Triduum Fransiskus Assisi 2010 Hari Kedua – Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan: Landasan menjadi saudara bagi semua

01/10/2010
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.139 kali

Pengantar

Para pengikut Fransiskus sering dijuluki sebagai orang-orang yang mau bersaudara dengan siapa saja dan apa saja. Saking bangganya dengan anggapan ini, kadang membuat para laskar Fransiskus lupa akan hakekat persaudaraan itu. Kerap persaudaraan atau seruan saudara hanya sebatas slogan. Dalam benak kita memang sudah tertanam siapa-siapa dan apa saja yang kita sebut sebagai saudara. Saudara-saudara kita adalah orang-orang dan ciptaan-ciptaan lain yang kita jumpai tiap hari di lorong-lorong, di jalan-jalan, di tempat kerja, di kampus, dan di mana saja kita melangkah dan memandangkan mata di alam semesta ini. Namun yang kadang kita lupakan adalah apa yang seharusnya dan sepantasnya kita lakukan bagi saudara-saudara kita. Ada baiknya kita menelaah dan meresapkan kembali nilai-nilai yang sebenarnya sudah diidentikkan juga dengan para pengikut Fransiskus yaitu Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan ciptaan sebagai landasan kita bersaudara bagi semua.

Keadilan
Apa faedahnya kita menyebut diri saudara kepada yang lain kalau kita tidak bertindak adil kepada yang lain?
Para pekerja atau pembantu kita yang juga kita sering sebut sebagai kaum marjinal dan sekaligus saudara, kadang diperlakukan dengan tidak adil. Jam kerja yang melampaui batas, upah yang tidak memadai, perlakuan diskriminatif mungkin secara tak sadar masih kita lakukan terhdap para pekerja dan pembantu kita. Keadilan juga kadang dinodai oleh prasangka kita terhadap saudara lain yang tidak adil, padahal kita mestinya sudah adil sejak dari pikiran kita. Masih banyak bentuk ketidakadilan lain yang bisa kita ingat dan refleksikan.

Damai
Bagaimana mungkin kita menjadi pembawa damai jika hari-hari kita diwarnai dengan muka cemberut, masam, dan tidak bersahabat? Berjumpa denga saudara-saudara lain dengan selalu tertunduk, tanpa kesediaan memberikan senyum kebahagiaan yang memperkokoh persaudaraan. Masih banyak juga konflik-konflik terpendam yang berawal dari cemburu, iri hati, dan lain sebagainya yang masih menjadi api dalam sekam dalam kehidupan komunitas. Menjadi saudara juga berarti mau selalu berdamai dengan diri sendiri dan orang lain di sekitar.

Keutuhan Ciptaan
Kita sering menyebut diri saudara bagi segala ciptaan dan pengikut Fransiskus, sang pelindung ekologi. Namun apa yang kita lakukan kadang berlawanan dengan kebanggaan kita itu. Menjadi pengikut Fransiskus yang sekaligus menjadi perambah hutan, penyebar polusi, perusak tanah dengan tidak mengolah sampah, listrik dan segala perlengkapannya digunakan tanpa kesadaran ekologis dan kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang lainnya.

Mungkin ada yang setuju pandangan-pandangan ini tapi pasti ada juga yang tidak setuju atau meragukannya…

Belajar Dari Kisah

Kisah I
Ada beberapa orang frater berkisah dengan penuh semangat karena mereka telah mengunjungi sebuah komunitas suster. Karena asik bercengkerama, akhirnya mereka pulang agak terlambat dan sudah agak malam. Karena suster-suster begitu bermurah hati dengan para frater, maka mereka diantar dengan mobil milik suster. Menikmati kemudahan, maka para frater menikmatinya dengan ikhlas. Baru dalam perjalanan beberapa frater melihat adanya kesalahan, setelah mereka berkomunikasi dengan sang sopir. Ternyata sopir yang mengantar mereka berasal dari daerah Bogor dan setelah mengantar para frater dia harus pulang ke Bogor dengan speda motornya. Setelah diperkirakan, sopir tersebut paling cepat sampai di rumahnya pukul satu dini hari. Bisa dibayangkan capenya sang sopir dan sedikitnya waktu yang dia miliki untuk berkumpul bersama keluarganya. Dapatkah hal ini disebut keadilan kalau mencederai keadilan yang lain.

Kisah II
Seorang frater sangat dekat dengan seorang ibu. Mereka sering berjalan berdua dan bicara berdua. Apa yang mereka lakukan dan bicarakan, hanya mereka sendiri yang tau. Maka timbulah kasak-kusuk di antara frater-frater yang lain, mengenai hubungan frater ini dengan sang ibu. Namun ini juga sekedar kasak-kusuk, belum dapat dipastikan kebenarannya. Siapakah yang tidak adil di sini yang tidak terbuka atau yang memandang penuh curiga.
(Bisa ditambahkan kisah-kisah inspiratif lain baik menyangkut damai maupun keutuhan ciptaan)

Mutiara-mutiara Fransiskus

Peristiwa-peristiwa tadi merupakan peristiwa sehari-hari yang mungkin jarang kita sadari, karena kita begitu tenggelam dalam persoalan-persoalan besar mengenai keadilan. Bagaimanapun kecilnya peristiwa-peristiwa ini, tentunya mencederai nilai-nilai persaudaraan yang kita agung-agungkan. Nilai persaudaraan sebenarnya sangat dekat dengan nilai-nilai keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (KPKC). Menjadi saudara bagi semua tidak mungkin hanya dalam kata, tanpa tindakan. Klaim kita sebagai saudara bagi semua harus ditunjukan dalam tindakan yang memang akan menunjukan bahwa kita betul-betul seorang saudara. Tindakan sebagai seorang saudara tentunya harus memiliki nilai-nilai KPKC. Nilai-nilai ini memang sangat dekat dengan para pengikut Fransiskus. Konon membicarakan KPKC tidak akan lengkap tanpa menyertakan pandangan fransiskan.

Keadilan bagi Fransiskus berdasarkan pada Allah adalah Bapa kita bersama dan bahwa semua orang adalah saudara dan saudari, yang menuntut iman akan Allah dan cinta kepada sesama, yang telah terangkum dalam diri Yesus Kristus, maka Fransiskus menolak segala bentuk egoisme, yaitu penumpukan segala sesuatu bagi diri sendir. Karena itulah Fransiskus begitu menekankan sabda bahagia (Pth) untuk hidupnya dan untuk saudaranya. Karena itu jugalah, ia menolak segala bentuk tirani-kapitalis, dan segala macam egoisme, sebab baginya hanya Allahlah yang Mahakuasa dan semua orang adalah saudara. Inilah keadilan Injili menurut penghayatan Fransiskus (Bdk AngTBul XXII, 56-62; XXIII, 63-73). Fransiskus menyadari bahwa dia tidak mempunyai apa-apa selain dosa-dosa yang dimilikinya. Segala sesuatu yang dia terima dari Tuhan harus dikembalikan kepadaNya. Segala sesuatu yang dia miliki harus juga menjadi rahmat dan berkat bagi yang lain. Pada akhirnya, kehinadinaan, kemiskinan, dan karya adalah sarana, syarat dan jalan menuju persaudaraan dan keadilan.

“Semoga Tuhan memberi engkau damai !” Salam damai adalah khas bagi Fransiskus. Tulisan-tulisannya(surat-surat) sering dimulai dengan salam damai. Fransiskus mengutus saudaranya ke dunia agar mereka mewartakan damai. Dan pada setiap rumah yang mereka kunjungi, Fransiskus memesan agar mereka mengucapkan :“Damai di rumah ini”. Fransiskus juga menekankan agar damai yang diucapkan dengan mulut hendaknya selaras dengan damai di hati. Baginya damai adalah anugerah dari Allah, sekaligus tugas, dan isi pewartaan adalah damai yang benar yaitu Kristus yang lahir sebagai Pangeran damai, cinta, kerendahan hati, kesabaran, keindahan, dan keamanan. Namun adakah damai jika tanpa keadilan? Dengan kata lain damai juga adalah buah dari keadilan. Kehidupan yang dipenuhi damai adalah kehidupan yang diwarnai senyum, kegembiraan, keadilan, dan tegur sapa yang tulus.

Selain itu bagi Fransiskus, ciptaan adalah tangga untuk naik kepada Allah. Dalam ciptaan ia melihat Allah Pencipta dan jejak-Nya. Fransiskus melihat dunia ini sebagai simfoni cinta yang mengarah pada Kristus yang sulung di antara semua mahluk. Karena itu, Fransiskus menyebut setiap mahluk sebagai saudara dan saudari (1 Cel 91: 479-480). Karena itu, ia mau mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan Pencipta, dan bukan menindas dan menjadikan ciptaan itu sebagai obyek kenikmatan, kuasa, dan kerakusan, melainkan sebagai obyek kekaguman akan karya Pencipta serta merasa wajib memelihara dan menjaganya. Sebab dengan bertindak tidak adil terhadap alam ciptaan maka kita menciptakan malapetaka bagi kita dan anak cucu kita.

Maka makin jelaslah bahwa niat kita menjadi saudara bagi semua membawa tanggung jawab bagi kita untuk menjadi pejuang dan pelaku keadilan, perdamaian, dan pemelihara keutuhan ciptaan. Sebab menjadi saudara bagi semua tidak bisa hanya berhenti sebagai kata atau slogan tetapi harus terlihat dalam tindakan penuh adil, damai, dan membela segala ciptaan.

Sumber: Perayaan Triduum Fransiskus Assisi oleh Keluarga Fransiskan-Fransiskanes Jakarta 2010.

Hari Pertama | Hari Kedua | Hari Ketiga

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *