Tikus yang Pornis

28/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 649 kali

Pada suatu pagi nan dingin di sebuah pastoran sederhana di tempat terpencil, dekat aliran sungai, di bilangan Manggarai, terjagalah seorang Saudara kita (yang tidak mau dikenal jati dirinya) dari tidurnya yang lelap. Bersama dengan cerianya Bapa Fransiskus, Saudara kita ini menggeliat bangun untuk menyambut sang surya yang mulai merekah dari balik bukit di ufuk timur. Gita Sang Surya nyaris dilantunkan (dia memang berwatak riang dan penceloteh kelas berat!), dia tiba-tiba terhenyak, tertegun tercampur dengan was-was. Dirasakan didalam celana piyamanya yang nyaris kumal itu ada makhluk yang bergerak-gerak. Si makhluk pecundang itu lebih kurang ajar lagi: dia malah lari ke sana ke mari melewati hutan belantara si Adam.

Ketakutan Saudara kita ini tak tertahankan lagi. Diapun berteriak lepas “Tolong, tolong ada tikus!” Anak yang tidur di ruang depan sudah lebih dahulu terbangun. Mendengar teriakan itu, dia hanya tersenyum sambil menggumam “Dasar Pater seorang penakut, sama tikus saja takut”. Dia tetap saja asyik menyalakan tungku untuk menyiapkan minuman kopi bagi Pater tersayang. Tetapi teriakan minta tolong terdengar lagi, tidak hanya sekali, malah ditambah sesuatu yang bikin penasaran “Ada tikus di celana piyama saya!” Dalam ketakutan dan kepanikan, memang orang sering lupa pada privacy yang biasanya dipertahankan dengan saksama.

Mendengar teriakan terakhir ini, sang anak itu pun tergopoh-gopoh masuk ke kamar pribadi sang Pastor. Dalam suasana yang remang-remang nyaris gelap, dia bertanya “dimana tikusnya Pater?”. “Di situ, tangkap dia!” kata Saudara kita ini bernada instruksi dengan menunjuk-nunjuk ke suatu tempat, sambil tetap berbaring menenangkan badan sebisa-bisanya. Si Anak tanpa ragu-ragu menubruk benda yang dalam keremangan itu disangkanya tikus. “Saya tangkap Pater! Tikus kurang ajar!… Besar Pater!” serunya bak seorang prajurit melaporkan hasil operasinya kepada komandannya. “Kurang ajar!” gertak Saudara kita ini bernada marah, “bukan itu tikusnya!” Dasar tikus kurang ajar bin pornis, dia menggunakan peluang saat lengah ini untuk keluar dengan tenang menyelusuri kaki Saudara kita. Melewati salah satu lubang dinding yang begitu banyak tersedia, dia menyelinap keluar dan masuk ke rerumputan alang-alang. Amanlah dia di sana sambil membawa kenangan aroma yang sangat khas.

Apakah mereka berdua di kamar masih terus memperkarakan hasil tangkapan Sang Anak itu, walahualam, hanya Tuhan yang tahu. “Privacy”, kata sumber yang tidak mau disebut namanya itu.

(ditukil dari “Legenda Minor Santo Bonaventura” edisi Manggarai, Flores)
(Dimuat dalam Taufan edisi Januari 1999)

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *