Surat Minister General Untuk Menyambut Pesta St. Fransiskus Assisi

07/10/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 204 kali

SURAT MINISTER DAN DEFINITOR GENERAL
MERAYAKAN PESTA ST. FRANSISKUS
4 OKTOBER 2016

SANTO FRANSISKUS:
SEORANG SAUDARA YANG PENUH PERHATIAN, RAMAH TAMAH
DAN MENERIMA SIAPA SAJA

Selamat Pesta St. Fransiskus. Assisi 2016

 

Saudara-saudara terkasih.

Semoga Tuhan member kalian damai!

Sementara kita merayakan pesta Fransiskus, pendiri, bapa dan saudara kita yang suci, kita terus menerus merasa terpikat kepadanya sebagai seorang pribadi: kita terpikat oleh pesannya dan bagaimana dia menghayati pesannya itu. Melalui hidup injilinya yang radikal, otentisitas kepribadiannya, dan hubungan yang santun dan penuh persaudaraan dengan setiap ciptaan yang ada di sekitarnya, St. Fransiskus adalah inspirasi bagi umat manusia, menimbulkan ikatan kasih yang mendalam dan hormat pada Gereja, masyarakat dan segenap alam ciptaan.

Saudara-saudara, dalam surat perayaan dan salam kepada kalian semua ini, kami ingin meluangkan sedikit waktu melihat pesan yang pendek dan sederhana yang termuat dalam Anggaran Dasar (AngBul 3:10-11): “Aku pun menganjurkan, menasihatkan dan mengajak saudara-saudaraku dalam Tuhan Yesus Kristus agar sewaktu bepergian di dunia, janganlah mereka berselisih, bertengkar mulut dan menghakimi orang lain; tetapi hendaklah mereka itu murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya.”

Kutipan dari Anggaran Dasar ini mengingatkan kita bahwa kita, para Saudara Dina, perlu sungguh-sungguh “bepergian di dunia” – yang berarti: di dunia zaman sekarang ini, yang harus kita cintai dan terima dengan sisi terang dan gelapnya, sambil menyadari akan adanya tantangan-tantangan berat yang ditampilkannya pada hidup dan misi kita. Pada tingkat global, dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah mencapai suatu tingkat perkembangan yang tak diperkirakan sebelumnya. Sementara hal ini telah mengantar orang mencapai kemajuan-kemajuan luar biasa bagi manusia dan bagi bumi ini, namun pada saat yang sama, kekuatan yang sama itu dapat dipergunakan dari sudut pandang yang hanya memikirkan diri sendiri, menciptakan kemiskinan, kekerasan, ketakutan dan pertikaian antar manusia dalam bentuknya yang baru, demikian juga hal yang sama itu mencederai alam dunia secara mendalam.

Kutipan Anggaran Dasar di atas itu juga mengingatkan kita bahwa Saudara Dina, melalui cara hidup yang kita hayati, harus memberi kesaksian atas atau perihal kebaikan yang dapat dikerjakan oleh seorang manusia. Dalam relasi di dalam persaudaraan kita dan dengan masyarakat, hendaknya kita hindari pertikaian dan perbantahan. Sebaliknya, kita harus memupuk kelembutan, kesederhanaan, kehalusan budi, rendah hati, kejujuran, dan suka damai di antara kita sendiri dan terhadap semua orang lain.

Fransiskus, dengan mempergunakan kata-kata yang sederhana namun mendalam, dan melalui tingkah laku yang nyata dan penuh makna, memperkenalkan kita dengan cita-cita religius dan manusiawi yang dapat memberi hidup kita suatu makna yang menarik dan otentik – sesuatu yang pertama-tama dapat kita terima sendiri dan kemudian kita teruskan kepada orang-orang lain. Fransiskus adalah seorang pribadi yang dengan sebaik-baiknya tahu bagaimana mencermati dan menemukan apa yang tengah terjadi di dalam dirinya sendiri dan di sekitarnya; dia adalah seorang pribadi yang mendengarkan, selalu memberi perhatian kepada suara-suara Tuhan dan orang lain; dia terbuka untuk berjumpa dengan semua saja yang berada di sekeliling dirinya; dia dengan ramah menerima setiap orang, khususnya orang miskin dan berkebutuhan; secara total dia terlibat dalam kenyataan di mana dia berada, dalam keadaan-keadaan yang terpecah belah oleh kekerasan dan pengasingan.

Kita Saudara-saudara Dina, sementara merenungkan baik Fransiskus maupun keadaan dunia sekarang ini, dapat memupuk dan mendorong budaya zaman kita sekarang ini dengan cara rohani dengan mempergunakan gaya hidup kita dan nilai-nilai yang terpancar dari sprititualitas kita. Kita dapat menawarkan persaudaraan, kelemah-lembutan dan sopan santun kepada masyarakat yang terpecah-belah oleh begitu banyak ketidak-adilan dan kekerasan. Dengan cara ini kita akan menghidupi panggilan kita dengan menjadi bentara Yesus Kristus yang tak mengenal lelah, penginjil-penginjil yang mengajak setiap orang yang dipermandikan menjadi seorang pencipta damai dan saksi yang terpercaya dalam hal hidup pertobatan penuh damai (bdk. EG 239). Dialog dalam semua aspeknya (Ekumens, Antar Agama dan Antar Budaya) adalah sarana perkasa yang diberikan Tuhan dalam tugas misi kita. St. Fransiskus memberikan contoh dialog yang membuahkan damai, dengan harapan bisa membangun suatu masyarakat yang adil, penuh relasi persaudaraan dan terbuka untuk semua orang.

Sebagian dari inspirasi dan daya tarik bapa kita St. Fransiskus adalah kemampuannya untuk mengomunikasikan Sabda Allah tidak hanya dalam kata dan istilah teologi, tetapi juga dalam cara yang berkaitan dengan realitas manusia dan masyarakat yang ada. Baginya, Injil itu harus terus menerus diungkapkan dalam hidup dengan pola relasi-relasi yang saling berkaitan; dengan Tuhan, dengan manusia dan dengan semua alam ciptaan. Jadi sang Sabda akan menjadi daging dan akan mengutus bagi kita Roh Kudus yang mampu mengubah dan mencerahi berbagai aspek kehidupan kita yang berbeda-beda, seperti lingkup religius, sosial, politik, budaya, keilmuan dan ekonomi.

Jadi, sekarang ini, bagaimana kita dapat membawa khazanah Injil, demikian juga pengalaman akan Tuhan di dalam persaudaraan kita, dan menerjemahkan hal-hal itu ke dalam kegiatan-kegiatan dan proyek yang akan bermanfaat bagi para saudara dan saudari? Dari sudut pandang kepentingan Gereja dan pelayanan kemanusiaan, apa yang dapat kita kerjakan, pada tingkat pribadi dan pada tingkat persaudaraan dan entitas, supaya dapat dipupuk dan didorong dialog, keterlibatan dalam kalangan orang miskin dan pemeliharaan alam ciptaan?

Perayaan pesta St. Fransiskus tidak dapat dikerdilkan hanya sekedar menyanyikan madah-madah pujiannya, tetapi harus juga membiarkan diri kita terlibatkan karena panggilan Injil dan panggilan dunia sekarang ini; hanya cara inilah yang akan membawa kita ke pembaruan panggilan Fransiskan kita.

Dengan menghayati suatu kehidupan dalam persaudaraan, kita juga ingin menjadi manusia yang berpengharapan (man of hope), persis seperti Fransiskus. Pengharapan itu merupakan sebuah faset dari kasih, karena mereka yang dengan tulus mencintai seseoranglah yang selalu siap menerima hal-hal yang tak diperkirakan. Kita ingin menjadi orang yang memiliki kemampuan untuk melihat kebaikan yang besar, yang Tuhan letakkan dalam hati setiap orang. Inilah mutu yang dapat mengubah jalannya sejarah: memenuhi rencana-rencana Tuhan bagi umat manusia dan dunia. Kita ingin menjadi orang-orang yang berpengharapan, dan karena itu dapat membayangkan dan melaksanakan hal-hal yang tak pernah diharapkan. Kita ingin menjadi manusia pendoa (man of prayer), yang terus menerus menarik sinar dari Allah, sumber dari segala pengharapan. Cahaya ini bersinar dalam setiap pribadi, membawa ketenteraman, damai kepada hati yang telah terbuka untuk saling berbagi dengan murah hati.

Dalam Fransiskanisme, harapan itu membuahkan sikap yang jelas dan pasti pada kehidupan. Di antaranya: keberanian, semangat kreativitas, kemauan untuk mengambil resiko, optimisme dalam semangat, dan komitmen sosial yang sejati. Kemampuan menjadi tegar dan berani, disemangati dan didukung dengan harapan Kekristenan, merupakan kesaksian yang besar akan adanya kehadiran Allah yang aktif di dalam Gereja dan dunia.

Berkat contoh dan pengantaraannya, semoga Fransiskus, Bapa dan Saudara Serafik kita, membantu kita bekerja dengan semua orang yang percaya pada kreatifitas dan solidaritas, sambil membangun bersama mereka sebuah masyarakat yang lebih manusiawi, bersaudara, murah hati dan penuh kegembiraan. Semoga Tuhan menganugerahkan bahwa kita menjadi lemah lembut, penuh damai, ugahari, lembut hati dan rendah hati, jujur diantara kita sendiri dan terhadap semua orang, sehingga keindahan Kristus dan kasih-Nya yang murah hati dapat bersinar terus dalam dunia kita.

Selamat Hari Raya!

Roma, 29 September 2016

Pesta Para Malaikat Agung

Saudara-saudaramu di Definitorium General:

Br. Michael Anthony Perry, ofm (Min. Gen.)
Br. Julio César Bunader, ofm (Vic. Gen.)
Br. Caoimhín Ó Laoide, ofm (Def. Gen.)
Br. Ignacio Ceja Jiménez, ofm (Def. Gen.)
Br. Nicodème Kibuzehose, ofm (Def. Gen.)
Br. Lino Gregorio Redoblado, ofm (Def. Gen.)
Br. Ivan Sesar, ofm (Def. Gen.)
Br. Lóránt Orosz, ofm (Def. Gen.)
Br. Valmir Ramos, ofm (Def. Gen.)
Br. Antonio Scabio, ofm (Def. Gen.)
Br. Aidan McGrath, ofm (Seg. Gen.)

Cover Art: “Francesco”
Artist: Paolo Grimaldi (www.paologrimaldi.it)

Prot. 106939

(alihbahasa : Alfons Suhardi, OFM)

 

 

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *