yang satu hendaknya dengan leluasa menyatakan kebutuhannya kepada yang lain; karena jika seorang ibu mengasuh dan mengasihi anaknya yang badani, betapa lebih saksama lagi seorang saudara harus mengasihi dan meng asuh saudaranya yang rohani. Jika ada saudara yang tertinggal karena sakit, maka saudara lainnya harus melayaninya, sebagaimana mereka sendiri ingin dilayani. (Anggaran Dasar dengan Bula VI: 7-9)

3). Santo Fransiskus, mendesak semua orang terlebih-lebih kepada cinta kasih, memperingatkan mereka untuk saling menunjukkan – yang seorang kepada yang lain – keramah-tamahan dan persahabatan suatu kehidupan keluarga, “Aku berkeinginan,” katanya, “para saudaraku akan menunjukkan diri mereka sebagai anak-anak dari ibu yang sama” (2Cel 180)

4). “Cinta kasih antara mereka itu haruslah mereka nyatakan dengan perbuatan, sesuai dengan kata rasul: Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Janganlah mereka memfitnah seorang pun; janganlah mereka bersungut-sungut dan mengumpat orang lain karena ada tertulis: Para pengumpat dan pemfitnah dibenci oleh Allah. Lagi pula hendaklah mereka dengan sopan dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang; janganlah mereka menghakimi dan menghukum. Dan lagi, sesuai dengan firman Tuhan, janganlah mereka melihat dosa orang lain yang kecil, tetapi lebih-lebih hendaklah mereka merenungkan dosanya sendiri dengan hati yang pahit pedih. Mereka harus berlomba-lomba untuk masuk melalui pintu yang sesak, sebab Tuhan berfirman: Sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan; dan sedikitlah orang yang mendapatinya” (AngTBul XI:6-13).

Renungan

Dari beberapa kutipan di atas, ada beberapa hal yang bisa ditarik sebagai kesimpulan gagasan Fransiskus tentang saudara. Sedikitnya ada tiga hal yang bisa ditarik:

1. Hidup sebagai saudara layaknya berasal dari Ibu yang sama dan leluasa menyatakan kebutuhan

Menyatakan kebutuhan? “Ah tidak, saya malu, saya kan belum punya sumbangan apa-apa buat komunitas” begitulah kira-kira jawaban beberapa saudara ketika ditanya tentang apakah ia pernah menyatakan kebutuhannya. Yang lain lagi menjawab: “ga enak minta melulu, biar aj bertahan dengan yang ada”.
Bagi beberapa orang, menyatakan kebutuhan bukanlah hal yang mudah. Apalagi dalam sebuah persaudaraan yang menghayati dengan baik kemiskinan yang suci. Tiap-tiap saudara punya alasan masing-masing, mengapa ia begitu enggan untuk menyatakan kebutuhannya kepada komunitas. Apakah karena persoalan sang mamon (baca uang/duit) begitu sensitif dalam persaudaraan? Namun alasan macam itu berarti menyempitkan persoalan kebutuhan pada aspek ekonomi semata, padahal seharusnya tidak demikian. Kebutuhan bisa juga berupa macam-macam hal seperti pengertian baik dari komunitas, dukungan, ajakan dan terutama kepekaan terhadap situasi dan kebutuhan saudara.

Sikap bertahan dengan apa yang ada mungkin sesuatu yang baik, namun kalau memang membutuhkan seharusnya kita menjadi malu, takut untuk menyatakan kebutuhan kita kepada persaudaraan layaknya seorang anak yang meminta sesuatu kepada ibunya. Bahkan Fransiskus menegaskan lagi kita harus mengasihi layaknya seorang ibu. Kalau kasih kita seperti kasih ibu, kiranya beberapa unsur ini perlu diperhatikan; a) Kasih ibu itu mengasihi lebih dahulu; b) mengasihi sampai memberikan dirinya seutuhnya dengan tulus untuk perkembangan anaknya.

Menarik kalau membandingkan cinta kasih ibu itu dengan cinta kasih kristiani. Kardinal Nyu Yen Van Thuan dalam bukunya Kesaksian Pengharapan pernah memaparkan kekhasan cinta kasih kristiani begini:
Cinta kasih kristiani itu mencintai lebih dahulu. Cinta Allah yang ditaburkan Yesus dalam hati kita dengan karunia Roh Kudus adalah cinta yang sepenuhnya tanpa jasa. Inilah cinta tanpa kepentingan diri sendiri, tanpa mengharapkan balasan apa pun. Cinta itu tidak akan berhenti untuk menemukan entah orang lain itu sahabat atau musuh.

Senada dengan itu Ibu Teresa menegaskan: “ supaya mencintai seorang pribadi, kita harus bertemu dia. Saya tidak pernah merawat semua orang, hanya pribadi-pribadi.
Cinta kasih fransiskan di titik ini adalah perjumpaan terus menerus dan komunikasi yang mesra pertama-tama dengan Allah yang adalah kasih itu dan berikutnya dengan saudara dengan menjadi ibu.

2. Saudara adalah anugerah, rekan seperjalanan dalam menghayati injil

Bagi kita orang timur, kata “saudara’ sudah menunjuk pada suatu hubungan emosional yang mendalam. Kata “saudara” adalah kata yang dalam maknanya bagi orang timur. Saudara itu lebih dari sekadar teman atau sahabat. Bekerja bersama saudara sendiri selalu menumbuhkan rasa aman. Bersama saudara kita bisa bercerita, berbagi apa saja baik pengalaman maupun materi. Kata “saudara” membuat kita merasa sebagai suatu keluarga dengan hubungan emosional yang mendalam.

Fransiskus menyebut saudara itu pemberian dari Yang maha kuasa, pemberian dari Allah yang patut dan layak untuk disyukuri. Bahkan penghayatan saudara yang adalah anugerah itu, bagi Fransiskus, mencakup semua ciptaan. Dengan suatu cara yang mengagumkan, Fransiskus mengkaitkan saudara dengan cara hidup injili. Panggilan dari Tuhan bagi kita mungkin sifatnya personal dengan cara yang khas bagi masing-masing, tetapi serentak pula dihayati dalam persekutuan dalam persaudaraan.

Basilius Agung menulis:
Sang Pencipta menghendaki kita supaya kita saling membutuhkan satu sama lain justru agar kita dapat hidup dalam persekutuan dengan sesama…..memang, jika anda hidup seorang diri, kaki siapa yang dapat engkau bersihkan? Bagaimana engkau dapat menempatkan dirimu di tempat yang terakhir? Karenanya, kehidupan komunitas adalah stadion tempat kita berlatih sebagai atlet, atau sebuah gedung olaraga yang membuat kita maju, suatu latihan kesempurnaan terus menerus menurut perintah Allah.

Basilius mengungkapkan gagasan membentuk komunitas karena membutuhkan orang lain untuk melatih diri dan sekaligus mempraktikan injil. Hal ini sedikit berbeda dengan Fransiskus yang pertama-tama memandang saudara sebagai anugerah, mensyukurinya dan lantas hidup bersama menghayati injil. Fransiskus mensyukuri saudara dan alam pemberian Yang Mahakuasa, karena dengannya ia bisa melayani sebagai seorang ibu. Sikap proaktif diminta karena kita diminta untuk menjadi seorang ibu.

Sementara itu, kita bertemu dengan banyak orang yang berniat baik untuk memelihara ciptaan. Makin banyak orang merasa terpanggil untuk tanggap dan peduli terhadap semua ciptaan. Semua kenyataan ini memberi kita harapan bahwa memenuhi bumi dengan nilai injili bukanlah sesuatu yang mustahil. Mengutip bahasa konsili vatikan II menyebut berkerja sama dengan orang yang mempunyai kehendak baik.

3. Menyatakan cinta kasih dalam perbuatan dan tidak mengumpat saudara lain.

Kalau kita melakukan perjalanan di Jakarta dengan menggunakan angkutan umum kita akan sering bertemu dengan orang yang mengumpat, memaki dengan kosa kata yang beragam. Ada banyak hal yang membuat kata-kata umpatan dan makian begitu gampang keluar. Dalam biara mungkin kata-kata yang demikian jarang muncul, tetapi muncul dalam bentuk lain. Muncul dalam menjelekan saudara sendiri di “tempat-tempat tersembunyi”.

Sering sekali kita juga mendengar orang berkata “kesabaran itu ada batasnya”. Namun, kalau kita sedikit cermat, sebagai orang kristiani dan fransiskan ungkapan itu tidak tepat. Kita diminta untuk radikal, kesabaran kita seharusnya tidak bertepi, tidak berujung. Rasa cinta seharusnya lebih besar dari rasa benci dan dendam. Fransiskus mengungkapkan hal itu dengan sangat indah:

Seorang hamba Allah tidak boleh merasa muak terhadap apa pun, selain terhadap dosa. Bila ada orang berbuat dosa, entah bagaimanapun, dan hal itu menyebabkan hamba Allah itu menjadi gelisah dan gusar, tetapi bukan karena terdorong oleh cintakasih, maka ia menimbun kesalahan bagi dirinya sendiri. Seorang hamba Allah, yang tidak gusar dan gelisah karena orang lain, benar-benar hidup tanpa milik. (Petuah XII)

Inilah cinta kasih kristiani yang unik itu; bahwa kita mencintai musuh kita. “ Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu…apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja… bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah berbuat demikian?…. tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:46-47, 44).

Kalau injil meminta kita untuk mengasihi musuh kita apalagi kepada saudara sendiri. Kecendrungan umum ialah bahwa kita enggan untuk meminta maaf kalau berlaku salah. Lebih mudah melihat dan menunjuk kesalahan orang lain, ketimbang mengakui bahwa kita bertindak salah.

Sumber: Perayaan Triduum Fransiskus Assisi oleh Keluarga Fransiskan-Fransiskanes Jakarta 2010.

Hari Pertama | Hari Kedua | Hari Ketiga

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *